Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 80. Permintaan si Twins


__ADS_3

Dua bulan berlalu sejak kepulangan Lexi. Kini Naura sudah hampir satu bulan pula magang di salah satu perusahan ternama di Jakarta. Beruntung dia ditempatkan dalam satu perusahaan oleh pihak sekolahnya dengan Mita dan Rachel. Meski Naura sudah tahu sejak lama bahwa dirinya ditempatkan di Nusantara group karena diberi bocoran oleh gurunya tetapi kedua temannya baru tahu setelah ditugaskan. Bagi mereka semua itu adalah surprise walaupun salah satu teman mereka yaitu Sheila di tempatkan di perusahaan yang berbeda.


"Naura kamu dipanggil ke ruangan bos," ucap salah satu karyawan di sana.


"Baik saya segera ke sana, terima kasih atas informasinya."


Setelah pamit kepada kedua teman-temannya kini Naura melangkah ke ruangan sang bos.


"Pak ada yang mau ketemu Bapak," ucap sang sekretaris.


"Suruh masuk!"


"Maaf Pak, Bapak memanggil saya?" tanya Naura yang kini sudah berdiri di depan sang atasan.


"Kamu yang namanya Naura?"


"Benar Pak."


"Oke kalau begitu silahkan duduk." Naura pun duduk sesuai yang diperintahkan.


Bukannya langsung berbicara Andy malah menatap Naura tak berkedip. Dia seolah tidak asing melihat wajah gadis dihadapannya. Apakah dia pernah bertemu? pikirnya dalam hati. Tapi dimana?


"Pak maaf, Bapak ada perlu apa ya?" Naura merasa risih sang atasan memandangnya seperti itu.


"Oh ya maaf." Andy tersadar.


"Menurut orang-orang kepercayaan ku kinerja kamu sangat bagus di perusahaan. Bahkan kamu sering diminta divisi lain yaitu bagian produk untuk mendesain kemasan produk kami. Untuk itu saya akan memberikan penghargaan untukmu yaitu kamu akan mendapat gaji full layaknya karyawan di sini dan perusahaan juga akan menawarkan kerjasama padamu. Perusahaan akan membiayai sekolah kamu sampai jenjang perkuliahan asalkan setelah lulus kamu mau kembali ke perusahaan kami. Bagaimana Naura apakah kamu setuju? Nanti pas kuliah kamu bisa tetap mengambil jurusanmu yang sekarang ataupun jurusan seni."


"Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas apresiasi yang Bapak atau perusahaan tunjukkan terutama atas gaji yang diberikan tapi untuk masalah kuliah dan dunia kerja selanjutnya saya belum memikirkannya apakah Bapak bisa memberikan saya waktu untuk berpikir?"


"Tentu saja bahkan kamu punya waktu satu tahun lebih untuk memikirkannya. Setelah kau lulus dari SMK nanti kau bisa memberitahu ku atau asistenku apakah kau bersedia ataupun tidak."


"Baik Pak akan saya pikir-pikir dulu. Kalau tidak ada yang mau dibicarakan lagi saya permisi."


"Silahkan."


##


"Pa kapan mama sama papa bulan madu kan dedek Dilvara sudah berumur dua bulan, berarti om Dion sudah bisa dong mengambil alih tanggung jawab papa," ucap Tristan.


"Astaga anak papa ini papa yang mau bulan madu kok kamu yang ngebet banget."

__ADS_1


"Soalnya udah lama kalian menikah kok belum ada tanda-tanda mama hamil ya! Mungkin benar kata Om Dion adiknya maunya dicetak di luar negeri aja nggak mau di sini."


"Ia biar nanti papa Rembugan sama mama kamu dulu maunya dia bulan madu kemana."


"Tapi Pa kalau nanti kalian bulan madu boleh ya kami ajak kak Naura tinggal di sini," pinta Tristan.


"Kenapa harus kak Naura? Emangnya kalian dekat apa sama dia?"


"Ia pa ternyata sekolah kami berdampingan dengan sekolah kak Naura jadi ketika kami sedang menunggu jemputan pulang kami sering mengobrol dengan Kak Naura terlebih dulu. Terus kak Naura tuh kan jago gambar jadi Itan ingin belajar sama kak Naura."


