
"Naura cowok Lo tuh!" ujar Rachel sambil menunjuk ke arah ruang guru.
"Belum, aku belum jadian tuh sama kak Febri," bantah Naura.
"Siapa yang lagi ngomongin kak Febri? Orang aku ngomongin om bule itu."
"Om bule?" Dahi Naura berkerut berusaha menerka siapa orang yang mereka katakan.
"Itu lo bule yang jalan sama kamu di mall waktu itu," jawab Sheila.
"Ooh Om Lexi maksudnya. Ya udah biarin aja deh!" ucap Naura enteng.
"Kok dibiarin sih, jangan-jangan dia nyari Lo lagi," sela Mita.
"Nggak mungkin Mit, aku udah nggak punya urusan lagi dengan dia."
"Beneran dia bukan cowok Lo?" tanya Rachel antusias.
"Beneran Hel."
"Kalau begitu kita boleh dong deketin dia," ujar Sheila sambil menaik-turunkan alisnya.
"Terserah deh kalau kalian naksir dia deketin aja, embat sekalian. Hahaha...."
"Oke kalau begitu tapi kamu jangan menyesal ya!" ucap Rachel dan Sheila sambil melangkah menjauhi Naura dan Mita menuju ke arah ruang guru. Sesampainya di sana dia menunggu Lexi di luar pintu.
"Hai Om?" sapa mereka ketika melihat Lexi keluar dari ruangan.
"Hai juga," balas Lexi sambil mencoba mengingat kedua gadis di depannya kini. Sepertinya dia mengenalnya.
"Oh kalian temannya Naura ya." Lexi ingat bahwa merekalah yang membuat Naura ngambek beberapa hari yang lalu.
"Iya Om pa kabar?"
"Baik, Naura nya mana ya?"
"Tuh Om!" tunjuk Rachel ke arah Naura dan Mita.
Melihat mata Lexi tertuju padanya buru-buru Naura menarik lengan Mita.
"Ayo Mit kita ke kantin aja, biarin dah mereka merayu om Lexi."
"Tunggu-tunggu!" Mita mencegah pergerakan tangan Naura.
"Kamu benar nggak pacaran kan sama om-om itu?" lanjutnya.
"Astaga Mita nggak percayaan sih sama aku, padahal aku tuh kalau ada apa-apa curhatnya sama kamu. Kamu tahu sendiri aku naksirnya sama siapa."
"Iya aku tahu tapi sikapmu yang seolah menghindarinya kayak sepasang kekasih yang lagi berantem deh."
"Ngaco kamu."
"Tapi kalo aku jadi kamu aku bakalan milih om-om itu deh dibanding kak Febri yang playboy itu."
"Namanya juga cinta Mit mana bisa dipaksain lagian kalau sama om itu umurku jauh Mit terpaut dua belas tahunan. Amit-amit dah masak aku dapatnya perjaka tua."
" Hati- hati loh ngomong entar Lo naksir sama dia. Kalau buatku nggak apa-apa sih tentang masalah umur yang penting cakep dan tajir."
"Kalo kamu tuh maunya yang tajir mulu."
"Ayolah Beb di dunia ini siapa sih yang nggak butuh harta?"
"Ia, iya deh, asal kamu tahu aja ya dia udah naksir sama seorang cewek tapi ditolak dan sekarang lagi berusaha dapetin tuh cewek kembali dan dia minta aku ngebantu dapatin cewek itu. Makanya kemarin dia peluk-peluk aku tujuannya hanya untuk memanas-manasi ceweknya yang kebetulan ada di sana. Tapi kalian malah menganggap aku macem-macem makanya aku berkomitmen untuk menjauhi dia. Kalau kamu yang temen-temen aku aja pikirannya begitu bagaiman dengan orang lain? Bisa-bisa mereka menganggap aku sebagai simpanan om-om bakalan hancur reputasi ku sebagai anak baik."
"Sorry Ra kemarin kita kan cuma bercanda, nggak usah dimasukin ke dalam hati lagi. Lagian ngapain memikirkan perkataan orang? Yang penting kita tidak berbuat yang salah tidak perlu pedulikan perkataan orang lain."
