
Sebelum melanjutkan cerita Author mau bilang kalau cerita pasangan-pasangan di sini akan langsung dituntaskan di novel ini ya tidak akan pecah lagi. Jadi kalau ceritanya nyabang di maklumin aja ya!๐
โญ Happy Reading โญ
Setelah acara ijab Qobul dan doa selesai Adel berbisik di telinga Yuna. "Tante aku sudah boleh menghampiri bunda kan?"
"Boleh sana."
Adel pun pergi menghampiri Annete dan Adrian yang kini sudah bersiap-siap beranjak ke pelaminan untuk menyambut para tamu. Diikuti kedua kurcaci di belakangnya yang ingin memberikan ucapan selamat.
"Bunda!" Panggilnya.
"Hei anak bunda darimana sih tadi kok baru muncul?"
"Adel dari tadi sama tante Yuna dan Juju. Tante Yuna bilang nggak boleh dekat-dekat dulu sama bunda dan ayah takutnya mengganggu tapi karena sekarang acara ijab qabulnya udah selesai jadi Adel diizinin deh ke sini."
"Oh gitu ya, yuk ikut bunda ke sana!"
"Gendong!" Pinta Adel manja pada Adrian.
"Adel jangan manja, kamu sudah besar nggak malu apa dilihat para undangan?" Tumben dia minta gendong pikir Adrian. Namun entah kenapa hari ini belum apa-apa Adrian sudah merasa capek duluan.
"Soalnya hari ini kan hari terakhir Adel bisa digendong oleh ayah setelah ini tidak akan lagi."
"Apa maksud mu, apa tubuh kamu terasa sakit lagi?" Raut wajah Adrian berubah khawatir jangan-jangan Adel akan meninggalkan dirinya untuk selamanya. Dia pikir itu adalah permintaan terakhir Adel.
"Tidak."
"Terus kenapa bicara seperti itu?"
"Kata Tristan setelah mama dan papanya menikah om Zidane sudah tidak pernah menggendong dia lagi. Om Zidane katanya lebih suka gendong Tante Isyana. Dan ayah juga pasti tidak akan menggendong Adel lagi kan sekarang sudah ada bunda."
"Oh begitu ya, ayah pikir kenapa. Kamu dibohongi tuh sama Tristan om Zidane nggak gendong dia lagi karena dia udah gede udah berat pastinya. Adel tenang saja ayah pasti akan tetap sayang sama Adel meskipun sudah ada bunda. Adel bisa minta gendong sama ayah kapan saja tapi jangan sekarang ya." Tristan menarik tangan Nathan untuk mundur. Mereka tidak jadi menghampiri Annete dan Adrian karena takut kena protes.
"Kalau berat kok masih kuat gendong tante Isyana?"
Hem ada-ada saja si Tristan lagian ngapain sih Zidane gendong istrinya di depan anak-anaknya.
"Mas kenapa menolak sih," protes Annete. "Adel mau nggak kalau bunda yang gendong?"
"Mau lah Bun."
"Ya udah ayo," ucap Annete sambil merentangkan kedua tangannya.
Adrian menggeleng. "Jangan Del tuh lihat baju bunda susah kalau jalan apalagi harus gendong kamu. Ayo ayah yang gendong saja." Akhirnya Adrian mengalah daripada istrinya yang menggendong Adel.
"Tidak apa-apa Mas orang Adel nggak berat kok, ayo Del."
"Bukan begitu sayang tapi baju kami belibet tuh entar jatuh."
"Nggak apa-apa Mas kami kan bisa bantu pegangi bagian yang menjuntai ke lantai."
"Baiklah kalau begitu." Adrian memungut bagian gaun yang menjuntai ke lantai dan mengikuti Annete yang berjalan sambil menggendong Adel.
Banyak pasang mata yang melihat kagum ke arah Annete terutama rekan sesama dokter dan teman-teman Adrian yang lain karena melihat Annete begitu menyayangi anak tirinya. Mereka berpikir Adrian begitu beruntung mendapatkan istri seperti Annete. Namun berbeda dengan Anisa dia memandang tidak suka ke arah Annete.
Seharusnya aku yang ada di posisi itu bukan kamu, pokoknya sampai kapanpun aku tidak rela kamu mengambil dan menguasai keluargaku. Aku harus mengambil balik keduanya apapun caranya.
"Wah selamat ya Dri akhirnya dapat ganti yang lebih baik dari Anisa. Pantas saja waktu dia kau bawa ke acara malam itu aku merasa sikapnya berbeda ternyata dia Annete toh bukan Anisa. Semoga kali ini pernikahanmu samawa ya sampai akhir hidup kalian."
