
"Kamu yakin Ra mau pindah ke rumah orang tadi?"
"Yakinlah Nek, apakah nenek keberatan kerja di sana? Kalau keberatan nanti Naura batalkan saja."
"Eh bukan begitu maksud nenek tapi apakah kamu kenal siapa mereka? Apakah mereka orang baik-baik? Nenek hanya takut mereka akan menyakiti kamu. Kalau nenek sendiri sih nggak apa-apa bekerja di sana daripada jualan yang kadang tidak kembali ke modal karena tidak laku semua."
"Anak kembar yang tadi namanya Nathan sama Tristan Nek dan yang perempuan adalah tante Isyana mama mereka. Mereka itu adalah anak-anak dan istrinya om Zidane pemilik perusahaan Dirgantara group."
"Apa! Zidane? Pemilik Dirgantara group?"
"Ia Nek apakah nenek kenal?"
"Ah nggak, nenek nggak kenal kok cuma siapa sih yang tidak tahu sama perusahaan Dirgantara group. Kalau tidak salah itu perusahaan miliknya tuan Alberto kan?"
"Ia Nek benar. Om Zidane itu anaknya tuan Alberto."
"Berarti benar Zidane ini adalah Zidane sepupunya Tuan Andy. Kalau begitu aku harus berhati-hati jangan sampai dia tahu bahwa Naura itu adiknya tuan Andy sebelum aku tahu sebenarnya hati tuan Zidane seperti apa," batin Nenek Nisa.
"Bagaimana Nek apakah nenek berkenan tinggal di sana?"
"Apapun yang terbaik untuk kamu nenek ikut aja. Lagian kalau kamu tinggal di sana mereka kan sudah berjanji akan membiayai sekolahmu jadi kamu tidak usah repot-repot sekolah sambil bekerja lagi sehingga kamu bisa fokus dengan sekolah kamu itu."
"Ia Nek."
"Semoga Kau bisa hidup enak di sana seperti yang seharusnya kamu dapatkan Non dan nenek bisa dengan mudah mengawasi seperti apa sebenarnya sifat tuan muda Zidane." Nisa bicara dalam hati.
"Semoga saja apa yang dituduhkan tuan Andy tidak benar," batinnya.
##
"Gimana boy Kak Nauranya mau?" tanya Zidane suatu pagi. Dia sedang menyiapkan makanan spesial untuk keluarganya. Kedua putranya kompak membantu dirinya.
"Kak Naura mau Pa tapi ... "
"Tapi kenapa boy?"
"Ternyata nenek yang mengawasi kediaman om Andy itu neneknya kak Naura Pa."
"Apa kalian tidak salah orang?"
"Kami yakin Pa tapi apakah papa tidak keberatan kalau nenek itu tinggal di sini juga padahal kan Oma Lana ada di sini. Bagaimana kalau dia punya maksud jahat sama Oma Lana?"
"Kalian tenang saja pokoknya papa akan menyuruh para pelayan untuk mengawasinya yang penting kalian harus siaga takut-takut dia menyerang kalian."
"Tapi mama tidak yakin kalau nenek itu orang jahat soalnya kalau melihat Nauranya sih kan baik pasti hasil didikan orang yang baik pula," timpal Isyana yang baru saja memasuki dapur namun sempat mendengar pembicaraan antar anak dan suaminya.
__ADS_1
"Kamu benar sayang tapi hati manusia siapa yang tahu. Tidak ada salahnya kan kita waspada dan berhati-hati."
"Ia Mas waspada dan berhati-hati itu wajib. Oh ya aku sudah meminta Naura untuk tinggal di sini mulai sekarang biar beradaptasi dulu sebelum kita pergi."
"Itu bagus sayang, aku juga ingin memastikan nenek itu tidak berbuat macam-macam di sini."
"Eh Mas, kamu masak apa?"
"Ratatouille, special for you from our son and me."
"Wah makasih ya sayang, aku jadi teringat pas momen kami tinggal di Paris. Aku suka membuatkan mereka masakan ini. dan ini salah satu makanan favorit kami."
"Ya udah dicicipi rasanya pas apa nggak."
Isyana pun mencicipi masakan suaminya.
"Enak Mas lebih enak dari buatan ku dulu."
