Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 98. Berterus Terang


__ADS_3

Setelah mendengar perkataan Naura yang meminta saran darinya tentang pernikahannya dengan Lexi nenek Nisa akhirnya memilih untuk menceritakan semuanya kepada Zidane. Itu karena dia tidak tahu keputusan apa yang harus diambil sedangkan dia tahu bahwa Naura mencintai Lexi tetapi dia merasa tidak berhak untuk memutuskan apalagi Naura masih bersekolah. Menurutnya inilah saat yang tepat untuk membongkar semuanya.


Sebelum menceritakan kepada Zidane nenek Nisa terlebih dahulu mengorek informasi dari para pembantu lainnya tentang hubungan antara Zidane dengan Andy. Dari sana dia tahu bahwa berita yang dia dengar itu hanyalah sebuah kesalahpahaman belaka.


Sebelum bercerita pada Zidane terlebih dahulu dia telah menceritakannya kepada Lana. Lana yang mendengar putrinya masih hidup dan masih dalam keadaan amnesia hanya mampu menitikan air mata. Dia bahagia dan terharu tetapi dia juga sedih karena Naura tidak bisa mengingat dirinya dan keluarganya. Dia mencoba mengulurkan tangan meraih tangan Naura.


Sedangkan Naura yang mendengar cerita neneknya dia tidak percaya dan tidak terima dengan semuanya.


"Ini tidak benar, nenek bohong kan?" bicara dengan nada yang kesal terhadap neneknya.


"Kalau memang aku keluarga mereka kenapa mereka tidak pernah berinisiatif mencari aku sejak dulu?" Pertanyaan sekaligus protes yang membuat hati Lana menjadi tertohok. Apalagi saat pegangan tangannya dihempaskan oleh Naura. Benar-benar membuat Lana bersedih.


"Dan kalau itu memang benar mengapa nenek membohongiku selama ini? Apa yang nenek rencanakan hah?" bentaknya sambil melempar benda apa saja yang ada di hadapannya. Nisa tahu hari ini Naura benar-benar marah. Dalam hidup Nisa tidak pernah mendapat perlakuan seperti ini dari Naura.


"Ra, tunggu nenek belum selesai bicara!" panggilnya ketika Naura langsung pergi ke kamarnya meninggalkan dirinya yang belum menuntaskan ceritanya dan juga Lana yang mematung melihat kemarahan putrinya.


Seharian Naura tidak keluar dari kamar. Dia menangis sesenggukan, begitu sakit mengingat bahwa dirinya seperti anak yang tak pernah dianggap. Namun ketika dipikir-pikir kenapa dirinya tidak pernah mengingat masa kecilnya. Naura terus saja memaksa dirinya untuk mengenang masa-masa kecilnya.


"Mengapa tidak ada yang bisa saya ingat? Mengapa semuanya terasa gelap? Aakh...." Tiba-tiba kepalanya terasa sakit.


Benarkah dia memang putri Lana seperti pengakuan neneknya ataukah itu hanya akting neneknya yang hanya ingin membuat Lana bangun dari terpuruknya karena ditinggalkan putrinya dulu? Pikiran macam ini berkecamuk dalam hati Naura.


"Aakh mungkin nenek hanya berakting. Mengapa aku harus Semarah ini?" bergumam sendiri lalu bangun menguatkan diri berharap semuanya hanyalah mimpi belaka.


Pagi-pagi sekali Laurens dan tuan Abraham berkunjung ke kediaman Zidane. Rupanya kedua orang tua itu serius dengan ucapannya. Hari ini dia berencana untuk melamar Naura sekaligus meminta keluarga Naura untuk mendukung rencananya.


"Mau bertemu siapa Tuan, Nyonya?" tanya bi Ina ketika sudah mempersilahkan tamunya untuk duduk.


"Dengan neneknya Naura sekaligus pemilik rumah ini."


"Maaf Tuan, kalau Nyonya Laras sama Tuan Alberto sedang tidak ada di rumah tapi kalau Den Zidane sama Nyonya muda ada."

__ADS_1


"Oh iya nggak apa-apa, Zidane juga boleh."


"Sebentar Nyonya saya panggilkan." Laurens dan Tuan Abraham hanya mengangguk.


Setelah beberapa saat Zidane dan Isyana muncul dan menyapa tamunya serta berjabat tangan.


"Maaf sudah lama menunggu Nyonya, Tuan?"


"Oh tidak baru saja, maaf neneknya Naura mana?"


"Saya Nyonya," ucap Nisa yang baru saja muncul dari rumah belakang.


