
Sampai di rumah Adrian belum pulang juga, Anisa gelisah seorang diri di kamar sampai ia tidak bisa memejamkan matanya. Tugas balas dendam memang sudah selesai sekarang Anisa harus memikirkan bagaimana caranya agar Adrian tidak minta jatah untuk beberapa hari ini.
"Sial kenapa aku tidak sadar malam itu sehingga pria brengsek itu sampai membuat banyak tanda ditubuh ku," kesal Anisa sambil memukul nakas di kamarnya.
"Bagaimana kalau Adrian melihatnya?" Anisa memijit pelipisnya dan berpikir keras.
"Aah aku punya ide, bagaimana kalau nanti aku katakan saja sedang datang bulan," gumam Anisa sambil tersenyum. Dia baru bisa merasa lega sekarang. Dia membaringkan tubuhnya lalu mencoba untuk memejamkan matanya dan akhirnya tertidur.
Sedangkan di hotel Lani dan Siska kaget ketika menyadari keadaan dirinya dalam keadaan telanjang namun ketika menoleh ke sekitar dia tidak menemukan satu orang pria pun.
"Siapa yang melakukan ini padaku? Apa benar sudah terjadi sesuatu padaku? Akhh!" Siska berteriak kala merasakan organ intimnya yang terasa perih. Ada darah di yang tercecer di atas sprei.
"Brengsek siapa yang telah berani mencuri keperawananku?!" kesalnya sambil memukul-mukul kasur di sana.
"Anisa, ini pasti ulah Anisa aakh!" Tapi kemudian Siska berpikir bahwa dia tidak akan bisa menyalahkan Anisa sepenuhnya karena dialah yang melakukan kesalahan terlebih dulu.
"Andai saja aku tidak menuruti keinginan Lani aku tidak akan seperti ini."
"Akkkh!"
Sementara di kamar lain Lani tampak lebih santai daripada Siska. Berbeda dengan Siska yang tidak pernah melakukan hal seperti ini justru Lani sudah sering melakukannya dengan bergonta-ganti pasangan. Jadi menurutnya hal yang terjadi malam ini biasa-biasa saja kecuali hanya satu dia tidak mendapatkan bayaran seperti biasanya.
Keesokan harinya Lani menggebrak kursi meja kerja Anisa sedangkan Siska mengikutinya dari belakang namun ia hanya menunduk karena rasa bersalah sekaligus malu.
"Brengsek loh Nis ternyata elo ngejebak kita-kita ya!"
Anisa tersenyum miring. "Nggak salah Lo, bukannya elo yang ngejual gue sama pria brengsek itu."
"Gue cuma mau ngedeketin dia sama Lo karena gue tahu dia suka sama Lo."
"Oh ya! baik banget sih Lo," cibir Anisa.
"Oh gue tahu, elo masih suka sama Adrian kan? Makanya elo ingin gue berselingkuh sama Farhan. Jangan mimpi Lo!"
"Asal elo tahu ya gue nggak ngejual kalian seperti elo ngejual gue tapi gue justru membeli preman-preman itu buat kalian," cetus Anisa keceplosan padahal tadinya dia ingin mereka berdua penasaran dengan siapa mereka tidur.
"Apa! preman?" Siska menganga mengetahui siapa yang telah mengambil mahkotanya. Dia yang dari tadi hanya diam akhirnya ikut bicara.
"Tega banget sih Lo Nis sama gue," ucapnya dengan mata yang berkaca kalau saja ini bukan kantor pasti tangisnya sudah pecah dari tadi.
"Gue nggak akan tega kalau kalian tidak tega sama gue."
"Brengsek Lo Nis!" Lani masih murka.
__ADS_1
"Hei kalian kenapa ribut-ribut di kantor," tegur Rayyan sang atasan yang kebetulan lewat di depan mereka.
"Gav bawa mereka ke ruanganku," perintahnya pada Gavin asistennya.
"Baik Pak."
"Kalian ayo ikut aku ke atas!" perintah Gavin.
Mereka bertiga pun mengekor di belakang Gavin menuju ruangan sang atasan. Sampai di dalam mereka tidak mengatakan alasan yang sebenarnya kenapa mereka sampai ribut-ribut. Mereka hanya mengatakan bahwa terjadi salah paham diantara ketiganya.
"Baiklah kalau begitu kalian bisa kembali ke tempat masing-masing, tapi ingat lain kali jangan bikin rusuh di kantor selesaikan masalah kalian di luar saja."
"Baik Pak," jawab ketiganya sambil menunduk.
"Oke sekarang kalian bisa keluar."
