Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 209. Melahirkan


__ADS_3

Sejak pulang dari bulan madu Annete merasa mual dan muntah-muntah. Adrian yang notebene nya seorang dokter langsung memeriksa istrinya.


"Aku kenapa Mas?" tanya Annete setelah Adrian selesai memeriksanya.


Adrian senyum-senyum sendiri.


"Kenapa sih kok senyum-senyum sendiri?" Annete bertanya dengan tersenyum pula.


Adrian mengulurkan tangan, Annete mengernyit namun tetap saja menerima uluran tangan Adrian.


"Selamat Anda hamil."


"Astaga Mas, emang aku pasien kamu hingga segitunya!" Annete berkata sambil tertawa-tawa.


"Terima kasih ya sayang akhirnya kamu mengandung anakku juga," ucap Adrian sambil menyelipkan anak rambut Annete di telinganya kemudian memeluk tubuh istrinya.


"Aku sangat bahagia."


"Aku juga bahagia Mas."


9 bulan kemudian.


Kini Annete dan Adrian berada dalam ruang persalinan dibantu oleh dokter Lea. Annete meringis kesakitan kala perutnya mengalami kontraksi.


"Aduh sakit Mas," rintihnya.


"Tahan ya sayang atau mau operasi saja?"


"Nggak Mas, kan Mas Adri lihat sendiri kandunganku tidak bermasalah. Mengapa harus dioperasi?"


"Kali aja kamu tidak mau mengejan dan tidak ingin merasakan sakit."


"Nggak Mas aku mau lahiran normal."


"Hufft...huft... Huftt... Auuwww...Akhh... Sakit Mas."


"Bagaimana ini Lea?" Adrian nampak gusar.


"Ya ampun Dri kayak bukan dokter saja kamu. Coba ngaca tuh biar kamu tahu muka kamu seperti apa saat ini. Hahaha...." Bukan ikutan tegang Lea malah tertawa melihat ekspresi wajah Adrian yang khawatir dan sekarang juga nampak pucat. Padahal saat menghadapi pasiennya ia biasanya bersikap tenang.


"Hentikan ketawamu Lea! Ini bukan saatnya tertawa."


"Habisnya kamu seperti baru pertama saja melihat orang lahiran. Belum apa-apa sudah tegang duluan." protes Lea.


"Ia ini memang pertama, melihat lahiran istri sendiri." Dulu Anisa memang melahirkan secara caesar.


"Tenang Dri, tenang. Semua akan baik-baik saja."


"Iya tolong ya Lea."


"Iya."


"Aduh... Aduh sakit banget. Huft...Huft." Annete mencoba menarik nafas dan membuang perlahan.


"Silahkan berjalan-jalan dulu Net soalnya pembukaan sembilannya masih lama," ujar Lea.


Melihat Annete berjalan-jalan di ruangan dengan meringis Adrien malah terus mengikutinya.


"Adrian bisa nggak sih kamu duduk saja. Mataku sakit lihat kamu mondar-mandir dari tadi."


"Aku tidak tenang kalau hanya duduk saja Le."


Astaga kenapa Adrian menjadi bodoh seperti ini? Apa yang terjadi kalau keluarga salah satu pasiennya melihat dokter kandungannya malah seperti ini?


"Mas punggungku sakit."


"Sini aku pijitin!"


"Pinggangku juga sakit." Adrian pun beralih memijat pinggang istrinya.


"Aduh tambah sakit." Annete memegang perutnya. kontraksinya semakin lama semakin sering dan semakin sakit.


"Sini aku periksa dulu!"

__ADS_1


"Iya Dok."


Annete pun berbaring dan dokter Lea memeriksanya.


"Pembukaannya sudah sempurna. kita bersiap-siap." Kini Lea bicara dengan serius.


"Adu Dok sepertinya sudah mau keluar."


"Tarik nafas lalu buang!" Annete mengikuti arahan Lea.


"Tarik nafas, buang," ulangnya.


"Sekarang kami bisa ngeden."


"Aaakkkhhh...." Annete mengejan sekuat tenaga namun bayinya tidak keluar.


"Istirahat sebentar!" perintah Lea.


"Mau keluar lagi dok."


"Tarik nafas lalu hembusan lalu di saat kekuatan sudah kembali langsung dorong!"


Annete mencengangkan tangan Adrian. "Akkkhhh!" Namun bayinya belum keluar juga. Berulang-ulang kali Annete mencoba mengejan tapi belum berhasil juga. Lea menjadi khawatir Annete tampak putus asa.


"Ayo Dri bantu!"


"Ayo sayang yang lebih kuat mengejannya!"


"Aku tidak kuat Mas," ucap Annete lemah.


"Jangan berkata begitu sayang bertahanlah demi anak kita." Netra Adrian tampak berkaca. Dia tidak mau kehilangan istrinya. Kalau tahu begini dia tidak akan buru-buru untuk punya anak.


