Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 160. Pertolongan


__ADS_3

Setelah pria itu pergi Annete membalikkan tubuh. "Akh.. ternyata pura-pura itu melelahkan," ujar Annete sambil masuk ke dalam bar.


Sampai di dalam dia langsung menemui Angel dan menceritakan semuanya.


"Bagus kalau begitu sekali mendayung dua, tiga pulau terlampaui," ucap Angel senang.


"Tapi Gel aku masih ragu, bagaimana kalau rencana itu gagal? Pria itu pasti membunuh ku kalau ketahuan kita curang."


"Tenang Net aku sudah mempersiapkan semuanya. Saat aku menggantikan mu nanti kau harus cepat-cepat pergi. Ini semua sudah kupersiapkan." Angel menunjukkan tas yang sudah berisi dengan uang, ponsel dan pasport."


Annete memeriksanya. "Wah Gel kamu membelikan ku ponsel?"


"Iya itu agar mempermudah kita berkomunikasi nantinya.


"Ini tiketnya kok ke Inggris sih?"


"Itu Wison yang memesan katanya dia punya teman di sana dan rencananya dia akan menitipkan mu padanya."


"Baiklah tidak apa-apa yang penting aku bisa bebas, setelah itu aku baru akan memikirkan langkah selanjutnya."


"Yang penting kabari aku ya!"


"Pasti Gel, terima kasih ya selalu merepotkan mu."


Siang hari lelaki pengusaha itu menjemput Annete.


"Bagaimana sudah siap?" tanyanya pada Annete sambil memandangi tubuh Annete yang seksi.


Annete ngedumel dalam hati. "Kalau bukan karena Angel aku mana mau pakai baju macam gini." Annete hanya mengangguk.


"Ya sudah ayo masuk!" perintah tuan Max. Annete pun menurut dan masuk ke dalam mobil itu.


Mobil melaju di jalanan tak ada satu pun anak buah Paul yang mengikutinya karena Max tak suka dibuntuti kecuali oleh anak buahnya sendiri.


Sampai di hotel tuan Max langsung membawa Annete ke dalam kamar sesuai permintaan Annete semalam yang sengaja Annete kirim lewat ponsel Lily. Dia tidak mau ada seorang pun yang melacak pelariannya nanti.


Annete terlihat kaku karena hatinya dikuasai rasa takut dan cemas, takut-takut Angel tidak bisa menyusul dirinya dan menggantikannya nanti.


"Kenapa kamu kaku seperti itu?"


"Aku malu," ujar Annete sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.


"Kamu pemalu ya?"


"Bagaimana kalau mainnya tuan sambil tutup mata?" Annete mulai menjalankan rencananya.


"Tutup mata?"


"Ia aku tahu kata teman-teman, tuan Max ini gagah dan kuat sekali. Apakah tetap seperti itu kalau mainnya dengan mata tertutup?"


"Menarik sekali bisa di coba tapi aku tidak bisa melihat tubuhmu kalau mainnya seperti itu."


"Tidak apa-apa di ronda kedua Tuan bisa melakukannya dengan mata terbuka."


"Kamu menantang ku hah?" ucap Tuan Max sambil tersenyum dan memegang dagu Annete lalu mendekatkan wajahnya hendak mencium wajah Annete.


"Tunggu dulu!" Annete menyingkirkan pegangan tangan tuan Max dan mengambil selendang di dalam tasnya. Dia lalu menutupi mata tuan Max dengan selendang tersebut seperti anak-anak yang bermain permainan lalat buta. Hatinya Jedag-jedug mengapa Angel belum datang juga.


Sementara di luar Angel meminta kunci cadangan itu kepada resepsionis. Inilah alasan mengapa Annete di suruh nya menentukan hotel dan nomor kamar agar Angel bisa lebih dulu bekerja sama dengan sang resepsionis. Ia lalu berlari ke arah kamar Annete berada. Sampai di depan pintu dia membuka pintu secara halus dan berjalan pelan memasuki kamar. Sampai di dalam kamar dia memberi kode pada Annete supaya cepat meninggalkan tempat.


Annete meraih tas dan sertifikat kepemilikan lahan kuburan tersebut dan berjalan keluar dengan pelan. Sampai di luar kamar baru ia berlari keluar hotel. Di dalam kamar Angel menggantikan Annete melayani tuan Max. Namun masih beberapa menit tuan Max merasa curiga karena permainan Angel seperti permainan orang yang sudah lihai sedangkan Annete kan masih perawan jadi tidak mungkin selincah ini.

__ADS_1


Tuan Max membuka ikatan kain di kepalanya.


"Kamu!" Rahang tuan Max mengeras mendapati perempuan yang melayaninya bukanlah wanita yang tadi. Dia menyingkirkan tubuh Angel dan menelpon seseorang.


"Cepat kejar perempuan itu!"


"Kamu siapa yang menyuruh mu? Mengapa kau ada di sini?"


"Aku...aku tadi ada yang menelpon katanya aku harus melayani orang di kamar ini. Aku pikir tuan ingin bermain dengan mata tertutup ya aku langsung ladeni saja," ucap Angel santai. Sebenarnya Angel takut tapi dia berusaha bersikap tenang dengan menyingkirkan kegugupannya.


