Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 167. Keanehan Pada Angel


__ADS_3

Setelah seminggu dirawat di rumah sakit akhirnya Nicko dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang.


"Net bagaimana tawaranku waktu itu?" Nicko masih berani bertanya meski Adrian mendelik tidak suka ke arahnya.


Annete menepuk bahu Nicko dan berkata," Lebih baik kamu jalani saja hubunganmu dengan tunanganmu itu Nik. Dia itu gadis yang berpendidikan apa alasanmu untuk menolaknya? Lupakan Anna dan aku pun tidak akan bisa menjadi Anna. Berilah dia kesempatan untuk menjalani kehidupannya bersamamu. Kalau memang suatu saat kalian tidak cocok kalian bisa memutuskan hubungan kalian secara baik-baik. Intinya kalian jalani dulu baru putuskan. Dan kalau kamu masih penasaran dengan hatiku, maaf aku tidak bisa mencintaimu."


Nicko manggut-manggut mendengar keputusan Annete sedang Adrian merasa puas dengan jawaban Annete padahal bisa saja kan itu juga jawaban Annete atas pertanyaannya nanti.


"Baiklah Net kalau itu keputusan mu dan terima kasih sudah menasehati ku."


"Iya sama-sama, by the way kamu jadi pulang ke Indonesia? Kalau jadi kamu bisa pulang bersama kami semua."


"Tidak Net lebih baik aku ke London saja untuk menjemput tunangan ku dulu baru pulang ke sana."


"Apa perlu aku antar ke bandara?" tanya Zidane.


"Tidak usah aku sudah bisa menyetir sendiri."


"Baiklah kalau begitu. Ini kuncinya dan mobilmu sudah berada di parkiran rumah sakit. Sekali lagi terima kasih ya sudah membantu menyelamatkan Annete."


"Iya sama-sama."


"Oke kalau begitu kita permisi duluan ya Nik," ucap Annete.


"Baiklah Net kamu hati-hati ya."


"Iya."


Setelah keluar dari rumah sakit mereka langsung menuju ke rumah Wilson. Ketika di perjalanan Annete terlebih dahulu menghubungi Wilson bahwa dirinya dan teman-teman sedang menuju ke rumahnya. Alhasil sampai di sana Wilson sudah menyiapkan berbagai menu makanan untuk menyambut para tamu.


"Wah-wah, enak-enak nih," ucap Annete sambil menelan air liur ketika melihat makanan yang pedas-pedas ada di hadapannya. Selera makannya bangkit seketika.


Warna merah-merah sungguh membuat Annete bahagia. Sudah lama dia tidak mengkonsumsi makanan ini.


"Wil darimana kamu dapatkan makanan ini?" Annete sumringah melihat makanan di depannya adalah makanan-makanan kesukaannya. Ada daging rendang, telur balado, ayam bakar Taliwang, opor ayam, sate dan masih banyak jenis masakan Indonesia yang lainnya.


"Itu aku ambil dari kafe Kak."


"Wah serius kamu jual masakan seperti ini di kafe kamu?"


"Iya emang kenapa Kak?"


"Nggak apa-apa Wil justru bagus di sini masih belum banyak yang jual menu masakan Indonesia. Jadi keuntungannya pasti sangat menjanjikan."

__ADS_1


"Bagaimana perkembangannya Wil?" tanya Lexi.


"Bagus Kak ternyata bukan hanya warga Indonesia yang suka dengan menu-menu khas Indonesia tetapi orang Prancis juga antusias Kak."


"Bagus kalau begitu, aku yakin suatu saat kamu akan jadi orang sukses."


"Amin, Terima kasih doa dan bantuannya juga kakak-kakak. Mari silahkan dimakan."


"Oke Wil." Angel langsung mengambil makanan ke piring dan segera menyantapnya.


Annete pun melakukan hal yang sama. Dia langsung mengambil daging rendang dan hendak meletakkannya ke dalam piringnya namun dicegah oleh Adrian.


Annete memandang wajah Adrian dan Adrian menggeleng." Jangan makan itu kamu baru beberapa hari sembuh nanti kambuh lagi."


Annete meletakkan rendang itu kembali dengan hati yang kecewa dan kini meraih opor ayam.


"Jangan makan santan, pengidap asam lambung tidak boleh menkonsumsi makanan itu."


