Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 134. Perginya Anisa


__ADS_3

Pagi hari saat Anisa yang sudah berpakaian rapi hendak ke kantor dan sudah melangkahkan kakinya ke luar pintu tiba-tiba tangannya cekal oleh Adrian.


"Tunggu Nis!"


Anisa mengerutkan alis dan menoleh.Tumben Adrian perduli padanya pikirnya. Dia memandangi tangannya yang dipegang Adrian.


Adrian yang tersadar langsung melepaskan pegangan tangannya. "Sorry," ucapnya. Sejak saat dia tahu Anisa berselingkuh dengan Rayyan Adrian memang tidak pernah menyentuh Anisa walaupun hanya sekedar berpegangan tangan.


"Ada apa Dri?"


"Aku minta hari ini kamu jangan ke kantor dulu!"


"Ada apa?"


"Ya Tuhan ibu macam apa dia sehingga tidak tahu bahwa sekarang ultah putrinya," batin Adrian. Namun terpaksa dia menjelaskan juga.


"Hari ini Adel ulang tahun yang ketiga jadi hari ini aku harap kamu bisa hadir untuk merayakan ultahnya. Ultah ke-satu dan kedua kamu tidak hadir jadi hari ini harus hadir karena bagaimanapun Adel itu anak kamu," tekan Adrian.


"Baiklah aku akan hadir tapi aku akan keluar sebentar buat beli kado."


"Silahkan!" ucap Adrian lalu beranjak masuk ke dalam untuk memeriksa apakah semuanya persiapannya sudah selesai.


"Hem, makin bertambah hari makin cuek deh kayaknya tuh orang," keluh Anisa sambil berlalu pergi.


Sebelum pergi ke toko dia mampir dulu ke perusahaan tempatnya bekerja untuk minta izin tidak masuk hari ini pada kekasihnya.


"Emangnya mau kemana?" tanya Rayyan.


"Adel hari ini ulang tahun dan Adrian menekan aku agar hadir di acara tersebut."


"Oke tidak apa-apa tapi kamu yakin kamu tidak akan meninggalkan aku?" tanya Rayyan mulai ragu terhadap perasaan Anisa terhadapnya. Kalau sekarang dia bisa perhatian sama anaknya bisa saja nanti Anisa kembali pada Adrian.


"Kenapa kau masih meragukan ku bukankah aku sudah menuruti semua permintaanmu. Bahkan saat kau meminta agar aku tidak mau disentuh oleh Adrian pun aku lakukan." Padahal bukan dia yang tidak mau disentuh tapi Adrian lah yang tidak mau menyentuhnya.


"Tapi apakah perasaanmu masih tetap sama untukku?"


Anisa memegang dagu Rayyan dan berkata, "Percayalah Rayyan aku masih mencintaimu seperti dulu dan sampai kapanpun tidak akan pernah berubah."


"Apakah kau akan tetap menuruti permintaanku?"

__ADS_1


"Ya pastilah Rayyan kapan aku pernah menolak mu," kesal Anisa mengapa Rayyan terkesan meragukannya.


"Sudah ah aku mau beli kado buat Adel dulu." Anisa hendak beranjak tapi ditahan oleh Rayyan. "Tunggu Nis!"


"Ada apa lagi Rayyan?"


"Kalau kau memang mencintaiku maka ikutlah denganku."


"Kemana?"


"Ke rumah kita berdua."


"Rumah kita?"


"Iya, rumah yang jauh dari hiruk pikuk kota dan disana kita akan hidup berdua saja tanpa gangguan siapapun termasuk Adrianmu itu."


"Kamu ya tetap saja cemburu sama Adrian. Terus bagaimana dengan Adel dan Adrian kalau aku tinggal bersamamu?"


"Ya tinggalkan saja Nis, bukankah selama ini kamu memang tidak peduli sama mereka."


"Tapi aku tidak punya alasan untuk meninggalkan mereka Ray, aku akan jawab apa kalau mereka bertanya?"


"Ayolah Anisa jangan bodoh seperti itu, ya jangan kasih tahu mereka kamu pergi diam-diam aja. Lagipula masa sih kamu tidak bisa memberi alasan sama mereka. Itu sih kalau kamu benar-benar cinta sama aku kalau tidak ya tidak usah," ucap Rayyan pura-pura cemberut.


"Pokoknya nanti malam pas yang lain sudah tidur aku akan menjemputmu ke sana."


"Iya-iya nanti malam aku akan menunggumu. Sekarang aku mau beli kado dulu nanti terlambat lagi."


Rayyan tersenyum menyeringai dia begitu puas Anisa mau ikut dengannya. Padahal niatnya membawa Anisa jauh dari kota karena sepertinya perselingkuhannya dengan Anisa sudah mulai terendus oleh sang istri. Jadi dia ingin menyembunyikan Anisa dari istrinya tersebut karena kalau sampai Anisa tahu Rayyan sudah punya istri bisa saja Anisa memutuskan hubungan dengan dirinya dan bisa saja kembali ke pelukan Adrian dan Rayyan tidak mau itu terjadi sedangkan istrinya pun akan marah besar dan bisa saja melemparnya ke jalanan.


"Kalau begitu saya antar," kata Rayyan sambil meraih kunci mobilnya.


