
Semenjak hamil Louis benar-benar protektif pada sang istri karena beberapa kali Nindy masuk rumah sakit akibat kehamilannya.
Seperti hari ini pun Nindy masih terbaring lemah dengan selang infus di tubuhnya. Louis hanya bisa memandang sang istri dengan tatapan sendu. Dia merasa tidak tega melihat Nindy menderita karena kehamilannya. Tidak ada makanan yang masuk ke dalam perutnya semenjak dia hamil. Setiap makanan yang masuk pasti langsung dia muntahkan. Bisa dibilang dia hanya hidup karena susu hamil saja padahal Louis sangat menginginkan momen-momen ngidam dari sang istri seperti layaknya istri sahabat-sahabatnya.
"Sayang kalau aku boleh memilih aku tidak ingin punya anak saja jika harus melihatmu seperti ini," ucap Louis dengan mata yang berkaca-kaca sedang tangannya mengelus-elus tangan sang istri.
"Jangan berkata begitu Nak! Kamu bersabar ya. Yang penting istri kamu baik-baik saja," nasehat mama Ani sambil mengusap punggung putranya.
"Baik-baik gimana Ma kalau begini keadaannya. Louis tidak tega Ma." Louis menyandarkan kepalanya di bahu mama Ani. Perempuan itu tampak beralih mengusap-usap kepala Louis.
Tuan Zaki mendekat dan menepuk pundak Louis. "Berdoalah karena kekuatan doa itu sangat luar biasa."
Louis mengangguk dan berkata, "Iya Pa."
Farah dan Pak Ramlan hanya memandang Louis dan Nindy secara bergantian. Mereka tidak tahu lagi harus berkata apa, apalagi saat melihat putrinya belum sadar juga. Yang ada dalam pikiran mereka hanyalah takut kehilangan putri dan juga calon cucunya sementara anak yang lainnya yaitu Lisfi belum diketemukan juga.
Perlahan jari-jemari Nindy bergerak dan akhirnya ia membuka mata.
"Mas." Nindy memanggil Louis yang masih bersandar di bahu mama Ani.
"Iya sayang." Louis tersenyum melihat istrinya sadar meski air matanya tak mau berhenti menetes. Ia mendekat ke wajah Nindy.
"Kenapa kamu menangis Mas?" tanya Nindy sambil mengusap air mata Louis dengan jari telunjuknya.
"Aku hanya takut kehilanganmu," sahut Louis.
"Aku tidak akan pergi kemana-mana. Aku tidak akan meninggalkanmu," ujar Nindy sambil tersenyum membuat Louis getir saja seolah perkataan Nindy adalah sebaliknya.
Louis langsung mendekap tubuh istrinya dan air matanya kini semakin tumpah ruah.
"Sudah Mas jangan menangis, kamu membuatku menangis juga," ucap Nindy dan bola matanya kini mulai berembun. Bagi Nindy melihat Louis menangis membuatnya tersiksa.
"Ah iya aku tidak akan menangis lagi." Louis mengusap air matanya kemudian mengusap air mata istrinya yang mulai menetes. "Asal kamu janji akan bertahan demi aku."
Nindy mengangguk. "Aku akan kuat demi suamiku dan juga anak-anakku."
Louis memeluk sang istri lalu bergantian mama Ani, Farah, dan juga pak Ramlan yang memeluk putrinya.
"Makan ya, bunda bawain bubur bikinan bunda," ujar Farah.
Nindy menggeleng.
"Makan dong Sayang, gimana mau kuat kalau tidak ada makanan yang masuk," mohon Louis.
__ADS_1
"Nanti bisa-bisa anak kita kekurangan gizi," imbuhnya lagi.
Akhirnya Nindy mengangguk lalu membuka mulutnya. Farah lalu menyuapi sang putri. Untuk pertama kalinya Nindy menelan makanan tanpa memuntahkannya membuat semua anggota keluarga yang ada di tempat itu bernafas lega.
"Syukurlah ternyata kamu sudah bisa makan sekarang," ujar Farah.
Sedangkan Louis tersenyum senang.
"Asal jangan disuruh makan nasi ya Bun."
"Memang kenapa Nak Safa kalau nasi?" tanya mama Ani.
Nindy tersenyum kemudian berkata, "Butiran berasnya terlihat kayak ulat Ma, Safa jijik."
"Owalah gitu ya, biar nanti mama buatin bubur atau lontong saja," ucap mama Ani.
"Makasih Ma."
