
Eh, eh tunggu dulu!" Laras mengejar keduanya takut kedua anak tersebut akan mendengar suara gaib dari kamar orang tuanya yang akan mengganggu pendengaran Mereka.
Ketika langkah kedua anak tersebut menapaki tangga Laras memanggilnya, "Nathan, Tristan ikut Oma yuk!"
"Kemana Oma?"
"Ada aja pokoknya jalan-jalan."
"Nggak Oma kami sudah puas tadi jalan-jalannya," ujar anak-anak tersebut sambil terus mempercepat langkahnya.
"Ya Tuhan bagaiman caranya membujuk kedua anak tersebut," batin Laras namun tiba-tiba muncul ide di kepala.
"Bukannya kalian besok sudah masuk sekolah ya!"
"Ia terus kenapa Oma?"
"Kalian belum beli perlengkapan sekolah Kan? Nggak mau beli tas sekolah baru?" Kedua anak tersebut menghentikan langkahnya. Benar kata Omanya tapi bukannya Zidane sudah mengurus semuanya.
"Katanya Papa yang mau mengurusnya Oma."
"Nggak keren ah, palingan papa kamu nyuruh anak buahnya yang seleranya belum tentu bagus. Bisa-bisa kalian tidak terlihat ganteng lagi," rayu Laras.
"Kami akan tetap tampan Oma walau memakai apapun." Kenarsisan Tristan keluar.
"Tampan tapi tidak keren."
"Ia juga ya Oma, ayo Atan kita ikut Oma aja belanja." Tarik Tristan tangan Nathan dan Nathan pun mengangguk dan mengikuti langkah Tristan.
"Huffft." Laras bernafas lega ketika melihat mereka berjalan ke arahnya .
Sedangkan dua sejoli yang sedang dimabuk cinta bertempur dalam kamar tanpa memperdulikan suara berisik di luar. (Jangan tanya othor ya apa yang mereka lakukan di dalam kamar karena othor tidak diperbolehkan mengintip oleh Zidane).
Setelah melakukan sesi percintaan yang begitu panjang akhirnya tubuh Zidane tumbang di samping Isyana.
"Terima kasih ya sayang," ucap Zidane sambil mengecup kening istrinya sedangkan pipi Isyana tampak memerah menahan malu. Walaupun ini bukan yang pertama kali buat mereka namun ini merupakan pertama kali Zidane melakukannya dalam keadaan sadar.
"Nggak nyangka Mas ternyata bisa lembut juga," ujar Isyana.
"Mas bisa apa saja sesuai permintaan. Mau yang lembut, kasar, energik, lambat, cepat kamu tinggal request aja." Zidane terkekeh.
"Mas ih!"
__ADS_1
"Kenapa mau lagi?"
"Nggak ah."
"Tapi Mas mau nambah."
"Astaga Mas ini sudah mau Maghrib lo."
"Ya udah kamu mandi dulu nanti malam kita lanjutin lagi."
Isyana hanya geleng-geleng kepala melihat semangat suaminya. Dan benar saja setelah sesi makan malam mereka melanjutkan ritualnya sampai pagi.
##
Di sebuah ruangan tampak seorang wanita tua sedang berbicara dengan seorang dokter.
"Gadis itu sekarang sudah beranjak dewasa, apakah nenek tidak ada keinginan untuk memberitahukan semuanya?"
"Itulah Dok, saya bingung akan memulai dari mana sedangkan anak itu sama sekali belum mengingat apa-apa. Kesalahan kita dulu adalah, mengikut sertakan semua bukti yang ada pada jasad cucuku sehingga sekarang kalau kita mengatakan bahwa anak itu adalah Kiara bisa saja keluarganya tidak percaya dan akan menganggap kita penipu. Apalagi saya masih tidak memahami siapa kawan dan lawan dalam keluarga tersebut."
"Apakah ibunya masih ada?"
"Masih Dok tapi sayangnya ibunya sedang sakit stroke. Sebenarnya ada satu orang yang aku percaya yaitu kakak dari Kiara namun sayangnya dia tidak pernah pulang ke rumahnya."
"Bagaimana kita bisa memulihkan ingatan Kiara kalau kita tidak pernah merangsang memorinya. Gadis tersebut harus didekatkan dengan keluarganya tapi kalau keadaannya seperti ini saya pun bingung harus berkata apa."
'Tap-tap-tap.' Terdengar langkah sepatu dari arah luar rumah.
"Dok sepertinya anak itu sudah datang." Kedua orang tersebut tiba-tiba terdiam.
"Assalamualaikum Nenek."
"Wa'alaikum salam Ra, udah pulang?"
"Iya Nek Naura lelah mau langsung istirahat aja." Namun hatinya menjadi gelisah tatkala matanya menangkap sosok seorang dokter ada di sana.
"Dokter ada di sini?" Dijawab anggukan oleh dokter laki-laki tersebut.
"Apa penyakit asma nenek kambuh lagi?" tanyanya dengan nada cemas, matanya memandang khawatir terhadap neneknya itu.
"Ia tadi, tapi sekarang sesaknya sudah berkurang," jawab neneknya.
