Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 133. Kehilangan


__ADS_3

Dua tahun kemudian


Sore sepulang bekerja Annete menyempatkan diri untuk membeli crepes. Akhir-akhir ini Johan memang suka mengkonsumsi makanan itu sehingga setiap pulang kerja Annete tidak pernah lupa untuk membawakan oleh-oleh tersebut untuk ayahnya.



Gambar: crepes


Sampai di depan pagar Annete merasa aneh karena melihat orang-orang sedang ramai berkumpul di teras rumahnya.


"Ada apa ini?" batinnya. Jantung mendadak berdegup kencang, ia lalu berlari menuju pintu rumah karena khawatir.


"Ada apa ini Nyonya?" tanyanya pada salah satu wanita yang nampak berdiri di luar pintu dengan tegang dan Annete pun ikut tegang melihat suasana rumahnya pikirannya langsung tertuju pada sang ayah.


"Pemilik rumah ditemukan jatuh di kamar mandi Nona," jawab perempuan itu namun Annete sudah tidak mendengar karena tubuhnya sudah masuk ke dalam rumah dan suasana pun terdengar riuh sehingga suara wanita itu tertutup suara-suara yang lain.


"Mana ayah?" lirihnya, Annete terus mencari-cari keberadaan ayahnya diantara kerumunan orang-orang di sana. Mencari sang ayah di kamarnya namun tak ditemukannya. Pikirannya mendadak pusing melihat ada dua orang polisi yang berada di rumahnya. Pasti terjadi sesuatu yang buruk pikirnya.


"Ada apa dengan ayah?" Annete semakin curiga.


"Net!" panggil Angel sambil mendekat ke arah Annete.


"Mana ayah Gel?" tanyanya masih dengan jantung yang berdegup kencang.


"Sabar ya Net, paman Johan ada di kamarmu," ucap Angel dengan hati-hati takut Annete syok.


"Katakan ada apa dengan ayah Gel!" Annete gusar dan berlari lagi ke kamarnya sendiri.


Sesampainya di pintu kamarnya langkah Annete terhenti seketika, aliran darahnya seakan berhenti mengalir dan rasanya tubuhnya melemas melihat sang ayah sudah terbujur kaku di atas ranjang dengan wajah yang begitu pucat. Annete menutup wajahnya sendiri dengan kedua telapak tangannya lalu perlahan tubuhnya luruh seketika dan jatuh ke lantai.


Melihat Annete pingsan Angel segera meminta tolong pada orang-orang di sana untuk mengangkatnya ke atas ranjang. Lalu membalurkan sejenis minyak kayu putih di tubuh sahabatnya itu. Setelah dibalurkan minyak tersebut akhirnya beberapa saat Annete tersadar.


"Ayah kenapa Gel?" Ia masih tak percaya dengan kenyataan dihadapannya, Angel terdiam.


"Kenapa tidak ada yang membawa ayah ke rumah sakit?"

__ADS_1


"Ayah Nona terjatuh di kamar mandi dan ketika kami hendak membawanya ternyata ayahmu sudah tiada," jawab salah satu pria di sana.


"Maafkan aku Net, aku terlambat kalau saja aku datang lebih cepat ke rumah ini pasti ayahmu masih bisa diselamatkan."


Ketika Angel datang tadi dan mengetuk pintu tidak ada suara yang menjawab namun ketika mengecek pintunya ternyata tidak dikunci. Angel yang memang terbiasa keluar masuk karena Johan sudah menganggapnya anak itu berinisiatif menemui Johan untuk menunggu kepulangan Annete bersama. Namun saat ia masuk rumah dalam keadaan sepi hingga akhirnya dia menemukan Johan tergeletak di kamar mandi.


"Paman, Paman kenapa?" tanya Angel panik sambil berjongkok di samping Johan untuk membantunya bangun namun ternyata tenaganya tidak kuat.


"An..gel, pa...man tadi jatuh," ucap Johan terbata.


"Tunggu Paman aku akan memanggil orang-orang untuk membantu paman," kata Angel hendak berdiri namun


tangannya ditahan oleh Johan sambil menggelengkan kepala.


"Angel paman nitip Annete," ucapnya lemah. Setelah mengatakan itu Johan menghembuskan nafas terakhirnya dan menutup mata untuk selamanya. Sontak Angel yang hanya seorang diri kelabakan dan segera berteriak-teriak meminta tolong. Angel pikir Johan hanya pingsan. Tidak berapa lama bantuan pun datang dan orang-orang berkerumun namun salah seorang yang memeriksa Johan mengatakan bahwa nyawa Johan sudah tidak bisa tertolong.


"Ayah jangan tinggalkan aku, kalau ayah pergi aku sama siapa? Annete sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, hiks hiks hiks...."


"Ayah sudah berjanji kan akan mendampingi Annete sampai Annete menikah dan sampai ayah punya cucu nanti, kenapa ayah ingkar janji? hiks hiks hiks..." tangisnya terdengar begitu pilu dan menyayat hati bagi siapapun yang mendengarnya.


