
Karena curiga segera Zidane membuka galeri ponsel tersebut ternyata ada banyak foto kebersamaan Isyana dengan Nathan dan Tristan di dalam ponsel tersebut.
Senyum di bibir Zidane terbit, " Ternyata dia menipuku. Dia mau bermain-main denganku. Baiklah akan ku layani permainanmu."
Zidane lalu menaruh ponsel tersebut di atas nakas kemudian merebahkan dirinya di atas ranjang.
Bahkan setelah kau pergi sekalipun wangi tubuhmu masih tersisa.
Zidane mengendus bantal bekas Isyana tidur kemudian dia terlelap ke alam mimpi.
Pagi hari Zidane menelpon Nathan. "Boy bisakah kalian ke kantor paman hari ini?"
"Kalo pagi ini kami masih ada acara paman mungkin nanti siang sepulang dari sana kami mampir ke kantor Paman."
"Oke kalau begitu paman tunggu ya!"
"Siap Paman tapi tunggu dulu, paman darimana dapat nomor telepon Nathan?"
"Nanti paman cerita kalau kalian sudah nyampek sini."
"Oke."
Telepon pun berakhir. Zidane menaruh ponselnya dan kembali sibuk dengan kertas-kertas yang minta disentuh.
Tiba-tiba ada seorang wanita menerobos masuk ke dalam ruangan Zidane diikuti Maura di belakangnya.
"Maaf Pak nona Belva nekat masuk padahal kami sudah melarangnya."
"Tidak apa-apa biarkan dia masuk."
Mendengar perkataan Zidane Belva tersenyum kemudian berjalan mendekat ke arah Zidane sedangkan Maura permisi keluar.
"Aku sudah menyangka kamu masih mencintai saya," ucap Belva begitu percaya diri sedangkan Zidane cuek tetap bergelut dengan berkas-berkas.
Melihat Zidane mengacuhkan dirinya Belva bergelayut manja di leher Zidane mencari perhatian.
"Lepas!" Zidane menghempas tangan Belva.
"Ngapain kamu ke sini?" tanya Zidane ketus.
"Ya mau ketemu kamu lah. Emangnya kamu nggak kangen sama aku?"
"Kangen? Aku kangen sama kamu? Mimpi aja sana!"
"Gak usah munafik lah sayang kalau kamu memang sudah tidak cinta sama aku terus kenapa sampai saat ini kamu belum menikah?"
"Bukan urusanmu!"
"Ayolah sayang kita perbaiki hubungan kita lagi. Aku minta maaf dengan apa yang telah aku lakukan sama kamu dulu. Aku janji mulai saat ini aku akan setia sama kamu." Sambil mengelus-elus pipi Zidane sedangkan Zidane menangkap tangan Belva.
"Jangan pernah sentuh aku lagi! Kamu tahu aku jijik sama kamu."
"Kenapa kamu kembali ke sini? Apa kamu sudah dicampakkan oleh pria mu itu?" lanjutnya.
Belva pura-pura menangis.
"Kamu benar dia telah mencampakkan aku hiks-hiks-hiks...mungkin ini adalah hukuman karena aku sempat mengkhianatimu. Aku benar-benar menyesal sekarang jadi aku benar-benar berharap kamu memaafkan aku dan mau kembali lagi padaku." Belva menunjukkan muka sedihnya.
"Aku akan memaafkan kamu asalkan kamu tidak menggangu ku lagi."
__ADS_1
"Ayolah sayang jangan begitu aku masih mencintaimu dan aku tahu kau juga masih menyayangi ku kan?"
Belva kembali bergelayut manja di lengan Zidane. Belum sempat Zidane menghempaskan kembali tangan Belva pintu ruangan terbuka nampak kedua anak kecil di pintu namun mereka berbalik ketika melihat Zidane bermesraan dengan seorang wanita.
Zidane yang melihat Nathan dan Tristan tidak jadi masuk ke ruangannya menghempaskan kembali tangan Belva.
"Sudah ku bilang jangan pernah sentuh aku lagi atau kau akan kehilangan kedua tanganmu!" Zidane mengancam Belva kemudian berlari mengejar si kembar.
"Boys tunggu!"
Nathan dan Tristan menoleh, "Paman selesaikan urusan paman dulu biar kami tunggu di ruangan om Dion aja."
"Paman sudah tidak ada urusan dengan wanita itu. Ayo kita ke ruangan paman!" Sambil menarik tangan Nathan dan Tristan.
Keduanya pun mengangguk dan ikut masuk ke ruangan Zidane.
Belva menghampiri ketiganya. "Tunggu, mereka siapa?"
