Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Louis Part 22. Salah Telah Kembali


__ADS_3

"Ya sudah yuk Mbok kita tata saja di meja makan, mungkin bentar lagi ayah sama bunda datang."


"Iya ayo Non."


Mereka bertiga pun menata menu makan siang di atas meja makan. Lagi asyik-asyiknya terdengar derap langkah menuju tempat mereka.


Prok-prok-prok. Terdengar suara tepuk tangan dari arah belakang. Mereka bertiga kompak menoleh.


Nindy menatap Lisfi yang berjalan ke arahnya sambil tersenyum mengejek.


"Sudah ingat pulang ternyata, apa sudah tidak betah tinggal di luaran? Atau memang sudah tidak bisa mencari makan sendiri?"


"Non..."


"Mbok tidak usah ikut campur," potong Lisfi.


"Kakak, apa maksud kak Lisfi ngomong begitu?"


"Ya palingan kamu pulang karena ada maunya saja kan?"


"Kak aku..."


"Tidak usah mengelak, palingan orang yang telah menampung kamu sudah bosan ya menampung hidupmu hingga akhirnya mengusir pergi. Ya maklumlah kamu kan nggak bisa ngapa-ngapain jadi pasti tuh orang merasa rugi kalau menampung parasit di rumahnya. Atau bisa saja kamu pulang ingin meminta uang kepada ayah dan bunda karena selama ini hidup dengan cara berhutang. "


"Jaga omongan kakak, aku tidak seperti itu," tegas Nindy.


"Malah mengelak lagi, apa namanya orang yang suka menggoda suami orang kalau bukan parasit namanya?"


"Tutup mulutmu! Sebelum berkata seperti itu seharusnya kamu ngaca terlebih dahulu. Siapa yang telah berkhianat dan siapa yang dikhianati," bentak Nindy dia begitu murka dituduh sembarangan oleh kakaknya sendiri. Hilang sudah rasa sopan yang harus dia tunjukkan. Dia tidak mau lagi memanggil wanita itu dengan sebutan kakak karena bagi Nindy dia tidak pantas disebut kakak.


"Ingat ya satu hal, demi apapun saya tidak sudi menggoda suamimu yang serakah dan mata keranjang itu. Lebih baik aku menjomblo seumur hidup daripada harus memiliki suami macam dia."


"Cih buktinya kemarin-kemarin kamu masuk ke kamarku karena ingin menggodanya dia."


Nindy menarik nafas panjang mendengar perkataan Lisfi.


"Kamu bucin atau terlalu bodoh sih? Sehingga gampang percaya pada lelaki seperti dia? Kemana dia sekarang? Apa dia masih setia berada di sampingmu setelah kalian kehilangan anak kalian?"


"Itu gara-gara kamu, kamu yang membuat aku keguguran dan Pras meninggalkan aku. Pasti kalian janjian kan di luar? Atau jangan-jangan kamu pakai ilmu pelet ya hingga dia jadi ngejar-ngejar kamu," tuduh Lisfi.


"Cih menjijikkan buat apa aku pelet dia. Daripada dipelet laki macam dia pantasnya disantet," ujar Nindy masih dengan wajah merah karena amarah.


"Sudah tahu laki suka menghamili orang diluar nikah kok dipiara," lanjutnya membuat Lisfi tersinggung.


"Kurang ajar ya kamu!"


"Kamu yang kurang ajar!" balas Nindy


Mereka berdua pun berkelahi, saling mendorong, saling menjambak rambut masing-masing lawan.

__ADS_1


"Hentikan Non, hentikan!" Kedua pembantu wanita yang berusaha melerai keduanya tidak berhasil karena kedua orang tersebut sangat kuat sebab sama-sama dikuasai amarah.


"Hentikan Non hentikan!" Mbok Minah berteriak histeris agar kedua kakak beradik itu berhenti berkelahi. Namun sayang keduanya sama sekali tidak menghiraukan teriakannya.


"Dasar pelacur!" kata-kata itu lolos begitu saja dari mulut Lisfi membuat Nindy menjadi semakin murka.


Dengan sekuat tenaga Nindy mendorong tubuh Lisfi ke belakang hingga membentur tembok. Entah setan apa yang merasuki tubuh Nindy sehingga saat itu ia langsung meraih asam-asam daging yang ada dihadapannya lalu mengguyurkan di kepala Lisfi hingga membuat wanita itu mengaduh.


"Auw panas."


Bersamaan dengan itu Farah dan pak Ramlan datang dari luar. Mereka yang mendengar suara berisik langsung menuju ruang makan dan melihat kejadian saat Nindy menuangkan masakan berkuah itu di kepala kakaknya.


"Ada apa ini?" Suara pak Ramlan terdengar tegas.


"Auw...Panas ayah, sangat panas. Safa kejam banget Yah nuangin kuah ini ke Lisfi padahal Lisfi kan cuma nasehatin dia supaya tidak main kabur-kaburan lagi. " Lisfi mengadu sambil berpura-pura bahwa masakan itu memang sangat panas padahal masakan itu cuma hangat-hangat kuku.


"Bohong Yah dia bohong. Dia ngatain Safa pelacur makanya Safa marah dan tidak sengaja menuang itu ke wajahnya."


"Aduh sakit banget, bagaimana kalau kulit wajahku melepuh Bun?" Lisfi semakin berakting.


