
Setelah sampai di apartemen miliknya Lexi segera mengistirahatkan diri dengan berbaring di ranjang. Meraih ponselnya dan segera memberi kabar pada Naura bahwa dirinya telah tiba di Jakarta. Mereka pun memutuskan untuk bertemu besok pagi di cafe Yuna.
Pagi sekitar jam delapan Naura sudah sampai di cafe Yuna. Sengaja hari ini dia memutuskan izin kerja. Dia memilih duduk di table yang dekat dengan pintu masuk agar Lexi dan Adrian lebih mudah menemukannya. Naura juga sudah memberitahukan kepada Adrian bahwa dirinya akan bertemu Lexi pagi ini.
"Naura kamu mau minum apa?" Yuna yang kebetulan melintas ingin keluar dari cafe melihat Naura dan menyapanya.
"Tidak usah Bu, nanti saja saya masih menunggu seseorang," tolaknya.
"Kalau begitu saya pergi dulu ya! Kalau kamu ingin sesuatu minta sama anak-anak, gak usah bayar," tegasnya.
"Ia Bu."
Selang tak begitu lama Lexi datang membawa bungkusan.
"Sudah lama menunggu?" Tidak sulit bagi Lexi menemukan Naura karena posisi Naura yang mudah dilihatnya.
"Baru saja, Om bawa apa?"
"Oh ini? Ini macaron, yang satu kotak untuk kamu dan yang dua kotak aku nitip buat si twins ya! Dulu mereka suka camilan ini."
"Ia Om, makasih ya!"
"Ia, by the way apa yang ingin kamu bicarakan sama Om?" tanya Lexi to the point sedangkan Naura tampak duduk dengan gelisah.
"Se ... benarnya bukan aku yang ingin ngomong sama Om Lexi tapi dokter Adrian. Mungkin sebentar lagi dia datang," ucap Naura gugup.
"Naura, kamu tahu sejak kamu menelpon Om waktu itu Om khawatir sama kamu. Om kira ada apa-apa sama kamu, enggak tahunya ... " Lexi nampak kecewa.
"Maafkan Naura Om, Naura terpaksa menelpon Om Lexi karena dokter Adrian ingin bicara penting sama Om."
"Huh, bicara penting apa?"
"Nanti Om tahu sendiri yang pasti ini menyangkut masa depan Om Lexi."
Dahi Lexi berkerut mencoba menerka-nerka apa yang sebenarnya dibicarakan gadis yang kini duduk di depannya.
"Maksud kamu apa sih Naura?" Memilih bertanya daripada harus berpikir keras.
__ADS_1
"Ini tentang hubungan Om Lexi sama Tante Annete," jawab Naura sambil menundukkan wajahnya, kalau tidak Lexi bisa melihat sekarang air muka gadis itu telah berubah sedih.
"Naura aku...."
"Naura!" Tiba-tiba Adrian memanggilnya.
"Ah itu Om Adrian sudah datang." Berusaha tegar padahal hatinya sakit melihat siapa yang dibawa oleh Adrian.
"Om Adri, Tante Annete silahkan duduk!"
"Ah ia," ucap Adrian dan Annete bersamaan kemudian menggeser kursi kemudian duduk.
"Lexi kapan kamu kembali ke sini?" Sebenarnya Annete tidak tahu mengapa Adrian membawanya ke tempat itu tanpa membawa Adel. Apalagi Adrian juga membawanya duduk semeja dengan Lexi. Hal yang tak pernah Adrian lakukan sebelumya.
"Kemarin," jawab Lexi santai.
"Oh ya Dri ada apa? Kata Naura kamu mau ngomong sesuatu sama aku."
"Ia Lex, begini ... "
"Kalau begitu Naura ke dalam dulu ya Om, Tante," izin Naura memotong pembicaraan Adrian.
Naura berlari ke dapur restoran. Air matanya sudah tidak dapat terbendung lagi, mengalir, menganak sungai di pipi mulusnya. Hatinya hancur sekali melihat kenyataan yang harus terjadi. Kalau saja dulu dia memutuskan untuk tidak bersekongkol dengan Lexi mungkin saja hal ini tidak akan pernah terjadi dan perasaan ini tidak akan hadir dengan sendirinya. Sudah bisa dipastikan mulai hari ini harapannya pupus dan kisahnya bersama Lexi tidak akan pernah ada lagi.
