
Louis yang melihat semua hanya mengulas senyum. "Awas kamu ya!"
Setelah berkata itu dalam hati Louis kembali meneruskan materinya sedang Nindy terus saja menunduk berharap Louis tidak akan melihatnya. Bisa gawat kalau Louis melihat dia di sini bisa-bisa akan mudah dia menemukan dirinya. Meski bisa saja Louis menganggap dia hanya tamu dari luar bukan mahasiswa di kampus ini.
Saat acara sudah usai dan banyak tamu penting yang bersalaman pada Louis saat itu pula Nindy memilih menelusup diantara kerumunan orang-orang yang ingin keluar kemudian melepaskan dari dari tempat itu.
"Kenapa sih Saf buru-buru kan aku masih ingin bersalaman dengan orang ganteng itu."
"Cih emang kamu tamu penting apa sehingga boleh salaman?"
"Boleh lah tadi ada beberapa dari teman kita yang maju ke depan untuk bersalaman dia tidak menolaknya."
"Ya sudah masuk lagi gih, saya harus segera pergi."
"Kamu kenapa sih buru-buru, atau memang kenal ya sama orang itu dan kamu pernah bikin masalah makanya takut?"
"Ah nggak kok."
"Kalau nggak kenapa bersikap seperti tadi?"
"Kapan-kapan aku ceritain sama kamu."
"Baiklah aku akan menunggu waktu yang tepat," ujar Kinara.
"Siap."
"Safa!" Saat mereka sedang mengobrol sambil berjalan tiba-tiba ada yang memanggil Nindy.
"Kirana sepertinya aku kenal suara itu."
"Si kunyuk ada di sini."
"Apa? Kalau begitu aku harus segera pergi," ujar Nindy tanpa menoleh dan langsung meninggalkan Kirana yang masih berdiri. Ia berlari keluar kampus dan berharap Pras tidak bisa mengejarnya. Dia terlalu malas dan muak walau hanya bertatap muka dengan pria tersebut.
"Safa tunggu!" Nindy tidak mendengarkan panggilan Pras dia terus saja berlari ke luar dan Pras pun masih saja mengejarnya.
Sedangkan Louis yang masih berada di dalam ruangan pandangannya menyusuri seluruh ruangan namun Nindy sudah tidak terlihat.
"Kemana sudah gadis itu? Apa mungkin sudah keluar? Biar aku cari di luar saja."
Sampai di parkiran Pras dapat menyusul Nindy dan langsung menarik tangan Nindy.
"Pras lepaskan! Kamu ingin apa sih sebenarnya?"
"Pulang dan temui Lisfi minta maaf dan akui di depan semua orang kalau memang kamu yang menggodaku."
"Ogah aku nggak Sudi meminta maaf yang bukan kesalahanku."
"Kalau begitu aku akan terus mengganggu mu. Kamu tahu gara- gara hari itu Lisfi tidak mau bicara padaku."
__ADS_1
"Cuih pecundang, kenapa tidak kau akui saja kesalahanmu dan langsung meminta maaf bukan malah menjadikan ku kambing hitam." Nindy meludahi wajah Pras membuat lelaki itu menjadi berang.
"Kurang ajar kamu ya berani- beraninya meludahi wajahku!" Pras murka kemudian menghempaskan tubuh Nindy.
"Auw," Nindy mengaduh kesakitan kemudian bangun dan mendorong tubuh Pras ke belakang. Namun orang itu terlalu kuat sehingga tidak terjatuh.
"Makanya jangan main-main denganku. Atau kamu ingin merasakan ini?" Pras mengarahkan tangannya untuk menampar wajah Nindy.
"Pak satpam!" Nindy berteriak memanggil satpam.
"Ada apa ini?" Pras mengurungkan niatnya.
"Pak dia mau menganiaya saya."
"Tidak Pak dia bohong, saya hanya menasehati adik saya."
"Oh adik dan kakak toh, sebaiknya kalau ada masalah selesaikan di rumah saja jangan di tempat umum." Sepertinya pak satpam percaya akan ucapan Pras lalu pergi meninggalkan keduanya.
"Dasar penjilat," bentak Nindy.
"Ayo pulang!" Pras menyeret Nindy.
"Lepaskan!" Nindy memberontak Tapi tenaga Pras terlalu kuat untuk dilawan.
Pras terus saja menyeret tubuh gadis itu hingga terpaksa Nindy menyetujui keinginan Pras.
"Baiklah aku akan pulang dan akan mengakui semuanya meski itu bukan sebuah kebenaran."
Nindy muak mendengar ucapan itu.
"Gila dia benar-benar gila," batin Nindy.
