Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 197. Dia Adikku


__ADS_3

Sampai di rumah sakit segera Anisa membuntuti Adrian yang kini membawa Annete ke ruang UGD. Adrian lebih memilih menggotong tubuh Annete daripada harus menggunakan brankar yang telah disiapkan oleh pihak rumah sakit.


"Kenapa ikut kemari?" Adel mendorong tubuh Anisa. Sorot matanya tajam penuh kebencian.


"Del!" Adrian menggeleng pada Adel.


"Biarin Yah dia telah menghancurkan keluarga kita. Coba dia nggak pernah hadir lagi dalam kehidupan kita pasti bunda Annete tidak akan seperti ini dan keluarga kita pasti sudah bahagia sedari dulu." Anisa hanya terdiam mendengar ocehan Adel.


"Dia jahat Yah, kenapa dia memilih melahirkan Adel ke dunia kalau dia hanya mau Adel menderita? Kenapa tidak dia bunuh saja Adel sejak dalam kandungan? Hiks hiks hiks...."


"Adel, bunda tahu bunda salah tapi izinkan bunda sekali ini saja bersama kalian semua. Bunda mohon maafkan bunda. Bunda...."


"Hentikan bicaramu karena aku tidak akan pernah mendengarkan mu!"


"Adel!" protes Adrian.


"Bisa nggak sih Nis kamu menjauh dulu, Aku sedang pusing jangan bikin akau tambah pusing dengan perdebatan kalian." Anisa hanya mengangguk lalu pergi dari depan ruang UGD. Dia mengalah, memilih keluar dengan perasaan kecewa meski dia juga ingin tahu keadaan Annete.


Sampai di luar dia melihat beberapa perawat mendorong brankar. Diikuti oleh seorang wanita yang berpenampilan elegan dan nampak berkelas namun Anisa seolah kenal dengan pria yang didorong oleh para suster tersebut. Oleh karena rasa penasarannya dia mengikuti orang-orang tersebut meski masih menjaga jarak.


Beberapa saat setelah lelaki tersebut masuk ke dalam ruangan seorang dokter membuka pintu.


"Bagaimana keadaannya Dokter?"


"Pasien masih bisa diselamatkan namun mohon maaf dia mengalami kelumpuhan," ujar dokter.


"Baik Dokter terima kasih," ucap wanita tersebut.


Beberapa saat kemudian muncul seorang pria yang menghampiri wanita tersebut. Anisa terhenyak, dia mengenali pria tersebut. Pria itu adalah asisten Rayyan. Rupanya benar dugaannya pria yang dimasukkan ke dalam ruangan tadi adalah Rayyan, mantan kekasihnya sendiri.


Anisa harus berhati-hati, keberadaanya tidak boleh terlihat oleh pria tersebut karena bisa saja pria tersebut memberitahukan tentang dirinya pada istri Rayyan. Bisa tamat hidupnya kalau wanita yang dia pikir itu istri Rayyan mengetahui dirinya berada di tempat itu.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ini memang murni kecelakaan?"


"Maaf Nyonya, menurut saksi mata yang melihat kejadian tadi, tuan Rayyan mencoba merayu wanita yang pernah menjadi selingkuhannya dulu. Namun karena wanita tersebut menolak maka tuan Rayyan memutuskan untuk menabrak mantannya itu. Diluar dugaan ada wanita lain yang malah menyelamatkan wanita tersebut hingga wanita itulah yang menjadi korban tabrakan tuan Rayyan dan akhirnya mobil yang tuan Rayyan kemudikan pun menabrak dinding pembatas jalan."


Wanita itu mendengus. "Ternyata dia tidak pernah mau berubah. Tolong urus perceraian kami, saya tidak ingin hidup lagi dengan pria pengkhianat seperti dia. Saya lelah berulang kali memberikan kesempatan tapi dia tidak pernah memanfaatkan itu untuk berubah. Dan satu lagi, biarkan polisi melakukan prosedur yang memang harus mereka lakukan, jangan pernah ikut campur dengan urusan mereka."

__ADS_1


"Baik Nyonya, titah Nyonya akan segera saya laksanakan."


"Pergilah dan urus semuanya!"


"Baik Nyonya."


Anisa menutup mulutnya. "Kasihan Rayyan sudah lumpuh malah ditinggal istrinya, tapi sudahlah buat apa aku mengasihani dia. Sudah jelas-jelas dia tadi mau membunuh ku. Mungkin itulah hukuman yang setimpal buatnya," gumam Anisa.


Melihat wanita itu berbalik buru-buru Anisa meninggalkan tempat tersebut dan kembali ke ruangan Annete.


