
Sekitar kurang lebih satu jam dokter melakukan operasi pengambilan sumsum tulang belakang pada Anisa.
Adrian yang menunggu di luar sangat khawatir, berharap semoga saja operasi tersebut berjalan lancar. Dia sangat berharap banyak pada Anisa agar bisa membantu Annete untuk sehat kembali.
Sedang Adrian menunggui Anisa, Adel diminta menjaga Annete di ruangannya tapi sayangnya Adel malah ketiduran karena sudah terlalu capek menangis.
Beberapa saat kemudian pintu ruang operasi dibuka kemudian seorang dokter dan beberapa asistennya keluar dari tempat tersebut.
"Bagaimana Dokter?" tanya Adrian.
"Pengambilannya sudah dan sekarang kami akan langsung mengoperasi istri Anda." Adrian mengangguk kemudian menghampiri Anisa yang masih belum sadar karena pengaruh anastesi.
"Bagaimana keadaannya Sus?"
"Baik mungkin sebentar lagi akan sadar."
"Kalau begitu saya permisi dulu Sus, tolong jaga dia."
"Baik Pak."
Adrian pun melangkahkan kakinya menuju ke ruangan dimana Annete akan dioperasi.
Beberapa jam kemudian dokter yang berkutat dengan alat medis belum keluar juga.
"Mengapa lama Yah?" tanya Adel.
"Sabar sayang, kata dokter memang membutuhkan waktu sekitar 1sampai 5 jam," jawab Adrian.
"Tapi kok bunda Anisa cepat Yah?"
"Itu beda sayang kan bunda Anisa sehat dan bunda Annete yang sakit jadi lamaan bunda Annete lah operasinya." Adel hanya mengangguk kemudian diam. Dia lebih memilih berdoa dalam hati daripada mengobrol dengan ayahnya.
"Bagaimana Dri sudah selesai?" tanya Anisa.
"Kamu kok sudah bangun sih, memang tidak sakit?"
"Nggak cuma kepalaku terasa sedikit pusing, mual, dan nyeri serta kaku pada area pengambilan sumsum tulang belakang."
"Kenapa tidak istirahat saja di ruang rawat?"
"Nggak aku mau di sini saja hingga mendengar operasinya berhasil."
"Ya sudah tapi kalau kamu tidak kuat duduk nanti lebih baik kembali ke ruangan."
"Iya Dri. Del sini!" Panggilnya pada Adel. Adel pun berjalan pelan ke arah Anisa.
"Duduk di sini sama Bunda! Bunda mau ngomong," ucapnya sambil menepuk bangku di sampingnya. Adel pun menurut tidak memberontak lagi karena tahu Anisa lah yang menjadi pendonor untuk Annete.
"Bunda tahu bunda banyak salah sama Adel. Bunda banyak dosa sama Adel. Maka bunda sangat-sangat minta maaf pada Adel." Adel hanya memandang wajah Anisa tanpa menjawab sepatah katapun.
"Bunda janji akan selalu menuruti keinginan Adel asal Adel bisa memaafkan bunda."
"Apakah bunda akan kembali pada Ayah?" Akhirnya Adel bersuara juga.
__ADS_1
Adrian mengangkat muka yang sedari tadi hanya menunduk dan memandang aneh ke arah Adel. Adrian takut Adel menginginkan dirinya rujuk dengan Anisa dan memaksanya.
"Adel sayang sama bunda Annete?"
Adel mengangguk.
"Adel tidak ingin berpisah dengannya?" Adel mengangguk lagi.
"Begitu juga bunda, bunda juga sayang sama bunda Annete dan juga Adel. Maka bunda tidak akan pernah memisahkan kalian. Lagipula ayah kan cintanya sama bunda Annete bukan sama bunda Nisa lagi. Jadi mana mungkin bunda kembali pada ayah? Jadi Adel tidak usah khawatir bunda tidak akan mengambil ayah kamu dari kalian."
Mendengar perkataan Anisa, Adrian memandang ke arahnya. Dia terenyuh dengan ketulusan Anisa. Adrian merasa Anisa sudah kembali seperti dulu lagi. Dia bahagia walaupun perasaan dirinya tidak akan pernah kembali seperti semula karena posisi Anisa sudah tergantikan oleh orang lain.
Timbul keinginan Adrian untuk mendekatkan Anisa dengan Adel. Walau bagaimanapun Anisa adalah ibu kandung dari anaknya dan sekarang malah menjadi kakak iparnya.
Anisa memijit pelipisnya sambil meringis.
"Nis untuk sementara saya minta kamu pulang ke rumah dulu untuk beberapa waktu sampai keadaanmu membaik."
"Tidak usah Dri, biar aku pulang ke rumahku sendiri."
"Tidak boleh. Selama kau masih belum sehat kau akan menjadi tanggung jawabku karena kau begini akibat menjadi pendonor bagi istriku."
Mendengar ucapan Adrian sebenarnya ada rasa sakit yang menyengat di ulu hati Anisa. Ternyata namanya benar-benar sudah tergantikan oleh wanita lain. Namun Anisa harus logis, Annete memang pantas untuk Adrian dibandingkan dirinya yang berlumur dosa. Apalagi Annete itu adalah adiknya sendiri terlebih Adel begitu menyayanginya.
