Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 56. Mencari Tahu


__ADS_3

Setelah melewati sesi makan berdua akhirnya mereka turun juga ke lantai bawah menemui Lexi dan kedua putranya.


Kedua anak itu berhamburan ke pelukan Isyana.


"Ma, mama nggak apa-apa?"


"Mama baik-baik saja kok sayang."


Sedangkan Zidane menghampiri Lexi.


"Lex, jelaskan padaku!" tarik Zidane tangan Lexi.


"Gimana Brother mantap nggak?" Lexi malah bertanya sambil mengedipkan kedua matanya.


"Maksud Lo?"


"Hareudang nggak?"


"Cih Lo dapat darimana istilah itu?"


Lexi terkekeh, "Kalo Lo mau tanya tentang semuanya tanya saja pada anak-anak Lo atau tanya aja langsung sama Isyana nggak usah nyurigain gue segala."


"Kalau gue yang ngasih obat mana mungkin gue nyuruh anak-anak ngubungin Lo yang ada gue embat sendiri tuh Isyana," imbuhnya.


"Jangan macem-macem Lo ya!"


"Mas, sudah ah jangan ngegas mulu, biar Syasa ceritakan semuanya."


Isyana menceritakan semuanya, dimulai dari dia yang menerima telepon dari salah satu karyawannya di Paris kemudian pertemuannya dengan laki-laki yang mengaku bernama Lean sampai pada dirinya yang tiba-tiba pusing dan kepanasan. Setelah Isyana menyudahi ceritanya Tristan menyambung cerita tersebut dengan yang dilihatnya dan dilakukan mereka ketika mengikuti mamanya.


Zidane meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Halo Tuan."


"Cari tahu tentang anak buah tuan Smith Robertson yang bernama Lean Franklin."


Beberapa saat kemudian ponsel Zidane bergetar ia meraih dan mengangkatnya.


"Tuan Lean Franklin saat ini bersama tuan Smith sedang menghadiri sebuah workshop di salah satu gedung di Paris."


"Apa kamu yakin?"


"Menurut anak buah kita yang ada di sana iya Tuan. Tuan bisa menanyakannya langsung pada tuan Edward karena kebetulan dia juga sedang menghadiri undangan di sana."


"Oke." Zidane memutuskan sambungan teleponnya dan langsung menghubungi Edward.


"Apa?"


"Iya benar bahkan Lean dan tuan Smith sudah ada di sini semenjak pagi."


"Damn it berarti ini sudah direncanakan." Zidane langsung menutup teleponnya.


"Halo... halo...."


"Lex kamu bawa isyana dan anak-anak pulang duluan aku mau ke bagian cctv dulu."


"Ikut Pa," rengek keduanya.


"Aku juga," sambung Isyana.


"Baiklah kamu sama Annete boleh pulang duluan."

__ADS_1


"Yakin Brother nggak butuh bantuanku?"


"Iya biar ku selesaikan sendiri aja dulu kalau butuh bantuanmu nanti aku hubungi."


"Oke, Ayo Net kita balik!"


Isyana dan kedua putranya mengikuti Zidane ke ruangan cctv dengan diantar seorang pelayan.


"Apa! Rekaman cctv-nya tidak ada?"


"Maaf Tuan memang sedari pagi tadi kebetulan listrik padam. Sebenarnya kami menggunakan alat genset untuk semua barang elektronik yang ada di hotel namun tidak dengan cctv kami memang tidak menyambung cctv dengan genset karena cctv memiliki UPS nyatanya setelah diperiksa ada beberapa cctv yang UPS-nya rusak termasuk cctv yang berada di loby hotel, kamar 102 dan lorong-lorong yang menuju ke sana."


"Brengsek! Kalian tahu hampir terjadi pemerkosaan di tempat ini dan kalian malah tidak bisa mendukung untuk pemberian bukti. Hotel macam apa ini? Perbaiki sistem kalian kalau tidak aku pastikan tidak akan ada yang mau menginap di sini lagi."


"Baik Tuan, mohon maaf atas ketidaknyamanannya."


"Bagaimana Atan?" Tristan bertanya pada Nathan yang sejak tadi mengotak-atik Ipad-nya. Mungkin Nathan bisa memulihkan semuanya pikir Tristan.


Seolah tahu akan pertanyaan Tristan, Nathan menjawab, "Tidak bisa Itan karena tidak ada rekaman yang masuk." Nathan berbicara dengan berbisik.


"Ayo kita ke meja resepsionis saja," ajak Zidane.


