
Setelah demamnya sedikit reda ternyata Annete dikejutkan dengan kabar bahwa Lexi masuk rumah sakit. Ia segera bangkit dari berbaringnya dan memasang jaketnya kembali. Kemudian bergegas menuruni ranjang menuju pintu.
"Mau kemana An?" Adrian yang tersadar bahwa Annete meninggalkan ranjangnya langsung bertanya.
Annete menoleh. "Mau ke rumah sakit Mas," jawab Annete.
"Kenapa, apa keadaan kamu tambah buruk?"
"Bukan aku Mas, tapi Lexi masuk rumah sakit jadi aku harus segera ke sana."
"Sebegitu peduli ya kamu sama dia hingga dalam keadaanmu yang belum pulih ini kamu masih memikirkan dia." Adrian merasa cemburu atas perhatian Annete pada Lexi.
"Bukan begitu Mas tapi keadaannya sedang kritis jadi aku harus segera ke sana. Bagaimanapun Lexi adalah teman yang baik bagiku selama ini."
"Sekarang pacar kamu juga ya!" Ingin Adrian berkata seperti itu namun ia urungkan.
"Sudah ya Mas, aku pergi dulu."
"Aku antar!" ucap Adrian sambil mengikuti langkah Annete.
"Del kamu mau ikut nggak ke rumah sakit?" lanjut Adrian.
"Ikut Yah." Adel menyusul Adrian.
"Oke ayo cepat."
Sampai di mobil Adrian langsung membukakan pintu mobil untuk Annete.
"Masuklah!" perintahnya pada Annete.
"Aku duduk di belakang aja Mas," tolak Annete dia merasa risih untuk duduk di samping Adrian karena kini keadaan hatinya tidak menentu.
"Sudah jangan menolak biar lebih cepat," ucap Adrian. Annete pun mengangguk dan masuk ke dalam mobil. Dia duduk di samping Adrian tanpa bicara sepatah katapun. Tak begitu lama mobil sudah terparkir di parkiran rumah sakit. Segera Annete berlari masuk ke dalam lobi rumah sakit dan menanyakan dimana keberadaan Lexi pada petugas. Setelah mendapatkan alamat kamar Lexi dirawat Annete langsung bergegas ke sana. Namun langkahnya terhenti kala Adrian berucap, "An kamu masuk duluan ya, aku masih ada perlu sebentar," bohong Adrian padahal dia tidak ingin melihat Annete yang akan menangisi Lexi di depannya. Annete hanya mengangguk tanda setuju kemudian meninggalkan Adrian dan Adel yang masih berdiri di sana.
"Yah emangnya kita mau kemana?"
"Nggak kemana-mana diam di sini aja dulu ya nanti baru nyusul Tante An ke dalam."
"Katanya tadi ayah ada keperluan?"
"Nggak ada ayah tadi berbohong. Ayah hanya ingin memberikan kesempatan buat Tante An untuk berdua saja dengan om Lexi." Adel mengganguk tanda paham.
"Kalau begitu cari makan dulu yuk, Adel pasti lapar kan?"
"Oke Yah, sepertinya memang ia dari tadi cacing di perut Adel sudah berontak minta dikasih makan." Memang mereka belum sempat mengkonsumsi bubur yang diberikan Yuna karena terlalu khawatir dengan keadaan Annete, nyatanya Annete malah khawatir dengan keadaan orang lain.
Sampai di lorong-lorong rumah sakit Annete berpapasan dengan Zidane dan keluarga.
"Bagaimana keadaan Lexi Mbak?" tanya Annete pada Isyana. Dia begitu khawatir melihat wajah si kembar yang masih belum berhenti menangis. Pikiran buruk menghantuinya, bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Lexi.
"Masih belum sadar Net. Kami pulang duluan ya!"
"Iya Mbak." Mereka sama-sama meneruskan langkah mereka masing-masing.
Setelah sampai di ruang rawat Lexi Annete langsung membuka pintunya. Terlihat Naura sedang duduk di kursi di samping bangsal Lexi sambil menangis sesenggukan. Sedangkan di sofa nampak dua orang yang sedang duduk di sana, seorang laki-laki dan perempuan setengah baya yang Annete tebak pasti adalah orang tua Lexi.
Ketika melihat Annete memasuki ruangan, Laurens bangkit dari sofa dan berjalan ke arah Annete untuk menemuinya.
