
"Boleh bertemu dengan pelayan yang beberapa hari menolongku?" tanya pria yang beberapa malam lalu muntah di hadapan Annete.
"Oh maksudmu Anna?" Bima balik bertanya.
"Mana aku tahu namanya. Yang jelas sekarang aku ingin bertemu dengannya."
Diena menyenggol bahu Anna. "Tuh orang kayaknya nyari kamu."
"Sebentar." Annete pergi ke kamarnya dan mengambil sesuatu kemudian berbalik ke lantai bar.
"Mana pria pemabuk itu Di?"
"Itu, Bima menyuruhnya menunggumu di sana." Tunjuk Diena ke arah pria tersebut.
Annete melangkahkan kakinya ke meja di mana pria tersebut berada. Sampai di sana ia langsung menyodorkan sebuah dompet berwarna hitam ke arah pria tersebut.
"Ini kan yang kau cari? Saat aku membersihkan meja bekas muntahan kamu malam itu aku tidak sengaja melihat dompetmu tergeletak di atas meja. Saat aku melihat keluar ternyata mobilmu sudah pergi. Ini ambil dan periksa barangkali ada yang hilang."
Pria yang duduk di hadapannya ini menerima dompet tersebut dan memeriksa. Karena ternyata isinya masih utuh dia mengurungkan niatnya untuk marah-marah dan menuduhnya macam-macam.
"Baiklah terima kasih. Bagaimana kalau aku mengajak mu makan malam di luar sebagai ungkapan terima kasihku kepada mu?"
"Tidak usah terima kasih." Annete berjalan menjauh namun kemudian berbalik. Kenapa tidak menggunakan kesempatan ini untuk kabur pikirnya.
"Baiklah aku mau," ucapnya kemudian.
Pria tersebut tersenyum. "Baiklah ayo."
"Sebentar aku mau pamit dulu pada teman saya." Annete pun melangkah ke arah Diena dan mengatakan kalau pria tersebut mengajaknya makan di luar.
"Kalau aku sih tidak apa-apa ditinggal An tapi..."
"Kalau begitu terima kasih." Annete langsung memotong ucapan Diena dan mengajak pria itu keluar. Namun sampai di luar dirinya dilarang pergi oleh penjaga.
"Maaf Nona tuan Paul melarang anda keluar."
"Aku kan hanya ingin makan malam dengan pria ini, kenapa tidak boleh?" protes Annete.
"Pokoknya Nona tidak boleh keluar ini sudah aturan."
"Bagaimana kalau pulangnya nanti saya bawakan makanan yang enak-enak untuk kalian." Annete mencoba bernegosiasi.
"Sekali tidak boleh ya tetap tidak boleh. Kalau kalian mau makan malam ya makan di dalam saja."
"Masa cuma makan camilan saja, kami mau makan makanan yang berat." Pria di samping Annete yang menjawab.
"Kalau begitu kalian pesan online aja dan makan di dalam."
"Cih."
__ADS_1
"Ya sudahlah nggak usah aja," ujar Annete sambil masuk ke dalam kembali dan pria tadi menyusulnya.
"Hei Nona."
"Ada apa lagi pria pemabuk?"
"Aku punya nama jangan memanggilku seperti itu. Perkenalkan namaku Nicko." Sambil mengulurkan tangan.
Dengan enggan Annete membalas uluran tangan pria tersebut. "Anna."
"Hmm, nama yang cantik." Entah mengapa pria tersebut mengingat seseorang.
"Ini buatmu, anggap saja sebagai ganti makan malam yang gagal," ujar pria tersebut sambil mengulurkan beberapa lembar uang.
"Tidak usah saya ikhlas menolong kamu."
"Aku juga ikhlas kok ngasih uang ini ke kamu. Ayolah diterima kalau tidak anggap saja sebagai ongkos mencuci pakaianmu yang sudah aku kotori waktu itu."
Sebenarnya Annete masih tetap kukuh menolak tapi pria tersebut juga kukuh memaksa.
"Baiklah aku terima kalau begitu, terima kasih," ujar Annete sambil melangkah ke arah Diena lalu bekerja seperti biasanya. Pria itu pun tersenyum namun sesaat meninggalkan tempat karena mendapat telepon dari seseorang.
"An ini aku ada sesuatu untukmu," ujar Angel. Mereka berdua kini sudah ada di dalam kamar.
"Apa ini Gel?"
"Identitas Anna. Entah kebetulan atau tidak tapi kamu memakai nama dia. Anna sebenarnya adalah nama sahabat kami di sini dulu tapi dia pergi meninggalkan identitas ini. Untuk itu kamu bisa menggunakannya sementara sebelum Wilson selesai mengurus identitasmu yang asli."
Angel enggan menjawab. "Pakailah barangkali suara saat nanti barang itu berguna untukmu." Annete hanya mengangguk dan tidak mau bertanya lagi lalu memasukkan identitas itu ke dalam tasnya.