"Ayo!" ajaknya dan Anisa pun mengikuti langkah Rayyan dari belakang. Mereka lalu berjalan ke parkiran dan masuk ke mobil lalu Rayyan melajukan mobilnya ke toko mainan.


"Tuh boneka lucu-lucu kalau buat Putri kamu," tunjuk Rayyan pada deretan boneka yang terpajang di etalase toko.


"Kok kamu jadi perhatian sih sama Adel," ujar Anisa.


"Iya kan setelah ini kamu akan meninggalkannya. Jadi kamu harus memberikan hadiah yang spesial untuk dia."

__ADS_1


"Oke boleh juga idemu."


"Sepertinya dia suka kelinci."


"Itu tuh di sana ada boneka kelinci yang besar." Rayyan menarik pergelangan tangan Anisa lalu membawanya ke etalase yang ada boneka kelincinya. Anisa meraih boneka itu. "Boleh juga."


"Mbak saya ambil boneka yang ini ya tolong sekalian langsung di bungkus jadi kado."


"Oke Mbak siap," jawab pelayan toko sambil mulai mengambil kertas kado dan membungkus boneka tersebut sedang Anisa memilih duduk sambil menunggu di sebuah kursi. Setelah selesai pelayan tersebut langsung menyerahkannya pada Anisa.


Setelah membayar pada pelayan toko mereka langsung meluncur ke kediaman Adrian. Sampai di sana ternyata acara sudah dimulai.


Adrian menoleh ke arah Anisa dengan ekspresi dinginnya dan sekilas dia melihat Anisa berbincang-bincang dengan Rayyan sebelum turun dari mobil. Adrian memilih cuek dan kemudian dia memalingkan muka.


Anisa turun dari mobil Rayyan dan melangkah menghampiri Adel yang kini sedang berdiri di tengah taman rumahnya, kebetulan ultahnya memang bertema garden party.


"Selamat ulang tahun sayang," ucap Anisa pada Adel sambil mengecup kening Adel lalu menyerahkan hadiahnya.


"Makacih Bunda," ucap Adel dengan suara cadelnya. Dia tersenyum sumringah begitu bahagia diperhatikan oleh bundanya. Sedangkan Adrian melongo melihat Anisa yang berubah sikapnya terhadap Adel. Semoga saja ini awal yang baik untuk hubungan Adel dan bundanya pikir Adrian walaupun hubungan dirinya mungkin saja tidak bisa berubah.


Namun harapan Adrian menjadi pudar tatkala saat bangun pagi dia melihat kertas yang diletakkan Anisa di atas meja rias di kamarnya, rupanya semalam Anisa masuk ke kamar Adrian. Semalam Adrian memang tidur lebih awal karena kelelahan sehingga itu dimanfaatkan Anisa untuk kabur. Dia mengatakan bahwa dia sudah tidak bisa hidup dengan Adel putrinya dengan alasan yang bagi Adrian tidak masuk akal. Bukankah selama ini dia tidak pernah mengurusi pengobatan Adel, mengapa dia mengaku lelah dengan keadaan Adel?


"Cck." Adrian mendesah. "Bilang saja kamu lebih memilih Rayyan ketimbang Adel." Adrian bukannya bodoh dia tahu alasan sebenarnya adalah Anisa pasti pergi dengan Rayyan. Selama ini dia tidak menceraikan Anisa bukan masih mengharapkan Anisa untuk kembali seperti dulu. Namun dia menunggu Anisa yang meminta cerai terlebih dahulu karena dia merasa dirinya tidak bersalah dalam pernikahannya. Dan Adrian masih berharap Anisa bisa menyayangi Adel yang sebenarnya masih butuh seorang ibu. Tapi saat membaca surat ini Adrian merasa harus tegas dan mengambil sikap.


Siang itu di sela-sela tugasnya di rumah sakit Adrian langsung mengurus surat perceraiannya dan dirinya memutuskan membawa Adel ke luar negeri agar bisa mendapatkan perawatan terbaik demi kesembuhannya. Selain itu dia tidak mau Adel kecewa kalau mengetahui bundanya telah pergi meninggalkannya.


"Bi berikan surat ini pada Anisa bila dia berkunjung ke rumah ini, suruh dia tanda tangan di sini!" perintah Adrian pada pembantunya.


"Tuan mau kemana?" tanya Bibi karena sang majikan dengan putrinya sudah berpakaian rapi dengan menyeret sebuah koper.


"Saya akan ke luar negeri untuk pengobatan Adel, dokter menyarankan agar Adel dibawa ke sana agar mendapatkan penanganan yang lebih baik. Bibi jaga rumah ya, tenang saja untuk gaji para pembantu nanti aku transfer ke rekening Bibi biar bibi yang membagikannya nanti pada mereka semua."


"Baik Tuan amanah tuan akan saya laksanakan."


"Terima kasih Bi, kalau begitu saya pergi dulu, mohon doanya ya supaya Adel bisa sembuh."


"Iya Tuan tanpa diminta pun kami semua pasti akan selalu mendoakan keselamatan dan kesehatan Tuan dan Adel."


"Iya terima kasih Bi."

__ADS_1


Dan akhirnya hari itu Adel dan Adrian terbang ke luar negeri meninggalkan negara kelahirannya.


Bersambung....


__ADS_2