
"Hai Dri selamat datang di rumah sakit milikku. Ayo aku antar ke ruanganmu." Zidane menyambut Adrian di depan pintu rumah sakit.
"Terima kasih yan Dan atas bantuannya tapi sebelum aku bertugas aku mau kamu mengantarkan aku ke dokter spesialis genetika dulu."
"Mau ngapain?"
"Mau melakukan tes DNA."
"Tes DNA, siapa yang mau di tes?"
"Aku sama Adel."
"Hah." Zidane terbelalak mendengar jawaban Adrian, dia lalu menarik Adrian menjauh dari Annete dan Adel.
"Nggak salah kamu Dri?" Adrian hanya menggeleng.
"Kamu tidak kasihan sama Adel apa, sampai meragukan dia segala? Apakah ini tidak akan menyakiti hatinya?"
"Tidak Dan justru ini yang terbaik buat kami dan ini juga atas permintaan Adel kok."
"Kalian berdua aneh ya."
"Ceritanya panjang Dan tapi kalau kamu paham kondisi kami saya yakin kamu juga akan mendukung kami untuk melakukan ini semua."
"Ya sudah terserah kamu lah. Aku pikir kalian datang bareng karena hari ini pertama kali kamu bekerja di tempat ini, eh nggak tahunya malah mau tes DNA segala. Kalau begitu ayo aku antar ke ruangan dokter Lukman."
Adrian mengangguk. "Ayo Del!"
Adel pun mengangguk dan mereka bertiga mengikuti langkah Zidane menuju ruangan dokter Lukman.
"Selamat pagi Pak Zidane, ada yang perlu saya bantu?" sapa dokter Lukman.
"Iya Dok tapi sebelumnya perkenalkan dulu, ini dokter Adrian yang akan menggantikan dokter Fras."
Dokter Lukman mengulurkan tangan memperkenalkan diri. "Halo saya dokter Lukman, senang bertemu dengan Anda."
Adrian pun menjabat tangan dokter tersebut dan berkata," Saya Adrian senang juga bertemu dengan Anda."
"Oke Pak Zidane tadi katanya ada yang bisa saya bantu?"
"Begini Dok, dokter Adrian ini ingin melakukan tes DNA bersama anaknya, Adel. Apakah mereka benar-benar ayah dan anak ataukah bukan. Saya harap dokter Lukman bisa membantunya."
"Pasti. Maaf dokter Adrian kira-kira Anda mau menggunakan sampel apa?"
"Bagaimana kalau darah Dok biar lebih akurat?"
"Kalau menurut saya bagaimana kalau menggunakan air liur saja sebab anak Anda kan masih kecil jadi kalau harus mengambil sampel darah takut menyakitkan buat dia."
"Keakuratannya Dok?"
"Sama saja."
"Baiklah kalau begitu bagaimana baiknya menurut dokter saja yang penting sebelum satu minggu hasilnya sudah keluar ."
"Akan saya usahakan. Baiklah kalau begitu bisa kita langsung lakukan sekarang?"
"Iya Dok kami sudah siap. Iya kan Del?"
"Iya Ayah."
"Baiklah kalau begitu ayo."
"Saya keluar dulu ya Dok, Dri."
"Iya Pak."
"Iya Dan."
Akhirnya dokter Lukman mengambil sampel Adel dan Adrian dibantu asistennya.
__ADS_1
"Sudah," ucap dokter Lukman setelah menyelesaikan pengambilan sampel. "Nanti kalau hasilnya sudah keluar saya akan langsung memberi tahu Dokter Adrian.
"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu Dok, mari."
"Iya, silahkan."
"Sudah?" tanya Zidane ketika melihat Adrian keluar ruangan dan dia pun mendekati Adrian kembali.
"Iya sudah."
"Kalau begitu aku antar ke ruanganmu."
Adrian mengangguk dan mengikuti langkah Zidane kembali. Setelah sampai di ruangannya dan duduk sebentar Annete dan Adel permisi pulang.
"Mas aku sama Adel permisi pulang ya, soalnya kalau di sini terus, takut mengganggu pekerjaan Mas Adri."
"Iya nanti aku suruh sopir yang jemput kalian ya."
"Tidak usah aku naik taksi saja," tolak Annete.
"Bagaimana kalau ikut aku saja, kebetulan aku juga mau pulang jadi sekalian aku anterin kalian."
Annete memandang wajah Adrian meminta persetujuan.
"Iya nggak apa-apa kalian ikut Zidane saja."
"Aku nitip mereka ya Dan?"
"Iya aman pokoknya kalau sama aku."
"Iya makasih."
Akhirnya Annete dan Adel pulang nebeng dengan Zidane. Setelah Annete pergi Adrian menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Pikirannya kacau kembali. Bagaimana kalau Adel malah terbukti bukan anaknya? Adrian meraup wajahnya kasar. "Ah aku harus membuang pikiran ini. Adel itu pasti anakku," gumamnya.
"Adel itu anakku. Adel itu anakku." Begitu ucapnya berulang-ulang kali. Hingga ketika pasien mulai berdatangan barulah Adrian bisa melupakan kegelisahannya.
"Net boleh aku tahu kenapa Adrian melakukan itu semua?" tanya Zidane pada Annete di dalam mobil. Annete pun menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutup- tutupi sedangkan Adel sudah terlelap dalam dekapan Annete.