##
Adrian berjalan Lesu di sekitaran kota Paris karena beberapa hari ini berkeliling mencari Annete tidak menemukannya juga. Hari pertama Adrian sampai ke Paris dia langsung menuju rumah Annete tapi ternyata rumah itu masih kosong dan nampak berdebu seperti tidak ada tanda-tanda ada penghuninya. Adrian mencoba bertanya pada orang-orang di sekitar rumah tersebut barangkali mereka tahu keberadaan si pemilik rumah namun para tetangga mengatakan bahwa pemilik rumah sudah pergi sejak beberapa hari dari kematian ayahnya dan hanya pernah datang sekali dengan membawa dua anak kembar untuk mengambil barang-barang di rumahnya dan setelah itu pergi lagi. Adrian menebak itu adalah Nathan dan Tristan dan itu berarti waktu itu sudah lebih dari 1 tahun yang lalu.
"Maaf Tuan dan Nyonya, apa beberapa hari ini memang Tuan dan Nyonya tidak pernah melihat pemilik rumah kembali?"
"Tidak Tuan saya tidak pernah melihatnya."
"Oke kalau begitu tapi apakah Tuan tahu dimana kuburan ayahnya?" Walaupun tidak yakin orang tersebut tahu karena biasanya hidup di kota besar itu menerapkan paham individualisme Adrian tetap saja bertanya.
"Maaf Tuan saya tidak tahu."
"Oke, terima kasih."
Adrian termenung, memikirkan harus kemana lagi mencari Annete namun kemudian berpikiran untuk menghubungi Isyana. Bisa saja kan si kembar ataupun Isyana tahu dimana alamat pemakaman ayah Annete.
"Halo Dri ada apa?"
"Kamu tahu dimana alamat pemakaman ayah Annete?"
__ADS_1
"Kalau aku sih tidak tahu Dri tapi sebentar sepertinya si kembar pernah Annete bawa ke sana." Isyana lalu memanggil Nathan dan Tristan.
"Sayang Om dokter mau ngomong nih," ucap Isyana sambil memberikan ponselnya kepada kedua anaknya.
"Halo Om dokter ada apa?" tanya Tristan.
"Kalian tahu dimana alamat makam Ayah auntie Annete?"
"Oh iya Om tempatnya di dekat Gereja katedral di jalan......" Nathan menyebutkan alamat tempat tersebut.
"Maaf kamu tahu namanya Ayah aunty Annete itu siapa ya?"
"Johan Om."
"Oke terima kasih." Adrian langsung menutup teleponnya dan segera bergegas menuju alamat yang Nathan dan Tristan sebutkan. Sampai di sana langsung mencari nama Johan tersebut. Ada beberapa kuburan yang bernama Johan tapi tak satupun ada yang mengunjunginya dan di situ pula Adrian tidak bisa menemukan Annete.
"Masa iya aku harus menunggunya di sini untuk mengunjungi makam ayahnya, iya kalau ia berkunjung kalau tidak? Aku harus bagaimana?"
"Baiklah aku akan meminta bantuan kantor polisi saja untuk mencarinya sekalian mau menyebarkan fotonya." Adrian bermonolog.
Adrian langsung mendatangi kantor polisi dan meminta bantuan polisi untuk mencari Annete. Setelah itu ia pun pergi ke ke warnet untuk mencetak foto Annete dan menyebarkannya. selain itu dia pun berkeliling sambil menyodorkan gambar kepada orang-orang yang berlalu-lalang barangkali mereka ada yang bertemu atau mengenalnya. Namun sayang sudah lebih dua minggu tidak pernah ada kabar tentang keberadaan Annete sekarang dan orang-orang yang ditemui Adrian tidak pernah ada yang melihat atau mengenali Annete.
Kamu ke mana sih An? Mengapa kamu benar-benar meninggalkan aku?
Lalu sesaat kemudian mengingat Lexi dan langsung menghubungi nya. "Halo Lex apa benar Annete waktu itu pulang ke rumahnya di Paris? Atau pulang ke tempat yang lain?"
"Aku tidak tahu Dri lebih baik kamu telepon mommy saja soalnya kemarin dia pulangnya sama mommy. Sebentar aku kirimi nomer mommy dulu." Terdengar suara Lexi dari balik telepon.
"Oke Lex."
Beberapa saat ada chat masuk dalam ponsel Adrian. Setelah membacanya Adrian langsung menghubungi nomor telepon Laurens.
"Hallo."
"Halo Tante ini Adrian temannya Lexi."
"Oh iya ada apa?"
"Mau tanya Tan, apa benar waktu itu Annete pulang bareng Tante?"
"Iya benar, kenapa?"
"Apa kini Annete masih bersama Tante?"
"Tidak kami berpisah di bandara. waktu itu Annete menolak untuk saya antarkan."
"Baiklah kalau begitu Tante, terima kasih atas informasinya."
Hari ini Adrian berniat kembali ke hotel untuk beristirahat sementara waktu sebelum melanjutkan pencariannya kembali.
__ADS_1
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan jejak!๐