Beberapa bulan kemudian Louis sedang mondar-mandir di depan ruangan operasi. Hari ini Nindy akan melakukan operasi sesar. Ya, Louis meminta istrinya untuk melakukan operasi karena tidak mau ambil resiko dimana Nindy masih terlihat lemah. Sebenarnya Nindy sangat ingin melahirkan secara normal mengingat cerita para istri teman Louis semua melahirkan secara normal dan cerita mereka yang terdengar seru membuat Nindy pun ingin merasakannya.
"Tenang Nak, tenang!" Beberapa kali Tuan Zaki menasehati Louis untuk tetap menunggu dengan tenang tetapi putranya tersebut tetap terlihat seperti orang panik. Itu mengapa Nindy malah memilih ditemani oleh mama Ani dan Farah saja di dalam ruangan operasi karena jika Louis yang masuk dia khawatir laki-laki itu akan memarahi dokter karena telah membuat sayatan di perutnya. Walaupun ia sebenarnya sangat ingin ditemani oleh suami.
"Orang yang panik pasti akan melakukan hal yang ceroboh," kata author.
Setelah hampir satu jam akhirnya operasi selesai. Pintu ruangan operasi dibuka. Dua orang suster keluar dengan menggendong bayi, masing-masing seorang bayi diikuti mama Ani di belakangnya.
"Belum sadar kata dokter karena pengaruh anastesi. Kamu tenang saja sebentar lagi dia pasti sadar kok."
"Bayinya Ma?"
"Ya ampun itu tadi bayinya dibawa keluar sama suster untuk dibersihkan. Kamu nggak sadar?"
"Aku terlalu fokus sama Safa Ma." Jawaban Louis membuat Mama Ani tepuk jidat.
"Ya sudah Mama mau mengejar suster yang bawa cucu Mama, takut ketukar." Mama Ani berjalan cepat mengikuti langkah suster tadi. Tuan Zaki hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sang istri yang tidak ada bedanya dengan Louis.
Louis masuk ke dalam ruangan menemui Nindy yang masih belum sadar. "Bagaimana Bun?" tanyanya pada Farah.
"Belum sadar Nak."
"Jangan khawatir itu cuma pengaruh anestesi. Bentar lagi juga sadar kok Pak," terang dokter yang menangani operasi Nindy.
"Untuk saat ini pasien akan dipindahkan ke ruang pemulihan," ucap dokter kandungan.
__ADS_1
Louis dan Farah hanya bisa mengangguk.
Nak Louis sana kejar jeng Ani! Anak kalian harus diadzani, biar bunda yang jaga Safa."
"Baik Bun." Louis pun menghampiri mama Ani. Kedua bayinya ternyata sudah dibersihkan.
"Mau di adzani di sini atau di ruangan rawat Pak?" tanya suster.
"Di ruang rawat saja Sus."
Suster itu mengangguk dan segera membawa bayi Louis ke dalam ruang rawat Nindy. Sampai di sana ternyata Nindy sudah diruang rawat.
"Ayo diadzani mumpung istrimu sudah sadar," perintah mama Ani sambil menggendong satu bayi ke dekat ranjang Nindy lalu memberikannya kepada Louis. Louis pun menerima meski dengan tangan yang masih kaku. Ia pun melakukan apa yang diperintahkan mamanya. Nindy yang melihat Louis menggendong bayinya menitikkan air mata karena terharu.
"Sini berikan sama bunda," pinta Farah.
"Biar Louis yang gendong Bun."
"Berikan sama jeng Farah sekarang giliran bayi ini," ucap Mama Ani sambil mengulurkan bayi yang satunya.
"Ini bayi siapa Ma?" tanya Louis heran.
"Ya bayi kamulah memang bayi siapa lagi," protes mama Ani.
"Iyakah?" Louis menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Iya Nak Louis bayinya kembar. Jangan-jangan Nak Louis tidak sadar juga bayinya berjenis kelamin apa," ujar Farah.
Louis hanya menggeleng membuat Nindy tersenyum melihat suaminya seperti orang bodoh.
"Maklum dia tidak fokus yang ada dalam pikirannya dari tadi cuma takut kehilangan istri," sambung Tuan Zaki.
"Kan waktu di usg cuma satu?" Louis masih tidak percaya.
"Itu artinya bayimu melakukan pembelahan," kelakar mama Ani lalu cekikikan.
"Sudah Nak Louis jangan ditunda-tunda cepat diadzani!" perintah Pak Ramlan.
"Baik Yah." Louis pun melakukan apa yang diperintahkan.
"Terus kamu akan memberi mereka nama siapa?" tanya Mama Ani.
Louis menoleh pada Nindy. "Menurutmu sayang?" tanyanya pada Nindy.
__ADS_1
Bersambung...
Menurut kalian mau dikasih nama apa ya? Kemarin ada yang ngusulin Sakura, Hiroshi , Azura. Apalagi?๐