"Bagaimana keadaannya Tante?" Annete mencoba berbasa-basi meski dia sudah tahu keadaan Lexi dari Isyana tadi.
Laurens memicingkan mata, mencoba menebak siapa gadis yang ada di depannya sekarang.
"Ya seperti yang kamu lihat. Kamu Annete kan?"
"Ia Tante."
"Boleh kita mengobrol sebentar di luar?"
"Ia Tante."
Akhirnya mereka keluar membiarkan tuan Abraham bersama Naura dan putranya dalam ruangan dan membicarakan sesuatu yang penting di luar sana.
"Ada hubungan apa kamu dengan anak saya?" Bertanya langsung ke tujuan.
"Aku .. aku..." Annete gugup tidak tahu harus menjawab apa. Status mereka memang masih sepasang kekasih tapi tidak tahu kelanjutannya akan seperti apa karena perasaan keduanya yang sepertinya sudah berubah.
"Aku minta jauhi anak saya!" Tanpa mendengar jawaban Annete Laurens langsung ngegas.
Annete terperangah mengapa orang di hadapannya kini terkesan tidak menyukainya sehingga tanpa basa-basi langsung menyuruhnya meninggalkan Lexi.
Annete mencoba menatap wajah Laurens. "Astaga, dia kan..." Annete teringat kala ayahnya menceritakan masa lalunya. Bukankah dia Laurens yang ada di album foto ayahnya. "Ya benar dia adalah istri yang ayah khianati di hari pernikahannya. Berarti Lexi ini adalah anak Tante Laurens," batin Annete.
"Kamu anaknya Tasya kan?" Pertanyaan Laurens reflek membuat Annete terbangun dari lamunannya dan kemudian tersenyum getir. Dia menggigit bibirnya yang kini mulai bergetar ingin menangis. Kalau sudah menyangkut ibunya yang di sebut pasti Annete akan mendapat hinaan lagi.
"I..ya Tante." Annete menjawab dengan gugup.
"Itu mengapa aku tidak merestui hubungan kalian. Maaf aku tidak bisa berhubungan dengan sesuatu yang berhubungan dengan Tasya." Laurens menjawab rasa penasaran Annete.
"Kamu tahu? Tasya dan Johan adalah seorang pegkhianat."
__ADS_1
Annete mengangguk meski hatinya terasa sakit. Dia paham Laurens pasti kecewa dengan tindakan ayah dan ibunya dulu tapi dalam hati dia tidak terima kalau alasan Laurens tidak merestui hubungannya dengan Lexi adalah menyangkut masa lalu mereka. Dia sama sekali tidak ingin disamakan dengan Tasya walaupun dia memang terlahir dari rahim wanita itu.
"Baiklah Tante aku mengerti. Biarkanlah aku menjenguk Lexi dulu, setelah dia sadar aku janji akan mengakhiri hubungan kami." Annete masih berusaha menahan diri.
"Silahkan!"
Lauren masuk ke dalam diikuti Annete di belakang. Laurens melangkah ke arah sofa dan duduk kembali di samping suaminya, Abraham sedang Annete menghampiri Lexi di ranjang. Annete menelisik wajah Naura yang sampai saat ini masih menangis di samping Lexi.
"Sepertinya memang benar mereka saling mencintai," ucap Annete dalam hati. "Tante Laurens benar aku harus mengakhiri hubungan ini."
"Lex, aku harap kamu cepat sembuh ya!" Hanya kata itu yang keluar dari mulut Annete pada Lexi. Kemudian dia beralih kepada Naura. "Yang sabar ya Ra, semoga Lexi segera sadar." Naura hanya mengangguk sambil terus menangis. Lama Annete duduk di ruangan itu tanpa ada yang berbicara. Semuanya nampak diam seribu bahasa membuat Annete bosan dan akhirnya pamit untuk pulang.
"Tante, Om, aku pamit dulu ya. Semoga Lexi segara sembuh. Lain kali saya akan menjenguknya lagi."
Laurens hanya mengangguk sedang Abraham berkata, "Terima kasih ya Nak atas doanya."
"Iya Om sama-sama. Aku pamit dulu ya Om, Tante."
"Iya, hati-hati Nak!" jawab tuan Abraham.
"Aku pamit ya Ra."
"Oh iya. Tante tidak ikut menjaga Om Lexi?" tanya Naura sambil mengusap kedua pipinya yang basah.
"Ah nggak kan sudah ada kamu, aku nitip Lexi ya!"
"Iya Tante."