"Siapa yang menelepon mu?"


"Tuan Paul."


"Brengsek dia menipuku, pergilah aku tidak membutuhkan mu!" Angel keluar dari kamar tersebut. Dalam hati berharap semoga Wilson sudah membawa Annete kabur dari tempat itu.


Kenyataannya di luar anak buah Max sudah meringkus Wilson. Sedangkan Annete yang melihat Wilson sudah ditangkap segera mencari arah lain hingga tak sengaja,


Bug.


Dia terbentur seseorang hingga terjatuh.


"Kamu?"


Annete menatap pria itu. "Kamu pria pemabuk itu kan?"


"Nicko, namaku Nicko."


"Siapapun namamu tolonglah aku, bawa aku pergi dari tempat ini."


"Kenapa kamu seperti di kejar hantu sih!"


"Ini lebih gawat dari dikejar hantu Tuan, tolonglah!"


"Itu dia, kejar dia!" Salah satu anak buah Max melihat Annete ada dalam mobil Nicko. Terjadilah kejar-kejaran antara mobil Nicko dengan mobil anak buah Max.


"Bang Nicko," gumam Wilson.


Sementara Annete sedang kejar- kejaran Wilson langsung di bawa ke kantor polisi. Tuan Max melaporkan bahwa bar miliknya juga menyediakan psk tanpa izin, alias ilegal.


Sampai di kantor polisi Wilson langsung menghubungi Angel.


"Ada apa Wil, sudah berhasil bawa Annete kabur?"


"Boro-boro kak malahan aku yang di tangkap polisi."


"Lo kok bisa?"


"Iya anak buah Max yang menangkap ku dan menjebloskan aku ke sini." Wilson pun menceritakan kejadiannya.


"Nanti aku bantu Wil, tapi bagaimana dengan Annete?"


"Dia lari bersama bang Nicko Kak."


"Nicko? Kamu yakin?"


"Iya Kak."


"Syukurlah kalau begitu berarti Annete aman." Angel kenal dengan Nicko, dia adalah kekasih Anna dulu. Angel sering menemani Nicko sekedar mendengarkan curhatannya saat mabuk karena ketika dia menemukan dimana Anna berada dia harus kejutkan dengan kematian kekasihnya itu.


"Tapi Kak anak buah Max masih mengejarnya."

__ADS_1


Meninggalkan segala kegaduhan yang ada. Zidane dan Edrick setelah sampai di bandara langsung menuju bar milik Wilson. Sampai di sana dia menanyakan keberadaan Annete tapi tidak ada yang tahu.


"Bagaimana kalau Anna?" Tanya Edrick.


"Oh kalau Anna sedang keluar Pak tapi kami tidak tahu kemana," jawab Diena.


"Kalau Angel?"


"Kalau Angel tadi bilang mau ke hotel TX Pak." Lily yang menjawab.


"Punya nomor teleponnya nggak?"


"Oh ada Pak, ini." Lily menyodorkan ponselnya dan Edrick menyalinnya.


"Baiklah terima kasih." Edrick menarik tangan Zidane keluar dari bar dan masuk ke dalam mobil. Sekarang mereka menuju hotel yang disebut tadi.


"Sebenarnya kamu mau cari Annete atau mau cari Angel sih?" tanya Zidane.


"Ayolah Bro, ini semua ada hubungannya."


"Terserah kamu lah," ucap Zidane pasrah.


Edrick memarkirkan mobilnya kemudian memasukinya lobi hotel. Celingak-celinguk mencari keberadaan Angel.


"Akh... mengapa aku tidak menelponnya?" ucap Edrick kesal.


Zidane cekikikan menertawakan kebodohan Edrick. Edrick lalu mengambil ponselnya dan memencet nomor Angel. Belum selesai memencet nomor tiba-tiba Edrick melihat Angel berjalan ke arahnya.


"Hei Gel!" Edrick melambaikan tangan. Angel menyamperi tempat mereka berdiri.


"Kamu?"


"Edrick."


"Iya-iya aku inget."


"Ada apa ya?"


"Aku ingin mencari sahabat saya namanya Annete. Apakah Anna yang waktu itu adalah Annete?" Edrick langsung to the point.


"Benar kamu sahabatnya?"


"Iya benar kami mencarinya selama ini tapi tidak pernah bertemu." Angel menatap mata Edrick takut pria itu berbohong.


"Kenapa kau menatapku seperti itu? Aku tidak berbohong." Edrick tahu Angel mencurigainya.


"Baiklah kalau begitu Annete sekarang membutuhkan pertolongan kalian."


"Maksudnya?"


"Dia sedang dikejar-kejar penjahat kini dan aku tidak tahu harus mencarinya kemana."


"Kamu punya nomor teleponnya?"


"Punya."


"Kalau begitu ayo ikut kita lacak pakai GPS saja."


Angel pun mengangguk lalu mengikuti kedua pria itu ke dalam mobil dan mencari Annete bersama.


Bersambung......

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak! ๐Ÿ™


__ADS_2