
Hari demi hari rasanya Annete semakin menyukai Lexi. Sikap Lexi yang ramah dan perhatian padanya selalu membuat degup jantung Annete berdetak kencang ketika bersamanya padahal menurut Lexi itu adalah perhatian yang biasa saja. Namun Annete terlalu baper. Hingga suatu hari Annete mengetahui bahwa Lexi masih belum bisa move on juga dari Isyana. Sepertinya masih cinta sama Isyana membuat Annete memilih mundur perlahan dengan berusaha untuk menghilangkan perasaan yang menyiksanya itu. Bahkan dia sering bercanda dengan tukang paket yang bernama Jordan yang dulu pernah menjadi rekan kerjanya karena saking ingin melupakan perasaan nya terhadap Lexi.
Hidup bersama si kembar begitu menyenangkan bagi Annete banyak tingkah lakunya yang diluar nalar. Bahkan di usianya yang masih kecil mereka sudah pandai bermain musik. Apalagi mereka hanya belajar secara otodidak melalui internet.
Suatu hari mereka meminta Annete untuk membuatkan Tristan beberapa akun medsos. Annete pikir mereka hanya ikut-ikutan seperti layaknya anak kecil pada umumnya. Namun nyatanya mereka malah meng-upload video latihan mereka ke akun tersebut sampai bisa menghasilkan uang. Terlalu mustahil bagi Annete anak seperti mereka mudah mendapatkan uang sedangkan dirinya mencari kerja saja rasanya sulit namun kenyataannya memang mereka benar-benar hebat sampai mereka di undang oleh salah satu stasiun tv.
Annete juga diminta Nathan untuk mencarikan dia guru agar bisa belajar hacker karena merasa ilmu itu penting bagi kehidupannya, dan ternyata kemampuannya memang luar biasa sehingga dalam waktu singkat dia bisa menguasai pelajarannya.
Annete pikir kehidupan Nathan dan Tristan begitu sempurna. Memiliki orang tua yang lengkap dan Tante yang menyayanginya seperti Isyana. Selain itu juga ada Lexi yang selalu menyayangi dan selalu mendukungnya.
Namun ternyata asumsi Annete berubah tatkala mendengar pembicaraan si kembar dengan mamanya. Annete ikut meneteskan air mata tatkala keduanya bertanya pada Isyana 'Sebenarnya kami anak siapa?' Ternyata mereka meragukan statusnya sebagai anak Lusy dan Edward dan sebenarnya Annete pun ragu karena melihat kasih sayang diantara ketiganya yang begitu kuat dibandingkan pada Lusy dan Edward.
Siapa sangka karena pengetahuan tersebut kedua anak tersebut merencanakan sesuatu dengan Lexi untuk mencari keberadaan ayahnya. Dan itu membuat Annete bertemu dengan Adrian.
"Aunty ikut ya ke Jakarta," pinta si kembar waktu itu.
"Aunty tunggu kalian di sini saja ya!"
"No Aunty, Aunty harus ikut."
"Kalau begitu Aunty hari ini mau ke makam dulu, kalian di sini aja ya mumpung ada uncle Lexi."
"Mau ikut Aunty," rengek keduanya.
"Oke baiklah."
"Bawa mobil aja Net," ujar Isyana.
"Ini kuncinya." Sambil menyerahkan kunci mobil pada Annete.
"Makasih Mbak."
"Iya."
Mereka pun menuju makam Johan sampai di sana Annete mengambil sesuatu dar dalam tasnya. Sepertinya kitab suci.
"Kalian mau ngaji juga?"
"Iya."
" Emangnya kalian bisa ngaji?"
"Bisa Aunty kalau ada yang mimpin."
"Oke kalau begitu bacanya ikut Aunty ya!"
"Oke Aunty."
Selesai mengaji mereka menaburkan bunga di atas pusara Johan.
"Annete pamit pergi ya Yah, semoga Ayah mengijinkan dan ayah tenang di sana. Annete janji suatu saat Annete akan kembali ke sini."
__ADS_1
"Ayo Nathan Tristan kita pergi!" ajaknya kepada kedua anak tersebut. Keduanya mengangguk lalu bangkit dari duduknya.
Ketika hendak beranjak terdengar seseorang yang memanggil nama Annete.
"Net! Annete!" teriak seorang wanita sambil melangkah ke arahnya sambil menenteng keranjang bunga.
"Angel?"