Annete keluar dari kamar rawat Lexi. Sampai di depan pintu, air mata yang ia tahan sedari tadi sudah tidak bisa terbendung lagi. Mengalir, menganak sungai di pipi mulusnya. Annete berlari di lorong-lorong rumah sakit. Adrian yang hendak masuk ke dalam akhirnya mengurungkan niatnya dan memilih mengejar Annete yang berlari sambil menangis.
"Ayah Tante kenapa?" tanya Adel yang ikut berlari mengejar sang ayah.
"Ayah juga tidak tahu lebih baik tanya langsung sama Tante An."
Sampai di parkiran rumah sakit Annete langsung menelpon taksi online. Tapi belum sempat diangkat Adrian sudah sampai di sampingnya.
"Ada apa An?" Annete diam tidak menjawab.
"Kenapa kamu menangis?" tanya Adrian lagi.
"Mas aku...." Annete tidak kuasa meneruskan ucapannya. Bibirnya masih bergetar, tangannya menyentuh dadanya seolah menahan sesak di sana.
Tanpa aba-aba Adrian langsung menarik tubuh Annete dalam pelukannya. "Mas aku..."
"Sudah ceritanya nanti saja yang penting sekarang kamu tenangkan diri dulu ya." Annete mengangguk dalam rengkuhan Adrian. Entah mengapa dia merasa nyaman dalam pelukan laki-laki yang selama ini ingin dia hindari.
Adrian mengusap-usap punggung Annete untuk memberikan ketenangan. Setelah di rasa tenang Adrian mengajak Annete pulang.
"Yuk Del," ajak Adrian pada Adel.
Sekarang mereka semua sudah berada dalam mobil dan mobil sudah keluar dari area rumah sakit.
"An kamu pulang ke rumahku saja dulu ya!" pinta Adrian.
"Tidak Mas aku pulang ke rumah pak Atma saja," tolak Annete.
"Please kali ini saja aku khawatir sebab keadaanmu belum pulih benar."
"Tidak Mas, aku bisa jaga diri kok."
"Ayolah Tante jangan bikin Adel khawatir lagipula Adel masih kangen sama Tante." Entah mengapa mendengar permintaan Adel, Annete menjadi luluh.
"Baiklah tapi Tante mau izin sama pak Atma dulu ya!" Annete meraih handphonenya untuk menghubungi ayah Isyana.
"Nggak usah An biar aku nanti minta Izin sama pak Atma. Sebelum pulang kita mampir ke sana dulu."
"Baiklah Mas." Annete pasrah dan menyandarkan bahunya di dashboard mobil sambil memejamkan kedua matanya. Kepalanya masih terasa pusing untuk banyak bicara.
Di tempat lain Yuna celingak-celinguk mencari keberadaan Zidane dan si kembar tapi tak kunjung menemukannya. Padahal mereka bersama tadi tapi mengapa mereka menghilang tanpa pamit kepadanya.
"Sudahlah lebih baik aku kembali ke penginapan saja untuk menemui Adel," pikirnya. Dia berjalan ke arah penginapan. Sampai di sana langsung menuju kamar Annete tapi ternyata tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya bungkusan bubur yang masih tergeletak di meja.
"Apa di kamar Adel dan Adrian ya?" Dia melangkah ke kamar Adrian untuk mengecek keberadaan ketiganya.
Mengapa juga tidak ada. Ah bodoh kenapa aku tidak menelpon mereka saja.
Yuna mengambil ponselnya dan langsung menelpon Adrian.
Derrt.. Derrt...
Adrian yang sedang makan terpaksa menghentikan kunyahannya dan mengangkat telepon dari Yuna. "Halo Yun."
"Halo Dri, kalian ada di mana?"
"Di rumah sakit Yun."
"Rumah sakit? Annete masuk rumah sakit?"
"Buka, bukan Annete tapi Lexi yang masuk rumah sakit."
__ADS_1
"Lexi kenapa dia?"
"Nggak tahu aku belum nyampe ini ke kamar rawatnya." Bagaimana mau sampai kalau dia dan Adel memilih makan terlebih dahulu.
"Kabari ya Dri kalau ada apa-apa. Sekarang saya akan segera menyusul ke sana."
"Yun boleh aku minta tolong?"
"Apa?"
"Tolong bawain barang-barang saya, Adel dan Annete pulang ya soalnya kamu tidak mungkin kembali."
