Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 40. Ikut denganku!


__ADS_3

"Gimana ini Itan kok paman belum tidur juga?" bisik Nathan di telinga Tristan padahal hari sudah larut malam bahkan hampir pagi. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 3 dini hari.


Semalaman Nathan dan Tristan menunggu tidurnya Zidane hanya agar dapat mengambil rambutnya namun yang di tunggu belum tidur juga malah masih senyum-senyum sendiri sambil mengetikkan sesuatu di layar ponselnya.


"Kena kamu!" bicara sendiri.


"Atan kuku kamu tajam nggak?" Masih berbisik.


"Sedikit sih emang kenapa?"


"Ayo garukin punggung aku hingga tergores!"


"Apa-apaan sih Itan! Emang kamu mau ngapain?"


"Ayo lakukan saja tidak usah banyak tanya!"


Nathan pun melakukan apa yang diminta Tristan. Dia menggaruk punggung Tristan agak keras hingga tersisa bekas coretan di sana. Tristan pun meringis menahan sakit.


"Paman belum tidur?" Akhirnya Nathan memberanikan diri bertanya. Tidak biasanya Zidane bergadang sampai selarut ini. Biasanya dia bergadang kalau masih ada pekerjaan saja dan biasanya bukan di kamar tapi di ruang kerja.


"Paman lagi chat-tan sama siapa?"


"Sama mama kalian. Eh!" Zidane keceplosan.


"Eh kalian belum tidur juga?"


"Belum nggak tahu kenapa Itan malam ini kok tidak bisa tidur. Kalau saja ada mama biasanya dia garukin punggung Itan sampai Itan terlelap."


"Baiklah paman akan menggantikan mama kalian. Sini biar paman yang garukin!"


Tristan merapat ke tubuh Zidane dan Zidane mulai mengusap lalu menggaruk punggung Tristan. Tangannya bekerja menggaruk namun matanya tetap fokus pada layar ponsel. Hal ini membuat Tristan mencuri kesempatan untuk mengecohnya.


"Auw, aduh, sakit Paman! Pasti kuku Paman tajam ya?"


"Kenapa, kenapa?" Zidane panik mendengar Tristan mengaduh.


Zidane kemudian menarik baju Tristan ke atas kemudian melihat punggung Tristan.


"Maaf ya Paman membuatmu luka. Paman tidak sengaja tadi."


"Coba lihat kuku Paman!" Tristan memegang tangan Zidane dan memeriksa kukunya.


"Pantes saja tajam orang panjang begini."


"Iya ya ternyata itu alasannya kenapa mama tidak ngebolehin kuku kita panjang," sambung Nathan.


"Mama kalian nggak ngebolehin kuku kalian panjang karena kalian masih kecil," ujar Zidane.


"Bukan begitu Paman tapi mama memang nggak suka sama laki-laki yang kukunya panjang. Kata mama kalau lelaki kukunya panjang itu menyeramkan."


"Benarkah?"


"Iya Paman."


"Kalau begitu aku harus memotong kukuku." Zidane beranjak dari tempat tidur untuk mengambil pemotong kuku kemudian balik lagi ke ranjang dan duduk sambil memotong kukunya.


Nathan memunguti potongan kuku tersebut.


"Nathan buat apa kamu mengumpulkan potongan kuku Paman?"


"Ya mau dibuang lah Paman kalau dibiarkan di sini nanti kena tubuh kami lagi."


"Biar Paman aja nanti yang buang! Kalian tidur aja sana!"


"Nggak apa-apa Paman biar Nathan aja lagian Nathan masih belum ngantuk."


"Oh ya sudah kalau itu mau kamu."


"Paman karena kuku Paman sudah dipotong garuk-garuk lagi ya!" pinta Tristan.

__ADS_1


"Oke ayo!"


Tristan membaringkan tubuhnya membelakangi Nathan begitupun Zidane yang menggaruk punggung Tristan. Kesempatan ini digunakan Nathan untuk memasukkan kuku-kuku Zidane ke dalam plastik dan memasukkan ke dalam tas mereka.


Setelah beres mereka akhirnya bisa tidur dengan tenang.


"Oma Paman Zidane kemana?"


"Oh paman Zidane tadi sudah berangkat ke kantor. Dia tadi ingin membangunkan kalian tapi tidak jadi katanya kalian semalaman tidak bisa tidur pasti pagi ini masih ngantuk."


"Kalau begitu kami mau pulang dulu ya Oma?"


"Memang ada yang jemput?"


"Belum Oma tapi biar kami telepon aunty Annete saja sebab kemarin dia janji bakalan menjemput kami."


"Tidak perlu menghubungi Annete biar kalian diantar sopir oma aja."


"Oke Oma."


Nathan dan Tristan pergi dengan diantar sopir Oma Laras ke rumah dokter Adrian.


"Ini Om dokter kuku paman Zidane." Nathan menyerahkan sampel kuku Zidane kepada Adrian.


"Kuku kalian Mana?"


"Eh kuku kami?"


"Iya salah seorang saja."


"Kalau begitu kuku saya aja soalnya kemarin pakai rambut Nathan nggak cocok kali aja kalo pake kuku saya jadi cocok."


