Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 111. Kontraksi


__ADS_3

Setelah keadaan Zidane mulai stabil dia kini dipindahkan ke ruang rawat inap khusus. Setiap hari, siang dan malam Isyana tidak pernah mau absen untuk menjaganya padahal Laras dan Alberto sudah menyarankan agar mereka bergantian saja untuk menjaga Zidane, agar mereka tidak ikut sakit semua. Namun Isyana sama sekali tak bergeming tetap duduk di samping Zidane bahkan ia sering tertidur sambil duduk setelah seharian menangis di samping suaminya.


"Mas bangun Mas! Sampai kapan Mas Zidane akan seperti ini? Mas bangunlah aku tak sekuat yang Mas Zidane bayangkan. Aku membutuhkan Mas Zidane untuk membesarkan ketiga anak-anak kita. Terutama anak ini Mas," ucap Isyana sambil memegang perutnya.


"Bayi kita perempuan pasti lebih butuh perlindungan papanya dibanding kedua kakak-kakaknya."


"Mas bangun Mas! Mengapa Mas Zidane diam saja? Bukankah Mas Zidane sudah berjanji akan mendampingi saat bayi ini lahir? Apakah Mas Zidane akan ingkar janji?"


"Mas bangun Mas! Hu hu hu...." Tangisnya terdengar begitu pilu dan menyayat hati bagi yang mendengarnya.


"Sudah Nak kamu yang sabar ya nanti suatu saat Nak Zidane pasti bangun," ucap Atmajaya menyemangati putrinya.


Karena keadaannya yang seperti itu Laras meminta pihak rumah sakit untuk menyediakan ranjang sebagai tempat tidur Isyana di kamar itu apabila dia sudah kelelahan menjaga Zidane setelah seharian menangis apalagi Isyana dalam keadaan hamil tua.


Si kembar nampaknya begitu lebih bijak menyikapi keadaan. Walaupun dia juga sangat bersedih karena keadaan papanya tetapi mereka berusaha bersikap ikhlas dan saling menguatkan.Toh walaupun dia meratapi keadaan papanya dengan menangis seharian seperti mamanya tidak akan mampu mengubah keadaan malah akan membuat semua orang bertambah khawatir.


Bukan karena mereka tidak sayang pada papanya tapi bukankah hidup harus terus berjalan meskipun sesuatu terjadi pada orang yang disayanginya? Apalagi selama ini mereka sudah pernah hidup tanpa seorang papa. Dan sekarang walaupun papanya sakit mereka seharusnya masih bisa bersyukur karena masih banyak orang-orang yang mendampinginya. Yang juga sangat menyayanginya. Apalagi Lexi dan Naura siap kapan saja untuk membantu mereka termasuk bolak-balik mendampingi mereka untuk menjenguk papanya di rumah sakit.


Mereka percaya di saat semua tidak bisa diandalkan mereka bisa mengandalkan kekuatan doa seperti dulu ketika mereka meminta pada Tuhan mempertemukan diri mereka dengan papa mereka begitulah sekarang mereka juga yakin Tuhan akan mengabulkan doa mereka sekali lagi permintaannya untuk hidup lebih lama bersama sang papa.


"Ya Tuhan semoga Engkau masih memberikan kami waktu untuk hidup bersama ayah kami."


"Nak Syasa makan dulu ya Nak," pinta Laras. Akhir-akhir ini Isyana memang jarang makan walaupun ia makan pun itu dalam porsi yang sangat sedikit dan biasanya setelah melalui proses panjang lebar merayunya. Selera makannya yang berapi-api kemarin sekarang sudah padam.


"Syasa masih kenyang Ma." Begitulah selalu jawaban Isyana ketika Laras memintanya untuk makan.


"Jangan begitu Nak kasihan baby-nya kalau Zidane tahu dia pasti akan sedih."


"Aku sudah minum susu tadi Ma." Kembali ke awal kehamilan hanya mengandalkan susu ibu hamil dan potongan buah.


"Ma makan ya apa perlu Atan suapi?" tawar Nathan.


"Kalau Mama nggak mau makan nanti Mama sakit, apa Mama tega ninggalin kita berdua," ujar Tristan memelas.


"Lagi pula kasihan sama dedek pasti dia kelaparan biasanya makan banyak sekarang malah kurang makan."


"Mama kenyang sayang."


"Kalau begitu kita juga nggak mau makan ah kalau mama nggak makan biar kompak semuanya."

__ADS_1


"Jangan begitu sayang!" Isyana menatap kedua anaknya rasanya tidak adil selama menunggui Zidane di rumah sakit dia seolah melalaikan kedua anaknya.


"Baiklah Mama makan tapi sedikit ya sayang."


"Iya Ma nggak apa-apa walau sedikit." Nathan mencoba menyuapi sang mama dan Isyana pun tidak menolak.