Dari jauh dia melihat Adel menangis sesenggukan pun dengan Adrian yang terlihat memijit pelipisnya dengan mata yang nampak memerah, sepertinya habis menangis juga.


Anisa segera berlari ke arah mereka dengan perasaan yang tidak menentu.


"Ada apa ini? Jangan-jangan terjadi sesuatu dengan Annete. Maafkan aku Dek, tanpa aku sadar telah membuatmu menderita. Jangan tinggalkan aku setelah aku baru tahu tentang hubungan persaudaraan kita." Anisa bermonolog. Dia begitu mengkhawatirkan keadaan adiknya.


"Ada apa Dri?" tanyanya setelah berada di dekat Adrian.


Adrian tidak menjawab, dia larut dalam pikirannya. Entah apa yang dia pikirkan.


"Ada apa dengan pasien Dok?" Akhirnya ia memilih bertanya pada dokter yang baru keluar dari ruangan.


"Maaf Anda siapa?"


"Saya keluarganya Dok," jawab Anisa.


"Baiklah saya jelaskan. Pasien mengalami cedera pada saraf tulang belakang. Jadi pasien harus segera mendapatkan donor sumsum tulang belakang. Namun sayangnya setelah saya tanyakan tadi pada suaminya, pasien tidak memiliki keluarga lagi. Padahal hanya keluarga lah yang memiliki tingkat kecocokan paling tinggi sebagai pendonor. Kalau orang lain kemungkinannya tipis apalagi susah mencari orang yang mau mendonorkan sumsum tulang belakang."


"Apakah saya bisa mendonorkan sumsum tulang belakang saya Dokter?"


"Tergantung apabila sumsum tulang belakang Anda cocok maka Anda bisa mendonorkannya. Biasanya menang dari pihak keluarga yang memiliki kemungkinan terutama antara saudara kandung yang memiliki tingkat kesuksesan 25% dibandingkan anak dengan orang tua yang hanya memiliki tingkat kesuksesan sekitar 0,5%.


"Kalau begitu saya yakin sumsum tulang belakang saya cocok Dok karena pasien adalah saudara saya."


"Anda yakin dia saudara Anda? Atau Anda hanya saudara dari suaminya?"


"Tidak Dok saya saudara kandung pasien, saya adalah kakaknya."

__ADS_1


"Apa?" Adrian terhenyak.


"Iya Dri ternyata Annete itu adalah adik kandung saya. Maka izinkan saya untuk bertanggung jawab dan menyelamatkan nyawa adik saya."


Adrian hanya mengangguk pasrah walaupun ia masih tidak yakin dengan ucapan Anisa.


"Baiklah kalau begitu kita harus segera melakukan pengecekan dua sampel sumsum tulang. Apakah cocok ataukah tidak. Anda harus melakukan tes darah lengkap hingga pemeriksaan DNA. Kami juga harus memastikan apakah Anda memenuhi setiap syarat donor sumsum tulang yang sudah ditentukan."


"Baik dokter saya siap," jawab Anisa.


"Saya juga siap diperiksa Dok, siapa tahu dia tidak cocok dan saya yang cocok," tambah Adrian.


"Begini saja Pak biar ibu ini dulu yang diperiksa. Kalau memang benar dia saudara kandungnya insyaallah pasti cocok tapi kalau dia tidak cocok baru kami akan memeriksa Bapak."


"Benar kata dokter Dri biar aku yang diperiksa dulu."


"Ini bukan akal-akalanmu kan Nis?" Adrian ragu takut dibalik kebaikan Anisa ada maksud terselubung.


"Tidak Dri kali ini aku tulus, kamu bisa pegang ucapanku."


"Ayo langsung diperiksa saja," ajak dokter tersebut. Anisa mengangguk kemudian mengikuti langkah dokter tersebut.


Beberapa waktu kemudian Anisa keluar dari ruang pemeriksaan dan kembali ke ruangan Annete. Dia langsung menghampiri Adel dan Adrian yang duduk termenung di samping Annete.


"Bagaimana hasilnya Nis?"


"Belum keluar Dri, mungkin bentar lagi." Semuanya terdiam menunggu hasil dengan harap-harap cemas.


"Nyonya Anisa!" Beberapa saat kemudian nama Anisa dipanggil.


"Ia Sus."


"Hasil pemeriksaan Anda ternyata cocok dan Anda diharap segera ke ruangan dokter untuk persiapan segera melakukan operasi," ucap seorang perawat sambil memberikan kertas laporan hasil pemeriksaan.


Anisa mengambil dan membacanya lalu memberikannya kepada Adrian. "Kamu tahu Dri dia memang adikku," ucapnya sambil tersenyum ke arah Adrian lalu bangkit dari duduknya dan mengikuti langkah suster keluar ruangan.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2