Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 128. Renggang


__ADS_3

"Terserahlah Dri kau mau percaya atau tidak tapi sekali lagi ku tegaskan, Aku tidak pernah berselingkuh dengan istrimu," ucap Edrick lalu masuk ke dalam mobilnya dan mengemudikan mobilnya keluar pekarangan rumahnya meninggalkan Adrian yang kini masih mematung.


Namun sampai di tengah perjalanan Edrick memutuskan untuk tidak menyurvei klubnya dulu karena pikirannya sekarang sedang kacau, dia malah membelokkan mobilnya menuju perusahaan Zidane.


"Kenapa muka Lo kok bonyok begitu?" tanya Dion keheranan.


Edrick tidak menjawab. "Mana Zidane?"


"Di dalam. Eh tapi Lo belum jawab pertanyaan gue. Kenapa tuh muka memar-memar gitu? Jangan-jangan kena bogem mentah suami orang lagi, ia nggak?" goda Dion sambil cekikikan.


"Makanya kalau pilih cewek tuh hati-hati jangan sampai kena sama yang udah punya suami," tambah Dion.


"Apaan sih Lo, orang jomblo macam Lo tahu apa," ejek Edrick sambil mendorong tubuh Dion lalu masuk ke dalam ruangan Zidane. Namun tidak begitu lama dia keluar lagi.


"Yon kenapa bos Lo itu, kesambet ya?" tanyanya pada Dion karena melihat ekspresi Zidane tidak seperti biasa dan dia tidak merespon cerita Edrick.


"Baru tahu Lo, makanya rajin-rajin nengok teman."


"Iya sorry akhir-akhir ini gue lagi ada kesibukan."


"Kapan sih Lo nggak sibuk? Tiap hari pasti sibuk garap cewek-cewek Lo."


"Enggak juga. Zidane kenapa?"


"Aku sih nggak tahu sejak dia nyuruh aku mencari seorang wanita dia tuh kayak mayat hidup aja. Tubuhnya aja yang ada di kantor hatinya entah ada di mana."


"Cewek, siapa?"


Dion mengangkat bahu. "Entahlah aku juga tidak tahu dia tidak mau cerita bahkan Tuan Alberto dengan Nyonya Laras pun tidak tahu."


"Ckk, padahal aku butuh bantuannya."


"Cerita aja sama gue kali aja bisa bantu."


"Yon aku boleh minta tolong nggak?"


"Boleh aja nanti kalau bisa pasti aku bantu."

__ADS_1


"Tolong jelasin ke Adrian ya bahwa aku tidak pernah selingkuh dengan istrinya," ucap Edrick serius.


"Selingkuh? Dengan Anisa ?"


"Iya padahal kan kemarin aku mergokin dia tuh selingkuh dengan atasannya di kantor di klub milikku lalu aku kasih peringatan agar dia mau berhenti tuh selingkuh-selingkuh macam gitu. Karena dia tetap tidak menggubris ucapanku ya terpaksa deh aku ngadu sama Adrian kan nggak lucu ya kita ngebiarin temen kita diselingkuhin kita malah diam tidak memberitahu teman kita itu."


"Terus?" potong Dion.


"Jangan dipotong dulu lah Yon orang lagi ngomong!"


"Abisnya Lo berbelit-belit sih."


"Terus si Anisa malah ngaku kalau dia selingkuh sama aku jadi si Adrian tuh langsung datangin aku di rumah dan memberikan 'ku banyak bogeman mentah."


"Hahaha...." Dion malah tertawa.


"Nasib-nasib, nasibmu lagi apes Rick orang lain yang makan nangkanya elo yang kena getahnya," ujar Dion yang masih saja tertawa.


"Coba jangan tertawa Yon!" bentak Edrick kesal.


"Tenang Bro nanti aku bantu jelasin sama Adrian. Eh tapi benar kamu tidak selingkuh dengan Anisa?"


"Dion!" pekik Edrick sambil mengacak rambutnya sendiri merasa frustasi. Dion yang diharapkan bisa membantu malah terkesan mengejeknya.


"Percuma deh gue datang ke sini kalau elo juga tidak percaya gue. Nyesel gue laporin kelakuan Anisa sama Adrian. Nanti kalau Elo punya kekasih ataupun istri ketahuan aku selingkuh aku nggak bakal kasih tahu kamu."


