Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 151. Bertemu Angel


__ADS_3

"Baik paman aku siap bekerja di sini sebagai pembantu," saat ini Annete tidak ada pilihan lain selain pasrah.


"Siapa bilang kamu akan bekerja di sini."


"Terus aku harus bekerja dimana?"


"Kamu harus bekerja di cafe saya," ucap Paul. Annete bernafas lega, otot-otot yang menegang tadinya akhirnya melemas kembali mendengar jawaban Paul. Kalau memang dia harus bekerja di kafe dia rela bahkan dia akan senang sekali bukankah dia juga butuh pekerjaan saat ini. Ya meskipun mungkin tidak akan dibayar karena akan dipotong hutang biaya rumah sakit ayahnya. Walaupun begitu meskipun hutang ayahnya pun terbayar Annete pun akan tetap bekerja di sana.


"Baik Paman saya siap," jawab Annete dengan senyum di bibirnya.


"Baik kalau begitu mulai besok kamu sudah bisa bekerja di sana," ujar Paul.


"Baik paman kalau begitu saya permisi dulu." Annete melangkah menuju kamarnya untuk beristirahat sedangkan Wilson masih nampak berdebat dengan ayahnya di ruang makan.


"Apa maksud Daddy, bukankah Daddy tidak punya kafe?" Sejak kapan ayahnya punya kafe pikir Wilson yang ada hanya sebuah bar.


"Ya kamu tahulah apa maksud Daddy," ucap Paul datar.


"Jangan bilang Daddy mau menjual kakak," protesnya karena Wilson tahu tidak hanya mengelola bar, ayahnya bahkan menyediakan wanita malam di sana.


"Nggak Daddy hanya mau dia jadi pelayan saja di sana sampai dia bisa melunasi hutang-hutangnya padaku." Wilson bisa bernafas lega mendengar jawaban Paul tapi dia masih curiga, dia tidak boleh lengah karena bisa saja ayahnya itu punya sebuah rencana ataupun berubah pikiran apabila ada orang yang menawarinya uang banyak.


Keesokan harinya ketika sore menjelang Paul mengantarkan Annete ke tempat kerjanya. Wilson menyusulnya dari belakang untuk memastikan bahwa ayahnya tidak macam-macam dengan Annete.


Ketika menginjakkan kaki di lantai bangunan itu Annete mulai curiga bahwa itu bukanlah sebuah kafe, dan kecurigaannya terbukti tatkala Paul mengenalkannya pada seorang bartender di sana. Melihat minuman yang diracik Annete bisa menyimpulkan bahwa bangunan itu adalah sebuah bar.


"Paman kenapa paman membawaku ke sini? Katanya paman ingin mempekerjakan ku di


kafe?"


"Sama saja, tugasmu hanya mengantarkan minuman ke meja pelanggan."


"Tapi paman saya tidak bisa bekerja di tempat seperti ini," tolak Annete. Dia tidak suka aroma minuman keras, selain itu dia pun merasa risih kalau harus bekerja di sini.


"Silahkan kalau kamu menolak tapi saya serius dengan ancaman ku." Annete menelan ludah kasar mendengar Paul mengingatkan akan ancamannya.


"Bima kamu jelaskan tugas-tugas dia," perintahnya pada bartender kepercayaannya.


"Kamu bisa meminta Diena untuk mengajarkannya meracik kopi biar tidak hanya bertugas mengantar minuman dan makanan kecil saja," lanjutnya. Diena yang disebut disini adalah seorang barista yang bertugas meracik kopi dan kadang membantu pekerjaan Bima di sana.


"Baik Tuan."


"Dan ingat suruh Nyonya Mary untuk mendandani dia agar penampilan tidak kucel seperti itu!" perintahnya lagi pada Bima lalu berbalik dan pergi dari tempat tersebut.

__ADS_1


"Wilson ayo balik!"


"Tapi Dad..."


"Tidak ada tapi-tapian."


Wilson mengangguk kemudian terpaksa mengikuti langkah ayahnya keluar dari tempat itu.


Annete cemberut bukankah penampilannya sekarang sopan dan rapi? Mengapa malah disebut kucel.


"Baik Tuan." Setelah mengatakan itu Bima memanggil Diena untuk mengantarnya ke nyonya Mary sebelum pengunjung berdatangan.


"Oh ya namamu siapa?" tanya Diena sambil menyalami tangan Annete.


"Oh namaku Anna." Sengaja Annete tidak menyebutkan nama aslinya karena dia tidak ingin membawa nama baiknya ke tempat beginian. Bagaimana baiknya pekerjaan di tempat ini pandangan sebagian orang akan tetap menganggapnya sebagai pekerjaan yang buruk walaupun dia sekarang hidup dalam negara yang terbilang bebas sekalipun.


Mendengar nama Anna di sebut Diena memicingkan mata mengingat seseorang, namun kemudian dia tersadar. "Oh ya namaku Diena, senang berkenalan dengan mu."


"Saya juga senang berkenalan denganmu Diena."


"Oke, mari saya antar ke nyonya Mary sebelum kamu membantu saya menyajikan minuman ke pelanggan."


Annete pun berjalan mengekor di belakang Diena dan masuk ke ruangan nyonya Mary. Setelah bicara dengan nyonya Mary sebentar Diena langsung meninggalkan Annete di ruangan tersebut.


