
Sedang asyik makan tiba-tiba ponsel Lexi berdering.
"Sebentar." Lexi meninggalkan meja makan dan menjawab panggilan dari Rafael.
"Halo ada apa?"
"Tuan tiketnya sudah siap dan jadwal penerbangannya tinggal satu jam lagi."
"Oke kami akan bersiap-siap, kamu tunggu aku di sana."
"Baik Tuan."
Setelah menutup teleponnya Lexi kembali ke samping semua orang.
"Siapa yang menelpon Lex? Apa Ara?" tanya Zidane.
"Bukan bang tapi Rafael."
"Ada apa katanya?"
"Jadwal penerbangan satu jam lagi jadi saya harap selesai makan kalian langsung bersiap-siap."
"Kalau begitu aku permisi dulu untuk mengemas pakaianku ke dalam koper."
"Oke silahkan." Annete pun berlalu.
"Ini kuncinya Kak." Wilson memberikan kunci kamar yang pernah Annete tempati dulu.
"Ikut Wil!" pintanya, Wilson pun mengikuti langkah Annete dan membantu kakaknya berkemas di dalam kamar.
Setelah selesai Annete kembali menghampiri Angel dan yang lainnya yang kini sudah duduk di ruang tamu.
"Bagaimana sudah?" tanya Adrian.
"Sudah Mas."
"Nggak ada yang ketinggalan?"
"Kayaknya nggak ada."
"Oke kalau begitu kita segera berangkat."
"Kakak pamit ya Wil, kamu baik-baik di sini."
"Iya Kak, Kakak jangan lupa ya sering-sering tengokin Wil di sini."
"Akan kakak usahakan."
"Wil kakak juga pergi ya. Semangat jalani usahanya. Meski kakak tidak di sini tapi kakak akan selalu berdoa untuk kebaikanmu. "
"Iya kak Angel terima kasih atas semuanya. Wil harap di negara yang baru kakak menjalani kehidupan yang baru. Jangan kembali ke dunia hitam kakak lagi ya!"
"Iya Wil kakak janji akan berubah tapi kamu doakan kakak juga ya supaya kakak mampu menjalani kehidupan kakak yang baru nantinya."
"Pasti Kak."
"Sudah kami permisi ya Wil, kalau kamu butuh bantuan kami nantinya, kamu bisa menelpon Annete atau langsung sama aku," kata Lexi.
"Iya Kak."
"Ayo semuanya!"
Mereka langsung masuk ke dalam mobil yang berbeda. Para lelaki masuk ke dalam mobil yang dikendarai Zidane sedangkan Annete dan Angel masuk ke dalam mobil yang dikendarai Adrian.
__ADS_1
Dalam mobil para lelaki saling bercanda ria. Berisik karena saling menggoda. Membayangkan istri-istri mereka yang akan menyambut dengan suka cita. Mereka malah meledek Edrick yang bakalan tidak ada yang menyambutnya nanti sampai di rumah.
Dalam mobil yang lain tampak hening, tidak ada satupun yang berbicara. Mereka larut dalam pikiran masing-masing. Adrian berpikir bagaimana caranya nanti melamar Annete dan apakah wanita tersebut akan menerimanya dengan tulus bukan lagi terpaksa karena Adel sedangkan Annete berpikir apakah benar pernyataan Adrian tempo hari di rumah sakit bahwa dirinya menginginkan Annete untuk menjadi pendamping hidupnya. Apakah Adrian memang benar-benar mencintainya ataukah hanya terobsesi padanya karena wajahnya yang mirip dengan Anisa.
Ah, mengapa aku masih meragukannya, bukankah dia sudah menceraikan Anisa? Ah entahlah.
Sementara Adrian dan Annete saling merasakan kegalauan Angel malah merasakan ketakutan. Dia baru ingat bahwa sebulan yang lalu jadwal dia melepaskan implan dan menggantinya dengan yang baru. Mengapa dia sampai melupakannya? Bagaimana kalau dirinya memang hamil seperti kecurigaannya sedari tadi? Terus kalau memang ia siapakah ayah dari anaknya nanti?
Ah, tidak mungkin.Tidak mungkin aku hamil. Bisa-bisa Annete murka dan tidak mau menganggap ku sebagai sahabatnya lagi kalau tahu aku hamil tanpa suami.
"Ah, Annete tidak boleh tahu kalau sampai aku hamil beneran. Akh...!" Angel menjambak rambutnya frustasi.
Kenapa aku bisa seteledor ini sih! Semoga praduga ku salah, semoga aku hanya masuk angin saja.
"Kenapa? Kamu sakit kepala Gel?" tanya Annete yang melihat Angel memijit-mijit kepalanya sedari tadi.
"Enggak apa-apa cuma sedikit pusing."
"Apa perlu kita berhenti dulu untuk mengecek kesehatanmu Gel? Kebetulan di depan itu ada klinik jadi kita bisa berhenti sebentar."
"Ah tidak usah Dri aku hanya pusing sedikit mungkin karena mabuk jalanan. Yang lain sudah ada depan itu nanti kita ketinggalan pesawat."
"Sejak kapan Angel mabuk karena naik mobil?" batin Annete.
"Baiklah kalau begitu, Net tolong ambilkan obat di dalam tasku. Barangkali bisa meredakan pusing dan mual-mualnya Angel."
Annete meraih tas Adrian. "Yang mana obatnya Mas?" Sambil memperlihatkan obat-obatan pada Adrian.
"Iya yang itu yang ada di tangan kananmu. Berikan satu tablet pada Angel."
Annete pun mengulurkan obat tersebut beserta sebotol air mineral.
