Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 170. Pengakuan Cinta


__ADS_3

Setelah mengantar Angel Adrian tidak langsung mengantarkan Annete ke rumah Zidane tapi mereka singgah sebentar di sebuah danau yang terlihat indah dengan semburat senja yang terlihat memancar dari salah sudutnya.


Annete merasa heran ketika Adrian menepikan mobilnya di pinggiran danau tersebut.


"Mas kita mau kemana?"


"Jalan-jalan," jawab Adrian singkat. Tanpa persetujuan Annete dia langsung menggandeng tangan Annete dan membawanya mengitari tempat tersebut dan Annete sama sekali tidak menolaknya, dia membiarkan tangannya di genggam oleh Adrian meski jantungnya seakan terasa copot.


Beberapa saat kemudian Adrian mengajak Annete duduk setelah menemukan tempat ternyaman di tempat itu untuk mengobrol.


"An aku ingin bicara sesuatu." Adrian memulai pembicaraan setelah beberapa saat menahan debaran. Dia bukanlah pria yang romantis yang mudah mengatakan cinta pada seorang wanita, bahkan dulu ketika bersama Anisa, Anisa lah yang lebih dulu mengungkapkan perasaannya terhadap Adrian.


"Bicaralah Mas, apa ada sesuatu yang terjadi sama Adel?" Annete khawatir melihat Adrian tegang dan berkeringat. Dia pikir penyakit Adel semakin kambuh padahal Adel baik-baik saja dan Adrian hanya grogi semata.


"Ini tidak ada hubungannya dengan Adel. Ini masalah kita."


"Kita? Memang kita kenapa?" Annete pun ikut gugup, tubuhnya ikut menegang menanti ucapan Adrian selanjutnya dengan harap-harap cemas. Apakah perasaannya akan terbalas ataukah hanya akan jadi khayalannya semata. Annete tidak terlalu percaya diri setelah beberapa waktu itu Lexi justru memilih Ara. Dia takut Adrian hanya membutuhkan dirinya untuk merawat Adel seperti sebelumnya. Bisa saja kan ucapannya saat di rumah sakit hanya untuk menggoda Nicko semata.


"Ah, kamu jangan terlalu berharap Annete takutnya kamu nanti kecewa." Suara hati Annete.


Adrian memantapkan hati kemudian berkata, "An aku ingin kamu menjadi istriku. Ya aku ingin meminang mu untuk jadi istriku sekaligus menjadi bunda Adel. Kamu mau kan An?" Hati Annete berdesir mendengar penuturan Adrian. Apakah itu artinya dirinya dan Adrian saling jatuh cinta? Ah belum tentu bisa saja dia terpaksa ingin menikahinya karena paksaan Adel.


"Aku ingin kau menjadi pendamping hidupku sampai nanti aku menutup mata," lanjutnya.


"Mas aku...."


"An kamu tidak perlu menjawab sekarang kalau belum siap." Adrian pikir Annete akan menolaknya melihat ekspresi wajah Annete yang sepertinya tidak suka dan dia tidak siap mendengarkan penolakan tersebut. Dia pasti akan sangat malu.


"Mas apa setiap kamu melihatku kamu seperti melihat Anisa?" Annete memberanikan diri untuk bertanya. Dia tidak mau salah mengambil keputusan nantinya. Baik sekarang ataupun nanti Adrian pasti butuh jawaban.


"Maksud kamu?"


"Apakah Mas Adrian ingin menikahi aku karena wajahku yang mirip dengan bundanya Adel?"


"An itu sama sekali tidak benar. Mungkin awal-awal aku melihatmu mirip dengan Anisa, tapi semakin ke sini aku semakin melihatmu berbeda. Apalagi sifat kalian yang berbeda seratus delapan puluh derajat. Kau bahkan lebih menyayangi Adel dibandingkan dirinya. Apakah kau masih menganggap ku seperti itu?"


"Mas kalau kamu membutuhkan aku untuk ikut merawat Adel aku dengan ikhlas akan melakukannya tanpa kau nikahi sekalipun."