Mereka pun berpelukan melepas rindu. Semenjak Annete bekerja pada Isyana beberapa tahun yang lalu mereka tidak pernah bertemu. Sama-sama sibuk dengan pekerjaan masingmasing.
"Wah kamu kok berubah sih Angel," ucap Annete menilik penampilan Angel.
"Kenapa tambah cantik ya," goda Angel.
"Bukan cantik tapi norak," kelakar Isyana. "Ngapain kamu pakai pakaian seksi kayak gitu. Kayak kekurangan bahan saja. Apa perlu aku ambilkan dari butik majikanku? Kebetulan di sana banyak kain perca." Annete tertawa terbahak-bahak karena puas meledek sang sahabat.
"Akh...jangan meledek lah Net, ini aku begini karena tuntutan pekerjaan," seloroh Angel sambil tersenyum dia tidak marah sedikit pun karena mengerti Annete hanya bercanda.
"Habisnya kamu ke makam pakai baju begitu," protes Annete.
"Iya sorry."
"Memang kamu kerja apa sih Gel sampai harus berdandan begitu? Tuh lihat make up mu begitu tebal padahal yang aku tahu dulu kita sama-sama tidak suka dandan menor."
"Ada lah Net maaf aku tidak bisa memberitahumu."
Annete mengerutkan kening, mengais Angel menjadi tertutup padanya? Tapi sudahlah itu kan privasinya.
"Ke kuburan paman Johan lah. Dia kan sudah aku anggap seperti ayahku sendiri. Oh ya Net aku sering loh ke sini tapi tidak pernah bertemu denganmu. Apa kabar dengan Duta?"
"Mana aku tahu kok kamu tanya sama aku?"
"Terakhir kali aku ketemu, dia mencari mu. Aku pikir dia sudah bertemu sama kamu."
"Mau apa mencari ku? Aku nggak pernah ketemu kok."
Angel mengendikkan bahu. "Mana aku tahu. Eh dia siapa?"
"Dia anak majikanku."
"Ganteng ya, pasti papanya ganteng. Atau mirip mamanya?"
"Ish... kalau lihat orang ganteng semangat. Mirip papa nya kali, aku aja nggak tahu kayak apa wajah papanya."
"Kok bisa?"
"Orang tuanya cerai," ucap Annete berbisik di telinga Angel, tidak mungkin kan dia memberitahukan yang sebenarnya.
"Oh bagus dong, kali aja dia ketemu dan naksir sama aku."
Annete mendorong kepala Angel pelan. "Sejak kapan otakmu sengklek kayak gitu."
__ADS_1
"Sejak kapan ya!" Angel pura-pura berpikir. "Sejak berpisah denganmu kali hahaha...."
"Ya sudah Gel aku pamit duluan ya mau ke rumah dulu, mengecek keadaannya sebelum aku tinggal."
"Ditinggal? Emang kamu mau kemana Net?"
"Ke Indonesia ikut mereka."
"Oh, semoga sukses ya di sana. Semoga saja di sana dapat Jodoh."
"Amin, sudah ya Gel aku pamit dulu."
"Iya kalau kamu balik ke sini jangan lupa ya ngabarin saya."
"Oke."
Annete dan si twins pun kini masuk ke dalam mobil.
"Nathan, Tristan kita ke rumah Aunty dulu ya!"
"Oke siap Aunty."
Mereka kini menuju rumah Annete. Ketika hendak masuk, sampai di depan pagar dia berpapasan dengan Duta.
"Annete?"
"Duta? Ngapain kamu ke rumahku?"
"Aku sudah lama mencari mu Net, ada yang saya ingin bicarakan denganmu."
"Bicara denganku, soal apa?"
"Boleh kita bicara di dalam?"
"Baiklah ayo silahkan masuk!"
"Nathan, Tristan kalian ikut masuk apa mau tunggu di mobil?"
"Ikut Aunty kami kan ingin lihat-lihat di dalam."
"Kalau begitu ayo masuk."
Kedua anak tersebut mengikuti langkah Annete dan masuk ke dalam rumah. Sampai di dalam mereka langsung berkeliling melihat-lihat kamar Annete sedangkan Annete tampak mengobrol serius di ruang tamu.
"Net maafkan aku atas semua kesalahanku. Jujur aku masih mencintaimu. Net aku ingin kembali sama kamu. Tolong terima aku lagi ya. Saya janji akan jadi kekasih yang setia sama kamu."
Annete menghembuskan nafas panjangnya. "Duta aku...."
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan jejak!๐
__ADS_1