Zidane tersenyum bahagia mendengar pujian istrinya, tidak sia-sia ia mengusir para pembantunya dari dapur demi menyenangkan istrinya.
"Ya udah yuk kita sarapan bareng! Eh tapi mama sama papa mana Mas kok dari tadi nggak kelihatan?"
"Mama sama papa lagi ke rumah sakit untuk check up kesehatan."
"Ooh, Ya udah yuk makan."
"Den Zidane, Naura dan neneknya sudah datang," lapor bi Ina. Dia sudah tahu perihal akan ada pembantu baru di rumah itu karena semalam Zidane sudah memberitahukannya.
"Suruh tunggu di ruang tamu Bi! Nanti habis sarapan kami akan menemuinya. Jangan lupa bibi juga harus mengumpulkan semua pembantu di ruang keluarga."
"Baik Den bibi akan menyuruh mereka berkumpul sekarang juga." Bi Ina pun berlalu dari hadapan mereka menemui tamu majikannya kemudian bergegas ke rumah belakang untuk memberitahukan teman-temannya.
Selesai menyantap sarapannya Zidane beserta anak dan istrinya pergi menemui Naura di ruang tamu.
"Selamat datang Kak Naura!" ucap si kembar sambil memeluk Naura.
"Naura benar kamu bersedia menemani anak-anak Om?"
"Ia Om dengan senang hati aku akan menemani si twins." Membuat si kembar tambah memeluk erat Naura.
"Terima kasih ya Kak."
Naura hanya mengangguk sambil mengulum senyum.
"Baiklah, bibik semua dan bapak-bapak perkenalkan dia adalah Naura. Dia temannya putra saya dan karena anak-anak saya menyukainya maka saya akan menganggap dia sebagai keponakan saya sendiri. Untuk itu saya minta kepada semuanya agar memperlakukan Naura seperti anak-anak saya." Zidane berhenti sejenak untuk mengambil nafas kemudian melanjutkan pembicaraannya kembali.
__ADS_1
"Dan ini nenek Naura tugas dia hanyalah membantu kalian. Cuma karena umurnya sudah tua maka saya meminta untuk memberikan beliau tugas yang ringan-ringan saja. Saya harap kalian bisa mematuhi perintah saya."
"Baik Den."
"Baik tuan Muda."
"Ya sudah, boy kalian antar kak Naura ke kamarnya!"
"Oke Pa."
"Dan kamu bi Ina tolong antarkan neneknya Naura ke kamarnya!"
"Baik Den."
Ketika Naura dan nenek Nisa pergi meninggalkan tempat Zidane mewanti-wanti para pelayannya untuk mengawasi Nisa.
"Kalian harus mengawasi nenek tadi kalau ada yang mencurigakan segera lapor kepada saya dan ingat kalian jangan sampai membuat nenek itu curiga kalau dirinya diawasi. Bagaimana mengerti?"
"Mengerti Tuan."
"Ya sudah kalau begitu kalian boleh bubar."
Dret~dret~dret. Tiba-tiba ponsel Zidane bergetar. Segera ia mengangkat teleponnya.
"Baik saya segera ke sana."
"Siapa Mas?"
"Bang Andy dia meminta saya menemaninya ke kantor polisi?"
"Ada apa Mas, apa terjadi sesuatu sama om Reyhan?"
"Bukan tapi katanya bang Andy baru saja menerima telepon bahwa Belva sudah tertangkap, jadi bang Andy meminta saya ikut untuk memastikan bahwa yang ditangkap polisi benar-benar wanita itu."
"Terus Mas nggak jadi ke kantor?"
"Habis dari sana Mas langsung ke kantor aja," ucapnya sambil berlalu pergi.
"Mas tunggu ini..."
"Biar pak sopir nanti yang membawa tas saya," potongnya.
"Bukan begitu Mas tapi apakah Mas akan pergi ke kantor dengan pakaian seperti ini?" cibir Isyana sambil tertawa renyah.
"Astaga aku lupa belum ganti pakaian," ucap Zidane ketika menyadari dirinya masih memakai atasan kaos dan celana boxer.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Pa kalau papa pakai begituan pasti semua karyawan papa akan perhatian sama Papa," ujar Tristan kemudian tertawa terbahak-bahak sedangkan Nathan hanya geleng-geleng kepala.
Bersambung....