Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Louis Part 49. Hari Pernikahan 2


__ADS_3

Kedua pengantin itu hanya saling pandang sambil tersenyum sedangkan kedua besan tersebut saling merangkul dan memeluk karena bahagia cita-cita mereka untuk berbesanan terkabul sudah.


Louis dan Nindy lalu melakukan sungkem kepada kedua orang tua mereka.


"Selamat ya!" ucap Zidane menepuk pundak Louis. Saat mereka berdua sudah selesai melakukan sungkeman. Louis menoleh ternyata teman-temannya sudah berdiri di belakang.


"Hai kalian ada di sini juga, kok nggak bilang-bilang sih," protes Louis.


"Kok malah kamu yang protes sih, kamu aja yang cuek dengan keadaan, orang kami semua duduk di situ masa kamu nggak lihat?" tunjuk Zidane pada suatu tempat yang jelas terlihat dari arah Louis duduk. Zidane menggelengkan kepala.


"Kami kayak tamu yang tidak dianggap." Dion menimpali sambil berekspresi masam.


"Jangan begitu lah Bro, aku benar-benar nggak lihat tadi." Louis merasa tidak enak.


"Bagaimana mau lihat kalau nunduk terus dari awal masuk ruangan. Giliran mendongak yaaaa ... yang ditatap cuma wajah mempelai wanitanya. Nah kami dianggap makhluk tak kasat mata. Sebenarnya kamu menganggap kami teman nggak sih?" Andy semakin membuat Loius merasa bersalah.


"Maaf, benar-benar maaf." Louis memohon sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada.


"Mentang-mentang sudah nggak jomblo lagi, lupa deh sama kita-kita," imbuh Dion.


Edrick terkekeh sambil menepuk pundak Louis. "Jangan di denger tuh ocehan mereka bisa-bisa tambah menjadi-jadi dan kamu bakalan stres sendiri."


"Cih dibelain, mentang-mentang Angel sudah aman karena Louis sudah menikah." Adrian menimpali ucapan Edrick membuat Nindy memandang wajah Louis seolah meminta penjelasan. Louis hanya menggelengkan kepalanya.


"Selamat ya Lou, sorry tadi kita-kita cuma bercanda," ucap Zidane.


"Iya makasih ya."


"Selamat ya."


"Selamat ya."


Mereka semua berangkulan dan turut bahagia karena semua sahabatnya sudah menemukan pendamping hidupnya masing-masing.


"Semoga langgeng sampai kakek-nenek." Dion terkekeh.


"Makasih Yon, semoga hanya maut ya yang bisa memisahkan kita sama istri-istri kita."


"Amin." Mereka semuanya mengaminkan perkataan Louis.


"Ngomong-ngomong mana istri dan anak-anak kalian?"


"Tuh mereka sudah nyulik istri kamu," ujar Zidane sambil menunjuk ke arah istri-istri mereka yang sedang menarik tangan Nindy kemudian berfoto selvi bersama.


"Dasar wanita kalau lagi ngumpul tak pernah melewatkan sesi foto bersama," keluh Dion.


"Bagus lah Yon mumpung lagi ngumpul, kalau nggak begini jarang-jarang kita bareng. Kadang sudah kumpul semua eh Adrian tidak ada, kadang juga Louis yang nggak ada. Mesti, nggak lengkap. Mumpung formasi lengkap yuk kita bergabung," cetus Zidane.


"Baiklah." Mereka semua mengikuti langkah Zidane menuju ke tempat para istri berada. Mereka pun langsung berfoto bersama. Kemudian para lelaki memberikan ucapan selamat pada Nindy dan para istri-istri memberikan ucapan selamat pada Loius.


"Berasa kayak keluarga besar kalau kayak gini." ujar Andy.

__ADS_1


"Iya-iya benar," jawab Adrian.


"Lexi sama Ara nggak ikut kalian?"


"Nggak pulang mereka," sahut Andy.


Tiba-tiba Nathan dan Tristan menghampiri Louis. "Selamat ya Om akhirnya om Louis menikah juga," ucap Nathan memberikan ucapan selamat.


"Semoga segera dikasih dedek bayi," lanjut Nathan.


"Kami pikir om Louis akan terus menjomblo karena tidak jadi menikah dengan tante Angel." Tristan berucap sambil cengar-cengir.


"Dan, kamu kasih apa sih anak kamu ini?" tanya Louis pada Zidane dan Zidane hanya mengangkat bahu.


"Kenapa Om gantengnya awet ya?" tanya Tristan sambil tersenyum manis.


"Iya sikap jahilnya juga awet."


"Dikasih formalin dia," sahut Andy lalu terkekeh.


"Om!" Tristan protes, tidak terima. "Kegantengan kami itu a-la-mi dan tanpa bahan pe-nga-wet," ucap Tristan dengan mengeja.


"Iya-iya deh." Mereka tertawa bersama.


"Ngomong-ngomong katanya dia pembantu elo kok malah nikah sama dia?" tanya Adrian.