"Iya Mas aku akan berusaha."


"Minum dulu." Adrian menyodorkan gelas berisi air ke mulut Annete dan Annete langsung meneguknya. "Terima kasih Mas."


Sakit di perutnya mulai terasa kembali. Namum ketika berusaha mengeluarkan bayinya masih belum berhasil juga.


"Lakukanlah Lea yang penting istriku bisa terselamatkan."


Lea lalu mengambil mengambil obat bius lokal dan menyuntikkannya dia area vag*na kemudian mengambil gunting untuk memperbesar lubang jalan lahir.


"Coba mengejan lagi Net sedikit saja kalau tidak kuat."


"Hah... Hah... Hah...Baiklah Dok," sahut Annete sambil terengah-engah.


Annete menarik nafas kembali kemudian membuang secara perlahan.


"Akkkhhhh!"


"Oa...Oa..." Terdengar suara tangisan bayi dari ruang tersebut.


"Terima kasih Tuhan," ujar Annete sambil memejamkan mata.


"Sayang jangan tidur dulu, plasentanya belum keluar," cegah Adrian.


"Tapi aku mengantuk Mas."


"Adrian terus ajak dia bicara! Jangan sampai dia kehilangan kesadaran," perintah Lea.


"Net mengejan sedikit saja!"


"Iya Dok."


"Sudah," ucap Lea setelah plasentanya pun keluar.


"Bayinya laki-laki sayang."


"Aku sudah tahu Mas."


"Aku bahagia sayang, terima kasih ya."


"Iya Mas."

__ADS_1


"Adel pasti senang."


"Semoga Mas."


Selama Adrian mengajak bicara Annete menjahit bagian inti Annete.


"Sudah selesai." ucap Lea. Dia memberikan bayi tersebut kepada asistennya untuk dibersihkan. Sedangkan Annete sudah nampak tertidur, rupanya wanita itu tampak kelelahan karena proses persalinannya yang begitu panjang.


"Ini Dri putranya, silahkan diadzani," ucap Lea.


Adrian menerima bayi tersebut dan mengadzaninya. Setelah selesai dia mengecup kening putranya. "Selama datang jagoan ayah."


"Ayo Dri dia harus di imd."


Adrian memberikan putranya pada Lea dan Lea menaruhnya di dada Annete.


Bayi mungil itu bergerak aktif mencari put*ng susu ibunya. Setelah menemukannya dia seolah agresif menyusu.


"Awas pelan-pelan itu milik ayah, jangan sampai lecet!" Adrian berbicara pada bayi kecilnya.


"Ya ampun Dri ngalah napa sama anak sendiri," ujar Lea cekikikan.


"Terus kalau aku haus harus minum apa Lea?" kelakar Adrian.


"Noh diluar sana banyak kambing kamu bisa minum susu kambing."


"Alamak."


Beberapa saat kemudian Lea mengangkat bayi tersebut dan menyerahkan kembali pada Adrian. Adrian tampak menimang-nimang bayi kecilnya. Tiba-tiba air matanya menetes mengingat momen menimang Adel sewaktu balita.


"Ayah!" Tiba-tiba Adel masuk saat dokter Lea beranjak keluar.


"Adel, sini nih adiknya!"


Adel mendekat dan melihat wajah adiknya. "Wah mirip ayah banget itu," ujarnya sambil mengelus-elus pipi mungilnya.


"Boleh cium yah?"


"Boleh saja."


"Hm, harumnya."


"Tapi ayah bunda kenapa?" Adel khawatir karena Annete menutup mata.


"Jangan-jangan bunda..."


"Nggak Del bunda baik-baik saja, cuma dia kecapean dan ngantuk berat. Habisnya dari semalam dia kan tidak tidur."


"Oh syukurlah kalau begitu Adel pikir bunda kenapa-kenapa.


[sebenarnya Author ingin buat tokoh Annete meninggal tapi takut di demo sama kalian ๐ŸฅฑโœŒ๏ธ]


Sesaat kemudian Anisa masuk bersama Farhan.


"Bunda, sekarang Bunda Annete sudah bikinin Adel adik. Giliran bunda Anisa yang buatin Adel adik."


"Kenapa kalian tidak menikah saja," saran Adrian.


"Bagaimana?" tanya Farhan sambil tersenyum.


Anisa memandang wajah Farhan kemudian mengangguk.


"Apa itu artinya?" tanya Farhan menggoda Anisa.


"Aku mau menikah dengan kamu," ucap Anisa cepat lalu menunduk karena malu.


Farhan mengambil tangan Anisa dan menggenggamnya. "Terima kasih sudah menerima cintaku."


"Hore...aku punya dua ayah dan dua bunda," ujar Adel sambil berjingkrak kesenangan.


Bersambung....


Hari Senin, jangan lupa vote-nya!๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2