"Pulanglah ke rumah untuk sementara waktu. Aku tadi sudah menyuruh bibi untuk menyiapkan kamarmu dan sekarang sopirku telah sampai ke rumah sakit untuk menjemput Adel. Aku nitip Adel, jagalah dia selama aku dan Annete ada di rumah sakit."
Mendengar Adrian menitipkan Adel, Anisa langsung mengangguk setuju. Kapan lagi dia bisa punya kesempatan untuk hidup bersama Adel.
"Pasti."
"Adel kamu pulang dulu sama bunda Nisa Yah. Besok kamu kan harus sekolah. Ingat kata bunda Annete, kamu harus rajin sekolahnya."
"Iya Ayah."
"Yuk Del!" ajak Anisa sambil menggandeng tangan Adel. Adel pun mengangguk dan menurut.
Selepas Anisa dan Adel pergi, Adrian merasa cemas kembali mengapa operasinya belum selesai- selesai juga.
"An aku harap operasinya lancar dan keadaanmu segera membaik. Jangan pernah tinggalkan aku An, aku tidak mampu hidup tanpamu." Bicara sendiri sambil menunduk dan menggesek-gesekkan kedua tangannya yang seolah terasa dingin dan beku.
Begini ya rasanya kalau keluarga pasien sedang menunggu pasien yang sedang dioperasi. batin Adrian. Padahal biasanya dirinya yang melakukan tindakan operasi pada pasien tapi sekarang berbalik, dirinya malah menjadi keluarga pasien.
Beberapa saat ruangan operasi terbuka. Buru-buru Adrian menghampiri dokter yang menangani Annete.
"Bagaimana Dokter?"
"Selamat pak operasinya berjalan lancar tinggal menunggu pasien sadar dari pengaruh obat."
"Terima kasih Dokter," ucap Adrian sambil bernafas lega.
"Kamarku yang mana Bik?"
"Ayo saya antarkan Nya," ucap bi Sri.
__ADS_1
"Del kamu istirahat ke kamar kamu ya. Bunda mau langsung istirahat dulu soalnya kepala bunda terasa berat."
"Iya bunda," jawab Adel lalu melangkah ke kamarnya sendiri sedangkan bi. Sri membawa Anisa ke kamar yang memang pernah menjadi kamarnya dan Adrian dulu.
"Loh kok ke sini Bik, bukannya ini kamar Adrian dan Annete ya?"
"Bukan Nyonya. Sejak menikah dengan Nyonya Annete tuan Adrian pindah kamar."
"Oh." Anisa manggut-manggut.
"Ya sudah kalau begitu silahkan istirahat Nya. Kalau ada apa-apa Nyonya panggil saya saja."
"Iya Bik terima kasih."
Bi Sri keluar kamar sedang Anisa langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Anisa terbangun kala merasai kepalanya tidak sakit lagi. Dia merasakan cacing diperutnya memberontak karena lupa makan sedari' siang. Anisa langsung menemui Adel di kamarnya. "Del makan yuk!" ajaknya.
"Nanti aja Bun tanggung kan masih sore," sahut Adel sambil memainkan boneka hello Kitty di tangannya. Anisa melirik kok tidak ada boneka pemberiannya dulu di kamar Adel. Apa jangan-jangan Adel sudah membuangnya.
"Emang tadi siang Adel sudah makan?" Anisa khawatir Adel pun belum makan sedari siang.
"Sudah tadi Adel mau bangunin Bunda tapi tidak tega."
"Ya sudah nggak apa-apa tapi bunda makan duluan ya nanti kalau Adel mau makan biar Bunda temani."
"Ya sudah kalau begitu sekalian Adel makan bareng."
"Oke let's go."
Selesai makan terdengar ponsel Adel berbunyi. "Siapa Del?"
"Ayah."
"Apa katanya?"
"Suruh bilang sama bunda Nisa bahwa bunda Annete sudah siuman."
"Benarkah?" tanya Anisa sumringah. Dia tidak sabar ingin memberitahu Annete bahwa mereka bersaudara.
"Iya. Nih ayah mau ngomong," ucap Adel sambil memberikan ponselnya.
Beberapa saat kemudian sambungan telepon tertutup.
"Apa kata ayah?"
"Kita ke sananya besok saja pas Adel pulang sekolah."
"Oke Bunda."
Dan malam itu Anisa benar-benar menjaga Adel dengan baik. Dia pindah ke kamar Adel dan membacakan dongeng layaknya pada anak kecil padahal umur Adel sudah delapan tahun. Anisa hanya ingin menebus waktu yang telah hilang. Yang seharusnya dirinya membersamai Adel sejak kecil. Pun saat pagi tiba, Anisa antusias menyiapkan segala perlengkapan sekolah Adel dan mengantarkannya ke sekolah. Hal itu membuat Adel benar-benar yakin bahwa Anisa sudah berubah.
Bersambung.....
__ADS_1