"Amin, Terima kasih ya Lea atas doanya."
"Terima kasih ya Mbak."
"Iya sama-sama. Eh aku ke sana dulu ya."
"Iya boleh dicicipi tuh hidangannya."
__ADS_1
"Suruh dicicipi doang Dri?" goda dokter Lea sambil tertawa.
"Bukan begitu maksudku, silahkan dimakan dihabisi juga boleh."
"Dihabisi, emang aku pembunuh? Ya sudah deh aku ke sana," lanjut Lea sambil cekikikan.
"Adel sudah punya bunda, Juju kapan ya? Tante sama papi katanya mau nikah tapi kok belum nikah-nikah juga sampai sekarang?" Yang ditanya malah sedang melamun. Meski matanya menatap Annete dan Adrian yang kini bersalaman dengan para tamu namun pikirannya tidak ada di sana.
Yuna malah mengingat saat-saat mamanya memberikan penolakan pada Andy.
"Kamu mau menikahi anak saya mau dijadikan istri atau mau dijadikan babu?"
"Maksud Tante?" Andy tidak mengerti mengapa calon mertuanya mengatakan itu saat dia mengutarakan keinginannya untuk melamar Yuna.
"Kamu tahu selama ini kamu membuat dia hanya terfokus padamu dan memanfaatkan dia untuk mengurus keluargamu. Adikmu, ibumu dan sekarang malah anakmu. Kamu telah membuang-buang waktu anak saya dengan menunggumu bertahun-tahun padahal sudah banyak laki-laki yang sudah melamarnya." Mama Yuna kesal karena setiap ada yang melamar Yuna gadis itu selalu menolaknya dengan alasan masih mencintai Andy dan akan terus menunggunya. Dia pikir Yuna dan Andy sempat mengikat janji.
"Ma, Mama ngomong apa sih? Aku melakukan itu karena aku tulus ingin membantu bukan karena permintaan Andy dan aku menunggu Andy bukan karena dia yang memintanya juga tapi karena aku yang memang masih mencintainya. Kesalahan ada padaku Ma bukan padanya. Itu terjadi karena semata-mata aku masih mencintainya.
"Cinta macam apa? Mana mungkin kamu bisa mencintainya seperti itu. Mama yakin dia pasti pakai pelet."
"Ma!" Yuna berkata dengan suara meninggi. Bisa-bisanya mamanya berkata seperti itu.
"Astaghfirullah hal adzim Tante saya tidak pernah melakukan hal seperti itu."
"Pokoknya mama tidak setuju. Kamu itu ya Yun dilamar pria yang masih perjaka tidak mau malah nyari yang duda. Sudah gitu anaknya lumpuh lagi. Pasti kamu hanya dibutuhkan untuk merawat dia semata."
"Maaf Tante tapi semua itu tidak benar. Aku janji nanti kalau kami sudah menikah tidak akan membiarkan Yuna ikut merawat Juju biarlah pengasuhnya saja yang merawatnya."
"Pokoknya mama tetap tidak setuju. Yuna sudah saya jodohkan dengan orang lain."
"Tapi aku tidak mau Ma."
"Kali ini mama tidak ingin penolakan lagi. Kamu harus menuruti keinginan mama lagipula dia orangnya baik, mapan, tampan dan yang lebih penting dia belum pernah menikah. Jadi kalian berdua pasti bakalan cocok." Mami menekankan pada kata belum pernah menikah.
"Dan yang perlu kamu ketahui mama sudah terlanjur membuat janji dengan keluarganya untuk menjodohkan kalian. Mama harap kamu bisa mengerti dan tidak mengecewakan mama," lanjutnya.
"Pokoknya mama tidak akaan merestui," ucap mama dengan menaikkan oktaf suaranya karena geram Yuna masih ngotot sedari tadi.
"Mams dan papa dulu menikah tanpa cinta, kami dijodohkan tetapi mengapa kami sekarang hidup bahagia. Apa salahnya kau mencoba menerima perjodohan ini?"
"Yuna tidak mau ambil resiko Ma. Yuna hanya ingin menikah satu kali seumur hidup. Kalau mami tidak bisa merestui tidak apa-apa biar Yuna minta restu papa saja."
"Ada apa ini?" tiba-tiba papa Robert datang.
"Berani papa merestui mereka berdua maka mama akan meninggalkan papa." Mama langsung mengancam papa Robert dan papa Robert hanya menelan ludah mendengar ancaman istrinya padahal dia saja belum tahu akan permasalahannya.
"Sudah yuk Dy, kita pergi saja. Tidak ada gunanya lagi kita di sini." Yuna yakin pasti papi Robert akan lebih menuruti keinginan mamanya.