"Oke boleh tuh nanti papa akan minta mama kamu untuk menemui dia."


"Menemui siapa Mas?" Isyana muncul dari arah tangga.


"Si Naura, anak-anak minta ditemani Naura kalau nanti kita pergi bulan madu."


"Bulan madu? Memangnya harus ya Mas?"


"Harus mereka yang minta katanya kalau buat di sini adiknya nggak jadi-jadi."


"Mereka tuh ada-ada saja."


"Makanya kamu jangan sering-sering ajak mereka ke rumah Vania jadinya ngebet kan pengen punya adik."


"Ngapain dipikirin yang penting kan kita sudah usaha buat kalau nanti laki-laki ya kita buat lagi."


"Terus kalau laki-laki lagi?"


"Ya terus buat sampai dapat yang perempuan."


"Emang Mas kira aku hewan mau diternak," protes Isyana sebel.


"Ngapain bibir di monyong- monyongin gitu mau aku lahap?" ucap Zidane sambil meraih tubuh Isyana dan menggotongnya hendak ke kamar.


"Mas turunin malu sama anak-anak!"


"Pa." Tiba-tiba Nathan memanggil.


"Ya ada apa boy?" tanya Zidane sambil menurunkan Isyana.


"Papa kenal nenek ini?"

__ADS_1


Zidane menghampiri Nathan yang sedang duduk di kursi dengan laptop di depannya lalu memandang layar di hadapannya.


"Sepertinya papa kenal tapi siapa ya, papa lupa. Memangnya kenapa boy?"


"Nenek ini selalu mengawasi rumah om Andy apakah papa tidak mencurigainya?"


"Apa yang dia lakukan di sana? Apakah membuat ulah?"


"Tidak Pa nenek ini hanya sekedar mengawasi."


"Kalau begitu kamu terus pantau kediaman om Andy nanti saya akan menyuruh orang-orang papa untuk menyelidikinya."


"Baik Pa."


"Oke kalau begitu gimana kalau sekarang kita langsung temui kak Naura di sekolah?"


"Kak Naura sudah tidak masuk sekolah Ma, katanya dia magang di pabrik.


"Kalian tahu dia magang dimana?"


"Nggak Ma kak Naura tidak pernah ngasih tahu kami tapi kami tahu rumahnya Ma. Gimana kalau kita datengin nanti malam aja Ma ke rumahnya."


"Ide bagus tapi yang mama tahu Naura itu kan tinggal berdua bersama neneknya. Kalau kita ajak Naura tinggal di sini kayaknya dia nggak bakalan mau kecuali kita ajak neneknya juga."


"Kalau begitu kamu ajak neneknya juga. Di sini kan dia bisa bantu-bantu para pelayan untuk mengerjakan tugas yang ringan-ringan saja tapi ya tetap digaji. Saya yakin dia pasti mau daripada harus jualan nasi yang belum tentu laku." Zidane ingat Naura pernah mengatakan neneknya bekerja sebagai pedagang nasi pecel.


"Bagus itu Pa, kalau begitu Kak Naura akan tinggal di sini terus kalau neneknya kerja di sini."


"Hem maunya anak papa."


"Ia dong Pa biar kita punya temen di rumah daripada harus berteman Oma terus bisa ikutan tua kita nih."


"Enak aja ngomong gitu, awas Oma denger!"


"Hihihi...." Mereka hanya tertawa lirih.


"Kamu tuh mainnya sama Adel aja kak Naura tuh sudah dewasa mana mau main sama kalian," cetus Zidane.


"Biarin Pa kan kak Naura asyik kalau diajak ngobrol lagian mana mungkin dia menolak permintaan Papa sama Mama."


"Kalau begitu nanti malam kalian temenin mama ya ke rumah kak Naura biar kalian bisa tanya langsung kak Naura mau apa nggak nemenin kalian nanti kalau mama sama papa pergi."

__ADS_1


"Oke Ma," ucap keduanya sambil mengacungkan jempol.


Bersambung....


__ADS_2