"Jangan pake kuku Atan aja! Kalo nanti kuku Itan cocok dan kemarin rambut saya nggak cocok berarti yang anak om Zidane itu Itan sedang aku bukan."


"Kalian kan kembar? Jika salah satu dari kalian cocok berarti ya cocok semua." Adrian geleng-geleng kepala melihat kepolosan mereka. Sedangkan Annete hanya senyum-senyum saja mendengar omongan kedua anak asuhnya.


"Pokoknya kuku aku."


"Sudah-sudah lebih baik pakai kuku kalian semua biar adil." Akhirnya Adrian memutuskan untuk mengetes keduanya.


"Gitu dong Om, kalau gini kan kita tidak perlu berselisih."


"Sudah ayo potong kuku kalian dan masukkan dalam kantong plastik ini!" Dokter Adrian menyerahkan dua kantong plastik kecil untung menampung kuku kedua anak tersebut.


"Adel ambilkan pemotong kuku!"


"Baik Ayah."


Selang tak begitu lama Adel datang dengan pemotong kuku dan menyerahkan kepada Nathan. Mereka pun memotong kuku secara bergantian.


Setelah acara potong-memotong kuku selesai mereka berdua dan Annete pulang dengan diantar dokter Adrian.


"Jangan lupa ya Om dokter besok kami tunggu hasilnya!" ucap Tristan tatkala turun dari mobil.


"Iya-iya nggak sabaran banget sih kalian."


Annete hanya terkekeh melihat kedua anak tersebut membuat dokter Adrian kerepotan.


...****************...


"Ram gimana, apakah dokter Lukman sudah datang?"


"Belum Tuan rencananya pagi ini dia baru pulang mungkin sore nanti baru tiba di rumah sakit."


"Kelamaan! Kalau begitu suruh mereka secepatnya membuatkan laporan tes DNA yang palsu!"


"Maksudnya?"


"Suruh mereka membuat laporan hasil tes DNA yang menyatakan bahwa aku dan Nathan memiliki kecocokan."

__ADS_1


"Tuan yakin? Buat apa?"


"Sudah jangan banyak tanya lakukan saja apa yang saya perintahkan!"


"Baik Tuan."


Rama mendekati salah satu petugas laboratorium dan meminta untuk dibuatkan laporan tes yang palsu.


"Maaf Pak saya tidak berani melakukan itu. Rumah sakit ini adalah rumah sakit yang amanah saya tidak mungkin melakukan hal yang akan merusak citra rumah sakit ini." Petugas tersebut menolak perintah Rama.


"Apakah kamu mau dipecat?"


"Dipecat? tentu saja tidak Pak."


"Kalau begitu lakukan apa yang aku perintahkan! Apakah kamu tahu siapa yang menyuruhku? Dia adalah Zidane Alberto anak pemilik rumah sakit ini. Mengerti?!"


"Mengerti Pak. Maaf saya tidak tahu," ucap petugas tersebut gugup.


"Kalau begitu cepat laksanakan!"


"Baik Pak!"


Setelah selesai Rama mengantarkan kertas tersebut ke kantor Zidane.


"Baiklah Rama terima kasih atas kerjasamanya."


"Sama-sama Pak kalau tidak ada yang Bapak butuhkan saya pamit."


"Silahkan!"


Selepas Rama pergi Zidane memanggil Dion.


"Dion tolong pesankan tiga tiket penerbangan ke Paris sore ini!"


"Apa ke Paris?"


"Iya saya akan memeriksa keadaan perusahaan kita yang di Paris."


"Apa tidak salah Pak? Kemarin tuan Alberto baru dari sana dan perusahaan sedang baik-baik saja. Mengapa tiba-tiba Bapak mau ke sana?"


"Dion kau mau dipecat ya? Cepat lakukan apa yang aku perintahkan!"


Dion menelan ludah mendengar ucapan Zidane. "Baik Pak!"


Kemudian Zidane menelpon si kembar. "Boy persiapkan diri kalian nanti sore kita ke Prancis."


"Apa ke Prancis Paman?"


"Maaf Paman kami tidak bisa."


"Ayolah ikut denganku. Apakah kalian tidak kangen sama mama kalian?"


"Kangen sih Paman tapi aku takut mama marah sama kami kalau tahu datang bersama Paman," ucap Nathan.


"Kalian tidak usah memikirkan itu biar paman yang hadapi."


"Baiklah Paman kalau begitu."


Telepon berakhir.


"Kalau begitu kita harus menemui Om dokter sekarang," usul Tristan.


"Aunty Annete antar kami ke rumah Om dokter!"


"Ya ampun sayang ini kan masih siang om dokter pasti masih di rumah sakit."


"Kalau begitu antarkan kami ke rumah sakit tempat om dokter bekerja!"


"Kalian kenapa sih nggak sabaran banget?"

__ADS_1


"Habisnya nanti sore paman Zidane ngajak nemuin mama di Paris. Jadi sebelum itu terjadi kami ingin tahu dulu hasil tes DNAnya."


"Apa?!"


__ADS_2