
di tempat lain pada waktu yang bersamaan.
Brakk!!!
Farhat menggertak meja sambil melempar kertas di atasnya. "Apa-apaan ini Nis kenapa kamu membohongiku?"
"Membohongimu, maksud kamu apa sih Farhan?"
"Kamu baca kertas itu kalau ingin tahu!"
Anisa mengambil kertas itu lalu membacanya. Matanya terbelalak ketika melihat ternyata kertas itu adalah hasil tes DNA yang menunjukkan bahwa Adel bukan anak Farhan. Anisa mengambil kertas yang satunya lagi yang menunjukkan bahwa Adel 100% adalah anak Adrian.
"Benarkah ini semua Farhan?" tanya Anisa dengan tubuh yang bergetar. Kalau memang benar berarti dirinya telah salah langkah dan salah memperlakukan Adel.
"Mengapa masih bertanya? Kertas itu adalah hasil tes DNA yang dilakukan oleh mantan suamimu dan yang satunya akulah yang melakukannya sendiri. Masihkah belum jelas? Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku? Mengapa kamu mempermainkan aku?"
Brak!
Kini Anisa yang menggertak meja. "Apa maksudmu aku ingin mempermainkan mu? Asal kamu tahu, bertahun-tahun aku membenci Adel hanya karena aku menganggapnya sebagai anakmu. Aku muak karena ketika melihat wajahnya selalu mengingatkanku akan dirimu. Aku jijik kala mengingat dirimu dengan curangnya menggerayangi tubuhku dahulu."
"Kamu puas telah menghancurkan diriku hah? Puas? Andai kau tidak pernah mengusik kehidupanku aku tidak akan jadi seperti ini. Aku tidak akan membenci Adrian yang lebih menyayangi Adel dibandingkan diriku sendiri dan bahkan meninggalkannya, andai aku tahu itu memang anaknya. Aku bahkan memilih jalan yang sesat saat ingin melampiaskan kemarahanku pada Adrian."
"Mengapa kau melakukan itu semua Farhan?" ucapnya sambil menangis.
"Apa salahku padamu?" Anisa terus saja mengoceh.
"Maafkan aku Nis, dulu aku sangat terobsesi padamu hingga saat kau lebih memilih Adrian aku begitu kecewa dan berbuat nekat. Sekali lagi maafkan aku."
Anisa menarik nafas berat. "Kamu pikir dengan permintaan maafmu itu akan bisa mengembalikan kebahagiaanku? Tidak bisa Farhan aku sudah kehilangan semuanya. Suamiku, anakku sendiri bahkan lebih menyayangi ibu tirinya dibandingkan aku, ibu kandungnya sendiri. Kamu tahu kenapa aku datang padamu waktu itu? Aku terlalu cemburu, aku terlalu iri pada Annete yang telah berhasil merebut hati Adel dan Adrian. Makanya aku memintamu untuk mengambil Adel karena aku pikir dia anakmu. Sedangkan aku sudah tidak punya hak untuk merebutnya mengingat aku sudah menelantarkannya."
Anisa bicara panjang lebar, mengeluarkan segala keluh kesahnya sedangkan Farhan memilih menjadi pendengar yang baik sambil sesekali mengucapkan kata maaf.
"Maafkan aku Nis, Kalau kamu mau aku bisa menikahi mu. Aku janji akan membahagiakanmu."
"Ah sudahlah lebih baik kamu pergi dan jangan pernah menemui ku lagi. Aku benci dirimu."
Farhan tak bergeming masih setia di tempat. Oleh karena itu Anisa bangkit dari duduknya dan lebih memilih keluar dari rumah.
Pikirannya sekarang kacau. Anisa benar-benar menyesal. Andai dulu dia tidak gegabah menjudge bahwa Adel adalah anaknya Farhan pasti hidupnya tidak akan seperti ini. Namun kebenciannya yang berlebihan telah menutup pikirannya untuk membuktikan kebenaran yang ada. Dia bisa saja melakukan tes DNA tanpa sepengetahuan Adrian. Tapi sayangnya dia terlalu bodoh hingga tak mau melakukan itu karena sudah terlanjur yakin Adel bukanlah anak Adrian.
"Akkhhh!" Anisa berteriak lalu meraup wajahnya sendiri.
"Bodoh, bodoh, bodoh!" teriaknya di jalanan. Farhan hanya mengawasi Anisa dari jauh, takut perempuan itu berbuat nekat.
Namun nasi telah menjadi bubur tak mungkin jadi nasi kembali. Yang Anisa inginkan sekarang hanya satu mendapatkan pengakuan dari anaknya sendiri yang bahkan hingga saat ini tidak mau menganggapnya sebagai ibu.
__ADS_1
Maafkan aku Del, maafkan aku Dri.
"Aku harus minta maaf," gumamnya. Dia menyetoo taksi yang kebetulan melintas di hadapannya dan memintanya mengantarkan ke alamat rumah Adrian.
Namun di tengah jalan Anisa meminta sopir taksi berhenti kala melihat Adel dan Annete juga Adrian turun dari mobil dan hendak masuk ke dalam mall.