"Ya udah deh Mit kita langsung ke kantin yuk, perutku sudah berbunyi terus dari tadi."
"Ya udah ayo."
Mereka berjalan menuju ke kantin, sesampainya di sana langsung memesan menu kesukaan bersama.
"Bu pesan baksonya dua ya!"
"Oke Neng, ditunggu ya!" jawab ibu kantin.
Pelajaran jam terakhir sudah usai, Naura langsung meluncur keluar kelas meninggalkan ketika sahabatnya yang masih membicarakan sesuatu dengan guru mereka.
"Aku duluan ya teman-teman!"
"Iya Ra, hati-hati ya!"
Sesampai di depan pagar sekolah Naura celingukan melihat barangkali ada kendaraan umum yang lewat namun sedari tadi menunggu belum ada satupun yang muncul. Tiba-tiba saja tangannya ditarik seseorang. Naura langsung menoleh.
__ADS_1
"Om, ngapain di sini?"
"Menunggu kamu pulang lah."
"Buat apa? Aku sudah tidak berminat membantu Om lagi. Kalau perlu semua pemberian Om nanti aku kembalikan."
"Ayo aku antar," ajak Lexi tanpa menghiraukan perkataan Naura.
"Cie-cie...." Tiba-tiba saja ketiga sahabatnya nongol.
"Bilangnya aja nggak ada hubungan apa-apa tapi kenyataannya di belakang kami ... "
"Apaan sih Rache!" potong Naura ucapan Rachel dia benar-benar kesal dengan tuduhan temannya itu.
Mita mendelik ke arah Rachel. Seolah mengatakan mengapa kau bikin Naura sebel lagi.
"Tuh kan Om sudah ku bilang jauhi Naura. Aku tidak mau orang lain berpikir macam-macam sama kita."
"Sorry," ucap Lexi.
"Kalian semua mau nggak ikut jalan-jalan sama om?"
"Beneran Om?" Sheila antusias.
"Emangnya mau kemana Om?" sambung Mita.
"Refreshing, terserah kalian mau jalan-jalan kemana om antar."
"Oke Om," ucap mereka serempak lalu masuki mobil tapi tidak dengan Naura dia tetap berdiri di pinggir jalan raya.
"Ayo Ra!" ajak Sheila.
"Sorry gue nggak bisa ikut guys."
"Yaa ... Naura nggak kompak nih," seru teman-temannya.
"Kenapa? Masih takut sama argumen orang? Bukankah kita sudah tidak jalan berdua?"
"Bukan begitu Om tapi aku harus langsung kerja."
"Biar aku nanti yang bicara sama Yuna."
"Tapi Om....?"
"Bukan begitu Om tapi ... "
"Sudah jangan membantah nanti teman-teman kamu pada kecewa."
"Sebenarnya maunya Om apa sih?"
"Cuma mau jalan-jalan sama kamu karena setelah ini mungkin kita tidak akan bertemu lagi karena om harus balik ke negara om."
"Ayo Naura bentar lagi kita bakalan sibuk sendiri-sendiri ngejalanin prakerin belum tentu ada waktu untuk shopping bareng jadi mumpung sekarang ada kesempatan nggak ada salahnya kita pergi bersama," cetus Sheila panjang lebar.
"Baiklah," ucap Naura pasrah lalu ikut masuk ke dalam mobil.
"Kira-kira kita kemana dulu ini?" tanya Lexi pada teman-teman Naura.
"Ke mall dulu ya Om, kami sudah lama nggak shopping bareng," jawab Sheila.
"Oke."
Sesuai permintaan Lexi melajukan mobilnya ke pusat perbelanjaan terbesar di Jakarta.
Sesampainya di dalam mall mereka sibuk memilih-milih barang. Ada yang memilih sepatu, tas dan ada yang hanya belanja kebutuhan sehari-hari.
"Kamu nggak beli apa-apa?" tanya Lexi karena sepertinya yang tidak bergairah saat itu hanyalah Naura.
"Nggak Om."
"Masih kepikiran kerjaan?"
