
'Dret-dret-dret.'
"Halo Om ada apa?"
"Kamu lagi dimana sekarang?"
"Di cafe lagi kerja."
"Ooh."
Telepon ditutup.
"Aneh mau apa tuh orang," gumam Naura.
Beberapa saat kemudian.
"Naura ada Lexi di depan katanya mau ketemu kamu," kata Yuna.
"Mau apa katanya Bu? Saya lagi sibuk ini."
"Sudah kamu temui saja sana biar sindi yang menggantikan pekerjaanmu."
Naura menggangguk, membuka celemek, mencuci tangan kemudian mengeringkannya dengan kain lap lalu beranjak ke luar dapur menghampiri Lexi.
"Ada apa Om?"
"Hari ini aku ingin menepati janji padamu?"
"Janji apa ya?" Naura bahkan sudah lupa.
"Membelikan apapun yang kamu minta karena telah membantu ku malam itu."
"Oh ia ya Om aku hampir lupa." Naura tampak berpikir lalu melakukan penawaran. "Boleh kasih uangnya langsung?"
"Nggak bisa."
Naura tampak menggaruk kepala. "Kalau begitu lain kali aja ya Om, nggak usah juga nggak apa-apa soalnya sekarang aku lagi sibuk kerja. Nggak enak sama Bu Yuna kalau harus meninggalkan cafe."
"Sudah ayo! Aku sudah minta Izin tadi sama Yuna," ucap Lexi sambil menarik tangan Naura. Akhirnya Naura pasrah mengikuti langkah Lexi keluar dari cafe milik Yuna.
"Kita kemana dulu?"
"Ke toko buku aja, aku pengen beli buku panduan magang karena bentar lagi aku mau prakerin di salah satu perusahaan besar."
"Oh ya, kamu praktek dimana?"
"Di perusahaan Nusantara group."
"Kenapa tidak minta di perusahaan Zidane aja?"
"Nggak Om kebetulan sekolah kami tidak bergabung dengan perusahan om Zidane jadi kalau ingin ke sana harus ngurus sendiri agak ribet bagiku sedangkan aku juga harus kerja di cafe."
"Oh gitu ya. Kenapa nggak ngomong langsung sama Zidane?"
"Nggaklah Om aku tidak mau merepotkan orang lain. Nggak enak juga sama om Zidane."
"Iya juga sih lebih baik mengandalkan diri sendiri daripada meminta belas kasihan orang lain."
Naura hanya mengangguk dan seperti permintaan Lexi membawanya ke toko buku.
"Sudah sampai ayo turun!"
Naura pun turun dari mobil dan masuk ke toko buku. Memilih-milih buku yang sekiranya cocok kemudian melangkah ke arah kasir.
"Sudah?" tanya Lexi.
"Sudah Om."
"Yakin nggak mau beli buku yang lain? Novel atau apa gitu?"
"Emang boleh Om?"
Lexi mengangguk. Naura tampak antusias kembali ke rak-rak buku di sana sambil mencari buku yang diinginkannya. Beberapa saat kemudian kembali dengan membawa dua buku di tangannya.
"Coba lihat!" Lexi meraih buku yang dipegang Naura.
"Eh kamu pecinta komik?" tanya Lexi ketika melihat dua buku tersebut semuanya adalah komik.
__ADS_1
"Iya Om."
"Sekarang kemana lagi?" tanya Lexi setelah keluar dari toko buku.
"Balik ke cafe aja Om."
"Nggak mau beli baju buat dipakai di kantor nanti?"
"Nggak usah Om sudah ada seragam dari sekolah. Makanya tadi aku minta uangnya aja sama om buat bayar seragam itu."
"Iya tapi biasanya kan ada saat-saat kamu tidak memakai seragammu itu."
"Iya mungkin ya."
"Ayo ke toko pakaian mumpung Om Lexi lagi baik hati," kelakar Lexi.
"Tapi Om Lexi tidak menginginkan aku membantu lagi kan? Tidak akan melibatkan aku dengan hubunganmu dengan Tante Annete lagi kan?"
"Itu pasti selama aku butuh bantuan."
"Yaa...." Naura kecewa dia pikir semuanya sudah berakhir.
"Ayo!" Lexi menarik tangan Naura lagi dan membawanya ke dalam mobil. Naura menyandarkan dirinya di sandaran mobil.
"Om."
"Ya?"
"Om nggak takut ya lama-lama suka sama Naura?" ucap Naura sambil memainkan matanya kemudian tertawa memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
Lexi terkekeh. "Kamu itu seperti adik buat ku. Manamungkin aku suka sama bocah-bocah."
"Baguslah kalau begitu soalnya kalau sampai om Lexi jadi suka sama aku gara-gara sering dekat aku tidak bisa membalas perasaan om Lexi," ucapnya lalu tertawa kembali.
"Kamu sudah punya pacar gitu maksudnya?"
"Eh, nggak juga cuma aku lagi suka aja sama seseorang."
"Kalau begitu semangat dan kejarlah cintamu itu!"
"Terima kasih Om."
"Yang mana yang bagus Om?"
"Kalau nggak dicoba mana tahu."
Akhirnya Naura masuk ke dalam ruang ganti dan berganti pakaian.
Beberapa saat kemudian keluar dengan setelan rok dan kemeja polos.
"Bagaimana Om?"
"Coba yang setelan celana itu."
"Hah, baiklah."
