
"Baiklah," ucap Adel seraya mengangguk.
"Del, Mbak Anisa sini kita sarapan bareng!" Panggil Annete dan mereka pun mengangguk dan berjalan menuju ke dalam rumah.
Sampai di ruang makan, makanan sudah siap tersaji. Seperti biasa sebelum melayani Adrian Annete mengambilkan makanan Adel terlebih dahulu baru kemudian mengambilkan makanan untuk Adrian.
"Lauknya mau yang mana Mas?"
"Biar aku ambil sendiri sayang kamu kan belum sehat benar. Lebih baik sini aku yang ambilkan untuk kamu."
Adrian menaruh ikan dan beberapa sayur di piring Annete.
"Kebanyakan Mas, kalau kayak gini perutku tidak bisa menyentuh nasi." Annete cemberut.
"Yasudah sini taruh ke piringku."
Annete pun menyendok sayuran di piringnya sendiri dan meletakkan ke piring Adrian.
"Ya udah sekalian ambilkan daging rendangnya." Annete mengangguk dan melakukan apa yang suaminya perintahkan.
Anisa hanya memandang iri ke arah mereka. Walaupun dirinya sempat berumah tangga dengan Adrian namun ketika makan dia tidak pernah melakukan hal seperti itu sebab dikejar-kejar oleh waktu karena harus sama-sama berangkat bekerja. Kalau malam pun mereka makan sendiri-sendiri karena Adrian sering pulang malam. Andai saja dirinya dulu tidak berulah pasti posisi ini masih menjadi miliknya.
Ah, apa yang aku pikirkan? Anisa meraup wajahnya sendiri. Kenapa dia harus iri pada adiknya sendiri.
Sepertinya aku harus keluar dari rumah ini sekarang. Aku tidak mau khilaf lagi dan mengganggu rumah tangga adikku sendiri.
Anisa menggeleng-gelengkan kepala. Tidak mau pikiran buruk merasuki dirinya. Dia kemudian menyendok makanannya sendiri.
"Kenapa Mbak?" Annete bertanya ketika melihat Anisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ah tidak aku hanya kepedasan, terlalu banyak tadi mengambil sambal."
" Ooh, Apa mau saya suruh bibi buatkan susu agar bisa mengurangi rasa pedas?"
"Ah saya rasa tidak perlu, entar juga hilang sendiri."
Annete hanya mengangguk dan keempat orang tersebut makan tanpa ada yang bersuara lagi.
Selesai makan Adrian ragu-ragu untuk menyampaikan keinginannya.
"Ada apa Mas?" Annete langsung bertanya saat menangkap lain ekspresi Adrian.
"Ah tidak saya hanya ingin ngomong sama Mbak kamu."
"Apa perlu saya pergi?"
" Tidak perlu, kamu tetap duduklah." Annete pun mengangguk.
"Anisa apakah kamu sudah sembuh benar?"
"Iya Dri."
"Kalau begitu sudah saatnya kamu kembali ke...." Adrian menghentikan ucapannya saat melihat Annete melotot ke arahnya. Bisa-bisanya Adrian mengusir Anisa dari rumahnya.
Dan Anisa cukup paham dengan apa yang akan dikatakan Adrian. "Iya Dri rencananya setelah mengantar Adel hari ini ke sekolah aku mau langsung balik ke rumah. Namun aku mohon sama kalian berdua untuk mengizinkan Adel tinggal bersama saya untuk beberapa waktu dulu. Saya ingin menebus kebersamaan kami yang pernah hilang."
"Mas..." Annete ingin protes bagaimana pun dia harus menjaga perasaan kakaknya. Kenapa Adrian main usir-usir segala, kenapa tidak menunggu Anisa pergi sendiri.
__ADS_1
"Adrian benar Dek, tidak baik aku berlama-lama di sini. Kamu pernah dengar kan istilah ipar adalah maut? Apalagi aku pernah hidup bersamanya. Aku takut kehadiranku di sini menjadi kematian buat rumah tangga kalian."
"Maaf, aku bukannya ingin mengusir kamu, tapi menjaga suasana hati Annete adalah prioritas untukku."
"Saya mengerti Dri kamu sangat mencintainya. Aku titip dia ya Dri, bahagiakan dia. Aku tahu hidupnya selama ini pasti berat karena sejak kecil ditinggalkan oleh ibu."
"Pasti tanpa kamu minta pun aku akan selalu berusaha membahagiakannya."
"Kamu boleh membawa Adel tinggal bersamamu."
"Mas!" Kenapa hati Annete terasa berat. Dia tidak pernah berpisah dengan Adel selama menikah dengan Adrian.
"Tenang Bunda, Bunda akan tetap jadi nomor satu di hati Adel." Adel berbisik di telinga Annete seolah tahu akan kegelisahan dirinya.
"Benarkah?" Annete terlihat sumringah, sedang Adel mengangguk sambil tersenyum manis ke arahnya.
