
"Telepon sekarang atau nanti?" Pak satpam ragu-ragu.
"Sekarang saja." Pak satpam langsung meraih ponselnya dan menghubungi Louis.
๐ฑ"Ada apa Pak saya lagi di jalan ini, telepon nanti saja ya sesudah sampai." Louis memang tidak membawa sopir dia mengendarai mobilnya sendiri.
๐ฑ"Tapi Tuan ada yang penting yang harus saya sampaikan."
๐ฑ"Tidak bisa nanti sajakah Pak? Saya lagi buru-buru ini."
๐ฑ"Tuan tolong cek di jok belakang barangkali ada orang yang menguntit Tuan." Pak satpam tidak mendengarkan perkataan Louis.
Louis menoleh ke belakang tapi tidak ada apa-apa.
๐ฑ"Oke kalau begitu sebentar." Louis menepikan mobilnya kemudian mengecek bagian belakang mobil.
"Tidak ada apa-apa," gumamnya.
๐ฑ"Ada apa sih sebenarnya Pak?" tanyanya kemudian.
๐ฑ"Tadi ada seorang pria yang mencari adiknya ke sini, dia bilang adiknya itu masuk dan bersembunyi di dalam mobil Tuan Louis, tapi menurut saya tingkah pria itu sangat mencurigakan Tuan."
"Berarti yang dicari pria tersebut adalah Nindy, tapi apakah Nindy punya seorang kakak? Apa pria itu justru adalah Pras? Gawat kalau sampai dia menemukan Nindy, sedang saya sedang tidak ada di rumah," batin Louis.
๐ฑ"Siapa?"
๐ฑ"Namanya Prasetyo Tuan."
Apakah benar itu yang namanya Pras?
๐ฑ"Bapak bisa mengirimkan rekaman wajah pria itu di cctv pada saya?"
๐ฑ"Tidak perlu Tuan karena saya sempat mengambil foto pria itu tadi."
๐ฑ"Baiklah kalau begitu segera kirimkan ke ponsel saya."
๐ฑ"Oke siap Tuan."
Cling.
Beberapa saat kemudian terdengar notifikasi di layar ponsel.
"Oh ini yang namanya Pras? atau orang lain lagi kah?" Louis bergumam sendiri. Beberapa saat kemudian ia memutuskan untuk menelpon Nindy.
Satu menit, dua menit, tiga menit tak ada jawaban. Ponsel Nindy tidak aktif.
"Kok nggak bisa dihubungi sih? Apa ada sesuatu sama dia? Baiklah kalau begitu aku hubungi Mbak Mira saja."
Louis langsung mengalihkan sambungan teleponnya ke nomor Mira. Namun sama saja tak ada jawaban, meski nomor Mira aktif tapi tidak ada yang mengangkat teleponnya. Saat ini Mira sedang menyetrika sambil bersenandung kecil sedangkan ponselnya ia tinggalkan di kamarnya sendiri.
Louis menjadi khawatir takut terjadi sesuatu pada keduanya.
__ADS_1
"Tapi bukankah pak satpam tadi mengatakan bahwa pria tersebut sudah pergi. Seharusnya keadaan di sana aman kan?"
Hari sudah mulai petang, Louis masuk ke dalam mobilnya kembali tapi sebelum melanjutkan perjalanan dia menyeduh kopi agar tidak mengantuk selama perjalanan.
"Ah segar," ucapnya setelah meneguk kopi buatannya sendiri. Kemudian dia menyetir mobilnya kembali.
Mira yang sudah selesai menyetrika menaruh pakaian Louis ke tempatnya. Setelah itu ia berbalik ke kamarnya sendiri. Rasanya dia ingin beristirahat lebih awal malam ini.
"Tidur aja deh sebentar, nanti bangunnya pas mau makan malam saja. Mumpung nggak ada Mas Louis." Mira terkekeh sendiri. Dia selalu merasa bebas jika tuan rumah pergi ke luar kota. Biasanya kalau ada Louis Mira dilarang tidur di jam-jam seperti ini.
Mira merebahkan tubuhnya di atas kasur. Rasa capeknya seketika hilang merasai kasurnya yang empuk. Mira jadi berpikir apa maksudnya Louis menempatkan Nindy justru di kamar yang lebih kecil dan sempit dari kamarnya. Apa benar hanya ingin mengerjai Nindy dan membuatnya sebal?
Saat berpikir tak sengaja tangannya menyenggol ponselnya hingga terjatuh hampir mengenai kepalanya. Dia meraih ponsel tersebut untuk mengecek media sosial miliknya. Namun sebelum ia melakukannya yang dia lihat justru ada panggilan tak terjawab hingga sepuluh kali dari Louis.
"Tuan Louis ada apa ya, kok sampai maksain nelpon saya?" Dia langsung menekan tombol ponsel untuk menghubungi Louis.
๐ฑ"Mas Louis ada apa?Apa sudah sampai?"
๐ฑ"Belum, Nindy nya mana?"
๐ฑ"Ada di ruang televisi Mas, mungkin dia kesepian aku tinggal nyetrika tadi. Jadi ya dia memilih menonton film saja."
๐ฑ"Oh begitu ya, syukurlah kalau begitu." Terdengar helaan nafas lega dari seberang sana.
๐ฑ"Ada apa sih Mas kok kayak khawatir gitu?"
๐ฑ"Berikan teleponnya pada Nindy. Saya menghubunginya tadi, tapi nomornya tidak aktif."
๐ฑ"Baiklah, tunggu sebentar." Mira berjalan keluar kamar dan menemui Nindy.
"Dari?"
"Mas Louis."
"Oke."
