
Isyana dan kedua putranya segera berlari menghampiri Zidane yang kini bersimbah darah.
Mas Zidane!" Isyana berteriak histeris. Membuat semua orang langsung berlari kearahnya.
"Papa!"
"Tolong!"
Isyana meraung-raung di depan suaminya dia sampai tidak tahu harus berbuat apa karena saking syoknya.
Rama yang menyadari terjadi sesuatu dengan bosnya akhirnya berlari ke arah mereka. Semenjak tadi dia tidak begitu memperhatikan keluarga bosnya itu karena memang dilarang oleh Zidane terlalu memperhatikan dia ketika sedang berjalan bersama anak dan istrinya. Karena merasa takut mengganggu privasi bosnya ya dia hanya sekedar mengawasi dari jarak jauh dan tidak terlalu memperhatikannya.
Ketika terjadi kecelakaan tadi Rama pikir bukan Zidane sehingga ia bangun dari duduknya dan berjalan begitu santai ke tempat kejadian untuk memeriksa keadaan tapi setelah melihat siapa yang sedang menangis di samping korban dia langsung berlari kencang ke arah mereka. Melihat memang bosnya yang mengalami kecelakaan Rama menjadi gusar.
"Telepon ambulance, apakah sudah ada yang menelponnya?"
"Sudah Pak ambulance sedang dalam perjalanan."
Rama memeriksa denyut nadi Zidane ternyata masih berdenyut. Dia sedikit bernafas lega namun dia tidak sabar menunggu ambulance tiba karena sepertinya Zidane mengalami pendarahan. Rama lalu menyobek pakaiannya sendiri lalu membebatkannya pada luka Zidane untuk menghentikan pendarahan untuk sementara sebelum petugas medis datang.
"Mana ini kok belum datang juga?" Rama pun ikut gelisah sedang si kembar masih saja terus terisak.
"Papa jangan tinggalkan kami Pa, hiks hiks hiks... kami baru merasakan punya Papa masa harus berpisah lagi?"
Isyana tiba-tiba terdiam kata-kata Zidane yang memilih ingin pergi terlebih dahulu apabila maut memisahkan mereka masih terngiang-ngiang di telinganya.
"Mas jangan tinggalkan aku, kamu salah aku tidak bisa merawat anak-anak kita tanpa dirimu," ucap Isyana isaknya sudah tidak terdengar lagi tapi air matanya tak pernah mau berhenti mengalir.
"Itu ambulance nya datang!" teriak orang-orang di sana. Suasana begitu hiruk pikuk.
Ada beberapa orang yang mencoba membantu korban yang lainnya.
Tanpa bicara apa-apa Rama lalu mengangkat Zidane ke dalam ambulance dan dia ikut masuk ke dalamnya sedangkan dia menyarankan agar Isyana ikut anak buahnya dengan mobil lain supaya menyusul dari belakang namun Isyana menolaknya. Dia tidak ingin jauh-jauh dari Zidane ia pun masuk bersama Rama sedang si kembar Rama sudah meminta anak buahnya untuk menyusul mereka dengan mobil Zidane dan si kembar pun tidak menolak langsung masuk ke mobil papanya.
Sesampainya di rumah sakit semua pihak rumah sakit yang terkait sudah siap di tempat masing-masing karena Rama sudah mengabarinya waktu berada di tempat kejadian.
Ketika ambulance sampai di tempat brankar sudah disiapkan sehingga begitu sampai Zidane langsung diletakkan dalam brankar itu dan segera dilarikan ke ruang UGD rumah sakit.
__ADS_1
Begitupun dengan keluarga besar yang sudah diberitahu sebelumnya semua sudah berkumpul di rumah sakit.
Ketika Zidane masuk ke ruang UGD Laras mendekati Isyana dan mencoba memberi semangat pada menantunya itu bahwa Zidane akan baik-baik saja, ya walaupun dalam hatinya pun merasa hancur.
"Tenang ya Sayang, Zidane pasti baik-baik saja," ucapnya sambil mengusap-usap punggung Isyana.
"Aku tidak mau kehilangan Mas Zidane, hu hu hu...." Akhirnya tangisnya pecah kembali.
"Sabarlah Nak dia tidak akan meninggalkan kamu dalam keadaan seperti ini. Dia tidak akan tega membuat anak ini yatim sebelum lahir ke dunia." Sambil mengelus-elus cucunya yang masih ada dalam perut.
