
"Memang dia ngomong apa?" Lexi yang tidak tahan akhirnya juga mendekat dan menyuruh Naura berdiri.
"Istri Lo mau gue jadi istri kedua Lo."
Dan 'pletok' Lexi menyentil dahi Naura.
"Auw, sakit Om."
"Biarin suruh siapa ngomong sembarangan," ucap Lexi sambil mengusap-usap dahi Naura.
"Lex aku mau ngomong sesuatu, aku... " Annete menggantung ucapannya tatkala ada yang memanggil Lexi.
"Om Lexi, Naura, sini!" panggil Rachel sambil menyodorkan kameranya. Rupanya teman-teman Naura ingin berfoto bersama.
"Udah ya Net kamu gabung sama yang lain aja dulu. Aku ke sana dulu," ujar Lexi sambil menunjuk ke arah teman-teman Naura sambil menarik tangan Naura. Annete pun hanya mengangguk.
Setelah Lexi dan Naura pergi Laurens meminta maaf pada Annete.
"Nak Annete maafkan Tante ya sudah berprasangka buruk terhadap Nak Annete, saya pikir Nak Annete seperti ibu Nak Annete ternyata Tante salah. Nak Annete adalah wanita baik-baik."
"Saya sudah memaafkan kok Tante. Saya maklum atas kekhawatiran Tante terhadap masa depan Lexi kalau sampai ia hidup bersama saya. Tapi asal Tante tahu saja saya memang dilahirkan dari rahim perempuan itu namun saya tidak akan pernah mewarisi sifatnya karena semenjak bayi saya tidak pernah mendapat pengasuhan dari dia."
Mendengar perkataan Annete Laurens semakin bersalah rupanya perkataannya tempo hari di rumah sakit sangat menusuk ke dalam hati Annete. Bagi Annete tak masalah Laurens tidak merestui hubungannya dengan Lexi toh ia pun belum yakin dengan perasaannya sendiri. Tapi alasan Laurens yang membuat Annete sakit hati.
Annete dulu menyukai Lexi tapi sikap Lexi yang sering tidak acuh terhadapnya membuat rasa yang ada mulai memudar sampai Lexi mengungkapkan perasaannya membuat rasa yang hampir hilang itu kembali lagi namun keadaan tidak memungkinkan sehingga membuat Annete harus menolak Lexi.
Hari demi hari Annete berusaha menghilangkan perasaannya itu apalagi ketika melihat Naura begitu dekat dengan Lexi. Mencoba merasakan perhatian-perhatian yang diberikan Adrian namun nyatanya setelah ia mulai jatuh cinta pada Adrian, Adrian malah menyerahkan dirinya pada Lexi.
Tak apalah dia mencoba berhubungan dengan Lexi karena menganggap mungkin Lexi adalah jodohnya buktinya setiap ia ingin lepas darinya selalu saja ada jalan untuk kembali. Annete pun menganggap perhatian-perhatian dari Adrian hanyalah bentuk terima kasih darinya karena telah ikut menjaga Adel. Dan sekarang mungkin dirinya sudah tidak dibutuhkan lagi.
Namun seiring kebersamaannya dengan Lexi mereka baru menyadari bahwa hati mereka telah berbelok arah. Sama-sama mencintai orang yang selama ini dekat dengan mereka.
"Maafkan aku ya Nak. Tante tidak bermaksud menyakitimu." Laurens berucap sambil mengusap-usap punggung Annete.
"Iya Tante jangan terlalu dipikirkan. Kapan Tante pulang?"
"Mungkin lusa ada apa?"
"Annete ikut ya Tante kebetulan Annete juga ingin pulang."
"Kamu yakin mau pulang?"
Annete mengangguk.
"Ya sudah kita pulang bareng lusa."
"Terima kasih Tante. Kalau begitu aku ke sana dulu ya Tante?"
"Iya." Annete pun pergi bergabung dengan yang lainnya.
__ADS_1
Setelah Annete pergi tuan Abraham menghampiri istrinya. "Mom jangan keras-keras sama dia kasihan."
"Iya Dad ternyata selama ini mommy salah paham. Mommy pikir dia pacaran sama Lexi dan dokter itu sekaligus. Mommy pikir dia seperti ibunya yang suka mengambil milik orang lain."
"Mengapa mommy masih mengaitkan dengan masa lalu? Apa mommy masih menyukai ayahnya sehingga masih membenci ibunya," protes Abraham rupanya laki-laki itu mulai cemburu. Sehingga meninggalkan Laurens begitu saja.
Menyadari tingkah suaminya yang mulai terbakar cemburu segera Laurens menyusulnya dan meraih pinggang suaminya. "Dad jangan salah sangka dong Dad. Mommy nggak ada maksud apa-apa. Mommy cuma sayang dan cinta sama Daddy dan Lexi di dunia ini. Suer deh Dad," rayu Laurens.
"Bohong," ucap Abraham merajuk.
"Dad percayalah, harus dengan apa Mommy membuktikannya?"
"Benar Mommy ingin membuktikan kalau cuma cinta sama Daddy?" Laurens mengangguk.
