
Pagi hari semua keluarga Zidane termasuk Lexi , Ara, Andy dan juga Yuna sedang berkumpul di ruang keluarga. Mereka mendengarkan cerita Annete saat sebelum kembali ke negara ini.
"Jadi kapan rencananya kamu menikah sama Adrian?" tanya Isyana.
"Nggak tahu juga Mbak terserah Mas Adri saja kapan baiknya," jawab Annete sambil mengusap-usap kepala Adel yang kini tiduran di pangkuannya.
"Tuh Om dokter sudah datang," ucap Nathan. Semua pun menoleh ke arah Adrian.
"Ada apa ini lagi ngomongin aku ya? Pantas saja mataku berkedut-kedut dari tadi," kelakar Adrian.
"Panjang umur kamu Dri. Emang benar sih kami lagi ngomongin kamu. Kapan kamu nikahi Annete?"
"Tumben om Dokter pagi-pagi sudah ke sini, memang tidak kerja?" tanya Tristan.
"Yang mana nih yang mau dijawab duluan?" Adrian balik bertanya.
"Terserah Om," jawab Tristan.
"Baiklah kalau untuk pernikahan kami, aku masih mau rembukan dulu dengan Annete tapi kalau kenapa saya pagi-pagi ke sini ya tentu saja kangen sama Adel."
"Kangen sama Adel dan...," goda Tristan namun sengaja menggantung ucapannya.
"Dan, dan apa?" protes Adrian.
"Adel dan siapa Om?"
"Dan si twins," jawab Adrian santai. Mendengar ucapan Adrian Tristan mencebik.
"Cih palingan kangen sama Aunty."
"Kalau sudah tahu ngapain nanya."
"Iya deh Om, iya."
"An aku mau bicara sebentar."
Annete mengangguk dan mengikuti langkah Adrian keluar. Sampai di luar dia membicarakan tentang pernikahan mereka. Setelah berembug dengan Annete, Adrian langsung meminta bantuan Laras dan tuan Alberto untuk membimbing mereka dalam menyiapkan acara pernikahan terutama menentukan tanggal baik pernikahan mereka. Itu ia lakukan karena baik Annete ataupun dirinya sudah tidak memiliki keluarga lagi.
Laras dan Tuan Alberto pun tidak keberatan karena Adrian sudah menjadi sahabat Zidane sudah sejak lama begitupun Annete yang sudah sejak lama mengasuh kedua cucunya. Mereka dan semua keluarga membantu dalam segala hal yang dibutuhkan dalam pernikahan Annete dengan Adrian.
Annete dan Adrian hanya diminta untuk menentukan konsep selebihnya keluarga mereka lah yang mengurus semuanya.
"Oh ya kira-kira kapan ya baiknya?" Oma Laras bergumam sendiri sambil berpikir.
"Gimana kalau bulan depan Oma barengan sama nikahnya om Andy sama tante Yuna," usul Tristan.
"Hem, emang kamu kata ini pernikahan massal apa Itan harus barengan gitu?" protes Ara.
"Ya nggak apa-apa Tante Ara kan hitung-hitung penghematan. Penghematan waktu dan biaya." Tristan berucap sambil cekikikan.
"Hem, kecil-kecil kamu sudah main perhitungan ya Itan bagaimana kalau oma pengen penghematan yang lain?" ujar Laras.
"Penghematan apa lagi Oma selain biaya dan waktu. Oh iya tempat juga."
__ADS_1
"Bukan itu."
"Terus apa lagi Oma?"
"Oma pengen Itan hemat bicara soalnya ini pembicaraan para orang tua. Jadi anak-anak nggak boleh nimbrung." Sontak perkataan Laras membuat Tristan cemberut dan Nathan malah tertawa cekikikan melihat adiknya merengut.
"Kenapa kamu malah ketawa sih Atan aku diledekin Oma."
"Abisnya kamu cerewet sih."
"Ya sudah deh mulai saat ini Itan mau diam saja."
"Lakukan saja kalau bisa," ujar Isyana sambil tersenyum ke arah Tristan.
"Itan bisa mama."
"Sip." Isyana hanya mengacungkan kedua jempol tangannya. Dia tidak yakin anaknya yang satu ini bisa berubah jadi pendiam.
"Nanti deh aku tanya-tanya dulu sama pak Kiai," ucap Laras.
"Iya Tante terima kasih ya sudah mau membantu," ucap Adrian pada Laras.
"Kamu sendiri bagaimana Yun? Sampai dimana sudah persiapan pernikahan kalian?" Kini Adrian beralih bertanya pada Yuna disertai anggukan Annete yang juga ikut penasaran.
Yuna memandang wajah Andy dan Andy hanya mengangguk. "Pernikahan kami harus diundur dulu Dri."
"Diundur kenapa? Apa diantara kalian masih ada yang belum siap?"
