
Hari demi hari berlalu dengan cepat tidak terasa usia kandungan Isyana sudah hampir memasuki bulan keempat namun sampai saat ini selera makannya masih menghilang. Mungkin disebabkan oleh perubahan hormon atau morning sickness, hal yang wajar dialami oleh ibu-ibu hamil pada trisemester pertama.
Zidane begitu khawatir melihat kondisi istrinya yang semakin hari semakin kurus dan muntah-muntah setiap waktu. Isyana tidak mau mengkonsumsi makanan yang mengandung rempah karena merasa bau dan membuatnya mual. Setiap hari dia hanya memakan nasi dengan lauk yang dibakar tanpa bumbu, buah dan sayur yang direbus ataupun salad tanpa mayonaise ataupun rempah dalam porsi yang sedikit. Padahal orang hamil harus lebih banyak makan ketimbang orang yang tidak hamil. Beruntungnya dia masih mau mengkonsumsi susu sehingga nutrisi bisa tercukupi dari sana.
Sampai pada suatu malam. "Mas aku kayaknya pengen sesuatu deh Mas," ujar Isyana.
"Ya sayang kamu mau apa katakan saja Mas pasti penuhi." Zidane begitu bahagia melihat istrinya mengidam sesuatu. Beberapa bulan ini dia sangat berharap supaya Isyana ngidam sesuatu seperti layaknya orang hamil lainnya namun nyatanya Isyana tak pernah menginginkan sesuatu.
Bagi Zidane ini adalah pengalaman pertama yang ditunggu-tunggu dirinya. Dia ingin menjadi suami siaga yang bisa memenuhi keinginan istrinya terutama pada saat hamil. Dia juga ingin menebus kesalahannya dulu yang tidak bisa mendampingi saat istrinya mengandung anak pertama mereka.
"Aku pengen makan telur ikan Mas."
"Oke kalau begitu aku pesankan. Mau tobiko atau telur ikan salmon?"
"Bukan yang itu Mas tapi telur ikan yang masih ada dalam perut ikannya."
"Apa? Masih dalam perut ikannya?"
Isyana mengangguk.
"Jenis ikan apa?"
"Terserah yang penting ikan bukan kepiting ataupun cumi."
Bagaimana aku bisa tahu ikan itu ada telurnya atau tidak? pikir Zidane.
"Baiklah aku akan menyuruh Dion untuk membawakannya ke sini." Niatnya ingin menjadi suami siaga tapi malah menyuruh orang lain. Zidane lalu menelpon Dion meminta Dion membawakan pesanan istrinya.
Dion yang sedang menemani anak dan istrinya akhirnya terpaksa melaksanakan perintah. Bergegas memasang jaket dan mengambil kunci mobil.
"Mau kemana Mas?" tanya Vania.
"Mau beli ikan yang ada telurnya."
"Buat?"
__ADS_1
"Teman Lo tuh, nyusahin aja dia yang hamil masa aku yang harus repot-repot. Nasib, nasib kalau jadi bawahan ya seperti ini."
"Sudahlah Mas jangan ngedumel anggap aja kamu lagi cari pahala," ujar Vania menanggapi suaminya yang mengeluh.
"Ya udah kalau begitu aku pergi dulu ya sayang!" Mengecup kening istri dan anaknya setelah itu berlalu pergi.
"Bagaimana ini Dion kok semua ikannya tidak ada telurnya di dalam!" protes Zidane ketika melihat semua ikan setelah diperiksa tidak ada telurnya.
"Mana aku tahu Pak telurnya ada atau tidak masa aku harus memeriksanya?" Dion tak kalah protes.
"Emang kamu tidak tanya kokinya ini ikan betina atau jantan?"
"Astaga bapak kamu pikir koki itu nggak ada kerjaan lain apa sehingga harus memeriksa pesanan bapak?" Padahal Dion sudah memborong semua ikan yang ada di restoran itu tapi nyatanya tidak ada satupun yang ada telurnya di dalam.
"Kalau begitu cari di restoran lain!" Dion garuk-garuk kepala pasalnya hari sudah larut malam sebenarnya dia sudah kelelahan ingin istirahat tapi terpaksa memenuhi perintah bosnya itu.
"Tapi dedeknya pengen papanya yang beliin Mas," rengek Isyana manja.