Sebutir air mata lolos dari pelupuk mata Yuna mengingat semua itu.
"Tante kenapa menangis? Pertanyaan Juju salah ya tadi? Juju minta maaf ya Tante."
"Ah, apa kamu bilang tadi?" Yuna tersadar dari lamunannya.
"Kamu pasti ingat kata-kata mama kamu ya? Sabar ya Yun cinta itu memang butuh perjuangan," ucap Andy sambil mengusap-usap punggung Yuna untuk menyalurkan ketenangan.
Yuna langsung memeluk Juju. "Maaf Tante tadi tidak konsen. Juju bilang apa tadi?"
"Lupakan saja Tante." Juju tidak ingin membuat Yuna bersedih kembali.
Seorang laki-laki yang sedang menyantap makanannya segera berhenti tatkala melihat putrinya nampak bersedih bahkan sampai meneteskan air mata. Dia tahu putrinya sangat mendambakan pernikahan saat melihat mempelai di pelaminan sambil termenung. Dia langsung beranjak menghampiri sang putri.
Sampai di belakang Yuna dia langsung menepuk punggung putrinya. "Menikahlah dengan Andy papa pasti datang menjadi wali."
Yuna menoleh. "Papa?" Robert hanya mengangguk kemudian merentangkan tangannya agar putri satu-satunya itu masuk ke dalam pelukannya.
"Benar yang papa katakan tadi bahwa papa akan merestui kami?"
__ADS_1
"Pasti demi kebaikan anak gadis papa." Yuna semakin erat memeluk Robert sambil menangis tapi kali ini bukan tangis kesedihan melainkan tangis kebahagiaan.
"Terima kasih ya Pa."
"Terima kasih ya Om akhirnya Om merestui kami juga."
"Sama-sama tapi kamu janji ya jangan pernah menyia-nyiakan anak saya."
"Pasti Om."
"Baiklah kalian atur saja kapan pernikahan kalian akan diselenggarakan."
"Tapi kalau mama marah dan meninggalkan papa bagaimana?"
"Tidak perlu kamu pikirkan biar itu jadi tugas papa saja."
"Baiklah Pa nanti kami akan kabari Papa secepatnya."
"Ya sudah, kalian tidak mau salaman sama kedua mempelai?"
"Ah iya aku hampir lupa tapi Papa kenapa bisa ada di sini juga. Siapa yang mengundang papa?"
"Nak Adrian lah yang ngundang papa tapi yang mewanti-wanti papa harus hadir ya nak Zidane."
"Oh gitu ya Pa. Sudah ya aku ke Adrian dulu. Papa sudah?"
"Sudah tadi, papa mau lanjutin makan saja."
"Oke Om selamat menikmati."
Yuna dan Andy berjalan ke arah Adrian dan Annete untuk memberikan ucapan selamat. Tak lupa mereka juga mendorong kursi roda Juju agar ikut serta.
"Kenapa kalian nampak bahagia?" tanya Zidane yang sudah lebih dulu ada di pelaminan.
"Terima kasih ya Dan atas bantuannya. Kamu memang adik yang terbaik deh."
"Kalau dia yang terbaik aku yang ter apa dong?" Ara protes.
"Ter imut dan ter...cerewet."
"Hem, imut emang aku boneka apa," protesnya lagi.
"Iya kamu kan spirit doll," ujar Andy cekikikan.
"Kenapa nggak bilang aja sekalian kuntilanak, ayo Mas kita makan-makan saja ngomong sama bang Andy bikin tensi naik saja," ucap Ara sambil menarik pergelangan tangan Lexi.
"Bilang saja kamu ngiler lihat makanan."
Ara berbalik. "Kalau yang itu bang Andy seratus persen benar." Andy hanya geleng-geleng kepala mendengar jawaban sang adik.
"Kenapa kalian sudah berhasil mendapatkan restu?"
"Iya Bang."
"Baguslah berarti rencana kami berhasil. Saya dan Adrian sengaja memaksa om Robert datang karena kami tahu dia pasti terenyuh kalau putri satu-satunya terlihat sedih soalnya dia tahunya anak satu-satunya ini kan periang, tegar, keras dan mandiri."
"Ada-ada saja kamu Dan kenyataannya aku tuh lemah di dalam, tapi terima kasih ya atas semuanya."
" Iya. Ya sudah aku turun duluan ya!"
"Iya."
Zidane dan Isyana turun dari pelaminan dan sekarang giliran Andy dan Yuna yang memberi selamat pada Annete dan Adrian.
Bersambung......
Jangan lupa tinggalkan jejak!"๐
__ADS_1