Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 93. Karena Aku Mencintaimu.


__ADS_3

Acara yang ditunggu pun tiba. Zidane sengaja menaruh waktu untuk pergi liburan ke resort mereka di hari Minggu dimana hari Seninnya berkalender merah. Pemilihan itu penting mengingat kedua anaknya dan orang-orang yang ingin mereka ajak pun masih banyak yang bersekolah maupun bekerja. Mereka berangkat sore hari di hari sabtu malam Minggu.


"Bagaimana Dion apa semuanya sudah berkumpul?"


"Sudah Pak cuma Maura telepon tadi tidak bisa ikut karena anaknya lagi sakit."


"Oke tidak apa-apa yang penting yang lainnya sudah berkumpul." Zidane sengaja juga mengajak beberapa karyawannya yang berprestasi agar juga dapat menikmati liburannya.


"Nathan, Tristan dari pihak kalian sudah siap?"


"Siap Papa."


"Oke kalau begitu kita berangkat."


Semua rombongan yang terbagi dari 5 mobil pun berangkat ke tempat yang sudah ditentukan. Yaitu sebuah resort Zidane mewah yang terletak di tempat wisata di tepi pantai. Sesampai di sana Dion langsung membagi kamar mereka. Perempuan-perempuan diletakkan dalam beberapa kamar yang berbeda dengan para lelaki kecuali yang sudah menikah maka mereka bisa mendapat satu kamar dengan pasangan mereka. Untuk malam ini mereka semua tidak memilih kemana-mana tapi lebih kepada mengobrol di dalam resort.


Seperti biasa Nathan dan Tristan memesan kamar yang berbeda dengan orang tuanya yang dekat dengan kamar Naura sedangkan Naura sekamar dengan teman-temannya yang perempuan.


"Naura kita berenang ke tempat itu dulu yuk," ajak teman-temannya menunjukkan salah satu kolam renang yang ada di sana ketika pagi menjelang.


"Nggak ah aku masih capek mau istirahat lagi. Lagian kalian pagi-pagi begini pengen renang memang tidak dingin apa?"


"Alah semalam istirahat apa masih belum cukup?"


"Belum tahu ya di sini tuh ada kolam renang yang menyuguhkan air hangat, jadi kita tidak perlu takut kedinginan."


"Enggak ah aku lagi males." Apalagi ketika mengingat momen semalam ketika berpapasan dengan Lexi dia menjadi takut keluar kamar.


"Ya sudah kalau begitu tidak apa-apa ya kami tinggal?"


"Nggak pa-pa. Ya sudah pergi sana!"


Padahal pantai di sana terkenal dengan penampakan sunrise yang indah dan Naura sebenarnya ingin melihatnya. Setelah kepergian teman-temannya dia mengintip keluar memastikan semua orang sudah tidak ada di sana.


Naura keluar dari kamarnya setelah memastikan tidak ada orang di sana, mencoba duduk di tepi pantai sambil memandangi deburan ombak di sana. Matahari masih belum menampakkan diri seutuhnya namun semua pengunjung sudah sibuk berjalan-jalan. Entah kemana perginya si twins dengan kedua orang tuanya pikir Naura.


Pada sisi pantai Naura melihat Adrian dan Adel yang sedang bercengkrama dengan Yuna sambil sesekali tertawa. Entah apa yang mereka obrolkan kok sepertinya seru namun Naura tidak ingin tahu. Sementara di sudut yang lain tampak Annete memandang ke arah mereka dengan ekspresi yang sulit diartikan.


"Kemana Om Lexi?" batin Naura, "Tumben dia tidak bersama Tante Annete," pikirnya.


"Hai Naura kita jalan-jalan yuk," ajak Febri.


"Kak Febri juga ikutan?" tanya Naura tak percaya melihat Febri juga ada di sana.


"Ia, Yuk!"


Sementara Naura berjalan-jalan dengan Febri Lexi baru keluar dari kamarnya. Sengaja dia tidak keluar karena tahu Naura tidak kemana-mana. Hari ini dia ingin ngomong berdua dengan Naura di dalam resort saja. Tapi sayang setelah Lexi mendatangi kamar Naura dia melihat kamar mereka sudah kosong pertanda Naura sudah keluar.


"Cari siapa Lex?" tanya Annete yang sudah kembali ke dalam resort karena merasa tidak enak badan.


"Lihat Naura?"

__ADS_1


"Oh tadi aku lihat dia ke sana sama seorang cowok yang umurnya kira-kira sebaya dengannya," jawab Annete sambil menunjukkan kemana arah Naura pergi.


