Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 45. Apakah Kau Tergoda?


__ADS_3

"Mama tidak perlu khawatir, meskipun dimasak di luar ini masakan asli buatan Papa," ujar Nathan.


"Ah benarkah?"


"Iyalah Ma, kami saksinya."


"Astaga kalian sudah berpaling dari mama. Dikit-dikit belain Papa kalian."


"Bukan begitu Ma tapi memang itu kenyataanya."


"Baiklah mama mau menaruh makanan ini dulu. Kalian langsung mandi saja sana!"


"Baiklah Ma."


Kedua kembarnya beranjak ke kamar mandi begitupun dengan Zidane sementara Isyana beranjak ke dapur menuangkan makanan yang ada ke dalam mangkok dan piring.


"Wah soupe a I' oignon, niat banget sih tuh orang buatnya."


Setelah menyiapkan makanan tersebut Isyana memeriksa nasi di dapur ternyata masih ada jadi sekalian dia menghidangkan nasi di meja makan.


Setelah malam tiba mereka makan bersama. Menceritakan keseruan kisah yang dialami selama pergi tanpa mamanya.


Selesai makan seperti biasa Zidane dan Nathan beranjak ke kamar mereka sedang Isyana dan Tristan memilih menonton televisi di ruang keluarga.


Dalam kamar seperti biasa Nathan disibukkan dengan gadgetnya sedangkan Zidane masih saja merenung. Benaknya dipenuhi bayang-bayang wajah Isyana padahal kalau mau dia bisa saja memandangnya di luar.


"Papa kenapa?" tanya Nathan yang melihat Zidane tampak gelisah.


"Mikirin menu besok apa yang harus aku masak. Papa lupa lagi tadi belanja bahan-bahannya. Ternyata nenangin hati mama kamu itu lebih susah daripada menangin tender. Kalau bukan karena ingin berkumpul dengan kalian semua mana mau papa melakukan ini semua."


"Bikin sandwich aja deh Pa, biasanya kalau pagi kita biasa sarapan itu dan bahan-bahannya pasti ada stoknya di dapur."


"Kalo gitu Papa cek dulu."


Zidane beranjak ke dapur dan memeriksa. Setelah dipastikan bahannya ada dia kembali ke kamar.


"Gimana Pa ada?" tanya Nathan.


"Kamu benar boy stoknya memang ada."


Esok hari Zidane tidak ke dapur terlalu pagi karena menu yang akan dibuatnya bisa dibilang simple.


Selesai membuat sandwich Zidane memilih membersihkan rumah. Menyapu dan mengelap kaca dia lakukan sekarang. Karena tubuhnya yang banyak gerak dia merasa gerah padahal suhu di luar masih dingin akibat semalam turun hujan.


"Saya bantu Pa." Nathan muncul dan membantu papanya mengelap barang-barang yang ada di sana.


Tiba-tiba Zidane melepaskan pakaian atasnya kemudian melanjutkan pekerjaannya.


Bukannya ikut membantu Tristan yang memiliki otak jahil malah langsung memotret penampakan Zidane dan Nathan yang lagi bekerja membersihkan rumah kemudian meng-upload ke media sosial miliknya dengan hastag 'My hot daddy.'

__ADS_1


Tak lupa pula dia mengirimkan foto tersebut ke ponsel oma Laras dan juga Dion.


Isyana yang baru keluar dari kamarnya menganga melihat penampakan Zidane sekarang. Bagaimana tidak pria tampan berwajah oriental campuran antara Italia dan Indonesia itu kini sedang memperlihatkan bentuk tubuhnya yang kekar dan perutnya yang six pack. Peluh yang menetes di tubuh menambah aura maskulinnya. Benar-benar menggoda iman. Isyana sampai menelan ludah dibuatnya.


"Kenapa melihatku seperti itu?" Zidane yang dari tadi melirik dengan ekor matanya tahu bahwa Isyana sedang memperhatikannya.


"Astaga Pak! Bagaimana mungkin Bapak berkeringat di tengah cuaca dingin seperti ini?" Isyana mencoba mengalihkan perhatian karena malu dirinya kepergok memperhatikan Zidane. Walaupun begitu dia tidak bisa menyembunyikan rona merah di wajahnya.


"Namanya juga kulkas Ma dingin di dalam tapi panas di luar," celetuk Tristan.


"Boy!"


"Ayo Atan kita main yuk! Kak Darren katanya kangen main sama kita," ucap Tristan sambil menarik pergelangan tangan Nathan.