"Hehe ...." Louis hanya nyengir.


"Ternyata elo bohongin kita," ucap Zidane.


"Jadi pada saat lahiran Annete sebenarnya elo sudah tidak jomblo ya?" tanya Adrian penasaran.


"Ya begitulah tapi waktu itu aku sedang ada masalah sama dia, jadi ya ngomong sekarepnya."


"Yaelah pada ngeledek kami juga karena sudah jadi bapak-bapak," protes Edrick.


"Maklum waktu itu aku lagi stres."


"Kayaknya kisah elo kayak novel yang dibaca Syasa Terpaksa Menikahi Pembantuku." Zidane memotong pembicaraan mereka.


"Nggaklah Bro aku memang mau kok sama dia, nggak terpaksa."


"Cih enggak terpaksa, buktinya tadi murung pas belum ketemu calon bini." Dion cekikikan.


"Diancam apa oleh tante Ani sampai kamu mau menerima perjodohan ini?"


"Mau dipecat jadi anak dan katanya tidak ikhlas dunia akhirat kalau tidak nurut."


"Astaga Tante Ani serem juga ya." Isyana ikut menimpali dan Nindy hanya tersenyum saja.


"Ya begitulah mama, mungkin sudah pada batasan sabar dia karena aku enggak pernah nurut."

__ADS_1


"Untung calonnya aku suka. Sudah kalian makan-makan sana habis itu mengobrol lagi. Kebetulan nggak ada acara lagi setelah ini."


"Oke."


Mereka pun langsung menuju meja prasmanan. Para anak-anak berkumpul dengan anak-anak. Juju, Adel sama si twins langsung antusias menyendok makanannya.


Zidane duduk dengan memangku anak bungsunya, si Cila. Isyana menyuapi putrinya itu.


Yuna menyerahkan Khaliza pada pengasuhnya. Lalu dia dan Andy bergabung dengan yang lain makan-makan.


Adrian menggendong bayi Ayden dan mempersilahkan Annete untuk makan terlebih dulu sedangkan Edrick dan Angel langsung bergabung dengan mereka karena baby Elfano sedang digendong oleh Nindy.


Louis mendekat ke arah Nindy, melihat baby Elfano yang anteng dalam gendongan sang istri. Ia mengingat bagaimana dulu Angel sering muntah-muntah bahkan tubuhnya terasa lemas saat mengandung bayi itu. Louis menatap sang istri rasanya ia tidak tega kalau sampai Nindy juga mengalami hal seperti itu.


"Kenapa Mas kok memandangku seperti itu?" Nindy mengernyit bingung dengan sikap sang suami yang tidak berkedip memandangi wajahnya dengan ekspresi yang tampak sedih.


"Mas kamu memanggilku Mas?" Louis menggoda Nindy.


"Iya ngikutin jejak-jejak mereka." Nindy menunjuk para istri sahabat Louis dengan dagunya karena kedua tangannya memegang baby Elfano.


"Kalau tidak suka berarti aku akan panggil 'Tuan' lagi."


"Eh jangan-jangan! Aku suka kok." Nindy mengangguk.


"Nak Safa sini biar mama yang pegang bayinya dulu. Kamu sama Louis temui para tamu. Mereka mau pamit pulang." Kebetulan yang hadir dalam acara tersebut hanyalah para sahabat dan kerabat dekat Nindy dan Louis.


"Hei selamat ya." Putri dan Kinara serta Dika berjalan ke arah Louis dan Nindy sambil mengulurkan tangannya.


"Wah kalian darimana sih kok baru nongol?"


"Kami di situ sedari tadi, mau menghampiri kamu nggak enak sama teman-teman pak Louis," ujar Kinara.


"Enggak apa-apa mereka pada ramah kok," ujar Louis. Mereka bertiga hanya mengangguk.


"Sebentar ya kami mau menyalami tamu-tamu dulu. Kalian jangan pulang dulu ya nanti kita foto bareng dulu."


"Oke," jawab ketiganya serentak.


"Sekarang kalian makan-makan dulu," ujar Louis mereka bertiga pun mengangguk.


"Setelah menyalami para tamu tiba-tiba anak buah Louis menyeret dua orang wanita ke depan Louis.


"Kak Lisfi? Ada apa ini? Dan wanita itu?"


"Mereka pelakunya Tuan. Mereka bersekongkol untuk memisahkan tuan dengan Nona Nindy. Mereka sudah mengatur rencana, mereka juga yang memasukkan foto itu ke dalam tas Nona Nindy."


"Kalian sudah tahu kan apa yang harus kalian lakukan?" Mereka mengangguk-angguk.


"Eksekusi dia!" perintah Louis.


"Apa! Di eksekusi?" Tubuh Mala dan Lisfi tampak bergetar.

__ADS_1


"Bagaimana ini Mala?" tanya Lisfi dengan bibir bergetar karena ketakutan.


Bersambung....


__ADS_2