"Kamu ingin tahu siapa mereka? Baiklah aku akan mengatakannya. Mereka itu adalah putra saya."
Sontak kedua anak tersebut terkejut. Apakah Zidane sudah tahu kalau mereka adalah benar-benar anaknya?
Begitupun Belva, dia terperangah kemudian menggelengkan kepala. "Tidak mungkin kamu bercanda kan?"
"Apa aku terlihat bercanda? Apakah aku pernah tidak serius bicara denganmu?"
Belva tetap tidak percaya, " Tidak mungkin kamu pasti menipuku."
"Apa untungnya aku menipu mu? Kalo sudah tidak ada yang ingin dibicarakan sebaiknya kamu keluar."
"Keluar!" teriak Zidane.
"Baiklah aku akan pergi tapi lain kali aku akan datang lagi dan membuktikan bahwa kata-kata mu hanyalah kebohongan belaka." Belva beranjak meninggalkan ruangan.
"Bukan dia hanya mantan."
"Oh." Keduanya hanya ber oh ria.
"Mantan itu apa Atan?" bisik Tristan di telinga Nathan.
"Mana aku tahu Itan."
Zidane hanya tersenyum mendengar bisik-bisik kedua putranya yang masih bisa terdengar di telinganya.
"Oh ya paman kenapa paman bilang sama wanita tadi bahwa kami adalah anak paman?"
"Karena kalau tidak seperti itu dia tidak akan berhenti mengganggu paman."
"Ooh."
"Oh ya, ada apa paman menyuruh kami ke sini?"
"Ada yang mau paman tanyakan pada kalian tapi sebelumnya paman mau tanya kenapa kalian datang sepagi ini bukankah semalam kamu bilang pagi ini ada acara?"
"Kami tampilnya masih nanti di penghujung acara jadi kami sempatkan ke sini dulu soalnya nanti siang kami masih ada kegiatan lain."
"Oke kalau begitu paman mau tanya, ini siapa kalian?" Zidane membuka galeri ponsel Isyana dan menyodorkan ponsel tersebut ke arah keduanya.
Bukannya menjawab Nathan malah balik bertanya, "Kenapa ponsel mama bisa ada di tangan Paman?"
__ADS_1
"Oh ini paman menemukannya di jalan setelah paman buka ternyata ada foto kalian."
"Paman tidak bohong kan?" tanya Nathan menyelidik.
"Oh tidak, paman tidak bohong." jawab Zidane gugup.
"Itu foto mama kami."
"Bukannya dulu kalian bilang bahwa mama kalian bernama Lusy?"
"I...iya mommy kami adalah Lusy dan mama ini adalah adik mommy Lusy."
"Jadi yang mana yang benar ibu kandung kalian?"
"Ya mama Lusy lah."
"Kalian tidak bohong?"
Mereka mengangguk lemah. Ingin rasanya mereka mengatakan yang sebenarnya tapi mereka takut kalau mamanya tahu akan kecewa terhadap mereka.
"Boleh paman tahu siapa papa kalian?"
"Daddy Edward, Edward Anderson."
"Edward Anderson?"
"Iya."
"Kalian ada fotonya?"
"Ada." Nathan mengeluarkan ipadnya dan memperlihatkan foto Edward pada Zidane."
Pantas saja keberadaan kalian tidak terjamah oleh orang-orangku ternyata kamu yang berada di belakang Isyana. Pasti kamu yang telah menutup keberadaannya.
"Paman ada apa? Kenapa paman melamun?"
"Ah iya paman cuma terkejut aja bahwa daddy kalian ternyata adalah salah satu relasi paman."
"Jadi paman kenal sama daddy?"
"Iya."
"Oh ya paman ini kado dari siapa?" tanya Tristan ketika melihat penampakan kado di atas meja Zidane namun keberadaan seperti tidak ada yang memperdulikan.
"Paman nggak tahu, sepertinya kado itu sudah ada sejak Paman datang tadi tapi paman tidak sadar."
"Pasti dari mantan paman tadi."
"Paman nggak tahu."
"Ayo dong paman buka aku penasaran nih!" pinta Tristan.
"Sebenarnya paman tidak berminat tapi kalau kalian mau kalian bisa membukanya."
"Benar paman?" tanya Tristan antusias. Tristan memang suka kalau disuruh buka kado.
Zidane mengangguk, "Bukalah!"
Dengan rasa penasaran yang tinggi Tristan membuka kado tersebut namun ketika dibuka isi dari Kado tersebut melompat keluar.
__ADS_1
"Paman, ular paman!" ucap Tristan panik.
Zidane dengan sigap menggendong keduanya sambil berteriak memanggil orang-orang di luar.