Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 36. Bertemu Sahabat Lama


__ADS_3

Selang tak begitu lama Lexi sampai ke rumah sakit ternyata Nathan masih terlelap tidur.


"Nathan bangun!" Lexi mengguncang tubuh Nathan yang tampak pulas.


"Eugh." Nathan hanya melenguh. "Aku masih ngantuk Paman."


"Nathan ini aku Lexi."


Mendengar suara Lexi Nathan langsung duduk walaupun nyawanya belum terkumpul semua.


"Ayo pulang!"


"Nathan mau nginep di sini nemenin paman Zidane, boleh?"


"Tidak boleh nanti mama kamu murka sama Uncle."


"Boy kamu pulang aja dulu kasihan mama kamu nyariin. Nanti lain kali kamu nginap di rumah paman aja. Kalau di rumah sakit nggak bagus buat kesehatanmu."


"Baiklah." Nathan turun dari ranjang menghampirinya Zidane.


"Atan pulang dulu ya Paman."


"Iya kamu hati-hati ya."


Nathan mengangguk kemudian berlalu meninggalkan ruang rawat.


"Lex ini ponsel Isyana. Terserah kamu mengatakan apa sama dia tapi jangan bilang kalau ponsel itu aku yang menemukan."


"Oke." Lexi kemudian berjalan menyusul Nathan.


๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ


"Mama pagi ini mau ke mall apa kalian mau ikut?"


"Ikut Mama," sahut keduanya.


"Oke kalau begitu kalian siap-siap abis sarapan kita berangkat!"


Kini Isyana, Annete dan kedua anaknya sudah ada di dalam mall.


"Mama kami mau main itu ya!" ucap Nathan menunjuk pusat permainan yang ada di dalam mall.


"Baiklah tapi jangan kemana-mana ya biar mama nanti gampang nyarinya kalau udah selesai belanja."


"Annete kamu temani anak-anak aja ya biar aku belanja sendiri."


"Siap mbak."


Isyana meninggalkan kedua anaknya dengan pengawasan Annete sedangkan ia mendorong troli mencari barang apa saja yang dia butuhkan yang ada dalam mall tersebut.


Saat sedang asyik-asyiknya Nathan dan Tristan bermaian muncullah sosok seorang perempuan tua menghampiri mereka.


"Nathan!" Sosok perempuan itu memanggil Nathan.


"Oma Laras." Nathan berlari ke arah omanya sedang Tristan berjalan mengikuti Nathan. Dia bingung mengapa Nathan menyebut perempuan tua tersebut dengan Oma.


"Siapa Atan?" Tristan yang penasaran langsung bertanya.


"Mamanya paman Zidane."


"Oh." Tristan


mengangguk-anggukkan kepala.


"Kamu sini! Kamu pasti yang namanya Tristan kan?"


"Iya Oma."


"Boleh Oma bermain sama kalian?"


"Oma yakin?"


"Iya kenapa? Tua-tua begini Oma masih energik lo," candanya.


"Baiklah Oma," ucap keduanya sambil terkekeh.


Mereka pun bermain bersama.


Cukup lama Isyana berbelanja kini ia telah selesai. Akhirnya ia mendorong troli tersebut ke depan meja kasir. Sampai di depan kasir dia menelpon Annete.


"Annete sudahi permainan mereka aku sudah ada di depan kasir."


"Iya Mbak."


Tiba-tiba ada seseorang yang menyapa Isyana. "Sya benar itu kamu?"

__ADS_1


"Hei Vania apa kabar?"


"Aku baik kamu sendiri?"


"Baik juga. Eh kamu hamil? Kok nggak ngundang-ngundang nikahnya?" Isyana mengusap perut Vania dia jadi teringat momen ketika mengandung si kembar.


"Gimana mau ngundang orang waktu itu kamu menghilang bak ditelan bumi," ujar Vania sambil tertawa kecil.


"Kamu sendiri?"


"Nggak sama suami biasalah belanja kebutuhan baby pas lahiran nanti tapi tadi suami ketemu temannya jadi dia masih ngobrol-ngobrol tuh di dalam jadi aku putusin menuggu di kasir aja. Kamu sama siapa?"


"Sama anak-anak tuh masih ada di sana," tunjuk Isyana tempat permainan.


"Kamu udah punya anak?"


"Iya anak saya kembar."


"Wah asyik dong punya baby twins. Aku sebenarnya pengen punya anak kembar tapi apalah daya Tuhan ngasihnya cuma satu."


"Ya nggak apa-apa disyukuri aja. Entar kalau udah lahiran buat lagi sama suami."


"Emangnya kamu kira aku pabrik anak abis lahiran langsung disuruh tancap gas." Vania pura-pura kesal.


"Nggak begitu juga maksudku. Kamu nih tetap aja kayak dulu suka menyimpulkan seenak jidat!"


Kedua sahabat yang lama tidak bertemu itu tertawa bersama.


"Rasanya sudah lama ya kita tidak bersama. Kamu tahu tidak aku sering kangen saat-saat kita kerja dulu terutama saat kita dimarahi atasan karena salah ketik saat membuat laporan padahal mereka sering mengingatkan bahwa angka nol yang ada di belakang angka lain itu berharga."


Keduanya pun bernostalgia dengan masa lalu sambil terus tertawa kala mengingat hal-hal konyol yang sering mereka lakukan bersama. Terutama ketika mengingat dulu Isyana sempat mau menjodohkan Vania dengan seorang cleaning servis yang kata Vania teramat tampan.


"Jangan-jangan kamu nikahnya sama cleaning servis itu ya?" goda Isyana.


"Enak aja nggaklah."


...****************...


"Anak-anak ayo udahan mama kalian sudah mau pulang!"


"Baik Aunty."


