
Setelah mendengar kabar kesembuhan Lexi akhirnya Annete mencoba menghubungi Lexi dan mengajaknya bertemu di sebuah restoran.
"Lex apakah kamu sudah benar-benar sehat?" tanya Annete melalui sambungan teleponnya pada Lexi.
"Iya Net memang ada apa?" tanya balik Lexi.
"Aku ingin bertemu dan membicarakan hal penting denganmu. Bisakah kamu datang menemui ku ke restoran?"
"Oke boleh, restoran mana?
"Bentar aku kirimi alamatnya." Annete mengetikkan sesuatu di ponselnya.
Beberapa saat kemudian,
Tring. Ada chat masuk dalam ponsel Lexi yang menyebutkan alamat restoran dimana dirinya dengan Annete harus bertemu.
"Oke siap aku segera ke sana." Lexi langsung berdiri dan masuk ke dalam kamarnya. Setelah memasang jaket kulitnya dia mengambil kunci mobil dan segera melangkah menuju garasi apartemen. Kemudian melajukan mobilnya ke tempat tujuan.
Di saat Lexi sedang teleponan dengan Annete tanpa Lexi sadari ada mommy Laurens yang mengawasinya. Ketika Lexi memutuskan pergi sekarang juga Laurens merasa curiga bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Walaupun Laurens tidak tahu siapa yang menelpon Lexi tapi dia bisa menebak bahwa yang menelpon putranya adalah Annete. Laurens takut Annete tidak menepati janjinya dan akan terus meminta Lexi untuk bersamanya dan bisa saja hati Lexi luluh dan berpaling lagi pada Annete. Lauren tidak mau putranya akan menyesal untuk kedua kalinya.
Karena kecurigaannya itu Laurens memutuskan untuk mengikuti kemana sang anak pergi. Buru-buru dia menyusul ke garasi dan meminta anak buahnya untuk mengantarkan dirinya mengikuti Lexi.
"Anthony tolong seterin mobilnya dan ikuti mobil Lexi aku ingin tahu kemana Lexi pergi!" ucap Laurens sambil melempar kunci mobil ke arah Anthony dan dia langsung membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya.
"Baik Nyonya." Dengan sigap Anthony menangkap kunci itu kemudian ikut masuk ke dalam mobil dan segera melajukan mobilnya mengikuti arah mobil Lexi bergerak.
Setelah mobil Lexi masuk ke area parkir restoran Laurens meminta Anthony memarkirkan mobilnya agak jauh dari mobil Lexi supaya Lexi tidak curiga bahwa dirinya sedang membuntutinya. Kemudian dirinya ikut masuk dan mengawasi Lexi dari tempat yang tersembunyi.
"Benar Lexi mau ketemu Annete," pikir Laurens dalam hati.
Annete yang sedang meminum ice drink nya langsung meletakkan gelas dan menyapa Lexi. "Hai Lex!" Annete melambaikan tangannya ketika melihat Lexi celingak-celinguk mencari keberadaannya.
"Hai Net!" Lexi membalas lambaian tangan Annete dan berjalan menuju meja dimana Annete berada dan duduk di kursi yang berhadapan dengan Annete.
"Kamu mau pesan minum atau makanan dulu Lex," tawar Annete.
"Nggak usah Net, langsung aja ke pembicaraan. Ada apa kamu mengajakku bertemu di tempat ini?"
Annete menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan secara perlahan.
"Langsung saja ya Lex." Annete tak ingin berbasa-basi langsung bicara ke pokok persoalan. "Aku tahu Lex kamu sudah tidak mencintai saya lagi kan?"
Deg. Lexi tahu arah pembicaraan Annete. Entah mengapa dirinya merasa bersalah. Namun ia pun tidak mungkin berbohong dengan kenyataan.
"Aku tahu kamu mencintai Naura dan aku pun tahu Naura juga mencintaimu. Kalian saling mencintai kan? Untuk itu aku putuskan..." Annete berhenti sejenak lalu melanjutkan ucapannya lagi. "Kita harus berpisah."
"Net maafkan aku ya, bukan maksud aku untuk mengkhianatimu tapi entah kenapa tanpa aku sadari perasaan aku jadi berubah."
"Tidak perlu meminta maaf Lex, aku mengerti perasaan itu tidak bisa dipaksakan." Lexi menunduk karena merasa semakin bersalah.
__ADS_1
"Lagipula bukan perasaan kamu saja yang berubah sejak aku melihat kamu begitu dekat dengan Naura aku jadi meragukanmu dan tanpa aku sadari perasaanku pun berbelok arah." Lexi akhirnya mengangkat wajahnya ketika mendengar perkataan Annete.
"Maksudmu Net?"
"Entah mengapa aku mulai menyukai orang yang selama ini begitu peduli sama aku." Tanpa Annete sadari dia mulai curhat pada Lexi.
Lexi bernafas lega ternyata Annete sudah tidak mencintainya lagi jadi dia tidak akan menyakiti perasaan Annete kalau nanti dia menikahi Naura. Bukan hanya Lexi saja Laurens pun bernafas lega mendengar pengakuan Annete. Bagaimana pun dia perempuan yang tahu betapa sakitnya kalau ditinggalkan kekasihnya untuk memilih orang lain. Walau di satu sisi Laurens tidak menyukai Annete karena asal keluarganya tapi sekarang dia malah kasihan pada Annete melihat ketulusannya dan diapun menepati janjinya pada Laurens untuk mengakhiri hubungannya dengan Lexi.
