Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 191. Mengalah


__ADS_3

Dua hari kemudian pernikahan Louis dan Angel pun diselenggarakan. Mereka dirias dalam ruangan yang terpisah.


Ada Annete yang selalu menemaninya sedari pagi dan ada Adrian dan Dion yang menemani Louis ketika dirias dan berlatih ijab qabul.


"Sebentar ya Gel aku mau keluar dulu takutnya Adel nyari-nyari aku. Soalnya saat lihat Juju dan si kembar tadi dia langsung bergegas pergi mungkin dia tidak tahu kalau aku ke sini."


"Iya Net."


"Aku juga pamit dulu ya Mbak kan riasannya udah kelar nanti aku balik lagi," ucap seorang MUA.


"Iya Mbak terima kasih ya."


"Iya sama-sama."


Sepeninggal Annete dan MUA kini Angel seorang diri dalam ruangan. Dia merasa grogi sekali menghadapi pernikahannya.


"Gini ya rasanya mau nikah," gumamnya seorang diri.


"Angel, Angel!" Tiba-tiba Edrick berlari dan masuk ke ruangan Angel.


"Edrick ngapain kamu ke sini?" Angel kaget takut Edrick berbuat macam-macam.


"Cuma mau puas-puasin lihat wajah kamu sebelum kamu jadi milik orang lain."


"Keluarlah Rick, di sini tidak ada orang lain cuma ada kita berdua. Aku takut timbul fitnah."


"Aku tidak mau, toh aku tidak ngapa-ngapain sama kamu."


"Tetap saja Rick itu tidak baik kalau lelaki sama perempuan berada dalam satu ruangan."


"Gel apa kamu serius mau nikah sama Louis?" Pertanyaan macam apa itu sudah jelas Angel memakai baju pengantin masih saja ditanyakan serius apa tidaknya. Sepertinya hingga saat ini Edrick masih belum percaya bahwa mereka akan segera menikah.


"Seperti yang kau lihat Rick, jadi ku mohon biarkan aku bahagia bersama Louis. Aku janji akan merawat anak kita nanti dan akan mengizinkan dia untuk menemui dan mengakui mu kelak meski kau sempat tidak mengakuinya."


"Tapi aku juga menginginkan dirimu Gel. Aku tidak mau kehilangan mu. Aku ingin kau membatalkan pernikahan ini."


"Kamu gila ya Rick sudah kukatakan berulang kali bahwa aku dan Louis saling mencintai dan sekarang kamu lihat sendiri kami akan menikah."


"Aku memang gila Gel. Aku gila karena kamu. Aku tidak percaya kamu mencintai Louis dan hingga saat ini aku masih menganggap pernikahan kalian hanya sekedar mimpi buruk bagiku tapi bukan sebuah kenyataan." Sudut mata Edrick tampak memerah, ada bulir bening yang menetes. Angel tidak pernah melihat Edrick serapuh ini. Angel memejamkan mata tidak tahu lagi harus menjelaskan bagaimana.


"Aku mencintaimu Gel dan akan selalu begitu. Aku selalu mencoba melupakanmu dengan cara memasukkan wanita lain dalam hidupku tapi aku tidak mampu. Mencoba merelakan dirimu untuk Louis tapi nyatanya aku tidak kuat. Ah, andai saja waktu bisa diputar kembali aku pastikan tidak akan membiarkan ada celah buat orang lain untuk masuk ke dalam relung hatimu."

__ADS_1


Mendengar ocehan Edrick entah mengapa ada rasa sakit yang menyeruak ke dalam dada Angel.


"Mungkin kamu benar kamu memang tercipta untuk Louis tapi tolong ajari aku cara untuk melupakanmu."


Adel, Tristan dan Nathan yang kebetulan lewat mendengar ucapan Edrick.


"Apa perlu kita bantu om Edrick?" Tristan bicara dengan berbisik-bisik.


"Emang kamu tahu solusinya?" tanya Nathan.


"Tahulah kan om Edrick pengin ngelupain tante Angel, ya kita timpuk aja ramai-ramai pakai batu biar hilang ingatan."


Adel tepuk jidat dibuatnya. "Kenapa nggak sekalian dibawa ke rumah sakit dan ditukar otaknya."


Nathan terkekeh. "Hadeh, kalian tuh bukan ngasih solusi tapi mau bikin masalah," protes Nathan.


"Sudah yuk kita pergi saja sepertinya bunda tidak ada di sini."


"Yuk!" Mereka bertiga pun pergi tidak mau ikut campur dengan urusan orang dewasa.


"Rick apa benar kamu mencintaiku?"


