
Di kediaman Alberto, Laras sudah menyiapkan segala keperluan untuk acara lamaran. Semua barang yang akan di bawa ke rumah Isyana sudah berjejer rapi di ruang tamu. Tentu saja barang-barang tersebut adalah barang-barang branded dengan bungkusan yang menambah nilai plus barang-barang tersebut. Tak lupa ada juga beberapa kue yang juga dikemas dengan cantik.Tinggal menunggu saja orang-orang yang akan membawa hantaran tersebut ke rumah Isyana.
"Kenapa Dion lama sekali sih?" protes Zidane. Semua orang yang akan ikut menyerahkan seserahan itu sudah berkumpul semua tinggal Dion sama Vania yang belum datang. Bahkan adik dan keponakan dari tuan Alberto yang kebetulan berkunjung ke Indonesia ditahan agar tidak pulang dulu sebelum acara lamaran selesai karena mereka diminta untuk ikut. Bahkan Maura sang sekretaris pun diajak untuk ikut ke acara lamaran tersebut.
Sepersekian menit menunggu akhirnya Dion datang juga bersama istrinya. Vania setengah berlari mengimbangi langkah Dion yang panjang. Langkahnya begitu berat tangannya menopang perutnya yang besar seolah takut bayinya jatuh ke bagian bawah perutnya.
"Hati-hati Vania jangan lari-lari nanti perutmu terbentur tanah," ucap Maura yang ikut ngilu melihat Vania seolah susah berjalan namun dipaksakan setengah berlari. Dalam bayangan Maura Vania jatuh terpeleset dan membentur tanah.
"Hati-hati Nak Vania gimana kalau sampai perutmu tiba-tiba meletus?" Nasehat Laras diselingi canda.
"Apa tidak apa-apa kamu bawa istri kamu?" tanya Zidane kepada Dion.
"Iya nggak apa-apa dia biasa lincah di rumah kok meski perutnya besar. Lagipula saya sudah menyarankan dia untuk tidak ikut tapi dianya yang maksa, barangkali karena calon istri kamu itu teman dekatnya dulu."
"Iyakah?"
"Iya makanya dia ngotot ingin ikut."
"Ia nggak apa-apa sih cuma aku takut kalau istri kamu lahiran di sana."
"Ah nggaklah Pak lahirannya masih jauh."
"Gimana sudah siap?" tanya Laras kepada semua orang yang hadir.
Mereka semua mengambil seserahan itu dan masing-masing orang membawa minimal satu seserahan di tangannya kecuali Zidane, Laras dan tuan Alberto yang melenggang tanpa membawa apa-apa. Mereka pergi dengan tiga mobil yang dikendarai Dion dan dua orang sopir yang bekerja di rumah utama.
__ADS_1
Sedangkan di rumah Atmaja Annete dan semua yang membantu di sana bernafas lega setelah menyulap rumah Atmaja sedemikian rupa menjadi lebih rapi nan indah. Masakan pun sudah siap di meja makan dari makanan yang mereka masak sendiri maupun yang dipesan dari luar.
Sekarang mereka mandi secara bergiliran kemudian berdandan menyiapkan diri untuk menyambut para tamu sedangkan Tristan dan Nathan sudah nampak rapi dengan pakaiannya.
##
Rombongan keluarga Zidane pun datang dengan membawa banyak seserahan untuk Isyana. Isyana dan keluarga menyambut mereka dengan ramah.
Dari pihak Zidane ada Laras, tuan Alberto, Dion, Vania, Maura, Alice dan Donna yang merupakan keponakan dan adik dari tuan Alberto serta bi Ina serta beberapa pelayan di rumah belakang yang dipercayakan untuk ikut serta.
Sedangkan dari pihak Isyana ada Atmaja, Annete, dokter Adrian, Lexi dan beberapa kerabat Isyana dari desa.
Isyana terlihat cantik meskipun hanya memakai dress sederhana dengan riasan tipis di wajahnya sedangkan Zidane memakai setelan jas seperti biasa namun tetap terlihat gagah dan tampan.
Setelah dua keluarga berbaur sambil berbicara basa-basi lalu tibalah kepada inti acara yaitu melamar Isyana untuk Zidane. Karena orang tua Isyana tinggal ayahnya dan tidak miliki ibu maka yang ditugaskan secara langsung untuk melamar Isyana adalah tuan Alberto.