"Nggak ah, aku mau bantuin papa aja."


"Sudahlah boy sana main biar papa yang nyelesain semuanya, palingan bentar lagi selesai," ucap Zidane.


"Papa yakin?"


"Iya. Mumpung kalian masih di sini kalau kalian sudah balik ke Indonesia kan nggak bakal ketemu Darren lagi."


"Baiklah Pa kalau begitu."


Nathan mengikuti arah langkah Tristan menuju rumah Lusy untuk menemui Darren sedangkan Zidane menghampiri Isyana.


Mendengar perkataan Zidane wajah Isyana bersemu bahkan wajahnya sekarang memerah seperti kepiting rebus.


"Ah nggak! sanggah Isyana berbohong.


Mendengar Isyana yang tidak jujur Zidane menarik Isyana ke dalam pangkuannya. Wajah mereka berdekatan, pandangan mata mereka bertemu. Dalam posisi yang dekat seperti ini dapat didengar jantung keduanya berdetak lebih cepat dan berirama.


"Pak lepas!" Isyana tersadar. Ia baru saja terperangkap dalam pesona seorang Zidane.


"Maaf." Zidane merasa bersalah tangannya reflek tadi. Dia takut Isyana menganggapnya lancang.


Isyana berlari ke luar rumah dan menutup pintunya, akan berbahaya baginya jika hanya berduaan dengan Zidane. Bukan cuma takut Zidane yang khilaf dirinya pun takut khilaf.


Ia kini menyandarkan tubuhnya di balik pintu. Kejadian tadi terlintas di benaknya.


Sebenarnya di hati ini masih ada sedikit benci untukmu tapi aku pun tidak bisa membohongi diriku sendiri bahwa aku juga mencintaimu. Bahkan tak pernah ada niatan sedikitpun di hatiku untuk berpaling darimu. Bagaimana mungkin dua rasa yang berbeda ada dalam hatiku?


Isyana menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


Tiba-tiba Lusy sudah ada di dekatnya. "Kamu kenapa Dek?"


"Ah nggak kenapa-kenapa kok Kak. Kakak ada apa ke sini?"


"Dompet kakak kemarin tertinggal di sini."

__ADS_1


"Tapi saya kok nggak ngeliat dompet kakak ya!"


"Mungkin terselip di suatu tempat biar kakak periksa." Lusy nyelonong masuk ke dalam.


"Jangan Kak, jangan masuk biar Syasa aja yang cari." Isyana berucap sambil menarik pergelangan tangan Lusy supaya keluar.


"Tumben Kakak nggak boleh masuk. Apa ada yang kamu sembunyikan di dalam?"


"Nggak ada Kak."


"Kalau nggak ada ya sudah biarin kakak masuk!"


"Jangan Kak!" ucap Isyana sambil menggeleng-gelengkan kepala. Wajahnya tampak memelas. Hal itu malah menambah rasa penasaran di hati Lusy. Dia tetap menerobos masuk ke dalam walau jalannya dihadang Isyana.


"Ya ampun gagah banget! Perut kotak-kotak keren banget! Pokoknya pak Zidane nih idaman wanita banget."


"Kak."


"Kamu ya Sya kok pelit banget kalau ada rezeki tuh bagi-bagi, jangan disendiriin!"


"Emang dikata dia makanan harus dibagi-bagi gitu!" kesal Isyana.


"Ya ampun pak Zidane kalau lihat bapak seperti ini pengen rasanya saya dipeluk-peluk dan kalau bisa saya ingin menyantap Bapak!" ucap Lusy sambil memegang kedua pipinya.


Astaga sejak kapan Kak Lusy berubah mesum seperti ini.


"Ayo Kak kita keluar aja!" Isyana menarik tangan Lusy namun Lusy menghempaskan.


"Enak aja aku belum puas memandang pak Zidane!"


"Mas Edward!" Isyana berteriak memanggil Edward.


"Apa-apaan sih kamu Sya malah memanggil mas Edward."


"Habisnya Kakak lupa kalau sudah punya suami." Isyana cengengesan.


"Iya-iya aku balik. Awas kalau lapor mas Edward!" Lupa sudah dengan tujuan awalnya.


"Pak pakai bajunya! Apakah Bapak mau menggoda Kak Lusy?"


"Lusy yang tergoda atau kamu?"


"Ah Bapak dibilangin malah begitu."


"Apakah kamu cemburu?"


"Sudah ah lebih baik aku pergi saja."


"Iya-iya aku akan memakai bajuku kembali."

__ADS_1


__ADS_2