Isyana memandangi wajah kedua anaknya rasanya baru kemarin dia menyuapi kedua anaknya tapi sekarang mereka sudah besar. Isyana kadang lupa bahwa mereka sudah berumur tujuh tahun dan sekarang gantian anaknya yang menyuapi dirinya.


Setiap kali Isyana merasa minta berhenti disuapi selalu saja ada alasan dari kedua anaknya agar Isyana membuka mulutnya kembali dan Tristan selalu mengajak mamanya untuk makan sambil mengobrol dengannya sehingga makanan dalam piring hampir saja tandas tanpa Isyana sadari namun kemudian dia tersadar.


"Sudah sayang Mama kenyang."


Nathan pun mengangguk dan menghentikan suapannya. Sedang Tristan mengulurkan segelas air kepada Isyana. Kedua anak itu memang selalu terlihat kompak. Sedang Laras tersenyum ke arah mereka karena telah berhasil membujuk mamanya untuk makan.


##


Satu bulan berlalu Zidane pun masih belum sadar juga padahal kalau tidak meleset besok adalah jadwal Isyana melahirkan.


"Auw, aduh!" Isyana nampak kesakitan sambil memegang perutnya.


"Perut Syasa sakit Ma."


"Ayo diperiksa saja sayang barangkali kamu kram lagi kayak bulan kemarin atau apakah bayinya sudah mau keluar?"


"Tapi kalau tidak salah sepertinya besok ya jadwal persalinannya?"


"Iya Ma."


"Kalau begitu kamu harus siap-siap sayang."


"Nyonya kami harapkan Nyonya beristirahat saja pada kamar yang sudah kami siapkan jangan di sini terus," saran seorang perawat. Bukan karena apa kalau Isyana terus melihat keadaan Zidane seperti itu pikirannya tidak akan bisa merasa tenang dan bisa saja merasa stres dan itu akan berpengaruh pada kondisi janinnya.


"Apa yang suster bilang itu benar Nak otak kamu butuh istirahat jangan selalu dipakai untuk memikirkan suami kamu. Kesehatan kamu itu penting terlebih di tubuh kamu ada janin yang harus kau jaga. Beristirahatlah di kamar khusus dan kalau bisa pergilah berjalan-jalan di taman rumah sakit biar otakmu jadi fresh."


"Nathan dan Tristan bawa Mama kalian jalan-jalan!" perintahnya pada cucu-cucunya.


"Baik Oma."


"Ayo Ma."

__ADS_1


Isyana pun menurut saja karena dirinya memang butuh menghirup udara segar. Mungkin dengan begitu bisa sedikit melepaskan beban yang menghimpitnya selama ini walaupun hanya sebentar saja.


"Sus setelah ini tolong suster antar mereka ke kamarnya!"


"Baik Nyonya."


Setelah habis jalan-jalan Isyana langsung diantar ke kamar oleh suster tadi dan si kembar memilih ikut tidur di kamar itu menemani mamanya.


"Mama tidur duluan aku mau telepon Tante Ara dulu." Tristan lalu menelpon Ara dan memberitahukan supaya malam ini tidak menjemputnya di rumah sakit. Selama papa dan mamanya di rumah sakit kedua anak itu memang memilih tinggal bersama Ara dan Lexi di rumah Lana dibanding rumahnya sendiri.


Setelah mematikan sambungan teleponnya akhirnya mereka ikut naik keranjang dan ikut tidur bersama mamanya.


Pagi-pagi sekali Isyana merasakan mules kembali.


"Apakah benar aku akan melahirkan hari ini?" Isyana masih merasa tidak yakin.


"Semoga kamu tidak lahir sekarang ya Sayang, kita tunggu papa," ucapnya harap-harap cemas namun,


"Auw, aduh kenapa sakit lagi? Apakah kau sudah tidak tahan sayang ingin keluar hari ini? Ah Mas Zidane ternyata kau ingkar janji," bicara sendiri.


Isyana menarik nafas dan menghembuskanya. Tarik nafas hembuskan begitu beberapa kali namun sakitnya tidak menghilang malah semakin terasa.


"Aduh...," keluhnya sambil meringis.


"Kenapa Ma?"


"Tolong panggilkan Oma sayang!Mama lagi sakit perut."


"Baik Ma." Tristan berlari keluar kamar dan menghampiri Laras dengan nafas tersengal-sengal.


"Ada apa Tristan?"


"Oma, Oma. Mama sakit perut."


Laras tersenyum, "Hemm sepertinya sudah saatnya. Sus siapkan segalanya dan hubungi dokter kandungannya!"


"Baik Nyonya."


Untung saja Laras sudah menyuruh dokter kandungan Isyana untuk tetap standby di rumah sakit itu agar bisa membantu proses kelahiran cucunya.

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar, hadiah, vote, rate bintang lima dan favorit tentunya. Terima kasih🙏 Love you all.🥰


__ADS_2