__ADS_1
"Kalau begitu nenek berhenti jualan dulu ya biar Naura yang kerja saja lagian uang kita masih cukup kok untuk memenuhi kebutuhan kita beberapa hari ke depan."
"Nenek nggak apa-apa kok." Sebenarnya tidak tega membohongi gadis di depannya apalagi gadis tersebut ikut berjuang keras memenuhi kebutuhan hidup mereka padahal kalau hidup dengan keluarganya gadis itu bisa minta apa saja tanpa harus bekerja.
"Sudah pokoknya nenek tidak boleh menolak untuk beberapa hari ini nenek harus istirahat."
"Baiklah kalau itu mau kamu." Toh Naura jarang di rumah tidak akan tahu kalau neneknya masih jualan. Nisa tidak mau beban anak tersebut bertambah berat.
"Kalau begitu saya permisi dulu," pamit dokter tersebut.
"Terima kasih ya Dok sudah membantu nenek saya." Setahu Naura dokter tersebut tidak mau meminta bayaran pada mereka bahkan sampai Naura memaksa pun dia tidak mau menerima. Mungkin kasihan karena mereka orang miskin. Ternyata masih banyak dokter yang berjiwa mulia pikir Naura walau kenyataannya nenek Nisa tidak pernah mengidap penyakit asma.
"Yasudah sana katanya capek mau istirahat," kata Nisa.
"Tapi benar nenek sudah tidak apa-apa?"
"Ia."
Sebenarnya nenek Nisa sering memperhatikan rumah Kiara dari jarak jauh mengawasi apa yang mungkin terjadi di sana bahkan terkadang ia menemui temannya sesama pembantu untuk menanyakan keadaan keluarga tersebut.
Bertahun-tahun dia tidak pernah melihat sosok Andy di sana. Yang sering dia lihat hanyalah tuan Reyhan dengan selingkuhannya yang sering keluar masuk pekarangan tersebut. Kadang terbersit ingin mencari rumah Laras namun hatinya ragu kala mendengar penuturan salah satu pembantu di sana bahwa Andy sebenarnya mencurigai Zidane sebagai pelaku pembunuhan terhadap Valen beberapa tahun yang lalu.
Masih terekam jelas di otak Nisa tatkala Kiara berlari-lari meminta tolong padanya untuk menyembunyikan dirinya dan identitasnya. Nisa yakin ada orang dalam yang berniat jahat pada gadis kecil itu. Apalagi setelah mendengar kabar dalam keluarga tersebut terjadi pembunuhan terhadap istri dari kakak Kiara.
Sayangnya saat itu Nisa kalah cepat dengan orang-orang yang mengejar Kiara. Apalagi saat itu Nisa sedang gelisah dan hatinya kacau mendengar kondisi cucunya yang drop di rumah sakit. Buru-buru ia pergi ke rumah sakit membiarkan Kiara yang dibawa orang-orang dengan mobilnya karena mengejar pun percuma. Nisa hanya bisa berdoa dalam hati semoga anak dari mantan majikannya itu selamat.
Sampai di rumah sakit Nisa langsung ke kamar cucunya. Hatinya hancur tatkala mendengar ucapan dari dokter yang menyatakan nyawa cucunya sudah tidak tertolong lagi.
Dia keluar dari kamar rawat sambil mengusap air matanya. Disaat berkabung tiba-tiba saja beberapa perawat mendorong brankar ke arah UGD sambil berkata pada rekannya bahwa gadis kecil itu adalah korban bunuh diri yang sengaja melompat dari mobil yang sedang melaju kencang. Beruntung orang-orang yang melihatnya segera menolong dan membawanya ke rumah sakit.
Entah mengapa hatinya terdorong untuk mengikuti para perawat tersebut ke mana gadis itu dibawa. Alangkah terkejutnya ketika menyadari bahwa pasien tersebut adalah Kiara, gadis kecil yang baru saja meminta pertolongannya.
Nisa tidak tahu harus berbuat apa. Apalagi ketika dokter memberitahukan anak tersebut dapat tertolong tapi sepertinya akan amnesia.
Otaknya berpikir keras tatkala mengingat permintaan Kiara untuk menyembunyikan identitasnya bahkan kata-kata anak tersebut berputar di kepalanya.
"Bi tolong aku, tolong sembunyikan identitasku."
Akhirnya dia mengambil keputusan menukar cucunya, Naura dengan Kiara dengan meminta bantuan dokter yang selama ini menangani Naura.
Awalnya dokter tersebut menolak namun akhirnya menyetujui dan membantu rencana Nisa dengan alasan keamanan bagi gadis kecil tersebut. Walaupun demikian dokter tersebut tidak langsung percaya begitu saja terhadap ucapan Nisa sehingga ia turut mengawasi kehidupan Kiara dan Nisa takut-takut ada niat terselubung dari Nisa untuk memanfaatkan Kiara. Kalau sampai itu terjadi dokter tersebut tidak akan segan-segan melaporkan Nisa ke kantor polisi tapi ternyata Nisa benar-benar tulus terhadap anak tersebut.
__ADS_1
"Ya Tuhan semoga Engkau memberikan jalan untuk ku mengembalikan anak tersebut ke tempat dimana seharusnya dia berada."