Naura diam. Memang benar apa yang dikatakan Lexi saat ini dia sedang memikirkan pekerjaannya. Kali sampai dia dipecat darimana dia akan mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan sekolah dan sehari-harinya sedangkan beberapa hari ini dia melarang neneknya untuk berjualan dulu. Tapi kalau harus menolak keinginan teman-temannya hari ini dia merasa tidak enak. Walau bagaimanapun teman-temannya selalu ada tatkala dia susah dan selalu siap membantu ketika Naura membutuhkan pertolongan.
"Aku sudah menghubungi Yuna tadi dan dia tidak keberatan."
"Ia makasih Om."
"Om beneran mau balik?" Entah mengapa dia merasa sedih.
"Ia, mungkin lusa."
"Rachel!"
__ADS_1
"Ia Om ada apa?"
"Ajak Naura belanja, ambilkan semua barang yang dibutuhkan dia! Nanti semua belanjaan kalian aku yang bayar."
"Beneran Om?"
"Hemm."
"Hey guys belanjaan kita hari ini akan dibayar semua oleh om Lexi."
"Benarkah?"
"Ia, serius."
"Hore...." Mereka berjingkrak kegirangan.
"Ayo Naura kita belanja!"
##
Malam sudah larut ketika Naura pulang dari cafe, tidak seperti biasanya malam ini cafe begitu ramai hingga sampai jam dua belas pun masih banyak pengunjungnya. Biasanya kalau malam seperti ini Naura akan pulang dengan diantar Yuna karena kebetulan arah rumahnya berlawanan dengan arah rumah karyawan lainnya. Tapi sayangnya hari ini Yuna meninggalkan cafe lebih awal karena ada kepentingan.
Dengan langkah tergesa-gesa dia keluar dari cafe karena tahu neneknya pasti khawatir karena dia pulang terlambat.
Ketika itu melintas seorang tukang ojek yang kebetulan lewat di sana.
"Bang, ojek bang," panggil Naura.
Tukang ojek tersebut berhenti di depan Naura.
"Kemana Neng?"
"Ke jalan A bang."
"Baik Neng ayo naik."
"Bang ini kok lewat sini ya biasanya kan jalur yang itu?"
"Kalau lewat sini lebih cepat Neng."
"Ooh."
Naura bersikap tenang walaupun sebenarnya dalam hatinya merasa takut apalagi tatkala melihat jalanan yang dilewatinya terasa angker.
"Bang ini mau kemana sih?"
"Sudah sampai!" ucap tukang ojek tersebut.
"Apa-apaan nih bang ini tempat apa?"
"Sudah jangan banyak tanya cepat turun!"
Naura turun dari motor dan segera berlari dari tempat tersebut.
"Mau kemana kamu! Kamu tidak akan bisa lari dariku," ujar tukang ojek tersebut tapi Naura tak menggubris ucapannya terus berlari dan berlari tidak tahu harus kemana yang penting saat ini harus menghindar dari tukang ojek aneh ini.
"Mau kabur kemana Neng?" Tiba-tiba saja ada orang lain dari depan Naura. Naura gelagapan mencoba berlari ke arah samping namun ternyata dirinya dikepung dari semua arah.
"Gawat tukang ojek itu tidak sendirian, banyak temannya apa yang harus aku lakukan?" gumamnya dalam hati. Tubuh Naura gemetar ketakutan, peluh menetes dari seluruh raganya.
"Apa yang kalian inginkan dariku?"
"Tenang permintaan kami tidak banyak hanya satu tolong biarkan kami mencicipi tubuhmu."
"Tidak itu tidak akan terjadi lebih baik aku mati daripada harus memenuhi hasrat kalian!" bentak Naura.
"Kamu pikir kami butuh izin darimu?" ucap salah satu dari mereka sambil terus mendekat ke arah Naura.
"Tidak." Naura menggeleng.
"Namun mereka terus merapat ke arah Naura.
"Tidak, Tolong!"
"Berteriak lah bahkan sampai pita suaramu putus tidak akan ada yang menolong mu."
"Ampun lepaskan aku, aku mohon."
"Melepaskan mu? Jangan mimpi kamu!" bentak salah satu dari mereka.
"Tidak, tolooooong!"
Bersambung....
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca jangan lupa tinggalkan jejak. Like, komen, vote dan hadiahnya.๐