"Apa itu artinya kau menolak ku hem?"


"Mas bukan begitu maksud aku. Aku hanya tidak ingin dinikahi oleh laki-laki yang sama sekali tidak mencintaiku."


"An aku mencintaimu An, sangat mencintaimu bahkan. Kalau tidak mana mungkin aku akan mencari mu sampai sejauh itu ke Paris. Kamu tahu bahkan aku rela meninggalkan Adel berbulan-bulan dan juga pekerjaanku hanya untuk bisa hidup denganmu."


"Aku mencintaimu An terlalu mencintaimu. Kamu tahu saat aku kehilanganmu waktu itu duniaku seolah runtuh seketika, aku hampir gila An ketika tidak menemukan jejakmu saat itu. Aku bahkan melupakan Adel karena terlalu berfokus pada pencarian dirimu. Apakah itu belum cukup bukti bahwa aku bukan ingin menikahi mu karena Adel semata? Bukan cuma Adel tapi aku pun lebih membutuhkan dirimu."


"Masalah Anisa? Dia pernah muncul setelah kepergian mu. Kalau aku memang masih mencintai dia atau ingin menikahi mu karena mirip dirinya kenapa tidak kembali padanya saja? Itu tidak aku lakukan karena aku sadar hatiku sudah jadi milikmu."


"Mas maafkan aku, aku tidak bermaksud meragukan mu. Aku hanya ingin mendengar saja dari mulutmu langsung bahwa kau memang mencintaiku karena sejujurnya aku juga mencintaimu Mas."


"Benarkah An?" Annete mengangguk dengan malu-malu sedangkan Adrian begitu bahagia mendengar perkataan Annete.

__ADS_1


Adrian lalu menggenggam tangan Annete. "Jangan tinggalkan aku lagi ya?"


Annete hanya mengangguk dan karena saking bahagianya mereka langsung berpelukan tanpa melihat keadaan sekitar.


Prok..prok.. prok... Terdengar riuh tepuk tangan dari tempat sekitar mereka duduk. Ternyata ada banyak pasang remaja yang menyaksikan drama mereka sedari tadi. Padahal saat mereka memutuskan untuk duduk tadi tidak terlihat orang sama sekali. Mungkin karena terlalu serius mereka tidak menyadari ternyata banyak orang-orang yang mulai berdatangan untuk menyaksikan pemandangan danau itu di sore hari.


"Selamat ya Mbak, Mas atas peresmian hubungan kalian."


"Wah senang sekali ikut menjadi saksi pengakuan cinta sepasang kekasih."


"Selamat semoga hubungan kalian langgeng sampai jadi kakek-kakek dan nenek-nenek," ujar salah satu dari mereka.


"Akhh... Mas aku malu," ucap Annete sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.


"Kenapa harus malu?" ucap Adrian padahal dirinya saja tadi malu saat ingin mengatakan cinta pada Annete tapi karena sudah jelas-jelas diterima dirinya malah jadi berbesar hati dan bangga.


"Baiklah karena kalian sudah menjadi saksi pernyataan perasaan kami bagaimana kalau sebagai rasa terima kasih aku traktir kalian makan-makan di restoran?"


"Wah beneran Bang?" tanya salah satu diantara mereka.


"Iya." jawab Adrian masih dengan senyum bahagianya.


"Tapi anggota kami kan banyak Mas."


"Tidak apa-apa aku traktir semuanya mumpung aku lagi bahagia. Kalian maunya di restoran mana?"


"Terserah lah Bang tapi lebih baik di restoran yang dekat saja dari sini."


"Emang boleh Mas, Mbaknya?" Annete hanya menjawab dengan anggukan, entah mengapa dia masih malu untuk bersuara.


"Boleh ayo masuk!" pinta Adrian.


Sebagian ada yang masuk ke dalam mobil Adrian dan sebagian ada yang mengendarai motornya sendiri menuju restoran terdekat.