"Oma kami pergi dulu ya!"


"Iya lain kali main lagi ya sama Oma!"


Dari kejauhan mereka melihat Isyana sedang ngobrol dengan seseorang. Mereka mempercepat langkah ketika menyadari sepertinya ia kenal dengan orang yang sedang berbicara dengan mamanya.


"Tante Vania." Mereka menyalami tangan Vania.


"Kalian kenal sama tante Vania?"


Keduanya mengangguk.


"Jadi dia anak-anak kamu?"


"Iya."


"Kenal darimana sama tante Vania?" tanya Isyana menyelidik.


"Kenal lah Mama dia kan istrinya om Dion. Itu loh yang pernah kami ceritakan pernah ngidam pengin di peluk kami." ucap Tristan.


"Dion?" Sekelebat bayangan masa lalu hadir ketika di Prancis Dion sempat mengejar dirinya dan bersamaan dengan itu ia difitnah menabrak orang.


"Iya."


"Jangan bilang Pak Dion asisten bos di perusahaan tempat kita bekerja dulu."


"Benar dia. Emang kenapa sih? Kenapa kamu terlihat syok mendengar suami saya adalah Dion?"


Kalau benar suami Vania adalah Dion anak-anak tidak boleh dekat dengan mereka. Bisa-bisa ketahuan pak Zidane nih anak-anak.


Padahal tanpa Dion beritahu pun mereka sudah akrab.


"Hei kamu kenapa?"


"Ah tidak. Aku tidak apa-apa." Isyana tersadar dari lamunannya.


"Vania boleh aku minta tolong?"


"Ya katakan saja."


"Jangan bilang ya ke suami kamu kalau mereka adalah anak-anak saya."


"Memangnya kenapa?" Vania menatap Isyana curiga.

__ADS_1


"Nggak apa-apa sih cuma jangan bilang aja ya!"


"Kamu nggak pernah ada hubungan kan sama suami saya?"


"Dih kamu curiga ya? Nggaklah!"


"Sudah ya aku pergi dulu lain kali kita ngobrol lagi." Isyana pamit ketika barang belanjaannya selesai di total oleh kasir. Dia membayarnya kemudian beranjak untuk pergi namun mengurungkan niatnya ketika melihat Vania masih termenung.


"Tenang aja aku nggak pernah ada hubungan kok sama suami kamu." Isyana menepuk bahu Vania dan berlalu pergi.


"Tante kami pamit dulu ya!"


Vania hanya mengangguk lemah.


Setelah Isyana dan si kembar pergi Dion datang.


"Sayang kamu kenapa kok mukanya pucat seperti itu?"


"Nggak apa-apa kok."


"Perut kamu sakit ya? Atau tubuh kamu pegal-pegal kayak kemaren?"


Vania menggeleng.


"Sayang kamu kenapa sih? Kamu biasanya nggak gini deh."


"Ayo pulang Mas!" Vania menarik tangan Dion keluar.


"Tunggu ini belanjaannya sudah di bayar?"


Vania menggeleng.


"Ya udah aku bayar dulu." Dion mendekati kasir dan membayar belanjaannya. Setelah selesai dia membawa Vania keluar dari mall.


"Kamu kenapa sih kok dari tadi diam saja?" Mereka kini sudah ada di dalam mobil.


"Lagi malas aja ngomong."


Ya ampun mod ibu hamil memang benar-benar nggak bisa ditebak.


"Apa karena aku kelamaan ngobrol sama temanku tadi?"


Vania menggeleng.


"Ngomong dong sayang! Aku bisa gila tahu kalau lihat kamu seperti ini."


"Ya udah aku minta maaf kalau aku salah!" Dion mengacak rambutnya sendiri melihat tidak ada respon dari Vania.


"Mas kamu kenal sama Isyana?" Akhirnya Vania buka suara.


"Isyana?"


Vania mengangguk.


"Kalau kenal sih nggak tapi aku dulu sempat diperintah pak Zidane untuk mencari dia. Bertahun-tahun aku mencari tapi tidak berhasil dan ketika pak Zidane menyuruh untuk menghentikan pencariannya aku malah ketemu dia di Prancis tapi saat aku kejar aku kehilangan jejaknya."


"Benar nggak kenal?"


Dion menggeleng. "Memangnya kenapa kamu tanya begitu?"


"Ah nggak kenapa-kenapa sih cuma mau tanya aja soalnya aku baru ketemu dia tadi dan dia kelihatan syok saat tahu kalau suami aku adalah kamu."


"Jadi ceritanya kamu cemburu nih?"


"Ah nggak biasa aja."


"Tapi bohong," ucap Dion sambil mengacak rambut Vania.


"Kamu kalau cemburu nakutin tahu! Lagian buat apa sih cemburu kamu kan sudah tahu semua masa lalu aku. Tak pernah ada yang aku tutupin. Aku bahkan tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun."


"Ngomong-ngomong pak Zidane ada hubungan apa dengan Isyana kok dia sampai menyuruhmu mencarinya?" Kini Vania sudah bersandar di bahu Dion.


"Mana aku tahu. Kamu tahu kan betapa tertutupnya pak Zidane dulu. Sudahlah nggak usah ikut campur urusan mereka. Biarlah menjadi urusan mereka sendiri."


Vania memandang mata Dion dan mengangguk.


Atau jangan-jangan si kembar anaknya pak Zidane. Oh iya ya kan wajah mereka mirip pak Zidane. Kok aku malah curiganya sama mas Dion.


"Mas maafkan aku ya!"


"Atas?"


"Semuanya."


"Iya deh aku maafin kamu pasti karena salah paham tadi," ucap Dion sambil memencet hidung Vania."

__ADS_1


Mereka pun tertawa bersama.


__ADS_2