"Kalau saya yakin Pak Adel itu pasti anak Mas Adrian."
"Darimana kamu bisa yakin? Kalau
Saya pun berharap memang demikian."
"Entah darimana Pak tapi aku yakin saja. Soalnya saat aku lihat Mas Adri aku ingat Adel begitupun sebaliknya. Saya pikir mereka sama tapi aku tidak bisa menjawab darimana kesamaannya. Aku lihat wajah mereka mirip tapi orang lain bilang tidak."
"Semoga keyakinanmu itu benar Net. Aku tidak mau Adel Koleps lagi kayak dulu."
"Amin kita doakan saja ya Pak."
Zidane hanya mengangguk.
Setelah itu tidak ada pembicaraan lagi diantara keduanya. Suasana di dalam mobil tampak hening. Annete lebih suka memandangi wajah Adel yang tertidur pulas sambil sesekali mengelus-elus rambutnya yang nampak mulai tumbuh di dalam wik yang terlepas. Annete hanya bisa menitikkan air mata berharap masa depan Adel akan lebih baik dari hari ini. Sedangkan Zidane lebih suka memandangi pemandangan jalanan. Hingga akhirnya mobil Zidane terparkir mulus di depan rumah Adrian.
"Sudah sampai Net apa perlu aku gendong Adel ke dalam?" Zidane menawarkan diri.
"Tidak usah Pak, aku kuat kok gendong Adel." Zidane hanya mengangguk dan Annete berusaha menggendong Adel. Namun gerakan tangan Annete kali ini mampu membangunkan Adel dari tidurnya.
"Sudah sampai ya Bunda?"
"Iya sudah sampai kok sayang. Ayo bunda gendong."
"Nggak usah Bunda, Adel bisa jalan sendiri kok."
"Ya sudah ayo." Mereka berdua pun turun dari mobil."
"Net?"
"Iya Pak?"
__ADS_1
"Sering-sering bawa Adel main ke rumah sama si kembar biar sedikit membuat dia melupakan kesedihannya."
"Iya Pak."
"Net?"
"Iya Pak?"
"Bisa nggak sih kamu jangan manggil aku Pak. Suami kamu itu sahabat saya dan kamu pun sahabat istri saya. Jadi panggil nama saja ya."
"Iya."
Beberapa hari kemudian Annete dan Adel ke rumah sakit karena di telepon oleh Adrian.
"Ini Mas aku bawakan makanan untuk kamu. Ini hasil masakan aku sama Adel loh."
"Wah anak ayah udah mulai belajar masak ya." Adel hanya menanggapi dengan senyuman.
"Taruh aja dulu. Makannya nanti saja ya sayang."
"Mas, ada apa kamu memanggil kami ke sini? Apakah hasil tesnya sudah keluar?"
"Iya tadi dokter Lukman memberikannya."
"Terus hasilnya?" Annete menjadi khawatir melihat raut wajah Adrian. Jangan-jangan hasilnya tidak cocok. Adel pun deg-degan dibuatnya.
"Aku belum membukanya. Mungkin Adel yang mau melihat duluan?"
"Nggak ah Yah, Adel takut."
"Kamu aja yang buka Mas."
"Aku belum berani."
"Astaga ayah dan anak sama saja. Biar aku yang buka." Annete mengambil amplop tersebut dari tangan Adrian.
"Bismilla hirrahma nirrahim." Annete mulai membuka amplop tersebut dengan hati yang risau. Sekuat apapun keyakinannya tetap saja dia juga merasa khawatir. Bagaimana caranya dia memberitahukan hasilnya kalau tidak cocok nanti.
Annete membelalakkan melihat hasilnya kemudian dia terlihat cemberut.
"Bunda." Adel merasa takut melihat ekspresi wajah Annete. Dia sudah dapat menebak pasti hasilnya tidak cocok.
"Apa hasilnya?" Adrian jadi gusar. "Apa hasilnya tidak cocok?"
"Tara...." Annete menunjukkan kertas tersebut pada keduanya sambil tersenyum.
"Apa?" Adrian terbelalak kemudian langsung sujud syukur. Adel yang tidak mengerti jadi bingung. "Apa maksudnya ini bunda?"
"Maksudnya ayah dan Adel adalah ayah dan anak."
"Benarkah?" Adel terlihat sumringah.
"Ini baca, 'Adel dan Adrian 100% cocok'."
Adel langsung berjingkrak senang begitu pun dengan Adrian. Dia langsung menggendong tubuh Adel dan memutar-mutar tubuhnya sambil keduanya tertawa-tawa.
"Mas hentikan! Jangan diputar-putar begitu tubuh Adel nya, takutnya bahaya."
"Ah iya." Adrian langsung menghentikan aksinya.
"Maaf karena ayah senang jadi lupa segalanya," ujar Adrian sambil mendekap erat tubuh putrinya.
"Iya bahkan aku sampai dilupakan," ucap Annete cemberut.
"Bunda cemburu Yah," ucap Adel sambil tersenyum.
"Sini aku peluk semuanya," ucap Adrian lalu memeluk tubuh istri dan putrinya. "Ah pokoknya hari ini aku bahagia."
"Terima kasih ya sayang selalu mendampingi dan menyemangati aku. Tanpamu aku pasti rapuh," ucap Adrian pada Annete.
__ADS_1
Bersambung.......
Jangan lupa tinggalkan jejak!๐