
"Ayah!" Anak tersebut berhambur ke pelukan ayahnya. Matanya memicing tatkala melihat Annete lalu merosot dalam gendongan ayahnya dan menghampiri Annete.
"Bunda!"
Anak tersebut berhambur ke pelukan Annete. Meskipun Annete tak mengerti namun dia tetap menerima pelukan anak tersebut.
Melihat anaknya tidak mau lepas dengan Annete dokter Adrian mendekati anaknya.
"Adel itu bukan bunda tapi Tante Annete."
"Eh. Benarkah?" Ia melepaskan pelukannya dan memandang wajah Annete.
"Benar Tante?"
Annete mengangguk.
"Maaf Adel pikir bunda soalnya wajah Tante mirip sama foto bunda."
"Iya nggak apa-apa. Adel nggak mau mempersilahkan tante masuk?"
"Eh iya Tante boleh masuk."
"Kamu belum tidur?"
"Belum Adel kan nunggu ayah, tumben ayah datangnya malam biasanya jam tujuh ayah sudah pulang."
"Iya ayah tadi masih menggantikan dokter Budi soalnya dia ada kepentingan jadi telat."
"Oh gitu ya. Ayah boleh nggak kalo Tante Annete tidur di kamar Adel?"
"Jangan biar Tante Annete tidur di kamar tamu aja."
"Boleh ya Ayah!"
Dokter Adrian memandang Annete seolah meminta persetujuan dan Annete yang mengerti mengangguk.
"Yuk ke kamar Adel sekarang kan sudah malam," ajak Annete.
"Benar Tante mau tidur sama Adel?"
"Iya ayo!"
Selepas mereka masuk ke dalam kamar dokter Adrian masuk ke kamar mandi membersihkan diri dari sisa-sisa bau obat yang menempel di tubuhnya. Selesai ia mandi ia mengecek Adel di kamarnya. Melihat Adel yang sudah terlelap dokter Adrian berbalik dan berjalan ke luar kamar.
"Dokter!" Annete memanggil dokter Adrian. Rupanya ia belum terlelap.
"Iya?" Dokter Adrian membalikkan badan.
"Ada yang ingin aku tanyakan sama dokter."
"Tentang?"
"Adel."
"Oke kita bicara di luar aja ya!"
Dokter Adrian membawa Annete ke taman depan rumah.
Suasana di taman terasa sunyi, hanya bintang-bintang dan cahaya rembulan yang menemani mereka. Angin berhembus menampar wajah mereka dan menerbangkan rambut lurus Annete yang kebetulan di urai.
"Mengapa Adel menganggap saya bundanya?" Annete membuka suara.
"Seperti yang kau tahu aku pun sempat menyangka mu Anisa."
__ADS_1
"Jadi Anisa bunda Adel?"
"Iya."
"Kemana dia sekarang?"
Mendengarkan pertanyaan Annete dokter Adrian menghela nafas.
"Dia meninggalkan kami ketika Adel masih berumur tiga tahun. Dia katanya sudah lelah merawat Adel yang penyakitan. Dia berpikir tidak ada gunanya merawat Adel toh pada akhirnya Adel akan meninggal juga." Ada gurat kesedihan terpancar di wajah dokter Adrian kala mengucapkan kalimat tersebut.
Dokter Adrian terlihat sedih mengingat beberapa tahun yang lalu Anita meninggalkan mereka setelah siangnya baru merayakan ulang tahun Adel. Anita meninggalkan surat di samping tempat tidur Adel yang mengatakan dia sudah lelah dan menyerah.
"Emang Adel sakit apa?"
"Kanker."
"Ya Tuhan." Annete menutup mulutnya yang menganga karena terkejut.
Annete bisa merasakan kesedihan Adrian terlebih kesedihan Adel. Dia pernah ada dalam posisi tersebut ditinggalkan ibu karena tidak sanggup hidup susah dengan ayahnya bedanya dia dalam keadaan sehat-sehat aja.
...****************...
Pagi hari di rumah utama.
"Kalian sudah bangun?"
"Udah dari tadi Oma. Oma mau kemana kok pagi-pagi sudah rapi?"
"Oma mau ke rumah sakit untuk check up. Kalian di sini sama paman Zidane aja ya! Kebetulan paman Zidane lagi libur sekarang. Udah Oma berangkat dulu ya!"
"Iya hati-hati Oma!"
"Boy kalian sudah mandi?" Tiba-tiba Zidane nongol dengan badan yang berpeluh."
"Abis lari pagi. Kalian nggak ada acara kan pagi ini?"
"Nggak ada Paman."
