Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 54. Tanggung


__ADS_3

Melihat istrinya mengangguk Louis tersenyum dan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. Louis langsung menggendong tubuh Nindy dan membawanya ke atas ranjang.


"Boleh kan?" tanya Louis dengan suara yang terdengar berat sambil melirik ke bagian tubuh Nindy yang entah mengapa mulai hari ini dia berpikir ingin selalu menyentuhnya.


Nindy menatap mata Louis sekejap, tetapi ia memejamkan mata saat Louis balik menatapnya. Hari ini Nindy benar-benar merasa malu pada Louis karena hari ini Louis akan melihat semua lekuk di tubuhnya.


Deru nafas Louis terdengar kasar dan terasa menerpa kulit wajah Nindy.


"Nin buka matamu!" perintah Louis. Nindy hanya menggeleng tanpa mau membuka mata. Entah seperti apa tubuhnya sekarang karena sepertinya Louis sudah berhasil melucuti bathrobe yang membungkus kulitnya.


"Nin."


"Nggak, aku malu," tolak Nindy.


"Kenapa harus malu?"


"Pokoknya aku masih malu."


"Ya sudah kalau begitu aku yang bekerja," ujar Louis.


"Kerja apaan," protes Nindy dalam hati.


Louis pun melakukan hal yang diinginkannya. Memanjakan sang istri hingga Membuat Nindy serasa melambung tinggi. Namun saat melakukan mulai melakukan penyatuan Louis tampak bersusah payah menerobos milik Nindy.


"Kenapa susah sih Nin," protes Louis pada Nindy. Maklum dia kan sudah biasa makan yang cepat saji nah sekarang harus susah payah membuatnya sendiri.


Plak.


Nindy memukul punggung Louis. "Kalau nggak mau susah cari yang janda saja." Nindy tampak cemberut.


"Sorry aku lupa kalau istriku masih segel." Louis nyengir membuat Nindy semakin kesal.


"Udah ah hentikan saja." Nindy malah ngambek moodnya kini sudah terjun bebas.


"Enak saja tanggung kali." Louis tidak mau menghentikan aktivitasnya. Apalagi suasana diluar yang kini mulai turun hujan membuat geloranya semakin memanas.


Di sudut ruang tamu kedua orang tua saling asyik mengobrol hingga tak terasa mereka sudah satu jam lebih menuggu putra dan putri mereka turun dari kamar. Bahkan camilan yang tuan rumah siapkan di meja sudah tandas semua akibat suhu dingin yang membuat tubuh mereka membutuhkan asupan kalori yang lebih banyak dari biasanya.


"Sepertinya kami tidak bisa lebih lama lagi Jeng di sini, kami harus kembali," ujar Farah setelah menitipkan Nindy kepada kedua besannya itu.


"Loh kok buru-buru, memang kenapa jeng?" tanya mama Ani.


"Makan dulu ya jeng sebelum pulang, maaf saya tidak menawarkan dari tadi sebab kami masih menunggu putra-putri kita untuk bergabung. Eh jadi keasyikan malah kelupaan," imbuh mama Ani lagi.


"Tidak usah Jeng terima kasih, tetapi kami masih kenyang. Kami kan sudah makan di acara nikahan tadi dan sekarang malah menghabiskan camilannya. Kami masih ada keperluan lainnya jeng. Tolong panggilkan Safa dan Nak Louis ya jeng kami ingin berpamitan."


"Keperluan apa Jeng? Apa tidak sebaiknya ditinggalkan dulu mengingat di luar sedang hujan lebat?"


"Tidak bisa Jeng. Hari ini adik mas Ramlan akan datang. Kami harus menjemputnya ke bandara kalau tidak ingin dia ngambek," ujar Farah sambil melihat ke arah pak Ramlan meminta persetujuan.

__ADS_1


"Benar pak Ramlan?" tanya Tuan Zaki.


"Benar pak Zaki," jawab pak Ramlan sambil mengangguk.


"Kalau begitu sebentar ya." Mama Ani berjalan ke arah dapur dan menyuruh pembantunya untuk membungkus beberapa makanan untuk dibawa Farah nantinya.


Setelah dari dapur ia langsung menuju kamar Louis.


"Lou ... Lou, buka pintunya!" seru mama Ani sambil mengetuk pintu kamar Louis.


Tidak ada jawaban, sepertinya kedua orang di dalam sedang khusu' dengan aktivitasnya.


"Lou ... Lou, mertua kamu mau pulang. Kamu temui dulu sana Nak. Mereka juga ingin berpamitan dengan Nak Safa. Nanti kalian lanjutan istirahat kalian lagi setelah mereka pergi.