"Siapa orang yang kau maksud Net?" Annete tidak menjawab rasanya begitu malu mengatakannya pada Lexi bahwa dia menyukai Adrian disamping dia tidak tahu bagaimana perasaan Adrian padanya, sekarang dia pun menemui kenyataan bahwa Adrian masih berstatus suami orang.
"Siapa Net, apa Adrian?" Lexi menebak-nebak, bukankah laki-laki yang dekat dengan Annete selama ini adalah Adrian? Annete masih bungkam tak ingin menjawab.
"Katakanlah Net, mungkin aku bisa bantu!"
"Tidak bisa Dri, kami tidak mungkin bersatu."
Lexi mengernyit, tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Annete. " Lo kenapa? Apa maksudmu Net? Kau masih menganggap ku sahabat kan? Kalau ia tolong jujur padaku."
Annete masih diam. "Please Net katakan mungkin aku bisa bantu kalau iya aku akan berusaha menyatukan kalian berdua. Hitung-hitung selain sebagai teman aku juga ingin menebus kesalahanku padamu karena telah mengecewakanmu."
"Dia masih punya istri Lex."
"Siapa? Adrian?" Annete hanya mengangguk.
"Bukankah dia duda ya?"
"Darimana kamu tahu? Jangan-jangan hanya dari sumber yang tidak jelas."
"Tidak Lex kemarin istrinya datang ke rumah Adrian dan melabrak aku. Dia ngata-ngatain aku Lex. Dia bilang aku pelakor padahal aku sama Adrian tidak ada hubungan apa-apa. Dia mengancam akan terus menggangguku kalau aku masih dekat-dekat sama Adrian dan Adel."
"Kenapa kau tidak ambil saja sekalian tuh Adrian biar dia tahu rasa. Aku tahu Adrian itu mencintaimu makanya selama ini dia selalu memandang ku layaknya musuh apabila aku menginginkan mu. Lagipula kalau memang dia istrinya kemana selama ini dirinya sehingga anak dan suaminya kamu yang harus mengurusnya?"
"Aku tidak tahu Lex yang jelas aku tidak ingin mengambil hak milik orang lain lagipula selama ini Adrian tidak mencintaiku dia menyukaiku hanya gara-gara aku mirip dengan istrinya. Bukankah itu menandakan Adrian masih mengharapkan istrinya?" Annete tersenyum pahit.
"Net aku yakin Adrian pasti mencintaimu, kalau kamu mau aku akan membantu untuk mendapatkannya."
Annete menggeleng. "Tidak Lex, aku tahu cinta terkadang membuat kita buta tapi meskipun demikian aku pun harus memakai logika. Ayahku selalu mengajarkan ku untuk tidak mengambil milik orang lain. Karena kalau sampai itu terjadi sesal lah yang akan kita dapatkan di kemudian hari." Mendengar perkataan Annete Laurens menitikkan air mata.
"Apa maksudnya Johan mengajarkan Annete seperti itu? Apa Johan menyesal dengan tindakannya dulu sehingga menginginkan anaknya mengambil pelajaran dari kisah hidupnya?" batin Laurens.
"Kalau itu mau kamu Net maka bersabarlah. Berusahalah membuka diri untuk menerima orang lain yang mungkin suatu saat bisa mencintaimu setulus hati." Lexi mencoba menguatkan karena hanya itulah satu-satunya hal yang bisa ia lakukan sekarang.
"Terima kasih Lex."
"Ya sudah kalau tidak ada yang mau dibicarakan lagi aku permisi ya, soalnya aku ada jadwal kontrol kesehatan hari ini."
"Iya Lex."
Lexi menepuk pundak Annete dan berkata, "Semangat!" Sambil menunjukkan otot-otot lengannya kemudian pergi meninggalkan Annete untuk pergi ke rumah sakit.
__ADS_1
Setelah Lexi pergi Laurens berjalan menghampiri Annete.
"Annete," sapanya.
Annete terkejut. "Tante? Tante ada di sini, sejak kapan?"
"Sejak kamu bicara sama Lexi," jawab Laurens datar.
"Jadi Tante mendengar semuanya?"
"Iya tidak sengaja," bohongnya.
"Terima kasih ya Net kamu telah menepati janji pada Tante."
"Sama-sama Tante."
"By the way apa kabar orang tuamu?"
"Ayah sudah tiada Tante," ucap Annete sedih membayangkan wajah Johan.
"Kalau ibumu?"
"Entahlah dia dimana." Laurens mengerenyitkan dahi tidak paham apa yang dimaksud Annete tapi dia tidak ingin memperpanjang.
"Annete tinggal sama siapa kalau di Paris?"
"Sendiri Tante, kapan Tante pulang?"
"Setelah pernikahan Lexi sama Naura selesai diselenggarakan."
"Hah mereka mau menikah?"
"Kenapa Nak Annete, bukankah Nak Annete sudah tidak mencintai anak Tante lagi kan?" Laurens mengubah panggilannya pada Annete dengan panggilan Nak.
Annete mengangguk. "Bukan begitu Tante, masalahnya Naura kan masih sekolah."
"Iya kalau masalah itu sudah kami atur. Nak Annete mau datang kan?"
"Iya Tante kalau Annete diberitahu pasti Annete bakal datang."
"Kalau begitu aku minta nomor telepon kamu ya soalnya tanggal pernikahan mereka belum ditentukan. Nanti kalau sudah waktunya saya akan menelpon Nak Annete."
"Baiklah Tante ini nomor telepon saya."
Akhirnya mereka berdua saling bertukar nomor telepon.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak: Like, Vote, komentar dan hadiahnya. Terima kasih ๐
__ADS_1