"Kamu kenapa kembali?"


"Nggak enak badan Lex, entah mengapa akhir-akhir ini tubuhku sepertinya alergi sama cuaca dingin."


"Aku tinggal dulu ya?"


"Ia," jawab Annete sambil masuk ke kamarnya.


Lexi menyusuri pantai mencari keberadaan Naura namun ternyata yang dicari sedang asyik mengobrol dengan Febri.


"Kak itu bagus banget, Kakak dapat dari mana kalung itu?" tanya Naura antusias melihat Kakung yang ditunjukkan oleh Febri.


"Kamu suka?"


"Suka lah Kak bagus kayak gitu siapa yang nggak suka."


"Kalau begitu ini buatmu saja."


"Apa buat Naura? Kakak tidak salah ngomong kan?"


"Ya nggak lah, ayo sini aku pakaikan!"


"Kakak nggak bercanda Kan?"


"Nggak aku serius," ucap Febri sambil menyibak rambut Naura lalu memasangkan kalung itu pada Naura."


"Naura!" panggil Lexi tatkala matanya menangkap siluet gadis itu dan berlari ke arahnya.


"Siapa?" tanya Febri yang kini pun menoleh ke arah Lexi.


"Oh itu cuma Om aku Kak."


"Oh."


"Naura lepas!"


"Apa maksud Om?" Naura tak mengerti apa yang dibicarakan Lexi.


"Lepaskan kalung itu!"


"Tidak akan Om, Kak Febri ikhlas memberikannya kenapa harus dilepas?"


"Lepas aku bilang!" Memerintah dengan setengah membentak, emosi mulai menguasai diri Lexi.


"Tidak akan," Naura masih ngotot sambil memegang kalungnya.


"Lepas!" perintahnya lagi sambil menyentak kalung yang ada di leher Naura hingga terputus.


"Apa hak Om ngatur-ngatur saya? Kak Febri itu kekasih saya jadi apa saya salah menerima pemberiannya?" protes Naura. Air matanya sudah mulai menetes.

__ADS_1


"Tidak boleh ada yang jadi pacar kamu!"


Febri memandang ke arah Lexi tidak mengerti.


"Om jahat!" ucap Naura sambil mendorong tubuh Lexi.


"Om bisa pacaran sama Tante Annete kenapa Om melarang saya pacaran sama Kak Febri?!" ucapnya sambil berlari meninggalkan kedua lelaki yang saat ini sama-sama diam mematung.


Lexi tersadar kemudian menyusul Naura.


"Lepas Om, lepas!" pinta Naura sambil memberontak karena Lexi sekarang sudah berhasil menggotong tubuhnya.


Melihat Naura memberontak Febri berlari ke arah mereka ingin menyelamatkan Naura namun sayang dia kalah cepat, sekarang Lexi sudah membawa tubuh gadis itu ke mobilnya dan mulai menjalankan kendaraannya.


Di sudut lain Rama langsung bergegas untuk menyelamatkan Naura namun dicegah oleh si twins.


"Jangan Om, tidak perlu dikejar! Kami tahu Om Lexi orang baik jadi di tangan dia Kak Naura aman. Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka berdua!"


Mendengar penuturan anak majikannya Rama mengangguk dan mundur.


Lexi melepaskan tubuh Naura setelah sampai di apartemennya.


"Om sebenarnya mau apa?" tanya Naura mulai ketakutan. Dia takut Lexi berbuat macam-macam padanya. Bayangan kelam akan malam itu berputar kembali di otaknya.


"Tapi Om Lexi tidak sejahat itu kan?" pikirnya.


"Katakan bahwa kamu mencintaiku!"


"Tidak."


"Naura!"


"Om!"


"Katakan kau mencintaiku Naura," ucapnya dengan suara yang mulai melemah.


"Mengapa aku harus mengatakannya?"


"Karena aku mencintaimu Naura."


"Aku mencintaimu," ulangnya.


"Tidak, itu tidak benar Om. Om mencintai Tante Annete kan?"


Lexi menggeleng. "Tidak, aku hanya mencintaimu."


"Om hentikan bercanda Om! Itu tidak lucu," ujar Naura sambil terisak.


"Aku serius Naura. Apa aku terlihat bercanda?" ucap Lexi sambil memegang dagu Naura dan menatap wajah gadis itu hingga membuat tatapan mereka bertemu.


Naura memejamkan mata. "Apa aku tidak bermimpi?"

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2