"Jangan begitu dong Bro, ia deh nanti aku bantu jelasin sama Adrian kali aja sama aku dia percaya."


"Nah gitu dong! itu gunanya sahabat."


"Iya-iya."


"Aku tunggu kabar baik darimu ya Yon?"


"Iya."


Setelah Edrick pergi Dion tersadar. "Ya Tuhan masalah Pak Zidane aja belum kelar-kelar malah ditambah masalah Edrick dan Adrian. Mimpi apa aku semalam."

__ADS_1


Dion nampak berpikir tidak mungkin menjelaskan kepada Adrian tanpa ada bukti. Adrian nanti pasti menganggap dirinya bersekongkol dengan Edrick.


Kemudian sebuah ide muncul di kepalanya. "Gimana kalau aku minta tolong sama Louis aja, ya kan dia nggak ada kerjaan pasti banyak waktu buat nyelidikin sekaligus cari bukti bahwa Anisa selingkuh dengan atasannya. Dion lalu meraih ponselnya dan segera menelpon Louis.


Dion menekan nomor di ponselnya tersambung namun lama panggilan tidak terjawab. "Kemana sih si Louis?"


Beberapa saat kemudian panggilannya diterima tapi tak ada suara.


"Halo." Tak ada jawaban.


"Halo, halo Louis." Tetap tak ada jawaban.


Beberapa saat kemudian terdengar suara namun bukan suara jawaban dari Loius namun suara ******* seorang pria dan wanita yang bersahutan.


"Argkkh"


"Argh."


"Brengsek si Louis siang-siang begini masih saja ritual," ujar Dion sambil melempar ponselnya ke sofa karena kesal. Lalu dia menggaruk kepalanya. "Aku harus minta tolong sama siapa?" pikirnya.


"Akh, ini masalah Edrick kok jadi aku yang pusing." Bicara sendiri.


Akhirnya dia menelpon Rama untuk mencari bukti tentang perselingkuhan Anisa dengan atasannya tersebut.


"Rumit kalau sudah masalah perselingkuhan, semoga saja nanti aku dapat istri yang setia," harapnya lalu tersenyum membayangkan wajah Vania yang melintas di otaknya.


Susah bagi Rama untuk menerobos pertahanan Rayyan dan orang-orang di sana semua tutup mulut dan seakan tidak mau ikut campur dengan urusan atasannya itu, hingga akhirnya dia menemukan Lani yang mau buka mulut dan mau merekam bukti meski harus di bayar dengan segepok uang.


Setelah mendapatkan bukti akhirnya Dion mendatangi kediaman Adrian dan menjelaskan segalanya. Awalnya Adrian tidak percaya tapi setelah Dion menunjukkan bukti barulah Adrian percaya.


Semenjak tahu kebenarannya sekarang Adrian sudah pasrah dia tidak mau mengurusi kehidupan Anisa lagi karena terlalu kecewa. Meskipun mereka masih tinggal dalam satu atap tapi mereka seperti orang asing yang jarang bertegur sapa bahkan mereka sekarang pisah kamar. Adrian hanya berbicara seperlunya saja pada Anisa. Cintanya pada Anisa pun sedikit demi sedikit mulai terkikis. Adrian sekarang hanya fokus pada kesembuhan Adel. Dia pun tidak menceraikan Anisa hanya karena takut Adel akan kehilangan sosok bundanya.


Kendati demikian pun hubungan Adrian dan Edrick pun tidak kembali akrab seperti semula hanya saja Adrian sudah tidak terlalu marah pada Edrick. Namun Adrian tidak begitu percaya bahwa Edrick tidak berselingkuh dengan istrinya. Baginya pemain wanita seperti Edrick bisa tidur dengan wanita mana saja baik yang masih lajang ataupun yang sudah memiliki suami tapi Adrian sudah tidak masalah kalaupun dia sekarang benar-benar selingkuh. Terserah Anisa, dia sekarang membebaskan Anisa melakukan apapun yang ia suka asalkan dia tangung jawab sendiri dengan akibatnya karena sudah bosan menegur Anisa yang tidak pernah mengambil hati dengan nasehatnya tersebut.


Bersambung....


Jangan lupa dukungannya! Like, vote, gift dan komentarnya terima kasih.๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2