"Naura kamu kenapa?" tanya Sindi salah satu rekan kerjanya dulu.
"Ah tidak apa-apa," ucapnya sambil menghapus jejak-jejak air matanya. Namun melihat warna merah di mata dan hidungnya siapapun tahu bahwa gadis itu baru saja menangis.
Walaupun Sindi tahu pasti ada sesuatu pada temannya itu tapi Sindi memilih diam dan ikut membantu Naura yang kini sedang menyiapkan makanan dan minuman.
"Sin tolong antarkan makanan ini ke meja itu ya!" tunjuknya pada arah Lexi dan Annete yang sedang duduk bercengkrama. Hatinya seolah terkoyak melihat pemandangan Annete dan Lexi yang sedang tertawa berdua. Sedangkan Adrian sudah berjalan ke arah dapur membuntuti Yuna yang baru datang.
"Duduk di sini dulu Dri," ucap Yuna pada Adrian sedangkan ia sibuk menaruh barang-barang yang dibawanya.
Adrian duduk di sebuah kursi yang kebetulan mengarah ke tempat duduk Naura.
"Naura kamu kenapa?" tanya Adrian yang melihat Naura memandang ke arah Lexi dan Annete sambil melamun. Ada air mata yang kembali menetes.
__ADS_1
"Ah, maaf. Tadi Om Adri bicara apa?" Naura tersadar dari lamunannya.
"Ah tidak jadi," ucap Adrian yang ternyata baru menyadari kalau gadis di depannya ternyata menyukai Lexi.
"Permisi Om," pamit Naura lalu berlalu ke kamar mandi. Sampai di sana ia membasuh mukanya dengan air kemudian mengoleskan make up agar tidak terlihat bahwa ia baru saja menangis. Dia tidak mau Lexi mengetahui akan perasaannya. Ya Lexi tidak boleh tahu, sebelum Lexi tahu akan perasaannya dia sudah harus bisa melupakan perasaannya itu. Begitulah tekad Naura. Dia tidak mau Lexi berpaling padanya hanya karena rasa simpatinya.
Setelah keluar dari kamar mandi ia pamit pergi pada teman-temannya, Yuna dan juga Adrian.
"Tidak makan dulu Naura?" tanya Yuna.
"Tidak usah Bu saya masih kenyang," kilahnya padahal dia belum sarapan pagi ini.
Naura berjalan ke luar sedangkan Adrian memijit kepalanya sambil memandang Naura yang berjalan menjauh. Tidak menyangka keputusan yang dia anggap terbaik malah menyakiti hati orang lain.
"Akh, kenapa aku serba salah? Menahan Annete dariku aku akan menyakiti Annete tapi menyerahkannya pada Lexi aku malah menyakiti Naura. Jadi dilema," batin Adrian.
Sebenarnya Naura ingin berjalan melewati tempat duduk Lexi tapi ternyata bungkusan yang ingin Lexi titipkan pada Nathan dan Tristan tertinggal di meja itu. Terpaksa dia menghampiri tempat duduk Lexi dan mengambil bungkusan itu.
"Permisi Om, maaf menggangu aku mau mengambil bungkusannya."
Tanpa melihat dan mendengar jawaban Lexi Naura mengambil bungkusan tersebut dan buru-buru keluar.
"Kenapa jadi formal," pikir Lexi.
"Naura tunggu dulu!" Lexi mengejar Naura.
"Ada apa Om?" Naura menjawab tanpa menoleh dengan posisi membelakangi Lexi. Dia takut tidak bisa mengendalikan perasaannya.
"Tidak mau makan bareng?"
"Tidak Om makasih saya sudah kenyang dan saya juga harus kembali ke kantor." Padahal sudah izin tidak masuk sehari.
"Ya sudah kalau begitu kamu hati-hati ya!"
"Ia Om makasih." Selesai mengatakan itu dia berlari kembali kemudian menyetop taksi yang kebetulan lewat di sana. Sampai di kamar ia mengunci pintu dan menghempaskan tubuhnya ke kasur dan menangis sejadi-jadinya.
"Apa ini yang namanya patah hati?Kenapa sesakit ini?" tanyanya pada diri sendiri. Padahal dulu ketika melihat Febri menggandeng perempuan lain dia tidak sesakit ini.
__ADS_1
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca, jangan lupa dukungannya! Like, Vote, Komen dan Hadiahnya. Terima Kasih ๐ Love you all.๐