๐ฑ"Hai!" Nindy berbasa-basi menyapa Louis.
๐ฑ"Kirimi aku foto Pras!" Louis langsung bicara ke inti.
๐ฑ"Buat?"
๐ฑ"Sudah jangan banyak tanya lakukan saja!"
๐ฑ"Oke sebentar aku mau telepon Putri, teman saya untuk minta foto dia soalnya aku sudah tidak menyimpan fotonya."
๐ฑ"Oke aku tunggu sekarang."
๐ฑ"Iya-iya."
Nindy langsung menghidupkan ponselnya kembali dan menelpon Putri. Putri langsung mengirimi foto Pras ke ponsel Nindy.
__ADS_1
๐ฑ"Nggak ada foto yang lain Put? Yang Pras sendiri saja gitu?"
๐ฑ"Nggak ada Saf, kamu pikir buat apa aku mau nyimpen foto dia kalau nggak ada kamu nya?"
๐ฑ"Ya sudahlah kalau begitu, terima kasih," ujar Nindy malas sambil menutup sambungan teleponnya.
Dia kemudian dengan cepat mengirim foto Pras ke nomor Louis.
"Nggak ada yang lain gitu?" Louis ikut protes.
"Nggak ada itu stok terakhir," jawab Nindy cepat.
"Fotonya bikin ilfil," ujar Louis. Bagaimana tidak ilfil melihat Pras yang berdiri memeluk Nindy dari belakang membuat Louis sebal saja.
"Mau gimana lagi adanya cuman itu." Nindy tampak pasrah walau sebenarnya dia juga tidak ingin melihat itu semua. Hanya mengingatkan akan sakit hatinya saja.
Mira yang penasaran langsung mengintip foto tersebut. Ia memandang foto itu dan tertawa.
๐ฑ" Mbak Mira kenapa tertawa?" Suara Louis terdengar kesal.
๐ฑ"Cih bilang saja Mas Louis cemburu," goda Mira lalu cekikikan.
Mendengar perkataan Mira reflek Louis menutup panggilan teleponnya. Untung saja di tidak melakukan panggilan video call kalau tidak Mira pasti bakal terus meledeknya kalau tahu tadi ekspresi Louis seperti apa.
Louis memijit kepalanya yang mendadak jadi pusing.
Ada apa denganku? Mengapa aku begitu benci melihat Nindy dipeluk pria lain meskipun itu cuma masa lalunya saja? Ah ada apa dengan otakku? Tidak mungkin aku menyukainya kan? Akkh!
Setelah mengakhiri teleponnya dengan Mira dan Nindy, Louis menghubungi pak satpam kembali. Dia memerintahkan supaya pak satpam waspada terhadap pria tadi, juga supaya senantiasa mengawasi dan memastikan agar pria tadi tidak bisa menemui Nindy.
"Berarti benar Nindy itu sebenarnya adalah Safa. Ada sandiwara apa sebenarnya ini? Sudahlah terserah mereka saja mau bagaimana." Pak satpam bermonolog sendiri.
Setelah mewanti-wanti pak satpam, akhirnya Louis melajukan mobilnya kembali membelah jalanan. Hingga tengah malam ia baru sampai ke kota tujuan. Dia tidak memilih tinggal di hotel karena jaraknya yang lumayan jauh dari perusahaan. Dia memilih tinggal di perumahan yang biasanya disediakan untuk para karyawan agar besok bisa datang pagi-pagi untuk mengumpulkan para karyawan. Dia tidak mau mengganggu atasan di perusahaan tersebut dengan menelpon malam-malam seperti ini hanya untuk mengabarkan bahwa ia telah sampai dan menyuruhnya untuk mengumpulkan karyawan besok.
"Aku beritahu besok saja," ujarnya seorang diri.
Louis langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Rasa lelah dan pegal melanda. Dia berpikir kenapa dia tidak membawa sopir saja ke sana.
"Ah sudahlah jangan terlalu dipikirkan. Lebih baik aku tidur saja." Louis mencoba memejamkan mata. Namun, ia tidak bisa terlelap karena bayangan Nindy seolah menghantuinya.
"Kenapa harus mengingat dia lagi?" Ia protes pada dirinya sendiri karena tidak bisa terlelap tidur. Louis memiringkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri.
"Biasanya kan Angel? Kenapa sekarang berubah? Apa sekarang aku beralih mencintainya? Ah, tidak mungkin, tidak mungkin. Aku tidak mungkin mencintainya palingan aku hanya mengkhawatirkan dia saja." Louis mencoba menepis perasaannya sendiri.
Tiba-tiba perutnya keroncongan, Louis baru ingat bahwa dirinya belum makan malam. Dia hendak menelpon, ingin memesan makanan on-line namun ia urungkan takut merepotkan orang lain malam-malam begini.
"Terus aku harus makan apa?" Kemudian dia teringat kala Nindy menyodorkan roti tawar beserta selai strawberry dan selai nanas saat ia pamit untuk pergi.
Louis tersenyum lalu berbalik ke mobil. Dia mengambil roti beserta selai strawberry dan membawanya ke dalam kamar.
"Dia tahu saja yang aku butuhkan," ucapnya tersenyum sambil mengolesi roti dengan selai strawberry kemudian melahapnya. Setelah dirasa kenyang dia beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Siapa tahu penyebab tidak bisa tidurnya adalah karena tubuhnya terasa gerah. Setelah selesai mandi barulah ia merebahkan tubuhnya kembali di atas ranjang dam mencoba memejamkan matanya kembali. Jam 3 dini hari dia baru bisa terlelap.
__ADS_1
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan jejak!๐