
Lama Vania bersandar di bahu Dion sambil mengingat betapa teganya Linda mengkhianati dirinya. Dia teringat kembali ketika Ibra menjemput dirinya di kantor ia mendapati Linda di mobil Ibra. Ketika ditanya mengapa Linda ada bersamanya Linda menjawab hanya kangen padanya jadi ikut menjemput padahal dia dan Vania hampir bertemu tiap hari. Waktu itu Vania tidak merasa curiga sama sekali dan mempercayai ucapan sahabatnya itu walau nyatanya bisa saja mereka habis pergi bersama.
"Maaf Pak, aku tidak sopan," ucap Vania ketika sadar bahwa posisinya bersandar di bahu Dion padahal tadi Dion lah yang membawa dirinya bersandar di bahu laki-laki itu.
"Tidak apa kapanpun kamu butuh bahu untuk bersandar aku siap menjadi sandaran mu. Oh ya aku ke sana dulu ya!"
Vania hanya mengangguk lemah.
Dion beranjak dari duduknya meninggalkan Vania yang duduk di atas batu karang.
Sepuluh menit kemudian Dion datang dengan dua gelas minuman es degan di tangannya. Dion menyodorkan satu gelas minuman itu pada Vania.
"Nih minum dulu!" Pasti kamu haus abis nangis-nangis dari tadi."
Vania meraih gelas plastik itu, mukanya merah karena malu Dion meledeknya.
"Terima kasih Pak." Ucap Vania tulus kemudian segera menyesap minumannya.
"Vania boleh aku bicara sesuatu?" tanya Dion ragu setelah mereka berdua meminum es degan sampai tandas.
"Mau bicara apa Pak?"
"Bisakah kamu membuka hatimu untukku?"
"Maksud Bapak?"
"Aku ... aku suka sama kamu." Ucap Dion gugup karena selama ini dia tidak pernah mengungkapkan perasaannya pada seorang wanita.
Mendengar pernyataan Dion Vania pun kaget. Apakah Dion sedang ngeprank dirinya? Ya mungkin saja Dion ingin menghibur dirinya dengan candaannya itu. Atau mungkin saja Dion sedang latihan mengucapkan kalimat tersebut, bukankah Dion sedang menyukai seorang wanita? Ya walaupun Dion sudah menceritakan bahwa wanita tersebut telah memiliki kekasih bisa saja kan Dion ingin jujur pada wanita tersebut.
"Bapak nggak lucu ah bercandanya!"
"Vania coba kau tatap wajahku, apa aku terlihat bercanda?"
Dengan ragu-ragu Vania mengangkat wajahnya dan menatap wajah Dion yang tampak serius.
"Ta..pi Pak, aku...."
"Aku tahu ini begitu cepat bagimu apalagi kamu baru patah hati tapi aku sudah tidak mampu menyimpan perasaanku sendiri. Aku juga takut keduluan orang lagi.
Jujur aku sudah lama menyimpan perasaan ini terhadapmu bahkan sudah satu setengah tahun yang lalu semenjak kau masuk ke ruangan ku waktu itu tapi waktu itu aku terlalu sibuk hingga tidak ada waktu walau sekedar untuk menemui mu. Namun ketika aku memutuskan mengatakannya pada mu aku melihatmu sudah dengan yang lain oleh karena itu aku memilih memendam perasaanku sendiri."
Pada saat itu Dion memang terlalu sibuk dengan urusan Zidane hingga tak ada waktu untuk dirinya sendiri.
"Jadi maksud Bapak perempuan yang Bapak ceritakan tadi adalah...."
"Ya benar itu kamu."
Entah apa yang dirasakan Vania kini. Dia tidak tahu harus bicara apa. Jujur dia pernah mencintai Dion dulu tapi perasaan itu ia tepis kala mengingat dirinya tidak akan pantas bersanding dengan laki-laki yang ada di hadapannya kini. Tapi sekarang laki-laki itu datang menawarkan cinta di saat ia sedang patah hati. Apa yang harus ia lakukan?
Melihat Vania hanya diam Dion menyimpulkan bahwa Vania tidak bisa menerimanya tapi dia tidak enak mengatakannya karena dia adalah atasannya.
"Aku harap kamu bisa membalas cintaku tapi kalaupun tidak kau bisa mengatakannya. Kau tidak perlu sungkan menolak ku hanya karena aku atasan mu."
__ADS_1
Vania hanya bisa menghela nafas. Dia berada dalam kebimbangan jika dia menerima Dion saat ini dia takut hanya dikatakan pelarian tapi kalau dia menolak Dion dia takut kehilangan kesempatan ini. Akhirnya dia memutuskan untuk meminta waktu.
"Berikan aku waktu Pak, aku tidak bisa menjawabnya sekarang!"
Dion mengangguk.