"Bukan Dri tapi mama tidak merestui hubungan kami," jawab Yuna sambil menunduk. Terlihat gurat sendu di wajahnya. Begitu lama Yuna menunggu perasaannya terbalas oleh Andy dan sekarang mengapa harus ditambah lagi dengan menunggu restu kedua orang tuanya. Kalau saja mamanya tidak mengancam papanya pasti Yuna akan tetap melanjutkan pernikahannya dengan Andy walaupun tanpa kehadiran mamanya tapi kalau papanya juga tidak merestuinya apa jadinya pernikahannya nanti? Apakah pernikahannya akan tetap sah di mata agama? Entahlah saat ini Yuna lebih memilih membatalkan pernikahannya sampai ia bisa merebut hati papanya sehingga bisa datang menjadi wali di acara pernikahannya nanti.
"Kenapa bisa begitu?"
"Entahlah mama tetap ngotot mau menikahkan aku dengan orang lain."
"Sabar ya Yun saya yakin suatu saat orang tuamu akan merestui hubungan kalian kalau sudah melihat ketulusan cinta kalian berdua."
"Amin Dri. Selamat ya atas pernikahan kalian semoga suatu saat kami bisa menyusul kalian juga. Kami turut bahagia melihat kalian bahagia dan semoga acaranya nanti lancar."
"Amin dan terima kasih."
"Sudah ah jangan sedih-sedih ini kan momen kebahagiaan kalian," ujar Yuna karena raut wajah Adrian dan Annete tampak ikut sedih begitupun dengan yang lainnya yang baru mendengar kabar buruk ini. Bahkan Andy pun tidak memberitahu Ara atas ditundanya pernikahan dirinya. Namun Ara hanya diam saja meski merasa syok namun tidak mau ikut campur masalah kakaknya.
Sementara lagi serius berbincang-bincang tiba-tiba ponsel Adrian berbunyi. Adrian mengambil ponselnya dari kantong celananya. "Tumben," gumamnya.
"Siapa yang menelpon Mas?" tanya Annete penasaran. Apakah Anisa? pikirnya.
"Loius."
"Oh, Louis."
"Ada apa Louis?"
"Dri kamu kenal nggak dengan wanita yang bernama Angel?"
__ADS_1
"Angel?"
"Kenapa Mas, Angel?" Adrian menggeleng dan memberi isyarat supaya Annete diam dulu.
"Iya Dri kamu kenal?"
"Iya emang dia kenapa?"
"Dia dari tadi muntah-muntah dan sakit perut Dri. Saya curiga Dri dia begini setelah memakai sebuah pil. Aku mau bawa dia ke rumah sakit tapi dianya tidak mau, tapi tubuhnya tampak lemas."
"Pil? Pil apa?"
"Aku tidak tahu. cepat kamu ke sini"
Annete tampak gelisah mendengar nama sahabatnya di sebut. "Angel kenapa Mas?"
"Dia muntah-muntah terus dan katanya mengalami sakit perut. Ayo kita segera ke sana!"
"Baik Mas." Annete langsung berdiri dan pamit kepada Adel dan semuanya.
"Cepat Mas," pinta Annete mereka berdua kini sudah berada di dalam mobil.
"Ini aku sudah mengendarai dengan kecepatan penuh An jadi tidak bisa ditambah lagi."
"Tapi aku khawatir Mas sama keadaan Angel."
"Berdoalah semoga dia tidak kenapa-napa."
Setelah sampai di depan kontrakan Annete dan Adrian langsung berlari masuk ke dalam rumah tersebut menghampiri Louis yang sudah terlebih dulu ada di sana.
"Mana Angel Louis?"
"Ada di kamarnya. Dia tidak mengizinkan ku masuk dari tadi dan menolak ketika aku ingin membawanya ke rumah sakit."
Annete langsung berlari ke arah Angel yang meringis kesakitan.
"Kamu kenapa Gel? Kamu ke rumah sakit ya!"
"Aku nggak apa-apa Net aku cuma sakit perut saja setelah minum obat aku pasti sembuh. Adrian punya kan obat sakit perut?"
"Saya tidak membawanya Gel lebih baik kamu ke rumah sakit saja biar cepat diketahui apa penyakitmu yang sebenarnya biar lebih mudah untuk mengobatinya."
"Aku tidak mau ke rumah sakit." Angel tetap saja ngotot meski tubuhnya sudah terasa lemas.
"Ini obat yang di belinya tadi di apotik," ujar Louis sambil menunjukkan obat yang dia lihat Angel beli di apotek tadi sebelum merasakan sakitnya sekarang.
Adrian mengambil dan memeriksanya. Matanya terbelalak. "Apa obat ini kan...?"
"Obat apa Mas?" Annete bertambah khawatir.
"Louis angkat dia ke mobil kita harus segera membawanya ke rumah sakit!"
"Baik Dri." Loius mengangkat tubuh Angel yang masih berusaha memberontak meski tubuhnya lemah. Dia sama sekali tidak mau dibawa ke rumah sakit.
__ADS_1
Mampus aku, Annete pasti akan tahu semuanya.