"Mbak ada nggak lagu yang mau di request sama kami mumpung kami bawa gitar?" tawar salah satu pemuda yang ikut mobil Adrian.


"Boleh bawakan lagu yang romantis kan kami sedang jatuh cinta." Adrian yang menjawab membuat wajah Annete memerah layaknya kepiting rebus karena menahan malu


"Mas...." Annete mau protes namun dicegah oleh Adrian.


"Nggak apa-apa biar nggak boring dalam mobil," kilahnya.


Dan mengalir lah lagu Ipank yang berjudul 'Apakah itu cinta' dari mulut pemuda tersebut membuat Adrian tidak mau melepaskan senyumannya tatkala melihat wajah Annete semakin memerah.


Setelah sampai di restoran Adrian membiarkan para pemuda-pemudi tersebut untuk memesan menu makanannya dengan bebas.


"Kalian nikmatilah makanannya semuanya sudah dibayar. Kami permisi pulang terlebih dahulu," ujar Adrian pada para remaja tersebut.


"Terima kasih Bang."


"Iya sama-sama."

__ADS_1


Setelah itu Adrian mengemudikan mobilnya kembali membelah jalanan ingin mengantarkan Annete ke rumah Zidane kembali sekaligus untuk menjemput Adel pulang.


"Maaf ya An kalau tadi aku terkesan lebai dengan nyuruh anak-anak tadi untuk nyanyi."


"Sudahlah Mas tidak apa-apa, tapi Mas Adri tadi kan bilang meninggalkan pekerjaan sampai beberapa bulan apa tidak ada masalah Mas?" Annete takut Adrian dikeluarkan dari rumah sakit hanya gara-gara mencari dirinya.


"Jangan dipikirkan, kalau pun dikeluarkan nanti aku bisa buka klinik sendiri atau bisa meminta Zidane untuk mempekerjakan aku di rumah sakit miliknya." Adrian mengerti akan kekhawatiran Annete.


"Lebih baik sekarang kita memikirkan pernikahan kita saja."


"Harus secepat itu Mas?"


"Iya lah An, aku sudah tidak sabar membawamu ke pelaminan." Annete tidak tahu saja bahwa Adrian sudah bosan menjomblo. Walaupun dia baru saja sah bercerai dengan Anisa tapi sudah hampir tujuh tahun dirinya kesepian, karena saat tinggal bersama Anisa sekalipun waktu itu Adrian sebenarnya merasa kesepian karena hidup mereka sudah tidak seperti suami istri pada umumnya.


"Terserah baiknya kamu saja lah Mas, aku menurut saja."


"Baiklah nanti aku atur tanggalnya kapan." Annete hanya mengangguk.


Sampai di rumah Zidane, Isyana langsung menegur keduanya yang berjalan ke arah mereka karena terlihat bahagia.


"Ada apa nih kok kayaknya kalian senyum-senyum dari tadi?"


"Ada kabar baikkah Yah?" tanya Adel ikut sumringah dan berjalan ke arah Adrian dan Annete.


"Iya bunda Annete sekarang sudah mau menikah dengan Ayah," bisik Adrian di telinga Adel namun masih bisa terdengar oleh yang lainnya.


"Wah akhirnya, selamat ya Dri, Net."


"Makasih Sya."


"Makasih Mbak."


"Wah selamat ya buat Adel dan Om dokter, Aunty juga," ucap Nathan.


"Makasih."


"Selamat ya Aunty karena ternyata Aunty beli satu dapat satu," ujar Tristan sambil terkekeh.


"Maksudnya?" Annete tak mengerti.


"Dapat Om Adrian bonus Adel."


"Hem." Adrian tidak bisa berkata-kata lagi.


"Atan!" protes Isyana.


"Nggak apa-apa Mbak Tristan kan hanya bercanda," ucap Annete. Dia tidak mau mengambil hati atas ucapan Tristan karena tahu anak yang satu itu memang suka iseng.


Bersambung.....


Jangan lupa tinggalkan jejak! Jangan lupa like-nya!"๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2