"Ini Gel diminum dulu."
"Net bawa minyak kayu putih tidak?" Sekarang harapannya cuma satu mual-mualnya hilang seperti setelah menghirup aroma minyak kayu putih tadi di rumah Wilson. Namun sayangnya Annete tidak membawanya. Angel merutuki dirinya sendiri kenapa tadi tidak membawa milik Wilson saja.
"Mas bisa berhenti sebentar di mini market aku ingin membeli sesuatu," pinta Annete dan Adrian menurut dia menepikan mobilnya di pinggir jalan. Annete melihat sekilas ke arah jam tangannya, sepertinya waktunya sudah mepet. Dia berlari ke arah mini market dan membeli yang diinginkan Angel setelah itu berlari lagi dan masuk ke dalam mobil.
Sampai di bandara ketiga sahabat sudah menunggu. Sesaat kemudian terdengar pemberitahuan bahwa pesawat yang akan mereka tumpangi akan segera berangkat. Mereka pun masuk ke dalam pesawat dan menyerahkan mobil mereka pada suruhannya.
Setelah melakukan perjalanan panjang akhirnya mereka tiba di tanah air. Mereka langsung dijemput oleh sopir dan langsung menuju kediaman Zidane Sedangkan Edrick langsung pulang ke rumahnya sendiri karena sudah dijemput oleh sopir pribadinya.
Setelah sampai di depan kediaman Zidane mereka sudah disambut oleh keluarga di sana. Annete merasa terharu karena melihat semuanya antusias menyambut kedatangannya. Tak terasa air matanya menetes. Dia begitu bahagia seperti menemukan keluarganya kembali. Iya dia memang menganggap Isyana dan si kembar adalah keluarga kedua selain ayahnya.
Setelah menyapa dirinya Laras dan Alberto beralih menyapa Angel kemudian berbincang-bincang sambil berdiri bersama Lexi, Adrian dan Lexi.
"Aunty!"
"Bunda!"
Ketiga anak tersebut berebutan menghampiri Annete.
"Aunty kami kangen," ucap Tristan sambil merentangkan kedua tangannya ingin dipeluk Annete.
"Sini Aunty peluk kalian semua." Annete mendekap ketiga anak tersebut bersamaan. Kemudian mengecup kening ketiga anak tersebut secara bergantian. Mereka adalah anak-anak kesayangannya yang pernah mewarnai hidupnya dulu.
"Aunty juga kangen kalian semua. Bagaimana kabar Kalian?" tanya Annete.
"Baik Aunty."
"Baik Bunda. Bunda jangan tinggalin Adel lagi ya!" Adel berucap dengan mata berkaca-kaca.
"Iya sayang," ucap Annete sambil memeluk Adel kembali. "Bunda janji nggak bakalan ninggalin Adel lagi. Apapun yang terjadi Annete tidak akan meninggalkan Adel dan si kembar walaupun kenyataannya mungkin saja dia tidak bisa bersatu dengan Adrian. Bagaimanapun momen ternyaman adalah ketika dia membersamai anak-anak tersebut setelah kehilangan ayahnya.
__ADS_1
"Eh dia siapa?" Mata Annete kini tertuju pada bayi dalam gendongan Isyana.
"Dia itu adik kami Aunty."
"Oh mbak Syasa udah lahiran ternyata. Maaf Annete tidak bawa apa-apa. Nggak tahu kalau Mbak udah lahiran. Nggak sempat beli juga. Maaf ya Atan, Itan dan juga kami Adel aku tidak bawa oleh-oleh."
"Nggak apa-apa Aunty."
"Nggak apa-apa bunda. Kedatangan Bunda saja sudah menjadi hadiah buat kami. Iya nggak Atan, Itan?"
"Iya Del."
"Iya benar kata Adel Net, kita nggak butuh oleh-oleh." Sekarang Isyana yang berbicara.
"Mbak boleh aku gendong babynya?"
"Oh iya ini." Isyana memberikan baby Fazila pada Annete.
"Cantik ya babynya kayak Mbak Syasa."
" Iya lah Aunty cantik kayak mama Kalau kayak kami mah ganteng."
"Kalian ini ya narsisnya masih tinggi ternyata."
"Hehe..." Mereka hanya cengengesan.
"Ayo Net masuk ke dalam!"
"Iya Mbak." Annete pun mengikuti langkah Isyana.
"Aunty tunggu, itu temannya nggak diajak?"
"Oh ya Gel ayo masuk!"
"Nggak Net aku mau langsung cari kontrakan saja."
"Itu bukannya Aunty yang di makam waktu itu ya!" ucap Nathan.
"Iya, kalian Nathan dan Tristan kan?"
"Iya Aunty, kalau tidak salah nama Aunty ini Angel kan?" tebak Tristan.
"Iya benar."
"Ayo masuk Gel, maaf tadi aku hanya fokus ke Annete saja jadi tidak melihat mu. Aku minta maaf ya bukan maksudku mengabaikan mu."
"Iya nggak apa-apa Mbak."
"Ayo masuk Aunty!"
"Itan kamu kok inget sih nama Aunty itu. Aku aja lupa, kan kita sudah lama ketemunya?" bisik Nathan.
"Iya pasti ingatlah Atan orang Aunty ini adalah patokan saya untuk mencari istri nantinya."
"What?" Nathan terbelalak, heran dengan Tristan. "Kecil-kecil sudah bicara tentang istri."
"Habisnya Aunty Angel cantik dan seksi sih."
Nathan hanya geleng-geleng kepala mendengar penuturan adiknya.
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan jejak!๐
__ADS_1