"Kalau begitu kita main bola yuk di belakang rumah!"
"Ayo Paman!" Mereka berdua antusias.
"Tapi kalian sudah makan?"
"Belum Paman."
"Kalau begitu makan dulu gih! Makanan udah siap di meja makan."
"Nggak makan nanti aja Paman habis main bolanya."
"Ya sudah ayo kalau begitu."
Mereka pergi ke belakang rumah untuk bermain sepak bola bersama.
"Boy kalian ada nggak yang pengin jadi pemain sepak bola?"
Mereka menggeleng.
"Terus cita-cita kalian ingin jadi apa?"
"Pebisnis kayak Paman," ucap Nathan.
"Kalau kamu?"
__ADS_1
"Aku jadi pemusik aja deh paman."
"Oke nggak apa-apa cita-cita kalian bagus juga."
Dan mereka pun bermain bola bersama.
Pagi menjelang siang.
"Ma gimana hasilnya?"
"Mama belum lihat. Nih kamu lihat aja sendiri."
Zidane mengambil amplop berlebel rumah sakit tersebut dan membukanya.
"Bagaimana Nak?"
"Tidak mungkin. Tidak mungkin, ini pasti salah." Zidane bicara sendiri tanpa menghiraukan pertanyaan mamanya.
"Apa hasilnya Nak?"
"Tidak cocok Ma." Zidane menjatuhkan kertas tersebut.
Mama Laras memungut kertas itu kembali dan membaca hasil tes DNA antara Zidane dan Nathan dia pun menjatuhkan kembali kertas tersebut.
Zidane beranjak ke kamarnya. Rasanya belum percaya dengan apa yang di bacanya tadi. Melihat Zidane yang sepertinya syok mama Laras mengejar ke kamarnya.
"Nak mama mohon kamu jangan merubah sikapmu ya kepada mereka! Kalau itu terjadi mereka pasti akan kecewa. Meskipun mereka bukan cucu mama tapi mama tetap menganggap dia sebagai cucu mama dan mama berharap kalau kamu mencintai ibu mereka kamu harus menganggap dia anakmu juga."
"Aku tidak tahu Ma harus apa." Zidane kecewa.
"Tanya pada hatimu sendiri Nak! Kalau kamu mencintai wanita itu kamu harus terima kenyataan yang ada. Cinta itu tak bersyarat tapi kalau kau mencintai wanita tersebut hanya karena menganggap dia memiliki anak bersamamu itu namanya bukan cinta."
Zidane terdiam memikirkan perkataan mamanya. Dia ingat dia sangat mencintai Isyana bahkan sebelum dia mengenal Nathan dan Tristan tapi yang perlu dia pikirkan apakah benar Isyana sudah bersuami? Tidak mungkin dia tidak punya suami kalau dia sudah mempunyai anak. Atau apakah benar mereka adalah anak Lusy dan Edward? Entahlah!
Dia mengambil ponsel dan menyuruh orang-orangnya untuk menyelidiki Lusy dan Edward apakah benar mereka punya anak kembar.
Sedangkan Tristan yang menemukan surat hasil tes DNA yang tergeletak di lantai berlari membawanya ke Nathan yang ada di kamar.
"Jadi maksudnya kita bukan anak paman Zidane?"
"Iya Itan berarti kita selama ini salah orang."
"Tidak Atan aku tetap tidak percaya wajah kita mirip paman, nama belakang kita nama belakang paman. Kenapa kita bukan anak paman?" Tristan tidak terima dengan hasil tes tersebut.
"Boy kalian sedang apa?" Tiba-tiba Zidane masuk kamar.
"Tidak Paman kita hanya ngobrol aja."
"Oh. Itu apa yang kamu sembunyikan di belakang punggung kamu?"
"Bukan apa-apa Paman."
"Sini kemari kan!"
Akhirnya Tristan memberikan kertas tersebut.
"Jadi kalian sudah tahu? Maaf ya paman lancang mengambil rambut kamu," ucapnya pada Nathan.
"Paman pikir kalian adalah anak-anak paman. Nyatanya paman salah."
Kedua anak tersebut menunduk pikirannya berkecamuk antara takut, sedih dan kecewa. Takut kalau Zidane tidak akan sayang lagi padanya. Sedih karena ternyata Zidane bukan papanya dan kecewa ternyata prasangkanya selama ini salah.
"Tapi kalian tenang saja meskipun kalian bukan anak-anak paman paman akan tetap sayang sama kalian. Paman akan menganggap kalian anak paman sendiri. Okey!"
__ADS_1
"Terima kasih Paman." Mereka berhamburan ke dalam pelukan Zidane.