Dengan ragu-ragu Annete melangkah mendekat.


"Jangan takut aku bukan orang jahat. Kamu kerja sebagai apa di sini?"


"Hanya sebagai pelayan saja Nyonya."


"Oh, tidak apa-apa. Semua orang yang bekerja di sini memang harus berpenampilan cantik dan seksi."


"Seksi? Haruskah seksi?" Kata-kata itu terdengar menakutkan di telinga Annete. Bagaimana tidak penampilan dirinya selama ini sangat jauh dari kata seksi.


"Iya, kamu lihat kan tadi bagaimana Diena? Meskipun di dadanya tertutup apron tapi kamu masih bisa melihat sendiri kan bagaimana penampilannya?"


"Iya nyonya tapi haruskah aku berpakaian rok mini seperti itu. Maaf Nyonya aku risih."


"Awalnya mungkin akan merasa seperti itu tapi nanti lama-lama kamu akan terbiasa." Annete menggeleng-gelengkan kepala mendengar perkataan Nyonya Mary. Rasanya dia mulai curiga dengan tempat ini. Sepertinya bukanlah bar biasa. Kalau tidak mengapa harus repot-repot menyediakan ruangan yang dipakai untuk mendandani karyawannya. Bukankah suatu hal yang aneh pikirnya. Annete memejamkan mata berharap pikiran buruknya itu hilang dan semua itu tidak benar.


"Kenapa bengong Nona, mari saya dandani Nona." Nyonya Mary menghampiri Annete yang masih terlihat syok dan membantunya duduk di sebuah kursi. Lalu mulai mendandaninya.


Tidak berapa lama pintu ruangan terbuka, nampak sosok wanita cantik berjalan ke arah mereka. "Nyonya Mary tolong dandani saya, malam ini saya ada kencan dengan pelanggan."

__ADS_1


"Tumben ke sini bukankah setelah pandai berdandan sendiri kamu lebih suka melakukannya sendiri?" ujar Nyonya Mary tanpa menoleh dan tanpa menghentikan pekerjaannya memoles wajah Annete dengan make up.


"Aku lagi malas hari ini. Tubuhku sudah terlalu lelah," ucap wanita itu sambil mendudukkan bokongnya di salah satu sofa di sudut ruangan.


"Kalau lelah istirahatlah jangan selalu mengambil job," jawab Nyonya Mary.


"Jangan terlalu tebal Nyonya aku tidak biasa dengan make up tebal, rasanya wajah ini terasa berat." Suara Annete terdengar lucu bagi nyonya Mary hingga membuat ia menghentikan pekerjaannya dan tertawa terpingkal-pingkal. Namun tidak dengan wanita yang baru saja datang itu. Wanita itu merasa familiar dengan khas suara wanita yang kini sedang didandani oleh Nyonya Mary. Suara Annete membuatnya penasaran sehingga ia berjalan mendekat ke arah keduanya.


"Annete?" Angel terkejut mendapati wanita tersebut benar-benar Annete, sahabatnya.


Annete pun mendongakkan wajah lalu melihat ke arah suara yang memanggilnya. "Angel? Kamu ada di sini Gel?"


"Iya Net tapi kenapa kamu juga ada di sini?"


Annete bangkit dari duduknya dan langsung memeluk Angel." Angel aku kangen." Mereka pun berpelukan dengan erat melepas rindu karena sudah lama tidak bertemu sambil menangis haru. Lalu beberapa saat Angel melepas pelukannya.


"Aku juga kangen padamu Net. Tapi bagaimana ceritanya sampai kamu berada di tempat ini?"


"Ceritanya panjang Gel."


"Ceritakanlah."


Annete pun menceritakan tentang perjalanan hidupnya sampai ia bertemu dengan Paul dan ancamannya hingga ia harus terdampar di tempat ini. Angel prihatin mendengar nasib sahabatnya yang tidak jauh dari nasib dirinya. Nyonya Mary yang mendengarkan curhatan Annete pada Angel hanya manggut-manggut saja.


"Net kamu harus pergi dari sini!" ucap Angel. Dia tidak ingin Annete jatuh ke lembah hitam seperti dirinya. Apalagi ketika ia mengingat Johan menitipkan Annete padanya di akhir hidupnya, Angel merasa memikul beban atas keselamatan Annete.


"Kenapa Gel aku harus membayar hutang pada Paman, lagipula paman berjanji hanya akan mempekerjakan ku sebagai pelayan yang mengantarkan minuman saja ke meja-meja pelanggan."


"Net jangan bodoh semua karyawan di sini awalnya dijanjikan hal begitu tapi pelan-pelan akan dipaksa melayani setiap keinginan pelanggannya termasuk menjual tubuh kami."


Annete terbelalak, jadi benar apa yang ada dipikirannya tadi.


"Jadi Gel kamu bekerja di sini sebagai....."


"Iya Net, aku bekerja sebagai pekerja s* k komersial."


"Apa?"


"Aku tidak ingin kamu bernasib sama denganku. Biarkanlah aku saja yang hina kamu tidak boleh Net. Paman Johan pasti akan menangis kalau mu sama dengan ku. Oleh karena itu ku mohon pergilah dari sini Net sebelum kamu terlambat!"


Mendengar pernyataan Angel muka Annete menjadi pucat pasi.


"Aku harus melarikan diri sekarang," batinnya.

__ADS_1


__ADS_2