"Kalau begitu kita pulang sekarang."
"Tidak bisa aku masih ada jam kuliah."
"Kau tidak boleh menolak, kalau tidak habis kamu."
Nindy menarik nafas berat. Bagi Nindy percuma berdebat dengan Pras, lelaki itu sudah berubah seratus persen sekarang bukan seperti Pras yang dia kenal dulu.
'Karena Nindy tak bergeming dan tidak mau masuk ke mobil, Pras menarik Nindy lagi dan menghempaskan tubuh wanita itu ke dalam mobil.
"Karena Lisfi menganggap aku sudah tidur denganmu maka akan saya wujudkan itu." Pras menyeringai lalu menindih tubuh Nindy.
Nindy merasa ketakutan tubuhnya bergetar hebat dan air matanya luruh seketika.
"Oh Tuhan tolong aku. Siapapun tolong aku." Ia merintih dalam hati.
"Tolong!" Ia berteriak kencang.
__ADS_1
Nindy tidak habis pikir kenapa suasana yang ramai menjadi sepi seperti ini? Sepertinya keputusannya untuk lari keluar kampus salah karena melihat dari mobil yang masih banyak terparkir pasti orang-orang belum pada keluar. Tapi bukankah mereka sudah pada bubar tadi? Terus kemanakah mereka semua?
Karena Pras tidak mau melepaskan pegangan tangannya Nindy akhirnya Nindy berinisiatif untuk menggigit kedua tangan tersebut dengan keras.
"Auw." Pras mengaduh kesakitan dan pegangan tangannya terhadap tangan Nindy pun terlepas. Kesempatan itu digunakan Nindy untuk keluar dari mobil dan meloloskan diri.
Namun meski tangannya sakit dia masih terus saja mengejar Nindy hingga karena saking paniknya Nindy langsung masuk ke bagian belakang sebuah mobil yang ia tidak tahu itu milik siapa.
Sesaat kemudian pemilik mobil masuk dan mulai menjalankan mobilnya.
Akan dibawa kemanakah aku ini? Sudahlah yang penting aku terbebas dari Pras dulu setelah itu baru aku pikirkan langkah selanjutnya.
Mobil terus melaju membelah jalanan hingga akhirnya sampai pada sebuah rumah besar. Sang pemilik turun dari mobil dan berjalan ke arah rumah. Nindy membuka jok belakang mobil dan ikut keluar. Matanya terbelalak melihat ia kembali ke rumah semula.
"Jadi ini mobil Tuan Louis? Bukankah tadi pagi dia tidak membawa mobil ini ya? Ah sudahlah mungkin lebih baik aku tinggal di sini untuk sementara.
"Hei ngapain kamu masuk di jok belakang?" Louis yang sadar ada barang ketinggalan di mobilnya berbalik untuk mengambil tapi ia malah dikagetkan dengan penampakan Nindy yang keluar dari belakang mobil dengan cara mengendap-endap.
Nindy tidak menjawab.
"Apakah kau memang membuntuti ku ya?"
"Tidak."
"Terus kenapa kamu ada di situ?"
"Aku tidak tahu kalau ini mobilmu aku hanya ingin kabur, ups." Nindy menutup mulutnya yang keceplosan.
"Oh jadi kamu ingin kabur? Jadi itu alasannya kamu menyembunyikannya diri kamu di kampus tadi?" Nindy tidak menjawab.
"Kau pikir bisa kabur dariku? Tidak kau tidak bisa lepas dari ku kecuali hutang-hutangmu lunas atau aku secara suka rela yang melepasmu. Karena kalau tidak polisi yang akan bertindak dan menangkap mu."
"Iya aku janji tidak akan kabur lagi." Louis tidak menyangka ternyata wanita itu benar-benar mau kabur.
Louis menatap wajah gadis itu sepertinya ada yang berbeda. "Kamu kenapa?" tanya Louis karena Nindy berekspresi lain. Wanita itu nampak meringis kesakitan.
"Kamu menangis lagi? Aku tidak menyangka kamu ternyata cengeng. Aku ngomong begini saja nangis gimana kalau sampai aku bentak-bentak kamu. Jangan-jangan kamu bunuh diri lagi."
Nindy tidak menjawab dia memilih mengusap air matanya yang semakin deras.
"Tanganmu terluka? Apa yang yang sebenarnya terjadi sama kamu?"
"Aku tidak apa-apa."
"Tidak apa-apa bagaimana? Ayo aku obati dulu."
"Aku bisa sendiri."
"Jangan menolak! Kau pasti kesusahan kalau harus mengobati sendiri."
__ADS_1
Akhirnya Nindy mengalah. "Baiklah."
Bersambung......