"Iya Gel."


Edrick mengangguk.


Sekuat tenaga Angel menahan sesak. "Maka biarkan aku bahagia dengan pilihanku."


Edrick menunduk seperti anak kecil yang kalah dalam pertandingan, dia tiba-tiba malu melihat wajah Angel. Kemudian dia merosot dari sandaran dinding dan terduduk lemas di atas lantai.


Melihat Edrick seperti orang lemah Angel tidak bisa menahan kesedihannya. Tak terasa air matanya menetes begitu saja.


Beberapa saat kemudian Annete datang bersama Louis untuk menjemput Angel membawanya ke meja ijab qabul.


"Kamu menangis?" tanya Louis saat menyadari mata Angel terlihat merah.


"Ah, tidak aku tadi cuma kelilipan," jawab Angel berbohong.


Bagaimana bisa kelilipan di tempat bersih seperti ini? pikir Louis. Dia memeriksa ruangan tersebut barangkali banyak debu namun yang ia lihat penampakan Edrick yang duduk membungkuk sambil menopang dagu pada kedua lututnya. Pandangannya lurus ke depan namun sepertinya pikirannya kosong.


"Oh baiklah kalau begitu ayo kita ke tempat acara," ajak Louis dan Angel mengangguk serta mengikuti langkah Louis dan Annete keluar.

__ADS_1


Setelah mereka pergi Dion menghampiri Edrick.


"Ayo Rick keluar acara akan segera dimulai," ajaknya pada Edrick.


"Kamu keluarlah sana Yon aku di sini saja. Aku tidak kuat menyaksikan semuanya." Melihat wajah Edrick yang terlihat sendu dan penampilannya yang acak-acakan Dion menjadi terenyuh. Dia tidak menyangka Edrick yang sering diledeknya akan terlihat lemah seperti ini.


"Apa yang bisa aku bantu untukmu Rick?"


"Tidak ada, kalau saja pria yang akan menikah dengan Angel bukan sahabat kita pasti aku akan meminta bantuanmu untuk menculik Angel tapi nyatanya dia harus menikah dengan Louis, aku bisa apa?"


Dion menghirup udara dalam- dalam, rasanya paru-parunya kekurangan oksigen hingga dadanya terasa sesak melihat nasib Edrick padahal dua hari yang lalu dia dengan enteng menggoda sahabatnya ini.


Tak lama kemudian Dion melihat Louis berjalan ke arah mereka. "Belum dimulai acaranya Lou?"


"Belum Yon," jawab Edrick. Kemudian dia menghampiri Edrick yang masih duduk termenung.


"Bangun Rick!" perintahnya sambil membantu sahabatnya berdiri.


Edrick langsung memeluk Louis. "Maafkan aku Lou," ucapnya. Edrick merasa bersalah karena selama ini selalu berusaha mengambil Angel kembali walaupun tidak berhasil. Kedua sahabat itu saling merangkul dan menangis.


"Kalau kamu diberi kesempatan untuk kembali pada Angel, apa yang akan kamu lakukan?"


"Aku berjanji tidak akan menyakiti hati dia lagi dan akan berusaha selalu membahagiakannya."


Louis menepuk pundak Edrick. "Kembalilah dan berjanjilah untuk selalu berada di sampingnya dan selalu mencintainya," ujar Louis sambil membuka jasnya kemudian berusaha memakaikan pada tubuh Edrick.


Edrick dan Dion terbelalak.


"Lou kamu serius?" tanya Edrick.


Louis mengangguk. "Aku serius, aku ikhlas kok. Aku sadar kalian saling mencintai. Walaupun sekuat apapun Angel menyembunyikan rasa itu tetap akan terlihat dengan jelas bahwa dia masih ada rasa padamu. Terlebih bayi dalam kandungannya membutuhkan ayah aslinya. Namun aku benar-benar meminta padamu jangan pernah sia-siakan dia dan juga pengorbananku ini, karena kalau itu sampai terjadi aku akan mengambil dia kembali."


Edrick mengangguk kemudian merangkul sahabatnya kembali. "Terima kasih banyak Lou, terima kasih."


"Sudah yuk keluar!" ajak Louis. Edrick pun menurut dia berjalan di belakang Louis.


"Tapi Lou bagaimana kalau Angel tidak mau?"


"Sudah jangan dipikirkan biar aku yang ngomong sama dia."


Edrick mengangguk sekali lagi dan meneruskan langkahnya meski dalam hati ketar-ketir Angel akan menolaknya di hadapan orang banyak.

__ADS_1


Bersambung......


Komen dong guys!๐Ÿ™


__ADS_2