"Berhenti di sini Pak!" perintahnya pada sopir taksi.
Ketika Anisa ingin melanjutkan langkahnya mengejar Adel ke dalam mall tiba-tiba saja ada yang menarik pergelangan tangannya.
"Rayyan lepaskan!" perintah Anisa sambil menghentakkan-hentakkan tangannya.
"Aku ingin kau kembali padaku!"
"Tidak Rayyan aku tidak ingin jadi budak nafsumu lagi."
"Aku akan menikahimu," ucap Rayuan sambil melepaskan pegangannya pada Anisa.
"Gila, kamu bahkan belum pisah kan dengan istrimu?" Anisa tahu, menilik dari penampilan dan mobil yang dipakai Rayyan dia belum mampu meninggalkan kemewahan yang diberikan istrinya.
"Kau bisa jadi yang kedua."
Anisa mengeleng. "Maaf aku tidak berminat." lalu ia berlari menyusul Adel.
Melihat Anisa yang mengejar Adel tiba-tiba saja Adel berbalik dan berlari ke arah luar.
"Mas, Adel Mas."
"Kenapa Adel?" Adrian yang tidak sadar malah bertanya.
"Lari ke sana Mas." Annete dan Adrian pun berlari menyusul Adel.
Anisa mencekal tangan Adel agar tidak kabur lagi. "Del dengarkan bunda dulu, bunda hanya ingin minta maaf."
"Pergi! Pergi! Kamu jahat." Adel yang sudah dikuasai rasa takut tidak mendengar perkataan Anisa.
"Pergi!"
Adrian pun berlari ke arah mereka begitupun Annete yang menyusul dibelakangnya.
Melihat Anisa bersama Adel dan Adrian Rayyan menjadi murka.
"Kalau aku tidak bisa memilikimu lagi maka Adrian pun tidak boleh," ucapnya dengan senyum licik.
Beberapa detik kemudian dia tancap gas dan mencoba menabrak Anisa.
__ADS_1
"Awas Mbak!" Annete segera mendorong tubuh Anisa menjauh namun,
Bruk!
Tubuh Annete terpental ke jalanan sedangkan mobil yang menabraknya menabrak dinding jembatan yang ada di samping kiri jalan.
"Bunda!" Adel berteriak histeris.
"Annete?" Adrian segera mengangkat tubuh Annete dan langsung menyetop mobil yang melintas di hadapannya. Terlalu lama jika harus mengambil mobilnya sendiri di parkiran.
Setelah Adel dan Adrian masuk ke dalam mobil Anisa pun ikut masuk namun didorong keluar oleh Adel. "Pergi! Ini semua gara-gara kamu. Kalau sampai terjadi sesuatu sama bunda Annete aku tidak akan pernah memaafkanmu seumur hidupku."
Anisa terhenyak mendengar ancaman Adel. Dia makin merasa bersalah kini.
"Adel maafkan bunda, ini tidak disengaja." Anisa mencari taksi lagi untuk menyusul mereka ke rumah sakit.
"Ini kan tas Annete?" Anisa meraih tas Annete yang terlempar ke jalanan.
Ada mobil yang melintas di depannya, tanpa pikir panjang Anisa langsung menyetopnya. "Ayo masuk!"
"Farhan?" Ingin Anisa menolaknya tapi suasana sedang genting jadi terpaksa dia masuk ke dalam mobil." Antarkan aku ke rumah sakit!" Farhan mengangguk lalu mengikuti mobil yang membawa Annete ke rumah sakit.
"Bagaimana ini?" Anisa gelisah dalam mobil. Ini gara-gara dirinya.
"Bagaimana kalau Annete meninggal?" Ada rasa bersalah kini walaupun sebelumnya dia memang ingin menyingkirkan Annete tapi melihat Annete telah berkorban untuk dirinya dia merasa tidak rela kalau Annete meninggal apalagi mengingat ancaman Adem tadi.
"Ahh." Anisa mendesah lelah. Mengapa begitu banyak ujian dalam hidupnya? Bahkan setelah dia menyesali perbuatannya.
Di saat-saat hatinya sedang kalut, ponsel Annete berdering. Anisa segera membuka tas Annete dan mengambil ponsel tersebut namun tiba-tiba panggilannya mati. Anisa meletakkan ponsel itu kembali ke dalam tasnya. Namun beberapa sat kemudian hatinya tergerak untuk melihatnya kembali. Entah
mengapa dirinya merasa penasaran.
Setelah memandang layar ponsel Annete mata Anisa membelalakkan. Kemudian dia langsung membuka galeri.
Anisa reflek menutup mulutnya yang menganga karena syok.
"Ayah Johan? Apa berarti Annete itu adalah adikku?" Wajah Anisa terlihat pucat.
"Kenapa Nis?" tanya Farhan yang melihat ekspresi lain dari wajah Anisa.
"Cepat Farhan!"
"Oke," sahut Farhan lalu menambah kecepatan laju mobilnya.
Bersambung.....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak!๐