Tetap tidak ada jawaban membuat mama Ani menjadi kesal.


Tok tok tok.


Mama Ani semakin mengeraskan ketukan di pintu dan juga suaranya.


"Nak Safa bangun dulu Nak, itu ibumu mau pulang." Karena tidak mendengar jawaban dari Louis akhirnya mama Ani memilih memanggil mantunya.


Nindy mau menjawab tetapi ditahan oleh Louis.


"Sebentar Ma lagi tanggung ini." Nindy membelalak mendengar jawaban Louis.


"Tanggung, emang kalian lagi ngapain?"


"Oh good." Mama Ani menutup mulutnya sendiri.


"Kenapa, belum bangun mereka?" tanya tuan Zaki yang berjalan ke arahnya dengan membawa kedua besannya.


"Belum dari tadi dibangunin tidak bangun-bangun," bohong mana Ani.


"Ya sudah Jeng tidak apa-apa. Mungkin mereka lagi kecapean, biarkan mereka istirahat dulu."


"Kecapean apa? Orang mereka lahir enak-enak," batin mama Ani.


"Kalau begitu kami permisi dulu, sampaikan salam saya kepada Safa dan nak Louis," ujar pak Ramlan.


"Baiklah," jawab tuan Zaki.


Mereka berempat turun dari lantai atas meninggalkan keduanya yang tidak ingin diganggu.


Farah dan pak Ramlan berpamitan pada mama Ani dan tuan Zaki.


"Saya nitip Safa ya Jeng. Jangan anggap dia mantu, tetapi anggaplah dia anak jeng Ani sendiri. Jadi saat dia melakukan kesalahan jeng Ani tidak akan canggung untuk menegurnya." Farah berucap sambil berjabat tangan dengan mama Ani.


"Pasti," ujar mama Ani. "Eh ini Jeng." Mama Ani memberikan bungkusan makanan yang diulurkan pembantunya.

__ADS_1


"Apa ini Jeng?"


"Cuma makanan, kan jeng Farah akan kedatangan tamu siapa tahu bermanfaat daripada tidak kemakan di sini."


"Baiklah saya terima ya Jeng. Terima kasih banyak."


"Sama-sama."


"Aku pergi ya Jeng."


"Iya hati-hati."


Akhirnya Farah dan pak Ramlan pulang dengan dengan diantar oleh sopir pribadi mama Ani karena mereka memang tidak membawa mobil. Saat ke gedung tempat pernikahan mereka dijemput oleh tuan Zaki.


"Mama kok nggak paksa Louis bangun sih, kan nggak enak sana mereka," ujar tuan Zaki setelah besannya sudah hilang dari pandangan mereka.


"Ya mau apalagi Pa, orang Louis-nya nggak mau dibangunin."


"Emang ada ya orang tidur tidak mau dibanguin?" Tuan Zaki mengerutkan kening mendengar pernyataannya istrinya yang ambigu.


"Orang dia tidak tidur."


"Maksudku?"


"Dia tidak tidur Pa cuma pura-pura tidur aja." Tuan Zaki makin tidak mengerti.


"Papa belum ngerti juga?"


Tuan Zaki menggeleng.


"Mereka tidak tidur tapi main kuda-kudaan," ujar Farah lagi.


"Owalah gitu toh," ujar tuan Zaki sambil tertawa.


"Hmm, kayaknya papa dan anak nggak ada bedanya deh kalau sudah menyangkut begituan, nggak tahu waktu," ujar mama Ani sambil berlalu dari hadapan suaminya.


Di tempat lain.


"Saya tidak mau tahu, pokoknya hari ini kamu harus melayaniku!" perintah Maximus kepada Lisfi.


"Tidak Tuan saya tidak mau," ujar Lisfi sambil berjalan mundur hingga tubuhnya membentur dinding.


"Kamu tahu kenapa saya tidak ingin kamu mati?"


Lisfi menggeleng, tubuhnya tampak bergetar hebat. "Tidak tahu Tuan."


"Aku butuh pelampiasan setiap aku gagal dalam sebuah misi, haha ... hahaha...." Maximus tertawa kencang membuat tubuh Lisfi semakin menggigil karena takut dan juga kelaparan. Apalagi hujan di luar semakin menambah suasana yang mencekam.


Maximus langsung menyambar tubuh Lisfi dan melemparnya ke atas ranjang.

__ADS_1


"Ampun Tuan, jangan lakukan ini. Aku mohon!"


Bersambung....


__ADS_2