"Nggak usah mengelak! Ayah sudah lihat semuanya saat kamu menuangkan makanan itu. Kamu ya masih tetap nakal saja. Berbulan-bulan di luaran sana ternyata tidak mampu merubah sikapmu itu. Minta maaf sana kakak kamu!" perintah pak Ramlan.


"Tidak aku tidak salah! Dia yang mulai duluan." Nindy masih ngotot, pantang baginya meminta maaf kalau tidak salah.


"Dia Yah yang duluan." Lisfi menunjuk Nindy sambil meringis kesakitan membuat pak Ramlan semakin khawatir saja.


"Kalau ayah tidak percaya ayah bisa tanyakan langsung pada mbok Siti dan Mbok Minah, siapa sebenarnya yang membuat ulah terlebih dahulu." Nindy masih bertahan dengan sikapnya.


"Sudahlah tidak usah mengelak, cepat minta maaf!"


"Tidak aku tidak mau minta maaf kalau dia belum mau mengakui kesalahannya," tunjuk Nindy pada Lisfi dan wanita itu pun berpura-pura kesakitan lagi.


"Ayo cepat minta maaf!"


"Tidak." Nindy masih ngotot membuat pak Ramlan mengangkat tangan untuk menampar putrinya itu.


"Mas jangan!" teriak Farah sambil menangkis gerakan tangan suaminya.


"Jangan sakiti dia lagi!" mohon Farah.


"Dia selama ini sudah cukup mengalah Mas. Mungkin dia tadi khilaf."


"Makanya aku suruh dia minta maaf agar tidak terbiasa dengan kecerobohannya."


Mendengar sang ayah masih saja tidak mau membelanya, Nindy mengepalkan kedua tangan kemudian bangkit dari duduknya.


"Ternyata aku telah salah kembali ke sini. Aku pikir di sini kehadiranku dirindukan, di sini aku akan mendapatkan dukungan apapun yang terjadi dalam hidupku. Ternyata aku benar-benar salah. Mulai sekarang aku bersumpah apapun yang terjadi aku tidak akan menginjakkan kaki di rumah ini lagi." Setelah mengatakan itu Nindy langsung berlari ke kamarnya dan membawa tasnya kembali ke luar kamar. Untung saja pakaian yang dia bawa belum sempat ia masukkan ke dalam lemari. Jadi dia tidak perlu repot-repot mengepak kembali.


Nindy berjalan dengan arah gontai, sebisa mungkin dia menahan air matanya agar tidak jatuh. Dia harus terlihat kuat di depan orang-orang yang sama sekali tidak bisa menghargainya.

__ADS_1


Melihat putrinya benar-benar membawa pakaiannya Farah berlari menghampiri putrinya lalu merengkuhnya. "Jangan pergi lagi Nak, bunda mohon!"


"Percuma Bun Safa di sini, toh Bunda tidak bisa menentang ayah untuk membela ku. Walaupun ia, tapi bunda tidak akan bisa unggul dari ayah. Kadang Safa berpikir siapa sih di sini yang anak tiri Ayah. Aku atau kak Lisfi? Kadang pula aku berpikir aku hanyalah anak pungut yang berusaha mencari simpati terhadap orang tua angkat."


Mendengar curahan hati Nindy, Farah merasa terenyuh. Air matanya tak terasa menetes. "Maafkan Bunda dan tolong jangan pergi!" Hanya kata-kata itu yang mampu Farah ucapkan pada sang anak.


"Safa sudah memaafkan tapi keputusan Safa sudah bulat. Safa harus pergi dari rumah ini. Bunda doakan saja saat Safa bertemu Bunda nanti Safa sudah menjadi orang sukses."


"Amin, doa bunda akan selalu menyertai mu."


Selesai Farah mengatakan itu Nindy langsung mengurai pelukan bundanya. "Safa pergi Bun," pamitnya pada Farah lalu berlalu pergi dengan menenteng tasnya.


"Mas cegah dia pergi!" pinta Farah pada pak Ramlan, siapa tahu kalau ayahnya yang meminta Safa menjadi luluh pikir Farah.


"Biarlah palingan dia akan kembali seperti sekarang ini."


"Mas!"


Pak Ramlan tetap cuek membuat Farah frustasi dan memukul dada suaminya berkali-kali sambil menangis.


"Mas kejam!"


"Mau kemana lagi Non?" pak satpam mengapa kembali.


"Biasanya Pak bertualang kembali," sahut Nindy.


"Enon ada-ada saja pakai bertualang segala," goda pak satpam.


"Iyalah Pak biar nggak bosen di rumah terus."


"Terserah Non aja sih yang penting tetap semangat."


"Pasti Pak."


"Eh Enon tidak mau kabur lagi kan Non?"


"Nggak lah Pak tuh lihat bunda tahu kok," ujar Nindy menunjuk ke arah Farah yang menatap sendu padanya.


"Baiklah Non, semoga sukses ya."


"Amin terima kasih Pak."


"Sama-sama Non."


Setelah itu Nindy melangkah ke luar pagar, tapi sebelum pergi dia menatap rumahnya.


"Maafkan aku, mulai sekarang aku hanya bisa menatapmu dari luar saja." Air mata yang dia tahan sedari tadi langsung merembes di pipinya. Sebenarnya dia rapuh dan hanya berpura-pura tegar saja.


Setelah mengusap air matanya, ia langsung menyetop taksi yang melintas tanpa tujuan yang jelas.

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa rate bintang 5, favorit, like, vote, hadiah dan komentarnya. Terima kasih.๐Ÿ™


__ADS_2