Setelah sampai ke meja resepsionis mereka mendapatkan informasi bahwa yang check in di kamar 102 itu bukan atas nama Lean tapi atas nama Isyana.


"Hotel yang aneh," pikir Zidane.


"Bagaimana ini, bagaimana caranya mencari tahu kalau tidak ada informasi sedikitpun tentang orang itu? Bagaimana menyuruh orang-orangku karena bahkan fotonya saja tidak ada."


"Kita kembali ke cafe tempat mama bertemu dengan pria itu saja Pa," saran Nathan.


"Dimana itu?"


"Di sekitaran sini juga Pa, ayo kita ke sana!"


##


Di dalam salah satu ruangan hotel.


"Tuan semuanya sudah beres, tapi mereka sekarang mencoba mencari informasi tentang Derly di cafe tempat Derly bertemu dengan wanita itu."


"Cepat atasi! Bagaimana mungkin kita melupakan tempat itu."


"Segera Tuan." Pria tersebut meraih laptopnya dan mulai bekerja.


"Beres Tuan."


"Bagus."


##


"Mana manager cafe kalian? Kami ingin bertemu."


"Baik Tuan ayo saya antar!"


Seorang karyawan mengantarkan Zidane ke ruangan manager cafe.


Tok-tok-tok. Karyawan itu mengetuk pintu ruangan sang manager.


"Bu, ada yang ingin bertemu."


"Suruh masuk."

__ADS_1


"Ayo Tuan silahkan masuk." Pelayan itu membukakan pintu kemudian pamit kepada sang manager.


"Kalau begitu kami permisi dulu Bu."


"Iya." Sang manager menjawab sambil berkutat dengan pekerjaannya sedangkan Zidane memasuki ruangan berjalan dengan angkuhnya.


Sepersekian detik manager itu mengangkat muka untuk mempersilahkan tamunya duduk.


"Silahkan duduk Pak...eh Zidane?" Dia terkejut tamunya adalah Zidane.


"Kamu Yuna? Kamu pemilik cafe ini?"


"Iya, apa kamar kamu? Sudah lama tidak berjumpa kamu semakin tampan saja." Yuna terkekeh.


"Cih tetap saja suka ngegombal, kabarku baik kabarmu sendiri?"


"Baik juga. Apa gerangan yang membuat Tuan Zidane datang kemari?" candanya.


"Ada sedikit masalah di cafe ini."


"Masalah?" Yuna mengerutkan dahinya.


"Ya aku ingin bertemu dengan pelayan yang melayani tamu di meja nomor 25 pada jam 7.30 pagi."


"Ada apa ini?"


"Nanti kamu juga bakalan tahu."


"Sebentar aku ke bagian dapur dulu untuk menanyakan pada semua karyawan saya."


Setelah itu Yuna kembali ke ruangan dengan membawa seorang gadis yang umurnya sekitar 15 tahunan.


"Dia pelayanan yang melayani meja nomor 25 pada jam yang kau sebutkan tadi. Ada apa sih sebenarnya?"


"Mengapa kamu memasukkan obat perangsang ke minuman istri saya?!" Tanpa basa-basi Zidane langsung mengintrogasi gadis itu.


"Memasukkan obat perangsang? Istri Tuan?" Gadis kecil itu tampak gemetar karena takut sedangkan Yuna tampak terkejut.


"Ya. Siapa yang menyuruhmu?"


"Maaf istri Tuan yang mana?" Gadis itu meremas kuat kedua tangannya dalam hati berdoa agar wanita yang dimaksud lelaki di hadapannya kini bukanlah orang yang sama dengan wanita yang tadi pagi.


"Tunggu sebentar." Zidane keluar kemudian kembali ke ruangan bersama Isyana.


"Dia istri saya."


Gadis itu memandang wajah Isyana yang juga memandangnya.


"Matilah aku." Dalam hati gadis itu berbicara.


"Apakah aku harus berbohong? Oh tidak wanita ini pasti mengenaliku." Dalam hati gadis itu berkecamuk sendiri.


Akhirnya dia menunduk dan berkata, "Iya Tuan aku yang memasukkan obat itu tapi...."


"Apa maksudnya kamu melakukan itu? Siapa yang menyuruh mu?" Reflek tangan Zidane mencekik leher gadis kecil itu karena amarah.


"Zidane lepaskan dia!" Yuna berteriak.


"Mas lepas dia!" ucap Isyana melihat gadis itu tersengal-sengal.


"Uhuk-uhuk." Gadis kecil itu terbatuk ketika cengkraman tangan Zidane terlepas.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2