Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 161. Pertemuan Kembali Annete dan Adrian


__ADS_3

"Kalau begitu ayo ikut kita lacak pakai GPS saja."


Angel pun mengangguk lalu mengikuti kedua pria itu ke dalam mobil dan mencari Annete bersama.


Sedangkan beberapa jam berlalu aksi kejar-kejaran masih terjadi antara mobil Niko dengan mobil anak buah Max. Membuat mobil mereka mutar-mutar di jalanan sehingga Edrick dan Zidane kepayahan juga mengikuti arah mobil mereka bergerak.


"Nik cepetan dikit dong mereka sudah dapat mengejar kita ini." Annete mulai gusar ketika mobil anak buah Max sudah mendekat, hanya berjarak beberapa senti di belakangnya.


"Tenang An jangan gusar, nanti aku tidak konsen nyetirnya." Nicko ikut gugup karena melihat Annete sedari tadi gelisah terus. Nicko langsung mengemudikan mobilnya dengan kecepatan 2 kali lipat.


Kreet.....


Nicko memundurkan mobilnya dan masuk ke dalam jalanan yang bercabang, Annete melihat kebelakang rupanya anak buah Max sudah tidak mengikuti mereka. Mungkin saja mereka kehilangan jejak pikir Annete. Saat ini Annete sudah mulai bisa bernafas lega dan sedikit tenang.


"Oke sepertinya mereka sudah kehilangan jejak kita. Kamu mau aku anterin kemana?" tanya Nicko.


"A...apa kamu tadi bilang?"


"Tujuanmu sekarang kemana?"


"Ke bandara," jawab Annete.


"Memang sudah ada paspor?"


"Ada."


"Kemana?"


"Ke Inggris."


"Wah kebetulan kalau begitu, hari ini aku juga mau ke sana. Jadi kita bisa bareng ke sana nya."


"Ide yang baik," jawab Annete. Nicko pun mengarahkan mobilnya ke bandara.


"Emang kamu warga sana?" lanjutnya.


"Bukan, aku ke sana karena perintah orang tuaku untuk menjemput tunanganku pulang."


"Wah udah punya tunangan ya?"


"Ya tunangan yang tidak diinginkan."


"Maksudnya?"


"Aku di jodohkan. Aku sebenarnya sudah punya kekasih tapi sayangnya dia sudah meninggal karena bunuh diri."


"Bunuh diri?"


"Iya namanya Anna juga, dia pernah bekerja di bar tempat mu bekerja itu."

__ADS_1


"Apa?" Annete terbelalak.


"Ternyata identitas yang ku pegang adalah milik orang yang sudah bunuh diri. Pantas saja Angel tidak pernah mau menceritakan kemana Anna itu sekarang." Batin Annete.


"Dan kebetulan namamu sama," lanjut Nicko. "Kamu tahu sejak mengetahui ada Anna di bar itu aku segera ke sana. Aku pikir Anna hidup kembali tetapi nyatanya itu hanya kehaluanku belaka. Wanita itu adalah kamu bukan Anna kekasihku."


"Maaf ya Nick sudah mengingatkan dirimu akan Anna mu itu. Sebenarnya namaku Annete bukan Anna. Anna itu hanya nama samaran ku saja."


Nicko mengangguk. "Bandara sudah dekat kamu bersiap-siap! Sepertinya jadwal penerbangannya tinggal lima belas menit lagi."


"Oke."


Namun saat mobil mereka sudah akan mendekati area bandara mobil mereka ada yang menghalangi.


Kreet...Kreet...kreeet...


Beberapa mobil berhenti di depan dan di belakang mobil Nicko. Mobil Nicko di kepung dari segala arah sehingga tidak bisa melarikan diri lagi.


Tok tok tok.


Seseorang mengetok pintu kaca mobil Nicko Annete berjongkok agar tidak terlihat. "Keluar kamu!"


"Kunci pintu dari dalam dan sembunyilah!" bisik Nicko pada Annete karena melihat tidak ada celah buat Annete untuk bisa melarikan diri.


Nicko keluar dari mobil dan menghadapi anak buah Max sedangkan Annete ketakutan dalam mobil karena melihat Nicko kalah. Lawan tak imbang, Nicko terlihat babak belur karena dikeroyok.


Lalu beberapa saat kemudian ada yang membuka paksa pintu mobil kemudian menyeret Annete keluar.


"Rick tolong aku!" Angel berteriak meminta pertolongan. Edrick pun berlari ke arah Angel dan menyerang mereka secara brutal. Sesaat Edrick menang namun karena anggota mereka yang terlalu banyak akhirnya Edrick dan Zidane kewalahan. Zidane mengutuk dirinya dalam hati karena terlalu meremehkan ini. Kalau tidak dia kan bisa mempersiapkan anak buahnya untuk membantu mereka.


Terlihat Angel yang sudah luka-luka akibat merebut Annete dari tangan mereka namun tidak berhasil. Kini Annete sudah dimasukkan ke dalam mobil mereka dan dibawanya pergi.