"Yaaa... nggak bisa balik sekarang dong saya kalau harus bawa barang banyak, secara kan saya tidak bawa mobil."
"Balik sama rombongan saja nanti soalnya Zidane juga sudah balik. Nanti aku kabari kalau ada apa-apa dengan Lexi, kamu bantu doa ya supaya dia bisa lekas sembuh."
"Baiklah," ucap Yuna pasrah walaupun dia juga mengkhawatirkan Lexi.
Yuna menutup teleponnya kemudian keluar dari kamar Adrian.
"Harus sama siapa aku di sini kalau semuanya balik? Masa harus sama anak buah Zidane? Oh ya aku harus mencari keberadaan Dion dan Vania biar ada temennya," gumam Yuna.
"Baru saja melangkah tiba-tiba ada suara anak kecil yang memanggilnya.
"Tante! Tante!" Yuna menoleh ke arah suara.
"Juju."
Terlihat Andy sedang mendorong kursi roda Juju ke arah Yuna.
"Andy kapan kamu balik dari luar negeri?" Yuna memberanikan diri bertanya walau mungkin saja Andy masih bersikap dingin kepadanya seperti kemarin-kemarin.
"Baru sampai sih langsung ke sini. Kalian piknik nggak ngajak-ngajak ya." Tidak menyangka jawaban Andy terdengar lebih santai.
"Aku nggak tahu juga ini rencana Zidane sepertinya mendadak. Mungkin dia takut abangnya sibuk jadi dia nggak ngajak kamu."
"Mungkin tapi kemana mereka semua kok sepi?"
"Zidane pulang, Adrian juga, Dion tidak tahu kemana."
"Ya sudah kamu bisa menemani kami jalan-jalan?"
"Jalan-jalan?" Yuna menatap wajah Andy tak percaya. Bukankah selama ini Andy terkesan cuek padanya tapi kenapa sekarang malah mengajaknya pergi bersama.
"Jangan-jangan Andy kesambet kali," pikir Yuna.
"Kenapa menatapku seperti itu?"
"Kamu serius ngajak aku jalan-jalan?"
"Iyalah masa bercanda."
"Oke kalau begitu ayo!" Yuna mengambil alih Juju dan mendorong kursi rodanya keluar dari tempat itu menuju pantai.
"Yun ada yang aku omongin sama kamu," ucap Andy pada Yuna. Raut wajahnya nampak serius. Mereka berdua kini sedang duduk di atas batu karang sedang Juju bercengkrama dengan salah satu anak dari karyawan Zidane.
"Mau ngomong apa Dy?"
"Apakah kamu mau jadi ibu sambung Juju?"
"Maksud kamu Dy?"
"Aku ingin menikahimu."
"Menikah secepat ini?"
"Kenapa kamu tidak bisa ya?"
Sebenarnya Yuna senang Andy mau mengajaknya menikah tapi dia ragu. Andy mengajaknya menikah karena menang sudah mencintainya ataukah hanya butuh sosok ibu untuk anaknya.
"Andy apakah kau ada rasa padaku?"
"Maksudnya?"
"Kamu mengajakku menikah karena mencintaiku atau hanya membutuhkan diriku untuk menjaga Tante Lana dan Juju?"
"Dua-duanya. Kamu tahu kan aku tidak pernah tidak serius dengan sesuatu? Kalau cuma butuh orang untuk merawat mama dan Juju aku bisa menyewa pengasuh. Aku sadar Yun aku mulai menyukaimu."
"Kita jalani saja dulu ya Dy kalau memang kamu benar-benar mencintaiku aku mau menikah denganmu." Yuna tidak mau gegabah mengambil keputusan meskipun dia masih sangat mencintai Andy.
Andy menghembuskan nafas berat, rupanya Yuna masih meragukannya.
"Baiklah kita jalani hubungan kita dulu tapi jangan sampai ada yang tahu ya termasuk Zidane. Aku ingin mereka tahu setelah kamu memutuskan mau menikah denganku nantinya." Rupanya Andy tidak ingin ditertawakan Zidane dan teman-temannya kalau sampai nanti Yuna masih menolaknya.
"Baiklah aku siap," ucap Yuna. Mendengar perkataan Yuna, Andy tersenyum. "Makasih ya Yun."
Yuna hanya mengangguk dan menunduk, dia masih malu-malu untuk memandang wajah Andy.
Bersambung......
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak: Like, Vote, Komentar dan Hadiahnya! Makasih.๐