"Ma apakah Mas Zidane akan sembuh Ma?"
"Tentu sayang dia tidak akan meninggalkan kalian semua."
"Sini sayang mendekat ke Oma," ucapnya pada kedua cucunya yang masih tidak mau berhenti menangis.
"Kalian sayang sama Papa?"
"Tentu saja Oma."
"Kalau begitu jangan menangis! Kalian tahu Papa kalian itu tidak suka anak cengeng. Jadi daripada menangis terus mendingan kalian doain papa supaya lekas sembuh. Mengerti kan maksud Oma?"
"Ayo Atan kita sholat dan doain papa semoga baik-baik saja."
Nathan mengangguk dan ikut pergi bersama Tristan ke Mushalla rumah sakit. Sedangkan Isyana masih terus saja menangis.
Di sudut lain di rumah sakit Alberto nampak menghubungi seseorang.
"Pasung dia di ruangan bawah tanah dan awasi jangan sampai dia lolos lagi."
"Tapi Tuan rumah sakit jiwa tempat perempuan itu dirawat melarang kami membawa wanita tersebut."
"Katakan kita akan menuntut rumah sakit jiwa itu karena telah lalai menjaga pasiennya." Alberto curiga jangan-jangan wanita itu hanya berpura-pura gila buktinya setelah melarikan diri dia langsung menyasar Tristan padahal menurut informasi di tempat kejadian waktu itu banyak anak-anak yang mengelilingi Nathan dan Tristan yang sedang sama-sama mengantri untuk membeli es krim.
"Dan kalau sampai terjadi sesuatu sama anak saya dia pun harus mati karena dialah penyebab kecelakaan itu terjadi."
"Baik Tuan."
__ADS_1
"Bagaimana Dokter?"
"Nyonya mohon maaf sebelumnya pasien dalam keadaan kritis dan dia kehilangan banyak darah sehingga hari ini juga harus melakukan transfusi darah dan sayangnya kebetulan stok darah dengan golongan darah yang dimiliki pasien sedang kosong jadi kami masih berusaha untuk mendapatkannya. Tapi ini harus didapatkan dengan cepat kalau tidak pasien bisa saja tidak akan tertolong."
Mendengar perkataan dokter Isyana semakin menangis saja.
"Ambil darahku Dok, darahku cocok dengannya," ujar Laras.
"Kalau begitu ikut dengan kami Nyonya."
"Baik."
"Lan titip Isyana ya," ucapnya kemudian pada Lana. Lana hanya menjawab dengan anggukan.
"Iya Bi, Bibi jangan khawatir kami pasti akan menjaga Mbak Syasa kok," ucap Ara.
"Si twins juga," lanjutnya.
"Bagaimana keadaan Zidane Lan?" tanya Alberto yang baru kembali. Dia memilih bertanya pada Lana karena melihat keadaan Isyana yang tak mungkin bisa ditanyakan.
"Dia kehilangan banyak darah dan sekarang Mbak Laras sedang mendonorkan darahnya."
Alberto terduduk, meraup wajahnya dengan kedua tangannya. Bohong kalau dia tidak sedih sekarang tapi dia berusaha bersikap tegar agar semuanya bisa tenang walau nyatanya perasaannya hancur.
"Bagaimana Dok?" tanya Alberto setelah Zidane sudah mendapatkan transfusi darahnya.
"Keadaannya sudah mulai stabil Tuan tapi pasien mengalami cidera otak akibat benturan yang terlalu keras, sepertinya pasien akan mengalami koma. Kita berdoa saja semoga itu tidak benar-benar terjadi. Bukankah Tuhan yang berkehendak atas segalanya jadi meminta pada Tuhan adalah solusi selain berusaha," ucap dokter yang sebenarnya hanya ingin menyemangati keluarga pasien.
"Lakukan apapun Dok untuk menyembuhkan anak saya."
"Itu pasti Tuan kami akan bekerja sekeras mungkin untuk menyembuhkan Tuan Zidane kalau perlu mendatangkan alat-alat dari luar negeri pun akan kami lakukan apabila pasien memang membutuhkannya."
"Lakukan yang terbaik dan saya berjanji kalau anak saya bisa sadar dan sembuh seperti semula dokter dan semua karyawan ini akan saya saya naikkan gajinya dua kali lipat."
"Baik Tuan kami akan berusaha sebaik mungkin."
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar, hadiah, vote, rate bintang lima dan favorit tentunya. Terima kasih🙏 Love you all.💓