Beberapa saat kemudian Adrian dan Lexi beserta pasukannya datang dan membantu mereka.


"Rick kamu ikut Adrian aja mengejar Annete biar kami yang urus mereka semua!" Perintah Lexi. Edrick pun mengangguk lalu menggotong Angel ke dalam mobil.


Setelah Edrick masuk, Adrian melajukan mobilnya kembali untuk mengejar Annete. Selain mengandalkan penglihatan, mereka juga masih menggunakan GPS agar tidak kehilangan jejak. Beruntung ponsel Annete masih dalam keadaan hidup.


"Itu ke sana Dri, sepertinya dia membawa Annete ke sebuah rumah kosong," ujar Edrick dan Angel pun mengangguk membenarkan.


Edrick dan Adrian turun tepat di halaman rumah tersebut sedangkan Angel dilarang keluar oleh Edrick. Adrian langsung mendaratkan pukulan dan tendangan pada mereka secara membabi buta dirinya sudah dikuasai amarah. Beruntungnya anak buah Max tidak banyak karena sudah pecah dua. Dan anak buah yang di sini hanya sepertiga dari yang di hadapi Zidane, Lexi dan anak buahnya.


Setelah melumpuhkan semua anak buah Max tanpa meminta bantuan Edrick, Adrian langsung mendobrak pintu rumah tersebut.


Brak...


Dengan satu kali tendangan Adrian langsung bisa membuka pintu tersebut. Edrick hanya geleng-geleng kepala melihat kekuatan Adrian padahal Adrian kini sudah terlihat begitu kurus dan pucat seperti orang lemah. Kenapa bisa sekuat itu pikir Edrick.


"Apakah ini yang dinamakan kekuatan cinta?" Edrick terkekeh sendiri.

__ADS_1


Sampai di dalam Adrian melihat Annete meringkuk ketakutan, tubuhnya bergetar hebat. Bulir-bulir keringat bercucuran dari seluruh tubuhnya. Adrian tahu Annete syok. Dengan perlahan dia melangkah ke arah Annete berada kemudian mengelus punggung Annete untuk menyalurkan ketenangan.


"An." Adrian menyapa Annete.


Annete mendengar suara itu. Suara yang tidak asing di telinganya. Tapi dia tidak mau membuka matanya yang kini sedang terpejam. Dia tahu pasti dia berhalusinasi lagi.


"An!" Suara Adrian menyapa kembali. Dengan ragu Annete mendongakkan kepalanya.


"Mas!" Dia melihat Adrian tersenyum di depannya.


Annete mengucek matanya takut kejadian waktu itu terulang, setelah mengucek matanya Adrian bisa saja menghilang. Entah mengapa dia masih berpikir bahwa dirinya masih berhalusinasi.


"Mas kamu nyata?" Annete tidak percaya ini semua nyata. Dahi Adrian berkerut tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Annete.


"Mas?" Annete masih menatap wajah Adrian tidak percaya.


"An." Adrian langsung meraih tubuh Annete dan membawanya ke dalam pelukannya.


Annete mendekap erat tubuh Adrian masih dengan perasaan takut yang mendera. "Mas aku takut." Suaranya terdengar bergetar.


"Jangan takut An, sekarang aku ada di di sisi mu. Aku tidak akan pernah membiarkanmu menderita lagi." Adrian mengusap air mata yang masih saja mengalir di pipi Annete.


"Janji ya jangan pernah tinggalkan aku lagi." Annete mengangguk dan semakin erat memeluk Adrian. Namun tiba-tiba tubuhnya bergetar kembali. Adrian memeriksa Annete yang kali ini seperti orang kesurupan di mata Adrian. Annete merasa sesak nafas, dadanya terasa panas."


"An kamu kenapa?" Annete tak menjawab. Adrian langsung mengangkat tubuh Annete dan membawa ke mobil.


"Annete kenapa?"


"Rick tolong seterin mobilnya!" perintah Adrian sambil melempar kunci mobil ke arah Edrick kemudian masuk ke dalam mobil bagian belakang. Edrick dengan sigap menangkapnya dan masuk ke belakang kemudi.


"Ke rumah sakit Rick!"


"Oke." Edrick pun memutar kemudi kemudian meninggalkan tempat terkutuk itu dan menuju rumah sakit.


Sesampainya ke rumah sakit Annete langsung mendapatkan penanganan sedangkan Adrian menunggunya dengan harap-harap cemas. Setelah dokter keluar dari ruangan tersebut Adrian langsung menghampirinya.


"Bagaimana keadaannya Dok?"


"Pasien tekena gejala gerd dan sepertinya syok jadi saya berharap selain menjaga pola makannya anda juga harus bisa menjaga suasana hatinya. Sepertinya pasien baru saja mengalami kejadian yang buruk."


Adrian mengangguk. "Tapi hanya gejala kan Dok?"


"Iya. tapi kalau pola makannya tidak di jaga jatuhnya bukan jadi gejala lagi.


"Iya saya mengerti Dok."


"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu."


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak! Terima kasih ๐Ÿ™


__ADS_2