
Edrick mengangguk sekali lagi dan meneruskan langkahnya meski dalam hati ketar-ketir Angel akan menolaknya di hadapan orang banyak.
Ketiak mereka sampai di depan meja ijab, Angel tertegun memandang ke arah mereka dengan perasaan tak menentu. Bagaimana mungkin yang memakai jas pengantinnya sekarang adalah Edrick bukan Louis apalagi saat Louis mempersilahkan Edrick untuk duduk di sampingnya.
"Bagaimana sudah siap?" tanya pak penghulu yang juga bingung dengan keadaan. Tadi pak penghulu melihat Angel keluar dengan Louis sebagai pasangan pengantin namun Louis kembali pergi dan sekarang kenapa pengantin prianya malah berubah.
"Siap Pak." Louis yang menjawab. Angel masih bingung dengan keadaan.
"Yang mana pengantin prianya?" tanya pak penghulu lagi untuk memastikan.
"Dia Pak," jawab Louis lagi sedangkan Edrick memilih untuk diam dan menunduk. Dia masih takut akan penolakan Angel.
Angel segera menutup mulutnya yang reflek menganga karena kaget namun setelah itu dia berkata, "Apa-apaan ini Lou?" Angel terlihat murka sedang Edrick tidak berani memandang wajah Angel.
"Sebentar pak penghulu." Penghulu tersebut hanya menjawab dengan anggukan.
"Aku bisa jelaskan!" ucap Louis sambil membantu Angel berdiri kemudian membawanya menepi ke suatu tempat.
"Apa yang kau lakukan Lou? Seharusnya jika kamu tidak berniat ingin menikahi aku kau bisa jujur padaku, jangan seperti ini," ucap Angel kecewa.
"Mengapa kau tega mempermainkan perasaanku. Aku tahu aku memang tidak pantas bersanding denganmu tapi haruskah berakhir seperti ini?" lanjutnya.
"Gel dengarkan aku dulu. Jangan pernah menganggap aku melakukan ini karena menganggapmu hina. Itu tidak pernah terbersit dalam hatiku. Aku melakukan ini demi kebaikan kalian. Aku tahu kalian saling mencintai jadi apa salahnya jika aku mempersatukan kalian?"
"Tapi tidak begini caranya Lou," ucap Angel dengan mata berkaca-kaca.
"Maafkan aku, mungkin cara ini membuatmu kaget tapi percayalah ini di luar rencanaku. Aku sebenarnya serius ingin menikahi mu tapi melihat kalian sama-sama tersiksa di dalam ruangan tadi aku tidak tega."
"Lou..."
"Gel aku mohon kembalilah padanya. Jangan menolak lagi akan pertanggung jawabannya. Aku mungkin saja bisa menjadi ayah sambung yang baik untuk anakmu tapi bagaimanapun Edrick adalah ayah biologisnya jadi dia akan tetap menjadi yang terbaik untuk anakmu itu."
"Belum tentu Lou, buktinya Annete lebih sayang sama Adel ketimbang ibunya sendiri."
"Jangan bandingkan Edrick dengan Anisa. Anisa Itu jahat sedangkan Edrick itu sebenarnya orang baik, cuma mungkin dia kemarin-kemarin hanya khilaf. Percayalah, aku tahu seperti apa dia sebenarnya karena kami memang bersahabat sejak kecil."
"Tapi Lou apakah kamu yakin? Apa ini tidak menyakiti perasaanmu?"
"Akan lebih menyakitkan bagiku apabila melihat istriku tidak bisa memasukkan diriku ke dalam hatinya dan bahkan nama sahabatku sendiri yang 'bersemayam di sana."
"Maafkan aku tapi bukankah aku sudah berjanji akan belajar mencintaimu? Aku yakin seiring perjalanan waktu menjadi istrimu aku pasti bisa mencintaimu. Apakah kau masih meragukan ku?"
"Tidak, sama sekali tidak. Aku hanya tidak ingin kamu membuang-buang waktumu saja. Kalau kamu bisa bahagia sekarang dengan orang yang kamu cintai dan juga mencintaimu, untuk apa mengulur-ulur waktu? Menikahlah dengannya, beri dia kesempatan untuk membuktikan ketulusannya padamu. Jangan khawatirkan diriku, aku tidak apa-apa," ucap Louis dengan mantap walaupun kenyataannya dalam hati sebenarnya terluka karena harus memilih antara sahabat dan wanita yang ia cintai.