"Baiklah langsung kepada inti acara malam ini. Saya selaku ayah dari Zidane ingin melamar Nak Isyana untuk menjadi istri dari anak saya Zidane. Apakah Bapak menerima lamaran saya? Tentu saja saya sangat berharap dan akan merasa senang kalau sekiranya lamaran kami diterima," ucap tuan Alberto dengan penuh wibawa.
"Begini Tuan, saya memang ayah dari Isyana tapi semua keputusan ini aku serahkan kepada dia."
"Bagaimana Nak apakah kamu menerima lamaran ini?" Atmaja beralih berbicara pada Isyana.
"Bismillah Yah Syasa menerimanya."
"Alhamdulillah." Semua yang hadir di tempat itu turut bersyukur atas kesuksesan acara tersebut.
__ADS_1
Begitupun Zidane walaupun tahu Isyana akan menerimanya tetapi nyatanya jantungnya bertalu-talu sedari tadi. Sampai kepada Isyana mengucapkan bahwa dia menerimanya barulah Zidane merasa lega. Dia menghampiri Isyana dan membuka kotak kecil serta mengeluarkan cincin dari dalamnya kemudian meraih tangan Isyana untuk menyematkannya.
"Mas kebanyakan cincin ah," protes Isyana padahal di jari manisnya sudah melingkar cincin pemberian Zidane kemarin.
"Sudah jangan protes ini kemauan mama nanti kalau tidak dituruti kamu bisa dipecat jadi mantunya dan saya yang bakalan pusing," bisik Zidane di telinga Isyana.
"Udah terima aja mbak nanti kalau kebanyakan kasih aku aja." Kini sepupu Isyana yang duduk di belakang Isyana berbisik padanya.
Isyana melepas cincin yang disematkan tempo hari dan memindahkannya ke jari lainnya. Setelah itu mengizinkan Zidane memasangkan cincin yang baru. Setelah itu giliran Isyana yang memasukkan cincin pasangannya ke jari manis Zidane.
"Alhamdulillah, sebelumnya saya ingin meminta maaf kepada keluarga di sini karena sudah merepotkan. Sebenarnya Nak Isyana menolak adanya acara lamaran ini tapi saya yang memaksanya saya hanya ingin Nak Isyana merasakan seperti wanita umumnya. Bukankah Nak Isyana belum pernah dilamar? Satu hal lagi yang saya ingin katakan, saya beserta keluarga meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan anak kami terhadap Nak Isyana di masa lalu." Laras mengatakan hal itu sambil tertunduk begitupun Zidane yang merasa malu atas perbuatannya di masa lalu.
Atmaja menghela nafas berat. Sebenarnya kalau ingat masa itu Atmaja ingin marah besar tapi dikembalikan lagi kepada Isyana kalau Isyana yang menanggung semua itu bisa memaafkan apalagi dirinya. Dan dirinya pun sebenarnya ikut bersalah pada waktu itu karena ikut menyembunyikan keberadaan Isyana dari Zidane padahal laki-laki itu sudah kerap kali mendatanginya dan menanyakan keberadaan Isyana.
"Kalau Isyana saja bisa maafkan apalagi saya. Saya juga minta maaf karena waktu itu menutupi keberadaan anak saya terhadap Nak Zidane karena saya tidak tahu bahwa Nak Zidane benar-benar tulus ingin bertanggung jawab."
Kedua keluarga tersebut saling meminta maaf dan saling memaafkan.
"Karena sudah sepakat bagaimana kalau kita menentukan tanggalnya?" Laras tiba-tiba menyampaikan keinginannya.
Mereka pun berembuk untuk menentukan tanggal terbaik. Setelah melalui musyawarah yang panjang akhirnya ditentukan tanggal pernikahan mereka adalah pada awal bulan depan.
Setelah tanggal ditentukan mereka kini bersantai ria sambil menyantap hidangan yang di sediakan.
Bersambung ....
__ADS_1
Selamat membaca💓 Jangan lupa like dan Vote-nya tapi seikhlas nya saja ya! Nggak maksa kok💓🙏