"Pasti. Aku akan bersabar menunggu jawabanmu. Semoga saja kau memilih diriku untuk menghapuskan luka di hatimu." Ucap Dion tulus.
Vania bernafas lega.
" Kak Dion apa kabar?"
Tiba-tiba saja ada seorang gadis cantik dan seksi menyapa dan
menghampiri tempat duduk mereka.
"Sari, sama siapa kamu ke sini?" tanya Dion.
"Sama Viola." ucap gadis tersebut.
Viola adalah sepupu Dion dan Sari adalah teman dekat Viola. Sari sebenarnya menyukai Dion dan sering mencari perhatian Dion namun Dion tidak pernah mengindahkan malah dia sering menyueki gadis tersebut.
"Dia sahabat Kak Dion?"
Dion hanya mengangguk, tidak mungkin kan dia mengatakan Vania pacarnya karena statusnya yang belum jelas.
"Oh cuma sahabat ya!" desis Sari namun masih bisa di dengar oleh Vania.
"Kita ke sana yuk Pak!" ajak Vania. Dia takut Dion beralih menyukai gadis di depannya itu. Bagaimana tidak gadis di depannya tampak sangat cantik dan seksi berbeda dengannya yang jauh dari kata seksi apalagi gadis tersebut jauh lebih muda darinya membuat nyali Vania jadi menciut. Rupanya Vania cemburu pada gadis tersebut.
"Ayo," ajak Dion.
"Aku pergi dulu ya Sar!" ucap Dion sambil berlalu dari hadapan Sari tanpa melihat ekspresi tidak suka di wajah Sari.
"Cuma sahabat berarti aku masih ada kesempatan." Sari bicara pada dirinya sendiri sambil tersenyum.
Mereka berdua pergi ke sebuah warung pinggir pantai.
"Kamu nggak apa-apa kan Pak makan di sini?"
"Nggak apa-apa, aku udah biasa makan di tempat kayak gini. Yang perlu ditanya tuh kamu apakah nggak apa-apa makan ditempat seperti ini."
"Aku juga nggak apa-apa. Kan aku yang nunjuk tempat ini tadi."
"Ya udah kamu mau pesan apa?"
"Nasi sama ayam bakar aja deh Pak."
"Oke. Bu, nasi sama ayam bakarnya dua ya!" ucap Dion pada ibu penjaga warung.
"Minumnya es teh aja!"
"Oke Mas, ditunggu ya!"
__ADS_1
Sambil menunggu pesanan mereka berbincang-bincang.
"Pak apakah aku boleh jawab sekarang tentang pertanyaan Bapak tadi?"
Dion mengerutkan kening.
"Pertanyaan apa?"
"Tentang perasaan aku sama Bapak." Vania bicara dengan nada kesal, kok bisa sih dia lupa apa yang mereka bicarakan tadi setelah bertemu Sari pikirnya.
"Biasa aja ngomongnya nggak usah sewot." ucap Dion menggoda.
Ucapan Dion ini justru membuat Vania jadi malas. "Nggak jadi deh." Vania merajuk.
"Udah makan dulu, bicaranya entar aja!" ucap Dion karena ibu warung sudah menaruh pesanan makan mereka di atas meja.
Mereka berdua pun makan tanpa ada yang bersuara.
Selesai makan Vania langsung berlari ke luar warung. Entah mengapa hatinya sekarang sensitif. Dia merasa Dion tidak benar-benar mencintainya dia hanya mempermainkan dirinya buktinya Dion tidak ingin mendengar jawabannya sekarang.
"Vania!" Dion berteriak sambil berlari mengejar Vania tentu saja setelah membayar pesanan mereka.
Vania tidak mengindahkan panggilan Dion. Dia terus saja berlari menyusuri pantai hingga tiba di pasir yang basah dia menghentikan langkahnya.
Dia mengingat masa kecilnya sering bermain istana pasir dengan teman-temannya ketika tinggal di Bandung.
Dia pun memutuskan untuk mencobanya lagi membuat istana pasir.
Melihat Vania yang berhenti berlari Dion pun ikut menghentikan berlarinya dan kini ia berjalan santai menghampiri Vania.
Melihat wajah Vania yang memerah dia tidak dapat menahan untuk tidak bertanya.
"Kamu kenapa?"
Tidak ada jawaban.
Vania masih setia menunduk.
"Hei, hei kamu kenapa?"
Masih tak ada jawaban.
"Huuufft." Dion menarik nafas panjang.
Tidak perduli apa yang terjadi Dion memilih meminta maaf.
"Maafkan aku kalau ada kata-kata yang menyakitimu perasaanmu."
Mendengar perkataan Dion Vania malah semakin kencang menangis.
TBC.......
Terima kasih sudah membaca jangan lupa like dan bunganya! ๐๐ ๐
__ADS_1