__ADS_1
"Baiklah kalau itu keputusanmu." Louis hanya mengangguk kemudian menggiring Angel kembali ke tempat semula.
"Bagaimana, bisa dimulai?" tanya pak penghulu ketika Angel sudah duduk kembali.
"Silahkan Pak," jawab Angel.
Mendengar Angel yang menjawab Edrick mengangkat muka. Ada rasa lega yang bercampur bahagia karena Angel sudah mau menerima dirinya.
"Walinya mana?"
"Saya serahkan sama pak penghulu saja karena ayah saya sudah tiada," jawab Angel.
"Baiklah kalau begitu." Pak penghulu pun menikahkan Edrick dengan Angel dan Edrick dengan lancar mengucapkan kalimat Qabul tanpa belibet sedikitpun padahal dia sama sekali tidak pernah belajar.
"Bagaimana saksi, sah?"
"Sah."
"Sah."
"Sah."
Kata 'sah' terdengar dari segenap penjuru ruangan.
Orang tua Louis bernafas lega. Dia sebenarnya tidak setuju Louis menikah dengan Angel bukan karena masa lalu Angel, tapi karena Angel sedang mengandung anak orang lain. Hanya saja mereka tidak berani menentang keinginan anaknya yang kokoh walaupun sebenarnya mereka berdua sudah merencanakan Louis untuk menikah dengan anak sahabatnya sendiri.
Setelah mencium tangan suaminya dan Edrick selesai mencium kening istrinya, Angel mencari keberadaan Louis.
"Cari Louis?" tebak Edrick dan Angel hanya mengangguk.
"Mungkin dia masuk kamar, biar nanti kita cari sama-sama," cetus Edrick dan Angel masih setia mengangguk. Entah mengapa dia seolah tidak punya kekuatan untuk bicara atau hanya merasa masih canggung saja dengan Edrick.
Setelah meninggalkan tempat Louis langsung menuju kamar pengantin miliknya yang sebentar lagi akan menjadi milik Edrick. Ia berjalan tergesa-gesa hingga tak sengaja tubuhnya menabrak seseorang.
"Akkhhh."
"Kamu!" ujar Louis geram sambil menuding wajah gadis di depannya dengan jari telunjuknya karena telah menumpahkan minuman pada kemejanya.
"Hati-hati kalau jalan! Sendirinya yang nabrak malah orang lain yang disalahin." Gadis itu malah ngedumel.
"Berani ya kamu, siapa atasan kamu? Biar aku suruh pecat nanti."
"Cih sombong mentang-mentang orang kaya tapi sayang aku tidak takut, huek." Gadis itu menjulurkan lidah kemudian berlalu pergi.
__ADS_1
"Hei minta maaf nggak?!"
Gadis itu menoleh. "Nggak."
"Rifki!" Panggil Louis pada salah satu anak buahnya yang ia tugaskan untuk mengelola hotel milik ayahnya yang kebetulan melintas di depannya.
"Iya Pak?"
"Kamu tahu siapa kepala pelayan yang menampung gadis tidak sopan seperti itu?"
"Dia bawahannya ibu Winda Pak."
"Oke suruh bu Winda menemui saya di depan kamar pengantin."
"Baik Pak!"
Selang beberapa waktu bu Winda datang menemui Louis. Ada yang bisa saya bantu Pak?"
"Ini bawahan Anda?" ucap Louis sambil menunjukkan foto yang sempat ia ambil tadi.
"Iya pak maaf ada apa ya?"
"Dia telah membuat pakaian saya kotor seperti ini dan malah tidak mau meminta maaf. Saya minta kamu pecat dia dari hotel ini!"
Winda tampak terdiam, sepertinya memikirkan sesuatu.
"Kenapa malah bengong!" bentak Louis.
"Ah iya Pak maaf, tapi tidak ada hukuman yang lebih ringan dari pemecatan? Maaf Pak bukannya lancang tapi dia membutuhkan pekerjaan ini."
"Kalau dia tidak ingin dipecat suruh dia minta maaf dan siap menerima hukuman dari saya."
"Baik Pak akan saya bicarakan dulu."
"Kalau dia setuju suruh dia langsung ke sini!"
"Baik Pak."
Winda berlalu pergi dari tempat tersebut dan menemui gadis tadi.
Bersambung.....
Jangan lupa vote-nya!๐
__ADS_1