"Gimana Om?"
"Yang model itu saja," tunjuknya pada pakaian lain.
"Oke."
"Gimana Om nggak cocok juga ya sama aku? Emang sih aku jelek jadi kayak nggak pantas ya pakai baju kantoran."
"Ngomong apa sih kamu?"
"Mbak tolong bungkuskan itu semua!"
"Om?" Maura tidak percaya Lexi membelikan semuanya.
"Kenapa? Semuanya cocok kok buat kamu."
"Bukan begitu Om tapi aku kan cuma PKL bukan kerja beneran."
"Ya nggak apa-apa bisa dipakai saat kamu kerja beneran nanti."
"Terserah Om aja deh yang penting buatku kan gratis."
__ADS_1
"Dasar penyuka gratisan," ledek Lexi.
"Kenapa suka sama tas itu?" tanya Lexi yang tidak sengaja melihat Naura menatap kagum pada salah satu tas yang tergantung di pojok toko."
"Ah nggak," bohong Naura.
"Mbak ambilkan tas yang itu ya!" perintah Lexi pada pelayan toko.
"Jangan Om nggak usah." Naura takut banyak berhutang budi apalagi Lexi belum jadian dengan Annete.
"Nanti aja kalau om udah jadian sama Tante Annete baru belikan aku tas ini," ucap Naura sambil memeriksa harga tas itu.
"Terlalu mahal om, nggak cocok buat aku," kilahnya.
"Nggak apa-apa ambil aja. Eh Nanti bantuin aku ya."
"Benar kan? Pasti ada maunya. Sudah kangen ya sama tante Annete?"
"Bukan masalah Annete tapi aku baru saja beli apartemen. Jadi kamu bantu ya menata ruangannya soalnya aku tidak terlalu pintar menata ruangan."
"Kalau cuma itu sih gampang. Emang Om mau pindah dari rumah opa si twins?"
"Iya aku nggak enak tinggal di sana sebab Nathan dan Tristan kan sudah tinggal sama papanya. Habis ini kita ke mall ya ada beberapa barang yang harus aku beli."
"Oke Om siap!"
Setelah sampai di mall mereka mencari bahan-bahan yang ingin di beli.
"Om mau beli bahan-bahan dapur nggak siapa tahu om mau masak."
"Bolehlah kamu pilihkan aja nanti biar aku nyuruh si bibi tiap pagi bersihkan apartemen sekaligus masak."
"Mana aku tahu om suka masakan apa."
"Terserah kamu saja om bisa makan apapun."
Sementara Naura memilihkan bahan-bahan dapur Lexi melihat Annete dan Adrian beserta Adel sedang berbelanja dan berjalan ke arah mereka.
"Om buahnya mau yang mana?"
Lexi tidak mendengarkan pertanyaan Naura malah merangkul tubuh mungil itu.
"Om apa-apaan sih!" protes Naura namun jadi terdiam tatkala melihat Annete.
Annete memandang mereka berdua dengan perasaan tidak suka dan Lexi semakin memanasinya dengan bertingkah mesra pada Naura. Memeluk pinggang Naura dan sesekali menyelipkan anak rambut Naura yang menjuntai ke matanya.
"Mas kita ke sana saja ya!" ajak Annete pada Adrian.
Adrian yang mengerti akan keadaan langsung mengangguk dan mengikuti langkah Annete.
Setelah Annete pergi tiba-tiba saja beberapa teman Naura menghampiri mereka.
"Ya ampun Naura ternyata Lo pinter juga ya ngegaet cowok. Udah ganteng kayaknya tajir lagi," ucap salah satu teman Naura sambil memandang Lexi tak berkedip. Lexi hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah teman-teman Naura.
"Udah gitu bule lagi," tambah yang lain.
"Pasti hebat di ranjang ya!"
"Besar nggak?"
"Astaga kalian semua mesum banget sih. Makanya jangan suka nonton video yang begituan orang aku nggak ada hubungan apa-apa kok sama om Lexi."
"Walaupun om-om aku juga mau kok jadi sugar baby-nya," timpal yang lain tanpa mendengar ucapan Naura.
Mendengar ocehan teman-temannya Naura memijit dahinya yang tiba-tiba pening lalu berlari meninggalkan semuanya.
"Naura tunggu!" Lexi berlari mengejar Naura.
"Naura tunggu kami cuma bercanda." ucap teman-temannya.
"Gawat bisa-bisa kita nggak dapat contekan lagi," kata salah satu dari mereka.
"Naura masuk!" perintah Lexi yang kini sedang mengendarai mobilnya sambil mengejar Naura.
"Nggak Om maaf aku tidak bisa bantu om lagi. Om lihat kan tadi teman-temanku menganggap kita apa? Aku tidak mau om kita dianggap sugar baby dan sugar daddy. Lagian Om sih ngapain tadi pakai acara peluk segala. Aku jadi tidak punya muka sama teman-teman."
"Naura masuklah! Om minta maaf. Hari ini saja om minta bantuan mu. Om janji setelah ini om tidak akan mengganggu kamu lagi dan om tidak akan melibatkan mu juga dalam masalah om sama Annete" ucap Lexi memelas.
__ADS_1
Melihat ekspresi Lexi Naura jadi terenyuh. "Baiklah Om tapi setelah hari ini om tidak usah dekat-dekat lagi denganku," ucap Naura sambil naik ke dalam mobil.
"Baiklah Om janji."