Annete meletakkan kembali makanannya. Kini tangannya beralih ke sate. Dia berpikir itu makanan yang aman untuk dirinya karena tidak pedas dan tidak mengandung santan namun dia kecewa Adrian masih saja melarangnya.


"Terus aku makan apa dong Mas masa aku makan roti sendiri!" protes Annete, selera makannya yang menggebu-gebu tadi hilang sudah. Dia kini lemas dan malas melanjutkan makannya.


"Repot memang kalau bicara sama dokter apa-apa dilarang," cetus Zidane.


"Itu kan demi kebaikannya Dan," jawab Adrian.


"Ya sudah kamu boleh makan sate tapi jangan banyak-banyak ya soalnya perutmu kan masih kosong, sate itu mengandung asam. Lebih baik makan nasi sama ayam goreng saja dulu baru makan satenya."


Annete bersemangat kembali kemudian makan dengan lahapnya.


"Jangan langsung makan banyak harus sedikit-sedikit."


"Kayaknya kamu lebih berisik dari dokter yang menangani ku deh Mas," protes Annete dan semua yang hadir menghentikan kunyahannya lalu tertawa, tepatnya menertawakan Adrian karena dibilang berisik oleh Annete padahal dirinya terkenal kalem diantara para sahabatnya.


Sementara yang lain tertawa Angel masih khusuk dengan makanannya. Dia tampak tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya yang tercengang melihat cara makannya yang rakus. Dia seperti orang kelaparan saja.


"Kak pelan-pelan makannya," ujar Wilson yang merasa tidak enak karena semua laki-laki yang ada di meja makan menatapnya dengan aneh.


"Hah, apa Wil?" Masih terus mengunyah makanannya.


"Pelan-pelan Kak tidak akan ada yang merebut makananmu."


"Abisnya enak sih Wil."

__ADS_1


"Iya Kak aku tahu tapi lihatlah para lelaki memandang cara makan Kakak," bisik Wilson di telinga Angel.


"Ah iya." Angel mendongakkan kepalanya.


"Benar kata Wilson semua orang menatap ku aneh, tapi kenapa aku bisa rakus seperti ini sih," batin Angel. Dia juga bingung dengan dirinya sendiri.


Tiba-tiba perutnya terasa mual. Angel langsung berdiri. "Wil antarkan Kakak ke kamar mandi."


"Baik Kak." Wilson berjalan ke kamar mandi diikuti Angel yang berlari karena tidak tahan ingin mengeluarkan sesuatu dari perutnya yang membuat Wilson pun ikut berlari.


Annete yang melihat gelagat Angel yang aneh yang terlihat pucat dan meringis tadi menjadi khawatir takut-takut Angel terkena asam lambung seperti dirinya karena sedari tadi menkonsumsi makanan yang pedas-pedas apalagi Angel tidak terbiasa mengkonsumsi makanan pedas.


Annete pun berdiri lalu menyusul Angel ke kamar mandi.


Setelah sampai di depan pintu kamar mandi Annete mendengar suara Angel yang sedang muntah-muntah.


"Hoek...hoek...."


Annete langsung menyusul Angel ke dalam dan membantu memijit tengkuk Angel.


"Hoek...Hoek..." Angel masih saja memuntahkan makanannya. Setelah selesai Angel langsung berkumur-kumur dan berdiri dengan dibantu Annete.


"Kamu kenapa Gel? Wajahmu terlihat pucat. Bagaimana kalau kita ke dokter?"


"Tidak usah Net aku hanya masuk angin saja atau mungkin kebanyakan makan tadi," ucap Angel tubuhnya masih merasa lemah tapi dia paksakan untuk berjalan sendiri agar tidak membuat Annete khawatir. Sampai di meja makan Angel menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.


"Wil ambilkan minyak kayu putih!" perintah Annete pada Wilson.


"Baik Kak." Wilson pergi kemudian beberapa saat kembali dengan minyak kayu putih di tangannya.


"Ini Kak."


Annete menerimanya lalu membalurkan pada tengkuk dan kening Angel.


"Kini kenapa?" tanya Adrian.


"Nggak tahu Mas mungkin hanya masuk angin, mau dibawa ke dokter dianya tidak mau," keluh Annete.


Mendengar aroma minyak kayu putih Angel segar kembali.


"Aku tidak apa-apa Net," ucapnya.


"Tapi mengapa aku tiba-tiba aneh seperti ini?" tanyanya dalam hati.

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak!๐Ÿ™


__ADS_2