"Sini!" panggil Abraham menyuruh Laurens mendekatkan wajahnya pada dirinya kemudian berbisik, " Kita buat adiknya Lexi."
'Bugg.' Laurens memukul lengan suaminya. "Aku pikir ngambek beneran ternyata hanya modus."
Setelah puas berfoto-foto Lexi menghampiri Annete kembali. Diikuti sang istri di belakangnya.
"Ada apa katanya mau bicara?"
"Iya, aku ke sini selain ingin menghadiri pernikahan kalian sekaligus ingin pamit pada semuanya termasuk sama kamu dan Naura."
"Pamit? Kamu jadi pulangnya?"
Annete mengangguk.
Apa benar Om Lexi ingin menduakan ku? pikirnya.
Ah mengapa juga aku mengatakan begitu tadi. Apa ia aku siap dimadu? batinnya.
Naura mencuri-curi pembicaraan Annete dan Lexi terus seenaknya menyimpulkan sendiri. Dia berpikir Lexi mengharapkan Annete mau jadi yang kedua.
"Iya Lex disini peranku sudah tidak dibutuhkan lagi. Si twins sudah memilki orang tua lengkap dan Adel pun sebentar lagi juga punya orang tua yang lengkap jadi ini saatnya aku pergi. Biarkan aku menata hidupku sendiri tanpa membenani siapapun."
Ini maksudnya apa?
Naura menebak-nebak arah pembicaraan Annete tapi ia terlalu bodoh untuk menyimpulkan semuanya jadi ia pura-pura tidak mendengar saja.
Sebenarnya Annete mencintai siapa sih? Adrian atau Lexi? Atau keduanya? Orang mungkin akan menganggap Annete serakah ingin keduanya namun nyatanya yang dia pilih adalah melepas keduanya. Buktinya ia memilih kembali ke negaranya.
"Kalau itu sudah keputusanmu, aku bisa apa?" ujar Lexi.
"Tapi apakah wanita itu masih terus mengganggu mu?" lanjutnya.
"Selama aku ada di sini ia berkata 'akan mengusik hidupku' jadi biarkanlah aku pergi."
"Hufft," Lexi menarik nafas panjang "Kalau itu yang terbaik untukmu maka lakukanlah."
__ADS_1
"Tolong bantu aku bujuk pak Atmaja ya supaya mengizinkanku pergi!" Setelah Adrian melepas Annete untuk Lexi Annete memilih tinggal di rumah Isyana dan itu atas permintaan ayah Isyana yang merasa kesepian karena Isyana tinggal di rumah suaminya. Atmaja mempunyai keinginan mengangkat Annete menjadi putrinya. Tapi rupanya Annete tidak dapat memenuhi permintaannya karena memilih pergi.
"Memangnya kamu mau kemana Net?" Isyana yang kebetulan lewat tak sengaja mendengar pembicaraan mereka.
"Aku pamit pulang Mbak, mungkin lusa aku berangkat bersama mommy Lexi."
"Aunty mau pulang?" Si twins kaget mendengar keinginan Annete untuk pulang.
"Iya sayang kalian berdua kan sudah bahagia jadi sekarang giliran Aunty untuk mencari kebahagiaan sendiri."
"Kami tidak bisa bertemu Aunty lagi dong."
"Kata siapa? Nanti kapan-kapan Aunty ke sini buat jenguk kalian dan kalau kalian main ke rumah mommy Lusy jangan lupa ya mampir ke rumah Aunty."
"Iya Aunty." Annete pun memeluk keduanya dengan erat.
"Baik-baik ya sama
mama papa di sini. Aunty doakan kalian selalu sehat, bahagia dan sukses selalu."
"Terima kasih Aunty kami juga doakan semoga Aunty cepat mendapatkan kebahagiaan."
"Terima kasih sayang."
"Adel sama Om dokter sudah diberitahu Aunty?"
Annete menggeleng, "Aunty mohon kalian jangan cerita sama mereka ya sayang. Bentar lagi mereka akan bahagia kok karena Adel akan punya bunda lagi."
"Benar Aunty?" tanya keduanya tak percaya.
"Iya."
"Tunggu! Apa kamu pikir Yuna sama Adrian ada hubungan?" tanya Isyana mencoba menebak arah pembicaraan Annete.
"Nanti Mbak Syasa akan tahu sendiri."
"Sudah yuk Aunty kita makan bareng! Aunty Annete kan belum makan," ajak Tristan.
"Aunty sudah kenyang sayang."
"Ayolah Aunty kapan lagi kita akan makan bareng lagi kalau Aunty pergi," rengek Nathan.
Annete pun menurut mengingat Nathan jarang merengek padanya tapi kali ini dia malah merengek.
"Baiklah ayo!" ajak Annete sambil mengambilkan piring untuk keduanya dan merekapun makan bersama diikuti Isyana yang ternyata menjadi lapar lagi melihat ketiganya makan.
"Ya Tuhan aku berterima kasih untuk segalanya, mungkin jika semua ini tidak terjadi mungkin aku lupa pulang." Doanya dalam hati.
Dalam pikirannya setelah ia sampai ke Paris ia akan langsung berziarah ke kuburan ayahnya.
__ADS_1