Mendengar permintaan Isyana Dion bernafas lega. "Aagh akhirnya aku bisa bebas juga," gumam Dion sambil senyum-senyum sendiri.
"Yaelah ku pikir bebas," ujar Dion.
"Kita ke mana ini Pak?" tanya Dion ketika mereka sudah duduk di dalam mobil dan Dion sudah siap memegang setirnya.
"ke cafe Yuna ajalah."
"Oke siap," ujar Dion sambil tancap gas.
Selang tak begitu lama mereka sampai ke cafe Yuna. sampai di sana Yuna langsung menyambut mereka, "Hai Yon hai Dan apa kabar tumben kesini malam-malam?"
"Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya karena melihat Dion dan Zidane langsung menuju dapur tanpa menjawab sapaan darinya.
"Mau mengeksekusi dapur kamu," jawab Dion sambil cekikikan.
Benar saja sampai di dapur Zidane langsung menyuruh mengeluarkan masakan ikan-ikan yang ada disana kemudian memeriksa satu persatu apakah ikan tersebut ada telurnya atau tidak.
__ADS_1
"Ya ampun kalian mau menghancurkan masakan di dapur saya ya," protes Yuna. Ternyata Dion tidak bercanda pikirnya dalam hati.
"Tenang Yun semuanya pasti aku bayar nanti," ucap Zidane.
"Mau ngapain sih Yon?" Yuna memilih bertanya kepada Dion karena Zidane tampak serius.
"Biasa, Nyonya bos lagi ngidam. Ngidam nya telur ikan yang ada dalam ikannya lagi."
"Oh aku pikir mau ngapain ternyata mau cari telur ikan toh. ya udah cari aja lah sampai dapat!"
Setelah mengacak-ngacak semuanya akhirnya Zidane menemukan beberapa ikan yang di dalamnya ada telurnya dia langsung menyuruh anak buah Yuna untuk membungkusnya kemudian membawanya pulang.
"Bagaimana Dan sudah dapat?" tanya Yuna.
"Sudah Yun uangnya biar aku transfer ya."
"Gak usah lah enggak apa-apa demi istri lo itu gratis."
"Beneran?"
"Iya, udah pergi sana nanti keburu ngidamnya hilang lagi."
"Makasih Yuna yang cantik nanti aku bantuin deketin ma bang Andi." Yuna hanya mencebik mendengar perkataan Zidane.
Setelah sampai di rumah Zidane segera menaruh ikan-ikan itu dalam piring dan juga mengambilkan sepiring nasi buat Isyana. "Ini sayang pesannya," ujar Zidane sambil menyodorkan ikan beserta nasi ke hadapan Isyana.
Isyana menerima lalu menyantapnya dengan lahap bahkan satu piring nasi pun sudah tandas. Zidane bahagia sekali karena akhir-akhir ini Isyana jarang menghabiskan makanannya tapi malam ini dia makan begitu lahapnya membuat dirinya pun ikut menelan ludah melihat kerakusan istrinya. Nampaknya mulai hari ini Isyana sudah bisa menyingkirkan rasa mual-mualnya terhadap rempah-rempah buktinya ikan yang dimasak dengan berbagai olahan sudah masuk ke perutnya tanpa berontak. Padahal dirinya kan hanya ngidam telur ikan tapi sama ikan-ikannya pun sudah tandas.
"Siap-siap Pak mengikuti keinginan ngidam istri Bapak, tampaknya setelah ini dia akan banyak menuntut Bapak untuk memenuhi selera makannya," ujar Dion.
Dan benar saja semenjak malam itu Isyana terlalu banyak permintaan. Dia sering menginginkan makanan apapun yang dilihatnya. Sontak ketika menyaksikan acara makan-makan ataupun kuliner di televisi Zidane selalu mengubah chanel televisinya. Karena kalau tidak Isyana akan menginginkannya tanpa perduli waktu dan dia akan terus merengek sampai Zidane mengabulkannya.
"Rupanya si dedek pengen bantuin mama balas dendam ke papa karena waktu ngidamnya mama pas hamil kita papa tidak ada," ujar Tristan disertai anggukan Nathan tanda setuju dengan ucapan adiknya itu.
Zidane yang mendengar pembicaraan keduanya jadi berpikir, "Apa iya ya?" batinnya.
__ADS_1
Bersambung....