"Silahkan duduk!" perintah Zidane.


Setelah mereka sama-sama duduk Laurens lalu mengutarakan keinginannya.


"Kalau menurut saya itu terserah Naura mau apa tidak tapi kalau Naura nya mau yang pasti Nyonya harus bisa menjamin bahwa keduanya tidak boleh melakukan hubungan suami istri dulu sampai Naura lulus sekolah. Nyonya dan Tuan sudah tahu kan bahwa Naura masih sekolah? Dan apa jaminannya bahwa Lexi tidak akan menghancurkan hidup Naura? Maaf bukan maksud saya menuduh anak Tuan dan Nyonya seperti itu tapi saya hanya takut kalau sesudah menggauli Naura Lexi akan meninggalkannya," cecar Zidane panjang lebar.


"Kalau itu tenang saja kami sudah mempersiapkan semuanya. Kami yakin anak kami tidak akan menyia-nyiakan Naura dan apabila itu sampai terjadi maka kami akan menerima konsekuensinya," jawab Laurens dengan sikap tenangnya sambil menyerahkan surat perjanjian yang telah dibubuhi materai.


"Sangat," ucap Laurens mantap.


"Tapi bagaimana dengan Naura?" tanya Isyana.


"Iya apakah dia setuju?" lanjut Zidane.


"Kami sudah mengobrol dengannya dan dia setuju asalkan nenek dan Tuan Zidane beserta Nyonya setuju. Kalau kalian tidak percaya boleh bertanya langsung padanya," jawab Tuan Abraham.


"Baik kalau begitu."


"Bi tolong bawa Naura ke sini!"

__ADS_1


"Baik Tuan."


"Bagaimana Naura apakah benar kamu menyetujui rencana pernikahan kalian?" tanya Isyana langsung setelah Naira duduk diantara mereka.


Naura menatap kedua calon mertuanya. Kata-kata Laurens yang mengatakan bahwa akan mencarikan jodoh lain untuk Lexi jika dia menolak masih terekam jelas di otaknya. Karena tidak mau kehilangan Lexi lagi akhirnya dia mengangguk mengiyakan.


"Iya Tante," ucapnya membuat senyum terbit di bibir Laurens dan suaminya.


"Kalau begitu sekarang tinggal nenek Nisa mau menerima lamaran itu atau tidak?" tanya Zidane beralih ke nenek Nisa.


"Aku...aku terserah Tuan saja," ucapnya gugup.


"Lo kok terserah saya? Nenek Nisa kan walinya jadi nenek Nisa yang berhak atas Naura."


"Tapi Tuan boleh saya bicara serius berdua dengan Tuan sebelum saya mengambil keputusan?" Ya dari kemarin-kemarin nenek Nisa belum punya kesempatan untuk berterus terang pada Zidane karena sepulang kantor Zidane selalu direpotkan oleh keinginan istrinya.


Zidane memandang wajah kedua tamunya seolah meminta persetujuan dan mommy Laurens yang mengerti langsung mengangguk.


"Silahkan kalian berembug dulu tapi saya mohon keputusan harus ada sebelum bulan depan tiba. Karena rencananya kalau kalian setuju kami akan menikahkan mereka bukan depan dan saya sangat berharap kalian menyetujuinya rencana baik kami."


"Baiklah Nyonya kami akan memberikan kabar secepatnya pada Nyonya dan Tuan."


"Baiklah kalau begitu kami permisi dulu," ujar Laurens sambil mengangkat bokongnya untuk pergi.


"Tunggu Nyonya minum dulu," ucap Isyana menahan kepergian mereka karena keduanya belum sempat menyentuh minumannya.


"Ah iya." Akhirnya mommy Laurens dan tuan Abraham menjatuhkan bokongnya kembali di sofa dan meneguk minumannya.


"Sudah," katanya sambil menunjukkan gelas mereka yang kosong. Isyana hanya mengangguk.


"Kalau begitu saya permisi dulu," lanjut tuan Abraham. Dan akhirnya mereka benar-benar pergi setelah berjabat tangan dengan pemilik rumah dan juga nenek Nisa serta Naura.

__ADS_1


Setelah kepergian kedua orang tua Lexi Zidane langsung mengajak nenek Nisa ke ruang kerjanya agar bisa leluasa menyampaikan hal penting yang dimaksud tadi tanpa terganggu oleh siapapun. Sedangkan Isyana segera menyiapkan bekal untuk kedua anaknya karena hari ini mereka berangkat pagi sebab ada acara di sekolah.


Bersambung.....


__ADS_2