"Baiklah Adel boleh tinggal sana bunda Anisa tapi beneran ya jangan lupain bunda Annete."
"Pasti Bunda."
"Tenang Dek kalau Adel atau kamu rindu, saya akan anterin dia ke sini atau kamu bisa datang langsung ke tempatku."
"Baiklah."
"Aku harap nanti pas Adel kembali perut bunda sudah isi," ucap Adel penuh harap sambil mengelus perut Annete.
"Iya nanti ayah akan gencar usaha ya, bikin adiknya Adel," ucap Adrian terkekeh sedangkan Annete hanya tersenyum masam karena berpikir Adel akan lama bersama Anisa kalau harus menunggu dirinya hamil terlebih dahulu untuk kembali ke rumah ini. Dia pasti kesepian tatkala Adrian meninggalkannya untuk bekerja.
Biarkan saja asal Adel bahagia. Begitu suara batinnya.
Setelah selesai berbincang-bincang Adrian pamit pergi demikian Adel pun pamit ingin ke sekolah.
"Iya Yah tidak apa-apa," sahut Adel disertai anggukan Anisa.
Benar saja setelah hari itu Adel tidak pulang ke rumah membuat suasana hati Annete menjadi hampa seorang diri sedang Adrian belum pulang juga. Dia hanya menghabiskan waktunya dengan menonton film-film kesukaannya. Lumayan bisa sedikit mengusir rasa kesepiannya.
Setelah pulang sekolah Anisa langsung menjemput Adel dan membawa ke rumahnya.
"Wah ini rumah Bunda Anisa, lumayan besar juga ya."
"Ya beginilah, tapi masih belum ada separuh rumah ayah kamu juga."
"Iya sih tapi lumayan juga. Ini rumah peninggalan atau bunda beli?"
"Beli. Ini sebenarnya hasil kerja
berdua sama ayah kamu tapi dia dulu menyerahkannya pada bunda."
"Ooh." Adel hanya manggut-manggut.
"Nanti kalau sudah besar dan menikah, rumah ini bisa Adel tempati."
"Pantas saja saat ayah nikah sama bunda Annete dia juga nawarin mas kawin rumah," ucap Adel tanpa menjawab ucapan Anisa.
"Oh ya?"
"Iya tapi waktu itu bunda Annete menolak," jawab Adel.
__ADS_1
"Oh begitu ya?"
Adel hanya mengangguk. "Bunda nggak kerja?"
"Nggak, untuk saat ini Bunda pengen sama Adel aja. Adel nggak usah khawatir tabungan bunda masih cukup buat biayai kehidupan kita."
"Iya bunda."
"Ya sudah sekarang Adel ganti baju dan bersiap-siap untuk makan siang."
Adel mengangguk dan Anisa mengantarkan dia ke kamarnya.
Saat malam menjelang Adrian belum pulang juga membuat Annete yang menunggunya ketiduran di ruang televisi.
Tanpa membangunkan Annete Adrian masuk ke dalam kamarnya, dia tidak ingin mengganggu tidur Annete terlebih tubuhnya masih kotor.
"Bik mana air hangatnya?" tanya Adrian kala melihat belum ada air hangat yang biasanya sudah tersedia saat dia pulang dari rumah sakit.
"Maaf Tuan saya lupa," jawab bi Sri.
"Tumben lupa biasanya jam segini sudah siap?"
"Itu karena akhir-akhir ini biasanya nyonya Anisa yang menyiapkan tapi bibi sekarang lupa dia sudah pergi.
Adrian mengernyit. "Anisa? Jadi yang selama ini menyiapkan air hangat untukku mandi itu bukan bibi?"
"Bukan Tuan."
Pantas saja Annete berpikir macam-macam ternyata yang menyiapkan semuanya Anisa toh. Baguslah dia sudah pergi sekarang.
"Ya sudah bibi siapkan sana!"
"Baik Tuan."
"Oh iya lain kali jangan biarkan orang lain mengurus kebutuhanku kecuali bibi, si Mbok ataupun nyonya Annete."
"Baik Tuan."
"Ya sudah sana!"
Setelah selesai mandi, Adrian menghampiri Annete kembali. Dia kemudian menggotong tubuh Annete dan memindahkannya ke kamar.
"Mas kamu sudah pulang?" Annete terbangun dalam gendongan Adrian sambil mengucek kedua matanya. Adrian hanya mengangguk.
"Kalau begitu aku siapkan air hangat dulu."
"Tidak usah aku sudah mandi tadi."
"Loh kok nggak bangunin aku sih?"
"Aku tidak tega pasti kamu ngantuk karena nungguin aku. Kamu sudah makan?"
"Belum, kan aku nunggu Mas Adri."
"Ya sudah aku ambilkan, lain kali tidak usah menunggu karena akhir-akhir ini aku begitu sibuk."
"Baiklah," sahut Annete pasrah.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak! Rate bintang 5, Like, vote, hadiah dan komentarnya. Insyaallah beberapa bab lagi novel ini tamat ya.๐