Mereka pun beranjak dari tempat duduk namun ketika Anisa hendak keluar Rayyan menahan Anisa. Sepertinya lelaki itu tertarik pada Anisa.
"Kamu tunggu dulu!" ucapnya sambil menunjuk ke arah Anisa.
"Iya Pak?"
"Yang lain boleh keluar."
"Nanti malam kamu ada acara?" tanya Rayyan langsung.
"Tidak ada Pak," jawab Anisa.
"Maukah berkencan denganku?" tanyanya dengan tatapan yang mengerikan bagi Anisa.
"Maaf Pak saya tidak bisa karena saya sudah punya suami," pungkas Anisa.
Rayyan tampak menggaruk keningnya. "Oh berarti yang malam itu di hotel suaminya," pikir Rayyan dia pikir Anisa adalah wanita yang bisa diajak one night stand karena melihat penampilan Anisa yang selalu berpenampilan seksi dan malam itu Rayyan melihat Anisa berdua di hotel dengan seorang pria.
"Maaf kalau begitu, sekarang kamu boleh keluar."
Anisa mengangguk lalu permisi keluar.
Sedangkan Lani masih mengintip pembicaraan Anisa dengan atasannya.
"Sis tunggu dulu!"
"Apaan sih Lan?"
__ADS_1
"Kayaknya bos kita suka deh dengan Anisa, kita bisa memanfaatkan ini untuk memisahkan Anisa dengan Adrian."
"Ah sudahlah Lan aku tidak mau ikut campur lagi dengan urusanmu. Saya sarankan lebih baik cari laki-laki yang bujang daripada harus mengincar suami orang," cetus Siska lalu meninggalkan Lani seorang diri.
"Aakh brengsek Lo Sis pake nasehatin gue lagi."
Satu bulan sejak kejadian itu Anisa hamil. Anisa menjadi bingung apakah bayi yang dikandungnya itu adalah anak Adrian ataukah anaknya Farhan karena malam sebelum tidur dengan Farhan Anisa tidur dengan Adrian namun dia tetap tidak mau bicara kepada Adrian tentang peristiwa malam itu dia masih menyimpan rahasia itu seorang diri.
Tiap hari Anisa gelisah nafsu makannya berkurang bukan hanya karena efek hamil tapi juga karena terlalu banyak beban pikiran. Anisa meragukan bayi dalam kandungannya adalah anak Adrian.
Sebenarnya Adrian telah memberikan perhatian lebih kepada Anisa semenjak dia hamil. Dia selalu menjadi suami siaga di tengah-tenga aktifitasnya termasuk rutin memeriksakan kandungan istrinya ke dokter kandungan.
Namun karena pikiran Anisa masih saja kacau, dia masih saja stres akhirnya ia melahirkan bayinya dengan berat badan lahir rendah. Hal itu menjadi salah satu pemicu terjadinya kanker pada Adel selain karena genetika juga.
##
"Ayah, sebenarnya ayah ada masalah apa sih dengan keluarga Gita?" tanya Annete sepulang sekolah.
"Kenapa, dia buat onar lagi?" tanya Johan.
"Ya biasalah Yah belum kapok dia gangguin Annete."
"Apa perlu Ayah datangi orang tuanya?"
"Tidak usah Yah Annete masih bisa mengatasinya sendiri kalau sudah keterlaluan baru Annete nanti minta bantuan sama Ayah atau sama guru sekalian."
"Baiklah kalau kamu masih bisa mengatasinya. Sebenarnya ayah tidak tahu kenapa Gita membencimu yang ayah tahu hanya dulu ibunya dia pernah naksir ayah tapi ayah tidak meladeninya. Ayah waktu itu masih menunggu ibumu kembali. Ibu Gita selalu ngomel-ngomel sama ayah katanya buat apa menunggu wanita murahan seperti ibumu. Mungkin Gita sering dengar ibunya ngoceh dulu jadi kebawa sampai sekarang."
"Oh gitu ya Yah, berarti ayahnya Gita yang sekarang hanya ayah tiri?"
"Bukan dia memang ayahnya, dulu sempat cerai tapi sekarang rujuk kembali. Cuma yang ayah heran kenapa mereka tinggal di sini?"
"Iya Yah ibunya Ruri juga di sini."
"Itulah yang ayah bingung padahal ayah pindah ke sini biar kita bebas dari gangguan mereka."
"Iya sih Yah tapi ya sudahlah mungkin sudah takdir kita dikelilingi oleh orang-orang macam mereka."
"Iya sih yang penting kamu tetap bersabar ya Nak!"
"Itu pasti Yah."
Bersambung.....
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Senin jangan lupa Vote-nya ya!๐