Beberapa saat kemudian Angel diinterogasi oleh polisi karena dialah orang yang pertama kali menemukan ayah Johan takut-takut ini ada unsur kesengajaan namun Annete meminta polisi untuk menghentikan penyelidikannya terhadap kasus kematian ayahnya karena kalau memang Angel yang pertama kali menemukan ayahnya Annete percaya bahwa ini murni kecelakaan bukan rekayasa Angel karena Annete benar-benar percaya pada Angel. Untuk itu Annete menolak permintaan polisi untuk melakukan otopsi.


"Terima kasih ya Net kau masih mempercayaiku, percayalah kepercayaanmu tidak akan pernah aku sia-siakan." Angel meraih tubuh Annete dan memeluknya. Angel begitu bangga mempunyai sahabat seperti Annete yang dalam keadaan seperti itu masih bisa berpikir jernih. Kalau sahabatnya bukan Annete mungkin saja dia sudah dituduh macam-macam.


"Aku percaya padamu Gel lagipula atas motif apa kau akan membunuh ayahku yang juga telah kau anggap sebagai ayahmu," ucap Annete sambil membalas pelukan Angel.


"Sekarang kau satu-satunya orang yang dekat denganku," lanjutnya.


Saat Annete dalam posisi berpelukan dengan Angel dengan air mata kesedihan yang masih belum berhenti mengalir tiba-tiba bibi Darla datang. Dia adalah kakak dari Johan yang ikut suaminya dan selama ini jarang menemui Johan karena suaminya tidak suka istrinya itu dekat dengan keluarganya. Dia begitu pelit sehingga khawatir jika istrinya menemui saudaranya itu akan memberikan uangnya. Namun saat dia mendengar kabar bahwa adiknya sudah berpulang akhirnya dia langsung mengajak Wilson ,sang anak untuk tancap gas pergi dari rumahnya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada suaminya. Kalaupun dia harus di hukum dia rela karena hari ini terakhir kalinya dia bisa memandang jasad sang adik.


"Annete apa yang terjadi pada ayahmu? Mengapa bibi tidak dengar sakitnya malah sekarang sudah meninggal."


"Ayah tidak sakit Bi, Annete pun tidak menyangka ayah akan pergi secepat ini. Mungkin dia kepeleset hingga jatuh di lantai kamar mandi dan ternyata hal itu malah merenggut nyawanya," ucap Annete sambil menyeka air matanya.


"Kamu yang sabar ya Nak." Kini Annete sudah beralih berada dalam pelukan bibi Darla dan Annete hanya mengangguk.

__ADS_1


"Kalau begitu sekarang kita urus pemakaman ayahmu." Annete mengangguk lagi.


Setelah pemakaman ayah Annete selesai semua yang ada di tempat itu satu persatu pulang termasuk teman-teman Annete yang kebetulan hadir serta bibi Darla dan Wilson sepupunya.


"Kamu yang sabar ya Net," ucap Duta menyemangati.


"Makasih Duta," jawab Annete


"Kalau begitu aku permisi dulu," pamitnya dan Annete hanya menjawab dengan anggukan kepala.


Kini hanya menyisakan Annete dan Angel di makam Johan. Angel dengan setia menunggu Annete yang masih terisak di makam sang ayah.


"Net ayo kita pulang!" ajak Angel karena mereka sudah berada lama di tempat itu bahkan Angel sedari tadi terlihat gelisah karena tubuhnya terasa pegal-pegal dari tadi duduk berdiri duduk berdiri sedang Annete masih betah di makam Johan tak mau bergeming sedikitpun.


"Aku malas Gel sekarang pulang ke rumah karena sudah tidak ada ayah yang akan menyambut kedatanganku. Rasanya tanpa ayah hidupku tidak berarti apa-apa."


"Kamu jangan begitu dong Net pasti paman Johan akan merasa sedih dan kecewa kalau melihat kamu terpuruk seperti ini. Kamu harus tunjukkan sama paman Johan bahwa kamu adalah putrinya yang kuat dan mandiri."


"Aku tidak menyangka Gel ayah akan meninggalkan aku secepat ini, pantas saja dua malam yang lalu ayah menasehati ku panjang lebar ternyata dia sudah tidak bisa bersama ku lagi," ucap Annete sambil menunduk memandangi pusara sang ayah.


"Paman Johan ngomong apa?"


"Ayah ngomong agar aku harus bisa menjaga martabat sebagai seorang perempuan, terutama harus menjaga kesucian, jangan pernah mengambil hak milik orang lain dan menjadikan kisah ayah dan ibuku sebagai pelajaran dalam menjalani hidup kedepannya, dan masih banyak yang lainnya yang tidak bisa aku ceritakan Gel. Pokoknya malam itu ayah memberikan wejangan-wejangan kepadaku. Waktu itu aku pikir kenapa ayah jadi cerewet seperti ini? Eh tidak tahunya itu adalah nasehatnya yang terakhir."


"Sudah ya Net jangan menangis terus, nanti aku temani deh kamu. Aku akan ikut tinggal di rumahmu."


"Benar Gel?" Annete menatap Angel tidak percaya.


"Benar," ucap Angel serius.


"Terima kasih ya Gel kamu memang sahabat terbaik."


Angel mengangguk sambil mengulurkan tangan pada Annete. "Ayo sekarang kita pulang!"


Kali ini Annete yang mengangguk, ia bangkit dari duduknya lalu Angel merangkul bahu Annete dan membawanya pergi dari lahan pekuburan.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2